The Virgin Suicides

The Plot
Berseting di Michigan pertengahan 1970-an, The Virgin Suicides adalah kisah lima orang gadis keluarga Lisbon yang dibesarkan oleh orang tua overprotektif.

The Comment
The Virgin Suicides (1999) pertama kali movietard tonton sekitar sepuluh tahun lalu ketika well, I got Hartnett-fever because of The Faculty (1998). Di tahun 2010 ini, movietard menonton kembali film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jeffrey Eugenides. Sama seperti Bad Education ataupun Fish Tank,The Virgin Suicides yang disutradari dan ditulis naskahnya oleh Sofia Coppola realitasnya tetap asyik ditonton dan menjadi salah satu film coming of age yang sangat memorable karena mampu memotret betapa tragisnya kehidupan remaja di masanya.

Coppola  membawa audiens melihat sosio-kultur kehidupan suburb middle-class di Amerika era 1970-an melalui narasi anak laki-laki bernama Tim Weiner yang menjadi tetangga keluarga Lisbon. Keluarga Lisbon sendiri terdiri dari Mr and Mrs. Lisbon (James Wood dan Kathleen Turner) serta kelima anak perempuan mereka yang cantik, Cecilia, Lux, Mary, Bonnie dan Therese. Kasih sayang Mr dan Mrs. Lisbon realitasnya diwujudkan melalui proteksi berlebih kepada kelima putri mereka, proteksi ini sedikit mengendur ketika si bungsu Cecilia mencoba bunuh diri.

Ketika Lisbon girls mulai diperbolehkan mengenal laki-laki teman sebaya, seperti Lux (Kirsten Dunst) yang berkencan dengan Trip (Josh Hartnett), kebebasan baru ini toh harus dibayar mahal ketika Lux melewati ‘batas’ dengan melakukan sex premarital. Akibatnya, Mr dan Mrs Lisbon menghukum Lisbon girls dengan kurungan rumah, berhenti sekolah dan pembakaran kaset rekaman. Tetapi, siapa yang tahan untuk dikurung seperti itu? Setelah berusaha untuk tetap merasakan hidup layaknya remaja ‘normal’ melalui kode morse, telepon ataupun katalog belanja, kisah Lisbon girls ini berakhir dengan tragis.

The Virgin Suicides sukses memotret clash antara orang tua dan anak dengan sangat getir. Anda diajak melihat betapa konservatifnya Mr and Mrs. Lisbon tetapi at the same time, anda tak dapat menyalahkan mereka karena they just try to raised their daughters be a good one. I, personally, found parents and their teenager’s relationship sometimes is more interesting than teenager’s bff/boyfriend relationship because we’ve had passed own ‘hate our parents’ phase. Eventhough we know how much our parent love us, but we still don’t like what the orders and advice they give us, until how they treat us so protectively.

Beside the story plot, movietard sangat menyukai penggunaan narasi orang ketiga dan bentuk wawancara para neighbors dalam film ini, yang membuat audiens benar-benar berada di luar Lisbon girls dan berposisi seperti Mr and Mrs Lisbon, sama-sama berusaha memahami si anak. Belajar memahami keinginan anak adalah poin yang coba disampaikan dalam The Virgin Suicides, karena otoriterisasi, bahkan dalam institusi terkecil seperti keluarga dan mengatasnamakan cinta, jelas bukanlah hal yang baik.

Coppola mampu membuat film pertamanya dengan sangat indah, pengambilan gambar yang bercita rasa warming filter membuat film ini tetap berkesan hangat walaupun memotret cerita yang begitu getir. Kegetiran cerita ini kadangkala dihibur oleh sedikit humor melalui cerita tebar pesona ala Trip. Above all, Coppola sukses mengarahkan jajaran cast remaja dan tentunya, Kirsten Dunst yang bermain superb sebagai Lux, dalam menyuarakan denyut kegelisahan yang berakhir dengan perlawanan para Lisbon girls dengan sangat cantik. Well, movietard sangat menyukai close up shoot untuk Lux ketika ia tertidur dilapangan baseball ataupun tertawa di jendela mobil. At the end, ketika anda selesai menonton The Virgin Suicides, I hope that you’ll be blessed to live at this era and have more understanding parents than Mr. and Mrs. Lisbon is.

None of my daughters lacked for any love, there was plenty of love in our house. I never understood why… [Mrs. Lisbon]

Do You Know?
Kim Basinger awalnya ditawari peran untuk Mrs. Lisbon, begitupun Alyssa Milano. Basinger tidak jadi dipilih karena bayaran yang terlalu mahal dan Milano masih terikat dengan jadwal syuting untuk Charmed
The Virgin Suicides mengenalkan Kirsten Dunst dengan Josh Hartnett. Dan Hartnett tak segan menemani Dunst in her real senior high school prom night

3 thoughts on “The Virgin Suicides

  1. Film yang memperkenalkan saya pada sebuah band bernama Air. Kalau punya dvd-nya pasti dapet bonus video musiknya: Playground Love yang sampai saat ini masih ada di dalam playlist mp3 saya.Film ini bagi saya merupakan sebuah debut penyutradaraan yang cantik dari anak seorang sutradara kenamaan. Itulah mengapa kita mudah jatuh cinta (lagi) dengan karya keduanya; Lost in Translation.

  2. dan kauuu akhirnya posting juga film ini yah… hahaha jd inget dulu gue tweet gue mau nntn film ini dan lo reply : salam ya buat Josh Hartnett.. hihi..

    gue masih ngenes sama adegan di lapangan bola, abis ‘dipake’ ditinggalin gitu ajaaa… huaaaaaa… *taae bgt dah memori gue ingetnya adegan ini hihi”

    gue punya bukunya, tapi blm kelar2 bacanya soale terjemahan Indo dan nerjemahinnya gak asik😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s