Short Review: Jakarta International Film Festival 2010

12th Jakarta International Film Festival (Jiffest) is back! Movietard salah satu moviegoers yang beruntung dapat menyaksikan festival film tertua di south east asia ini diadakan kembali sepanjang  25 November – 5 Desember 2010. Setelah sempat tak mendapat sponsor dana, kehadiran Nokia dan above all, sahabat-sahabat Jiffest yang telah turut menyumbang membuktikan bahwa Jiffest telah mendapat tempat di hati moviegoers Jabodetabek. Personally, Jiffest adalah festival yang mengenalkan Movietard dengan The Wind That Shakes the Barley, Atonement hingga (500) Days of Summer. Dan hey! Apa yang ditawarkan Jiffest tahun ini? Movietard menonton cukup banyak film di Jiffest, and here’s my short reviews

Bal [Honey]

The Plot
Ini cerita tentang hubungan Yakup dan Yusuf, si Ayah pencari madu dan anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun.

The Comment
Sebelum menonton Bal [Honey] (2010), movietard sangat bersemangat. Apalagi, di resensi awal guide book, film ini tampak seperti adventure menarik si anak. Tak disangka, 1/3 film ke belakang, yang terjadi movietard justru tertidur sampai film selesai [Tidak menyalahkan jam tayang yang malam, tetapi justru kemampuan otak si empunya blog inilah yang tidak sampai ke sana]. Siapa yang mengira jika film ini menggunakan alur maju mundur? Siapa yang mengira Bal [Honey] justru lebih banyak bercerita melalui ruang visual dibanding dialog?

Yang pasti, lepas dari plot yang baru dimengerti movietard setelah keluar dari ruang bioskop [itupun setelah bertanya kepada rekan], Bal [Honey] menawarkan ke-cute-an Yusuf si anak laki-laki yang diusia sebegitu muda realitasnya tetap memiliki masalah. Favorit movietard adalah ketika Yusuf mencoba belajar membaca di kelas demi mendapatkan pin penghargaan. Keindahan Bal [Honey] – yang sayangnya tak dapat dimengerti movietard-  membuat film ini menjadi Turkey’s official submission untuk Oscar tahun depan.

Scott Pilgrim vs. the World

The Plot
Scott Pilgrim (Michael Cera) jatuh cinta pada Ramona (Mary Elisabeth Winstead). Untuk mendapatkannya, Scott harus melawan 7 orang mantan pacar Ramona.

The Comment
Scott Pilgrim vs. The World (2010) mungkin tampak terlalu populis untuk standard Jiffest. Tetapi hey! Edgar Wright si director nyatanya sukses membaurkan batas antara film, komik dan video game. Ya, dengan gaya sinematografi yang justru mirip video game dengan banyaknya tulisan ala comic style, jelas Scott Pilgrim vs. The World menjadi film yang sangat unik. Keunikan ini juga terlihat dari story plot-nya, walaupun ‘hanya’ berkisah tentang masalah pencarian jati diri, percintaan dan pertemanan remaja, Wright justru menjadikan setting Kanada seolah menjadi alternate universe yang memungkinkan Wright mengeksplor hal-hal diluar standar narasi film seperti [spoiler] ketika Scott sudah meninggal, toh ia dapat hidup lagi dan me-rewind scene kematiannya.

Cita rasa komik juga terlihat dari para karakternya, Scott si nerd diperankan oleh Michael Cera [Yang setelan muka memang –maaf-  tampak culun]. Belum lagi, nama-nama seperti Anna Kendrick, Mark Webber dan Brandon Routh ikut tampil tak kalah lucu. To make it perfect, kelucuan film ini juga ditunjang dengan beberapa smart-funny dialogues yang menunjukkan bahwa Wright tak hanya sibuk mengurus visualisasi tetapi juga memperhatikan aspek script. At the end, eventho’ I don’t like the ending since I’m Knive Chau’s shipper, Scott Pilgrim vs. the World is definitely a having-fun movie!

Son of Babylon

The Plot
Ber-setting di Irak tahun 2003, ini adalah cerita Ahmed dan neneknya guna menemukan si ayah yang di penjara paska perang Teluk.

The Comment
Bagi movietard, Son of Babylon (2010) adalah film paling tearjerker di penyelenggaraan Jiffest tahun ini. Director Mohamed Al Daradji mengajak kita kembali melongok kembali peninggalan rezim Saddam Husein, dan alih-alih menjadi film yang berbau politis, film ini toh mengajak kita melihat chaos tersebut dengan lembut, melalui perjalanan seorang ibu mencari anaknya, melalui perjalanan si anak mencari ayah yang tak pernah ia temui. Road trip ini seolah menjadi perjalanan pendewasaan bagi si cucu dan juga menjadi proses healing si nenek sebagai bagian dari kaum Kurdi yang terzalimi di rezim Saddam.

Kekuatan Son of Babylon terletak pada naskah cerita yang disusun dengan sangat luwes. Audiens, sama seperti Ahmed dan neneknya, seolah diajak membongkar teka-teki keberadaan sang ayah. Selain itu, thumbs up juga harus diberikan kepada Shazada Hussein dan Yasser Talib yang mampu menghasilkan chemistry yang sangat pas. Dan pertanyaan movietard mengapa film ini diberi judul di atas, terjawab diakhir film, yang menunjukkan bahwa Babylon memang menjadi tempat penting dalam proses turning point bagi Ahmed. Above all, movietard sangat berharap Son of Babylon benar-benar masuk menjadi nominasi best foreign language movie at Oscar next year because I’m totally believe this movie is really deserved that.

Biutiful

The Plot
Uxbal (Javier Bardem) single parent yang terkena cancer, ini adalah cerita perjalanan Uxbal ketika ia sekarat.

The Comment
Inarritu is back! Ya, dan melalui Biutiful (2010), ia tetap memberikan  sentuhan yang perih dan emosional dalam kisah ini. Uxbal adalah seorang ayah yang pekerjaannya menyelundupkan pekerja imigran. Cerita berkembang ketika Uxbal terkena kanker dan butuh uang lebih untuk pengobatan, sayangnya, terjadi bencana yang membuat kehidupan Uxbal semakin merana. Melalui Biutiful, film Inarritu yang berbahasa spanyol sepenuhnya, Inarritu tidak hanya mengekplor sisi relationship manusia, tetapi mengupas juga sisi after-life melalui kemampuan Uxbal yang juga bisa melihat dunia lain [dan jujur, membuat movietard ketakutan parah dibeberapa scenes]. Ya, Uxbal bukanlah orang baik, tetapi ia juga tidak jahat, human’s grey area inilah yang membuat audiens bisa melihat Uxbal sebagai sarana refleksi diri, mengingat diri kita pun bukanlah orang sempurna.

Inarritu membesut Biutiful dengan tone warna gelap dan mengambil setting sebagian besar terletak di daerah kumuh Barcelona, seolah berusaha menyampaikan pesan, bagaimanapun, gelapnya hidup anda yang akan berakhir dengan kematian, toh hal-hal yang indah tetap saja terjadi. In my opinion, Bardem berakting sangat superb dalam memerankan karakter Uxbal, ia benar-benar menunjukkan kerapuhan manusia ketika tak mampu melawan takdir. Usaha Bardem tak sia-sia, Biutiful mengantarkannya sebagai Best Actor di Festival Cannes 2010. Anyway, hingga kini tetap ada yang mengganjalkan di diri movietard terkait film ini, mungkin jika anda sudah menonton Biutiful, kita dapat bertukar pendapat, yes?

Incendies

The Plot
Ketika sang ibu, Nawal (Lubna Azabal) meninggal, ia mewasiatkan anak kembarnya untuk menyerahkan surat kepada si ‘ayah’ dan ‘saudara laki-laki’

The Comment
Incendies (2010) adalah film kanada yang justru bercita rasa middle-eastern. Film yang disutradarai Denis Villeneuve ini justru menyoroti bagaimana seorang perempuan muda menjalani hidupnya pada era 80an di Lebanon, dimana ia dihadapkan dengan persoalan kasih tak sampai, hamil di luar nikah, perang saudara hingga konflik yang lebih besar, ketika si perempuan ini bergabung dengan kelompok militan dan membunuh pemimpin agama yang disegani. Seolah tak cukup menderita, si perempuan ini juga dipenjara dan mendapatkan sexual abuse.

Diceritakan dalam alur flashback yang menarik dimana setiap cerita memiliki segmen dengan judul tertentu, Incendies memudahkan audiens mencerna story plot film ini. Surat wasiat Nawal adalah point entry Incendies. Dan sama seperti anak kembar Nawal, yang tak lain adalah perempuan muda yang menjadi centre of interest dalam film ini, audiens tidak hanya diajak melihat perjalanan menemukan ayah dan saudara lelaki, tetapi juga ikut membuka lembaran kisah Nawal yang sangat pahit. Secara visual, Incendies tidaklah begitu memukau, justru yang terekam adalah suasana gersang dengan format agak mirip dokumenter. Tetapi dari segi cerita, film ini menyajikan twist yang… ouch, the truth hurts!

Pinoy Sunday

The Plot
Dua orang filipino, Manuel dan Dado menemukan sofa setelah mereka ke gereja di hari Minggu, dan mereka bertekad membawa pulang sofa itu ke apartemennya.

The Comment
Merujuk pada plotnya, film seperti ini [biasanya] akan jadi sekedar komedi slapstick, tetapi Pinoy Sunday (2010) hadir bukan dengan cita rasa Hollywood. Film buatan Filipina ini justru sangat membumi,yang membuktikan Filipina ternyata bisa membuat film komedi yang jauh lebih bagus dari sekedar horror komedi ala Indonesia. Ceritanya mengingatkan movietard akan petualang Mr. Bean atau kabayan karena hal yang sebetulnya mudah justru dipersulit dengan ‘kebodohan’ mereka sendiri. Tetapi toh, sofa merah yang besar bukan hanya jadi satu-satunya persoalan yang melahirkan masalah di hari minggu itu, anda juga diajak melihat potret kehidupan tenaga kerja imigran di Taiwan ataupun persoalan cinta Manuel dan Dado.

What I love about this movie? Dua orang aktor utamanya benar-benar sangat lucu dalam menghadirkan bromance taste dalam film ini. Kredit lebih harus diberikan kepada Bayani Agbayani, si pemeran Dado yang ekpresi dan gesture-nya sangat lucu, bahkan saat ia tidak mengucapkan dialog apapun. Yang tak kalah lucu adalah penggunaan bahasa campur, walaupun mereka tinggal di Taipei, dua karakter utamanya tetap selalu menggunakan bahasa Tagalog bercampur English. Pinoy Sunday memang lahir dari premis yang sangat sederhana tetapi honestly, it’s the funniest movie I’ve ever seen at Jiffest karena biasanya, cita rasa Jiffest cenderung ke arah human drama yang agak berat.

5 thoughts on “Short Review: Jakarta International Film Festival 2010

  1. Hai Movietard waah asyiik neh daftar tontonannya, btw enggak nonton Uncle Bonmee? Wah kami disini ngiler ama yang udah nonton film itueeh…

  2. “Bal,” film yang paling kusuka (terbaik versiku) di 2010, di depan “Uncle Bonmee,” “In a Better World,” “Film Socialisme,” dan “Copie Conforme.”

    Buatku, “Bal” itu film yang paling hati-hati, paling pengertian, paling perhatian, dan yang paling penting, film yang paling kaya mise en scene sepanjang 2010.🙂

    Coba deh nonton triloginya (Trilogi Yusuf — Yumurta, Sut, Bal).

  3. Sekedar gambaran sih, sederhananya saja, Bal itu film tentang feeling of lost, Sut itu feeling of transition, dan Yumurta itu feeling of isolation. Tiga-tiganya disimbolisasikan melalui makanan.

    Yumurta –> Egg
    Sut –> Milk
    Bal –> Honey

    Tiga-tiganya makanan (sumber kehidupan manusia). Tiga-tiganya berasal dari makhluk hidup. Tiga-tiganya mempunyai posisi esensial di masing-masing film. Dan film ini gak sembarangan tiba-tiba dikasi judul “madu.” Makanan di sini nggak sekedar sebagai media penambah energi manusia, tapi juga seolah-olah punya posisi metafisik sendiri.

    Madu di sini mewakili si bapak yang mendapatkan segala macam kebijakan dan pengetahuan tentang dunia melalui pekerjaannya dengan lebah madu. Susu (di film Milk/Sut) mewakili ibunya Yusuf yang asam garamnya lebih alami, lebih natural, ketimbang si bapak yang datang dari keringat (pengalaman), tentang kehidupan, ibarat susu yang mengalirnya secara alami dari badan manusia. Si bapak (madu) merepresentasi life (atau pengalaman hidup). Sementara si ibu (susu) merepresntasikan love (cinta). Terakhir, telur (film pertama) itu simbol kelahiran, atau kehidupan. Nah kelahiran bisa juga dikatakan sebagai gabungan dari life and love.

    Secara keseluruhan, tiga-tiga film itu memang bukan film tentang konflik (apalagi konflik verbal seperti film-film pada umumnya, Biutiful misalnya). Filmnya lebih berupa konflik batin. Atau kalau mau lebih tepat lagi, filmnya lebih berupa experience.

    Perlu diperhatikan juga bahwa nama tokoh dalam trilogi itu adalah Yusuf, dan nama bapaknya Yakub. Itu nama nabi kan? Kalau versi Injilnya, Joseph dan Jakub. Inget gak mukjizatnya Yakub?🙂

    Buatku, Bal (juga Yumurta dan Sut), termasuk salah pengalaman paling berharga dalam sinema sepanjang (bukan cuma 2010) tapi juga dekade kemarin. Seakan-akan film ini sendiri merupakan gabungan dari gaya minimalis-realis sinema Timur-Tengah, Ingmar Bergman, dan Robert Bresson.

    Salam.

    • wohooo! aku baru baca komenmu Rio, internet uda gak unlimited, hiks, dan thanks for ur info
      terutama tentang representasi dari madu, susu dan telur, yaampun, ternyata judul inipun ada meaningnya,

      dan tentang nama tokoh Yusuf dan Yakub, setahuku nabi Yakub itu bisa menyembuhkan orang? bener apa salah ya? salah ya?

      Thanks for sharing ur great experience with Bal, duh, memang deh aku belum mencapai level kamu😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s