X-Men: Apocalypse

MV5BMjU1ODM1MzYxN15BMl5BanBnXkFtZTgwOTA4NDE2ODE

The Plot
Ini Kisah Charles Xavier dan rekan-rekan yang berusaha menghentikan mutan Apocalypse (Oscar Isaac) yang berniat menjadikan dunia ke ground zero.

The Comment
X-Men: Apocalypse (2016) menjadi film bertema superheroes keempat yang diluncurkan pada musim panas tahun 2016. Movietard sendiri sangat bersemangat menonton film ini pada hari pertama pemutaran di Indonesia karena sudah terlanjur mencintai duo karakter Charles dan Erik muda yang pertama kali menyapa audiens melalui X-Men: First Class (2011) *yang reviewnya bisa dibaca di sini* dan dilanjutkan dengan X-Men: Days of Future Past (2014) *maaf, movietard tidak membuat review untuk film kedua*. Dibanding installment Avengers yang gigantic, movietard lebih mencintai installment X-Men dikarenakan fondasi cerita yang jauh lebih rapi, karakterisasi yang lebih kuat, cita rasa klasik masa lalu yang menjadi setting film, dan tentunya, permainan apik dari tulang punggung installment prekuel X-Men dimana McAvoy, Fassbender dan Lawrence ‘setia’ berbagi layar sejak seri pertama.

MV5BNDZjNzVlNmEtYzc4NC00NWJmLWEyMDUtOWJmYmYyMzI5NmQ0XkEyXkFq

Story plot yang dibuat Simon Kinberg mengambil setting 10 (sepuluh) tahun setelah usaha Erik/Magneto (Michael Fassbender) membunuh presiden Nixon berhasil digagalkan Raven/Mystique (Jennifer Lawrence) dan Charles/Profesor X (James McAvoy), dimana para karakter utama ini telah menjalani hidup masing-masing tanpa saling berinteraksi. Erik hidup damai di Polandia dengan keluarga kecilnya sembari bekerja di pabrik, Charles mendirikan sekolah bagi anak-anak mutan dan mengabdikan dirinya untuk mengajar, sementara Raven ‘berkeliling’ dunia untuk menyelamatkan mutan-mutan yang masih dihantui dengan kebencian manusia. Ketiganya kembali berinteraksi ketika Apocalypse yang syahdan adalah mutan pertama dan terkuat di bumi kembali bangkit di tahun 1983. Paska merekrut Erik sebagai salah satu dari empat anak buahnya, Apocalypse berencana meluluhlantakkan bumi.

Menurut movietard, X-Men: Apocalypse memiliki story plot yang cukup setipe dengan Captain America: Civil War, dimana kehadiran villain utama yang seharusnya menghadirkan ketakutan besar realitasnya tidak tergali baik. Hal inilah yang membuat audiens cukup kecewa dengan X-Men: Apocalypse mengingat dua film sebelumnya memiliki villain yang oke dengan jalan cerita yang jauh lebih rapi, X-Men: Apocalypse tampak kedodoran. Walaupun mengangkat mitos dewa di zaman Mesir kuno sebagai fondasi karakter Apocalypse, sayangnya hal ini tidak digali dengan baik. Movietard sendiri tidak mempermasalahkan karakter Apocalypse yang memang terasa kurang ‘mengigit’ dan justru malah tampak lucu dengan tubuh berwarna ungu metalik, karena as I wrote before, movietard menonton X-Men: Apocalypse untuk bersua kembali dengan karakter-karakter X-Men favorit.

MV5BODUwNDkxNDQ3M15BMl5BanBnXkFtZTgwMzA1MTY0NzE_002

Serupa dengan Captain America: Civil War dimana sang Kapten harus berbagi layar dengan para karakter superheroes lain, pada installment ketiga ini, para karakter utama X-Men pada dua series sebelumnya pun harus berbagi layar dengan para mutan muda seperti Scott Summers, Jean Grey, Storm, hingga Night-crawler. Nama-nama ini sesungguhnya tidak asing bagi audiens yang mengikuti installment awal X-Men. Movietard sendiri senang melihat para karakter ini akhirnya muncul dan tampil cukup lucu mengingat usia mereka yang memang masih belia. Anyway, screen time yang lebih banyak pun diberikan kepada Quicksilver, yang selalu tampil keren di saat yang tidak seharusnya. Satu-satunya yang movietard sayangkan adalah, interaksi yang minim antara Charles dan Erik dalam X-Men: Apocalypse. Bagaimana tidak, Charles baru menyapa Erik pertama kali setelah hampir 60 menit film berjalan dan itupun hanya melalui cerebro! Mereka pun baru bertatap muka pada menit ke 90-an, yang menurut movietard adalah suatu kejahatan memisahkan Charles dan Erik begitu lama dalam film ketiga ini.

X-Men: Apocalypse kembali dipegang oleh salah satu pendiri installment awal X-Men Bryan Singer yang sudah menahkodai film kedua pada installment prekuel ini. Jika pada film sebelumnya Singer berhasil menyajikan pertarungan aksi menembus batas waktu yang seru dengan melibatkan para ‘pemain lama’, para pemain lama kali ini tak semuanya kembali dan sebetulnya, kehadiran karakter lawas yang muncul dalam film ketiga ini juga dapat dihilangkan karena tidak memegan peran sentral. Di sisi lain, walaupun interaksi Charles dan Erik diminimalisir, luckily, X-Men: Apocalypse tetap menyajikan kepingan flashback-flashback antara old friend tersebut. Hal ini seolah mengingatkan audiens bahwa spotlight memang tidak lagi ditujukan kepada usaha Charles untuk mengembalikan sisi humanisme Erik dan Raven, melainkan memberikan kesempatan kepada para mutan muda yang masih belajar untuk mengendalikan kekuatan mereka guna menjadi cikal bakal tim X-Men.

MV5BNGZlMzA3ODktMDVkOC00NTYzLThmNTAtNTVjNjEyMmU2ZTM0XkEyXkFq

Movietard menulis review ini sembari ditemani dengan suara berat Eurythmics yang menyanyikan Sweet Dreams (Are Made of This) dan tetap masih tersenyum membayangkan ‘kelihaian’ Quiksilver pada scene ketika lagu ini diputar yang menjadi salah satu adegan terkeren dalam X-Men: Apocalypse. Lepas dari segi penceritaan yang kurang rapi, bagi movietard, X-Men: Apocalypse menjadi film superheroes di musim panas 2016 yang paling memuaskan sejauh ini dibandingkan Deadpool yang terlalu ‘cerewet’, Batman vs. Superman yang walaupun gigantic tampak sangat kaku, ataupun Captain America: Civil War yang terlalu ramai dengan ensemble superheroes. Para karakter mutan lawas mampu membaur dengan karakter mutan muda dalam X-Men: Apocalypse secara halus dengan porsi yang cukup. Pada akhirnya, X-Men: Apocalypse menjadi penutup yang pas untuk installment prekuel ini walaupun movietard sendiri tak akan pernah bosan untuk menyaksikan duo Charles dan Erik muda ini sampai kapanpun, bahkan jika Charles dan Erik hanya bermain catur sepanjang film.

Semua gambar diambil dari IMBD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s