Short Review: Festival Sinema Perancis 2011

Movietard benar-benar harus meminta maaf atas kemalasan dalam meng-update blog ini *blamed all the work and play thing*, but hey, better late than never kan? Dikarenakan tidak banyak film-film bagus yang beredar di bioskop selama lebih dari sebulan ini, jujur, movietard menjadi cukup jarang ke bioskop. Luckily, I got some of great watching moment di bulan April lalu melalui Festival Sinema Perancis 2011. Dari 10 tiket yang sudah dibeli di awal, realitasnya, hanya 8 tiket yang terpakai (dengan satu film yang ditonton sangat terlambat). As usual,  movietard memakai short review guna merangkum beberapa film yang ditonton dalam Festival Sinema Perancis 2011. And here’s we go *malu*

L’Arnacouer (Heartbreaker) The Plot
Alex Lippi (Romain Duris) bekerja sebagai relationship destroyer. Keloyalan Lippi terhadap pekerjaannya diuji ketika ia jatuh cinta kepada korbannya, Juliette (Vanessa Paradis).

The Comment
Heartbreaker (2010) adalah film yang sangat ditunggu Movietard di festival ini, since I was in love with Mr. Duris. Walaupun telah memiliki Heartbreaker versi avi, menonton Duris di big screen tetap menjadi kenikmatan tersendiri. Dan Duris memang bermain dengan sempurna, menunjukkan kelasnya sebagai aktor serba bisa. Dia memainkan karakter Lippi dengan sangat adorable and comical, and that’s make we couldn’t hate him. Lihat betapa lepasnya ketika Duris berakting menjadi Japanese chef, kriminal, dokter, hingga penyanyi gospel.

Tetapi kecemerlangan Duris realitasnya didukung dengan story plot yang memang fun dan easy to consume. Ya, Heartbreaker adalah romantic comedy dengan kisah sederhana, when man meets woman. Bedanya, Heartbreaker masih memiliki cita rasa eropa dengan pengemasan yang cukup smart. Ditambah dengan kemasan komedi yang hadir melalui supporting characters seperti kakak dan kakak ipar Lippi yang tampil tak kalah cemerlang, Heartbreaker benar-benar menghibur, it’s definitely a must watch!

Tout ce Qui Brille (All That Glitters) The Plot
Ely (Geraldine Nakache) dan Lila (Leila Bekhti) are just ordinary middle-class teenager yang mengharuskan mereka bekerja. But as like another teenager, they also try to fit in.

The Comment
Remaja dan pencarian identitasnya selalu menjadi tema yang tak habis dibahas. Dalam All That Glitters (2010), kita diajak memasuki kehidupan Ely dan Lila yang berusaha masuk ke dunia pergaulan socialite. They’re sneaking to club, lying about where they live and trying to have upper class friend and boyfriend, yang kesemuanya menuntut pengorbanan berupa kebohongan. Ketika Ely jenuh dan mulai menerima hidupnya apa adanya, Lila justru begitu menikmati kebohongannya. All That Glitters dikemas seperti layaknya coming-of-age drama ala Hollywood dengan cerita ringan yang tidak menonjolkan sisi artsy seperti kecenderungan film-film coming-of-age ala Inggris. Tetapi, pesan film ini jelas, dua remaja yang melakukan self-identity searching dengan hasil yang berbeda. Dan anda tinggal memilih mau seperti Ely atau Lila, yang pasti, semuanya has its price dan pada suatu titik, anda akan sadar bahwa tak ada yang salah dalam dua pilihan tersebut, karena keduanya adalan bagian dari life lesson.

Welcome The Plot
Ini adalah cerita Simon (Vincent Lindon) si guru renang di Calais, Perancis yang ingin membantu Bilal (Firat Ayverdi) menyebrangi lautan sepanjang 32 kilometer menuju Inggris.

The Comment
Story plot Welcome (2009) jelas tampil ‘sekelam’ posternya. Ya, film drama ini menyoroti social condition yang memang terjadi di Perancis dengan sangat riil, dimana ada prejudice kaum asli terhadap imigran ataupun menyoroti perjuangan kaum imigran ilegal untuk bertahan hidup di negara tersebut. Terdengar berat? Untungnya, film ini dibalut tanpa politisasi berlebihan, ya, alih-alih menjadi film bentrokan agama, cerita ini berfokus pada persahabatan dua karakter dari dunia berbeda yang saling belajar untuk menerima. Berdurasi 1 jam 50 menit, Welcome jelas bukan film hiburan melainkan menyodorkan tone yang cukup gelap dan bahkan bisa membuat audiences yang tak terbiasa tertidur di tengah film. Memang, ada unsur teenage-love yang dimasukkan sebagai motif Bilal untuk pindah ke Inggris, tetapi tetap saja, dari awalpun anda tahu, menyebrangi lautan sepanjang 32 kilometer untuk seorang pemuda yang tak bisa berenang adalah hal mustahil. Welcome jelas bukan sebuah potret indah akan liberte, frente dan egalite ala France, justru, film ini menjadi pesan nyata bagaimana multicultural, social and religion clash tetap hadir di relung-relung kehidupan warga France, hingga kini.

Une Petite Zone de Turbulance (A Spot of Bother) The Plot
Ini cerita tentang keluarga Jean-Pierre yang penderita hipokondria, sementara si istri yang berselingkuh dengan teman Jean-Pierre sendiri, anak perempuan yang ingin menikah dan anak lelaki yang homo.

The Comment
A Spot of Bother (2010) was just like another French family drama, too dysfunctional which make its unique!  Sebagai kepala keluarga Jean-Pierre dengan kecemasan berlebihannya akan luka dibokong jelas bukanlah contoh yang baik bagi anak-anaknya. Tetapi, anak-anaknya telah dewasa, dan keluarga disfungsional ini harus menghadapi moment penting dalam kehidupan mereka, yaitu pernikahan (yang kedua) putri Jean Pierre, Cathie. Dan Jean-Pierre yang awalnya dianggap bodoh oleh audiences, lambat laun bertransformasi menjadi kepala keluarga yang membuat kita terkesan. Walaupun Un Spot of Bother tidak menghadirkan comical scenes yang banyak mengundang tawa, movietard cukup menikmati family drama ini, story plot yang disajikan pun cukup mewakili keluarga urban saat ini and it’s kind of remind me with Death at a Funeral, hanya saja dalam versi yang lebih lembut. Pesan film ini pun begitu menyentuh, seperti apapun keluarga yang anda dimiliki, toh anda harus menerima bahwa they always be your family, always have, always will.

Les Mains en l’Air (Hands Up) The Plot
Milana adalah gadis imigran Chechnya yang ‘dititipkan’ di rumah teman sekolahnya karena keluarganya takut ia dideportasi. Teman-teman sekolahnya pun berjuang menyelamatkan Milana.

The Comment
Walaupun Hands Up (2010) menawarkan story plot yang tak jauh berbeda dengan Welcome (2009), yaitu kisah tentang penduduk imigran di Perancis yang berhadapan dengan kerumitan birokrasi di Perancis, tetapi Hands Up hadir dengan tone yang lebih colorful. Ya, Hands Up hadir lebih ceria karena menggunakan anak-anak sebagai karakter utamanya. Dan anak-anak ini tampil begitu adorable, mulai dari Milana, hingga kawan-kawannya seperti Blaise dan adik perempuan Blaise yang tampil sangat polos. Dan anak-anak ini membawa kita menjalani petualang mereka dalam menyelamatkan Milana, dari mulai kabur dari rumah, bersembunyi di ruang bawah tanah hingga bermain dengan tikus. Dengan alur narasi yang berflashback ke masa sekarang, tepatnya merujuk pada masa dimana para not-born-native French masih hidup dalam opresi, story plot film ini tampaknya digarap dengan serius. Lihat saja bagaimana ‘hilang’-nya anak-anak tersebut menjadi berita internasional hingga Inggris. Dan lihat bagaimana protes anak-anak tersebut membawa dampak positif. At last, Hands Up bukan hanya film tentang children’s journey, ada message penting tentang optimisme didalamnya karena mengangkat tangan bukan hanya berarti menyerah, dan di Hands Up, hal ini telah dibuktikan.

L’Age de Raison (With Love from the Age of  Reason) The Plot
Di ulang tahun ke-40, Margaret (Sophie Marceau) menerima surat-surat lama dari dirinya sendiri yang ditulis waktu masih kanak-kanak dan membuat Margaret mempertanyakan makna hidupnya kembali.

The Comment
With Love from the Age of Reason (2010) mengajak audiences untuk ikut menyelami dunia Margaret, yang menjadi refleksi nyata sosok manusia urban saat ini. Memiliki karir dan pasangan yang sempurna (awalnya) dianggap sebagai achievement oleh Margaret yang sedari kecil menyadari pentingnya uang dalam kehidupan. Tetapi, surat-surat polos yang dikirim dari masa lalu oleh diri Margaret sendiri saat berusia 7 tahun membuatnya kembali mempertanyakan eksistensi hidupnya, apakah ia akan bahagia dengan terpenuhinya kebutuhan materi? Dengan alur maju-mundur, With Love from the Age of Reason menyorot masa kini dan masa lampau kehidupan Margaret. Dan melalui beberapa scene flashback yang cute, film ini juga membiarkan imajinasi anda ikut terbang, seperti saat Margaret ingin menolong masyarakat Afrika dengan melemparkan roti. Sophie Marceau sendiri bermain dengan sangat believable, yang membawa audiences melihat transformasi karakter Margaret dari awal hingga akhir film. Tak dapat dipungkiri, it’s a woman movie, tetapi comedy drama ini juga menjadi salah satu film yang memikat hati Movietard di Festival Sinema Perancis ini.

Ensemble c’est Trop (Together’s Crowd)

The Plot
Pasangan muda, Sebastian dan istrinya mau tak mau harus menerima kehadiran Ibu Sebastian, Marie-France paska suaminya ketahuan berselingkuh. Dan well, kekacauan pun dimulai.

The Comment
Di FSP Tahun 2009 lalu, Movietard sangat jatuh hati dengan Le Premier Jour du Reste de Ta Vie (The First Day of the Rest of Your Life ) (2008), sebuah family drama yang sangat memukau *and I can’t imagine what will happen if Hollywood made a remake, it’s gonna be disaster*. Dan di tahun ini, family drama-comedy kembali menjadi pilihan utama yang ditawarkan French Embassy seperti melalui Together’s Crowd (2010) dan A Spot of Bother (2010). Dan lagi-lagi, Together’s Crowd menawarkan ‘kekacauan’ keluarga modern saat ini. Apa yang menimpa Sebastian benar-benar membuat kita kasihan. Ayahnya berselingkuh, Sebastian akan menjadi kakak bagi calon bayi, Ibunya tanpa sadar membakar rumahnya dan harus tinggal dengannya. Plus, ada anjing pengacau yang sangat obesitas, anak-anak yang harus diurus hingga si ibu yang suka memprotes istrinya.

Together’s Crowd mungkin terdengar begitu berantakan dengan beberapa tampilan humor yang sexist tetapi hura-hara keluarga ini toh tetap memiliki story plot yang menyentik sekaligus heartwarming. Audiences mungkin akan tertawa melihat kelakuan Marie-France yang bertingkah layaknya abg, tetapi sekaligus dapat merasa simpati. Dan seperti apa yang dirasakan Sebastian, Marie-France tetaplah ibunya, and on her own way, dia telah mengajarkan banyak hal kepada Sebastian.

3 thoughts on “Short Review: Festival Sinema Perancis 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s