The Great Gatsby

MV5BMTkxNTk1ODcxNl5BMl5BanBnXkFtZTcwMDI1OTMzOQThe Plot
Ini narasi Nick Carraway (Tobey Maguire) yang menceritakan tentang kisah kasih Gatsby (Leonardo di Caprio) kepada Daisy Buchanan (Carey Mulligan).

The Comment
Jujur, alasan utama movietard menonton The Great Gatsby [2013] adalah… pemain sepakbola idola movietard, Xabi Alonso. Alonso, dalam sebuah interview, pernah menyebut buku The Great Gatsby adalah ‘the best book I’ve ever read’ yang membuat movietard penasaran tentang cerita The Great Gatsby itu sendiri. Novel The Great Gatsby adalah novel lawas dari F. Scott Fitzgerald yang diterbitkan pada periode 1920-an. Cerita The Great Gatsby pun sudah pernah diadaptasi dalam versi film. Tetapi, as usual, movietard terlalu malas untuk membaca dan mengunduh file lama film The Great Gatsby untuk mengetahui isi ceritanya. Karenanya, ketika The Great Gatsby diadaptasi dalam versi modern pada tahun 2013, movietard bersemangat sekali menontonnya. Apalagi, ada nama sutradara Baz Luhrmann di kursi sutradara dan scriptwriter. Selama ini, movietard cukup menyukai film-film garapan Luhrman seperti Romeo + Juliet, Moulin Rouge dan bahkan, Australia masuk dalam lima teratas film favorit movietard tahun 2008 lalu karena Luhrmann yang biasanya tampil kinky berhasil tampil konvensional dalam membuat romance movie yang mengharu biru melalui Australia. Movietard berharap The Great Gatsby bisa tampil secantik Australia.

Continue reading

Advertisements

Short Review: Festival Sinema Perancis 2012

Movietard harus meminta maaf karena lagi-lagi, it’s only a short review, well, salahkan diri movietard sendiri tak pintar me-manage waktu sehingga selalu merasa kesulitan menuangkan waktu untuk menulis. But now, I’m back with… another movie festival! Festival Sinema Perancis 2012 hadir hanya selang satu hari setelah selesainya EoS. Ya, FSP jelas menjadi salah satu festival yang menjadi favorit movietard karena menghadirkan film-film Perancis yang sangat menarik seperti pada FSP 2010 dan FSP 2011 lalu. Sayangnya, FSP yang biasanya hadir di bulan April pada tahun 2012 ini berpindah ke bulan Desember, sempat agak kecewa karena di awal bulan Desember kemarin memang movietard tengah sibuk-sibuknya dengan pekerjaan, but luckily, I could took part at this festival walaupun hanya menonton 3 film saja kali ini.

Beloved [Les Biens-Aimes]
les_bien_aimes_posterThe Plot
Ini adalah kisah perjalanan cinta Madeleine sedari muda hingga tua dan kehidupan percintaan si anak perempuan Madeleine satu-satunya, Vera.

The Comment
Movietard menonton Beloved (2011) sebagai bagian dari acara What’s Next After Blogging yang diadakan panitia FSP bekerja sama dengan Muvila. Beloved sendiri berkisah tentang pencarian cinta sejati ibu dan anak yang dihadirkan dalam rentetan waktu 4 dekade dengan menjelajah beberapa negara Eropa dari Perancis, Ceko hingga Inggris. Di putaran tahun tertentu, kita dapat melihat bagaimana Madeleine muda berjuang bahkan dengan menjadi prostitute sebelum ia menikah, dikecewakan, mencoba kembali mengejar cinta sejatinya, tetapi sayangnya, hingga ia beranjak tua, pencarian cinta Madeleine menemui banyak hambatan, yang membuatnya mau tak mau harus mencari sedikit celah untuk bahagia. Seolah tak mau kalah dengan sang Ibu, kisah cinta Vera pun tak kalah menyakitkan, terlibat dalam hubungan rekan sesama guru, sesungguhnya cinta sejati Vera tertambat pada lelaki yang tak bisa membalas cintanya.

Continue reading

Short Review: Festival Film Eropa (Europe on Screen) 2012

Festival Film Eropa (Europe on Screen) -selanjutnya disingkat EoS- Tahun 2012 -in my opinion- feel a lil bit different. Ya, festival yang biasanya ‘cuma’ berlangsung di pusat-pusat kebudayaan di Jakarta tahun ini realitasnya sudah merambah satu jaringan bioskop komersil dengan mengenakan harga tiket masuk. No, that’s not a bad thing karena harga tiketnya pun termasuk masih dalam average price but hey! Entah karena film-film yang diputar memang bagus sekali, keberhasilan EoS masuk ke jaringan bioskop komersial dan minimnya gelaran film festival seperti INAFFF yang tahun ini absen *nangis*, movietard sendiri merasakan hype EoS terasa sangat ‘wah’ sekali untuk tahun ini. Luckily, movietard berhasil menonton beberapa film yang a must watch setelah mengatur jadwal sampai dua hari penuh *lebay!*. So here we go! As usual, it’s just only a short review one.

In a Better World Aussie flyer.inddThe Plot
Christian dan Elias ‘baru’ berteman, dan ini kisah mereka dan keluarga mereka menghadapi konflik kehidupan yang ada.

The Comment
Embel-embel pemenang untuk best foreign film 2012 seharusnya menjadi bukti bahwa In a Better World memang a must watch! Movietard sangat menyukai film ini dibandingkan Bullhead dan The Guard yang ditonton di hari sebelumnya. In a Better World tak hanya mengajak kita melihat permasalahan teenager melalui sosok Christian yang ‘berperang’ dengan sang ayah paska kemarian sang Ibu ataupun Elias yang di-bully teman sekolahnya dan merasa takut kehilangan Christian, dengan smooth, In a Better World pun juga menyelipkan konflik individu dewasa melalui sosok ayah Elias. Ayah Elias yang seorang dokter di daerah konflik Afrika dihadapkan dengan berbagai friksi dengan istrinya, tetangga, hingga yang terparah, dengan penjahat perang. Dan In a Better World memotret bagaimana karakter-karakter ini menghadapi konflik tersebut, mengajarkan bahwa kadang langkah terbaik yang diambil belum tentu as the right one.

Continue reading

Short Review: Jakarta International Film Festival 2010

12th Jakarta International Film Festival (Jiffest) is back! Movietard salah satu moviegoers yang beruntung dapat menyaksikan festival film tertua di south east asia ini diadakan kembali sepanjang  25 November – 5 Desember 2010. Setelah sempat tak mendapat sponsor dana, kehadiran Nokia dan above all, sahabat-sahabat Jiffest yang telah turut menyumbang membuktikan bahwa Jiffest telah mendapat tempat di hati moviegoers Jabodetabek. Personally, Jiffest adalah festival yang mengenalkan Movietard dengan The Wind That Shakes the Barley, Atonement hingga (500) Days of Summer. Dan hey! Apa yang ditawarkan Jiffest tahun ini? Movietard menonton cukup banyak film di Jiffest, and here’s my short reviews

Bal [Honey]

The Plot
Ini cerita tentang hubungan Yakup dan Yusuf, si Ayah pencari madu dan anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun.

The Comment
Sebelum menonton Bal [Honey] (2010), movietard sangat bersemangat. Apalagi, di resensi awal guide book, film ini tampak seperti adventure menarik si anak. Tak disangka, 1/3 film ke belakang, yang terjadi movietard justru tertidur sampai film selesai [Tidak menyalahkan jam tayang yang malam, tetapi justru kemampuan otak si empunya blog inilah yang tidak sampai ke sana]. Siapa yang mengira jika film ini menggunakan alur maju mundur? Siapa yang mengira Bal [Honey] justru lebih banyak bercerita melalui ruang visual dibanding dialog?

Continue reading

La Mala Educacion

The Plot
Ignacio (Gael Garcia Bernal) mendatangi teman lamanya, Enrique (Fele Martinez) si sutradara, dan Ignacio menawarkan cerita semi autobografinya untuk difilmkan.

The Comment
La Mala Educacion (2004) menjadi salah satu film yang paling ingin ditonton Movietard sejak beberapa tahun lalu, dan well, kesempatan ini baru datang di akhir pekan kemarin. Alasannya? Walaupun Movietard hanya menonton satu besutan Almodovar, Volver (2006) tetapi, kecintaan Movietard terhadap the sexiest mexican actor, Garcia Bernal dan film-film bertema LGBT membuat film ini masuk a must-watch-list.

Continue reading

Preview: Bright Star

What’s The Story About?
Ini kisah love-relationship penyair John Keats (Ben Wishaw) dengan Frances Brawne (Abbie Cornish).

Why I Want to Watch It?
Sebagian besar audiens mungkin akan bosan dengan tema yang diusung Bright Star (2009)  dan menganggapnya sebagai pengekor Atonement ataupun film-film based on Jane Austen’s Book. Honestly, movietard selalu menyukai film dengan  seting abad ke 19, terutama untuk cerita yang simply made plus keindahan di dalam film jenis ini, baik melalui dialognya, view landscape hingga costume.

Continue reading

Requiem For A Dream

The Plot
Harry Goldfarb (Jared Leto) hidup dalam lingkaran junkie, ia, pacar dan sahabatnya adalah drugs junkie. Ibunya, Sara Godlfarb (Ellen Burstyn) adalah tv junkie.

The Comment
Requiem for a Dream (2000) diadaptasi dari novel berjudul sama keluaran tahun 1978. Bagi movietard, film ini menempati peringkat teratas (bersama dengan Drugstore Cowboy dan Trainspotting) sebagai film mengenai dunia junkie yang sangat jujur. Ya, Darren Aronofsky sebagai director memotret kegilaan manusia ketika mereka kecanduan, entah itu terhadap drugs, pil diet, kopi hingga acara tv, dan Aronofsky melakukannya dengan baik.

Continue reading