Sabtu Bersama Bapak

sabtu-bersama-bapak-poster-twitterThe Plot
Ini kisah hidup Ibu Itje (Ira Wibodo) dan kedua putranya, Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra) paska meninggalnya Gunawan (Abimana Aryasatya).

The Comment
Hype film Sabtu Bersama Bapak (2016) sudah mulai terasa sejak tahun lalu di beberapa timeline media sosial seperti path dan instagram movietard, well, karena selain memang mem-follow salah satu aktor yang ikut bermain di dalamnya, kelompok pertemanan movietard juga sudah membicarakan novel berjudul sama yang menjadi dasar adaptasi untuk film ini sejak tahun lalu. Movietard belum sempat membaca Sabtu Bersama Bapak versi novel karangan Adhitya Mulya, tetapi kira-kira 10 tahun lalu, movietard pernah membaca Jomblo yang merupakan novel perdana Mulya. Menurut movietard, Mulya memiliki gaya penceritaan yang asyik, dimana tema-tema yang sebetulnya cukup berat seperti misalnya tentang selingkuh dapat disampaikan dengan lebih sederhana dan komikal. Jadi, ketika akhirnya Sabtu Bersama Bapak di-release pada libur lebaran 2016 ini, movietard cukup bersemangat untuk menontonnya. Apalagi, di timeline media sosial, beberapa teman yang sudah menonton terlebih dahulu pun juga memuji film ini.

2016-06-28-20-09-41-1

Dan Sabtu Bersama Bapak berhasil tampil solid dari segi plot. Alih-alih menjadikan momen meninggalnya Bapak sebagai sajian dramatis yang menguras air mata seperti ketika Habibie kecil dihadapkan dengan kondisi meninggalnya Papi, story plot Sabtu Bersama Bapak tidak berlama-lama berada di momen masa lampau. Mulya, yang juga menjadi scriptwriter film ini langsung mengajak audiens berjalan ke masa sekarang, ketika Ibu Itje telah berhasil membesarkan kedua putranya. Problematika sang Ibu muncul melalui surat yang memberitahu dirinya terkena tumor, penyakit yang Ia rahasiakan dari anak-anaknya. Selain memotret problematika sang Ibu, audiens juga diajak melihat dua problematika hidup lainnya. Ada kisah si sulung Satya yang diminta istrinya, Rissa (Acha Septriasa) untuk berhenti bekerja di offshore, hal yang tentunya ditolak Satya karena alasan finansial. Dan ada problematika si bontot Cakra yang masih menjomblo walaupun sudah menjadi manajer Bank, yang juga melahirkan kekhawatiran Ibu Itje mengingat salah satu janjinya kepada Bapak adalah mengantarkan kedua putranya ke jenjang pernikahan.

As I wrote in my first paragraph, Mulya sukses mengantarkan sebuah cerita yang sebetulnya sangat klise dan sinetron-formulaic menjadi sebuah kisah yang asik dinikmati. Mulya juga pintar menjaga tensi Sabtu Bersama Bapak hingga ke babak terakhir dengan tetap berlaku adil kepada tiga karakter utama yang membuat audiens berempati kepada mereka. Sedari awal, tone komikal memang diberikan kepada kisah Cakra, sementara emotional tone diberikan kepada kisah Ibu Itje dan Kisah Satya-Rissa. Dengan dialog-dialog natural dan tidak over-dramatis, audiens yang menonton Sabtu Bersama Bapak seolah tengah menonton kisah keluarga sendiri. Dalam Sabtu Bersama Bapak pun tidak ada hero/ine yang sempurna, justru, para karakter ini tampil dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Betul bahwa Sabtu Bersama Bapak lahir karena kekhawatiran Bapak yang tidak dapat mendampingi anak-anaknya sehingga Ia meninggalkan nasehat-nasehat dalam bentuk video, tetapi video yang dipertontonkan toh juga tidak banyak, yang membuat movietard menyukai film ini adalah adanya bagaimana para karakter dan permasalahan mereka memiliki kedekatan dengan audiens.

2016-06-28-20-07-57-2

Ya, para karakter ini memiliki permasalahan masing-masing, seperti Ibu yang takut membuat anak-anaknya khawatir akan penyakitnya, Satya yang khawatir tidak bisa memberikan kehidupan yang mapan bagi keluarganya, Rissa yang khawatir tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik, hingga Cakra yang masih jomblo, kesemuanya merupakan masalah sehari-hari audiens, dan Sabtu Bersama Bapak secara luwes membuat audiens merasa relate dengan para karakter dan permasalahan mereka seperti movietard yang merasa relate dengan masalah Cakra. Selain itu, kekuatan dari Sabtu Bersama Bapak juga terletak pada betapa naturalnya para aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, kecuali untuk dua aktor muda pemeran anak Satya dan Rissa ya! Betul bahwa Deva Mahenra adalah scene stealer dimana gaya awkward agak noraknya justru membuat karakter Cakra menjadi favorit audiens setiap kali kemunculannya di layar, tetapi menurut movietard, yang paling bersinar dalam Sabtu Bersama Bapak adalah Acha Septriasa. Lepas dari kurang logisnya representasi fisik Septriasa sebagai ibu dua anak usia 30-an, Septriasa sukses menyampaikan emosi dan kekelahannya sebagai istri dan ibu yang harus menghadapi suami yang walaupun ganteng tetapi begitu keras kepala.

Sayangnya adalah, walaupun sudah didukung dengan skrip yang solid dan aktor-aktor yang bermain baik, Sabtu Bersama Bapak baru mencapai tahapan hampir sempurna sebagai sebuah produksi. Disutradarai Monty Tiwa yang sebelumnya lebih sering menjadi scriptwriter, Tiwa gagal menyajikan Sabtu Bersama Bapak sebagai tontonan visual yang bagus. Permasalahan utama yang mengganggu sepanjang film adalah kehadiran lens flare yang terlalu banyak. Lens flare yang dimaksudkan untuk menambah keindahan melalui permainan refleksi cahaya ini hampir ada di semua scenes. Sayangnya, alih-alih membuat Sabtu Bersama Bapak tampil cantik dan mewah dengan refleksi cahaya yang seringkali muncul di pinggir-pinggir layar ataupun dekat dengan wajah aktor-aktornya, lens flare yang terlalu banyak itu justru malah mengganggu. Movietard jadi agak tertawa dan beranggapan bahwa jangan-jangan Tiwa adalah fans berat J.J Abrams yang juga terkenal dengan kesukaannya dalam bermain lens flare pada film-filmnya, sehingga Ia menerapkan hal yang sama pada Sabtu Bersama Bapak.

d020bc46-4e85-4e7b-8f51-01899c071e04_43

Lepas dari permasalahan lens flare tersebut, secara umum, Sabtu Bersama Bapak merupakan film yang menyenangkan. Kali terakhir movietard menonton film Indonesia yang setelah menonton masih meninggalkan perasaan ‘feel good movie’ adalah Surat dari Praha (2016), dan kali ini, Sabtu Bersama Bapak mampu menyajikannya perasaan itu kembali. Movietard menyukai bagaimana Sabtu Bersama Bapak berhasil melukiskan problematika kehidupan dari berbagai sudut pandang karakternya dan tanpa terkesan menggurui, yang membuat pesan film ini tersampaikan ke audiens, yaitu tentang betapa pentingnya nilai-nilai kekeluargaan dan cinta. Membaca di akun media sosial Aryasatya yang berperan sebagai karakter Bapak pun realitasnya baru dapat bertemu ayah kandungnya setelah bertahun-tahun dalam kurun waktu tidak jauh dari pembuatan film ini. Mungkin Aryasatya –sama seperti audiens- juga mendapatkan pesan akan kehangatan dan arti penting keluarga melalui film Sabtu Bersama Bapak, yang menandakan bahwa film ini sukses mengantarkan pesannya dengan baik.

Semua gambar diambil dari sini dan sini

One thought on “Sabtu Bersama Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s