Short Review: Festival Film Eropa (Europe on Screen) 2016

Finally di tahun 2016 ini movietard kembali dapat mengunjungi salah satu festival film terbesar di Jakarta yaitu Europe on Screen (EoS). EoS sendiri menawarkan pilihan untuk menonton film-film Eropa bermutu tanpa mengenakan harga tiket masuk. Ya, ketika Festival Sinema Prancis ataupun Jiffest sudah sedikit mengkomersialisasikan event mereka, EoS sejak tahun 2013 lalu hanya mewajibkan audiens untuk antri satu jam sebelum pemutaran film tanpa mengenakan harga tiket masuk. Setelah movietard sempat vakum menghadiri EoS di tahun lalu, di awal bulan Mei tahun 2016 ini, movietard kembali mendatangi pusat-pusat kebudayaan Eropa untuk menonton film-film pilihan produksi negara-negara Eropa. Pada EoS 2016 ini, movietard berhasil menonton 3 (tiga) film and here’s my short reviews.

The Lobster
MV5BNDQ1NDE5NzQ1NF5BMl5BanBnXkFtZTgwNzA5OTM2NTE

The Plot
Ini petualangan David (Colin Farell) untuk menemukan cinta di masa depan yang absurd, yaitu ketika mencintai seseorang berusaha dilakukan secara obyektif dan dalam aturan tertentu.

Continue reading

The Way Way Back

MV5BNTU5ODk5NDg0Nl5BMl5BanBnXkFtZTcwNzQwMjI1OQThe Plot
Duncan (Liam James) terjebak pada libur musim panas yang ‘menyedihkan’, sebelum ia bertemu Owen (Sam Rockwell) yang mengajaknya bekerja di taman bermain air Water Wizz.

The Comment
Another Coming-of-age story which was released at Sundance Film Festival 2013! Setelah The Spectacular Now dan The Kings of Summer, movietard finally menonton The Way Way Back (2013) yang tak kalah heartwarming dari dua cerita sebelumnya. Bahkan, movietard merasa lebih relate dengan kisah film walaupun film ini justru tampak sebagai film yang paling ‘anak-anak’ dibanding kedua film sebelumnya. Hal ini karena karakter utama dalam The Way Way Back, seorang bocah yang cenderung merasa misfits mengingatkan movietard pada diri sendiri ketika zaman masih remaja. Pada masa pertumbuhan, penerimaan akan diri sendiri memang cenderung ditentukan oleh penilaian para significant other di lingkungan sekitar seperti orang tua dan teman-teman. Nah, karakter utama dalam The Way Way Back adalah bocah lelaki berusia 14 tahun yang memang agak socially awkward ketika dihadapkan pada lingkungan. Bisa dibayangkan tidak jika seorang bocah yang memang agak sulit bergaul harus menghadapi lingkungan baru dan orang-orang baru? Bingung, takut dan tak nyaman pastinya!

Continue reading

The Kings of Summer

MV5BMTc3ODA1NTI0MV5BMl5BanBnXkFtZTcwOTE4OTUzOQ_002The Plot
Ini kisah Joe (Nick Robinson) dan kedua temannya yang ‘melarikan diri’ dari rumah orang tua mereka dengan membangun rumah kayu di tengah hutan.

The Comment
Movietard sudah banyak mendengar review positif akan betapa heartwarming-nya film bertemakan coming-of-age, The Kings of Summer (2013) pada gelaran Sundance Film Festival 2013 bersamaan dengan The Spectacular Now. As I wrote before, I think you already knew that coming-of-age themes always have a special attraction to me. Sayangnya pada tahun lalu, movietard belum memiliki waktu untuk menontonnya. Padahal, file film ini sendiri sudah cukup lama ‘nongkrong’ di hard-disk eksternal bersama dengan film coming-of-age lainnya, Mud. Luckily, di bulan Januari ini, movietard memiliki banyak waktu luang dikarenakan tengah libur kuliah *yay!*. So, I finally have time to watch this movie. Apalagi, The Kings of Summer memiliki penokohan dan setting yang mirip dengan one of best children adventure movies yang menjadi favorit movietard, Stand By Me (1986), yang berfokus pada petualang remaja lelaki ‘bermain’ di hutan. Bedanya, jika petualangan Chris dan kawan-kawan didasari oleh semangat menjadi ‘pahlawan’ dengan mencari mayat di hutan, petualangan Joe dan kawan-kawan didasari karena keletihan mereka menghadapi orang tua.

Continue reading

The Spectacular Now

MV5BMjA5MTc0NTkzM15BMl5BanBnXkFtZTcwODEwNjE3OQ@@._V1_SX640_SY720_The Plot
Ini cerita Sutter Keely (Miles Teller) yang pada tahun terakhirnya di SMU justru baru berkenalan dengan si gadis polos Aimee Finecky (Shailene Woodley)

The Comment
The Spectacular Now (2013) sudah menjadi buzz sejak pertengahan tahun 2013 lalu ketika film ini diputar dalam Sundance Film Festival dan mendapat berbagai review yang positif. Film-film dengan tema coming of age memang menghadirkan pesona yang bahkan tetap memikat movietard yang sudah melewati fase tersebut lama sekali. Dan sama seperti The Perks of Being a Wallflower, The Spectacular Now juga hasil adaptasi novel remaja karangan Tim Tharp. Bedanya, tidak seperti Chbosky yang turun tangan dalam menggarap filmnya juga, Tharp mempercayakan The Spectacular Now ditangani oleh orang lain. Movietard sendiri lumayan telat menonton The Spectacular Now karena baru pada awal tahun 2014 ini iseng mengunduhnya *itu pun karena insomnia akut* pada hari Minggu dini hari, dan pada saat itu, movietard langsung mencoba menontonnya supaya bisa lebih cepat tertidur, but hey, turned out… I didn’t fall asleep and after watched it, I just wanna say, love, love, loveee this movie!

Continue reading

Short Review: Festival Film Eropa (Europe on Screen) 2013

Seingat movietard, Festival Film Eropa (Europe on Screen) -selanjutnya disingkat EoS– untuk Tahun 2012 lalu baru saja terlaksana pada bulan November lalu yang review-nya bisa kamu baca disini. Tiba-tiba, EoS Tahun 2013 sudah wara-wiri pada bulan… Mei! Ya, pagelaran EoS tahun ini entah kenapa jauh lebih maju dibanding biasanya, yang mengambil porsi bulan di akhir tahun. Setelah kehilangan 3 hari pertama EoS karena movietard berada di luar kota, mulai hari Senin (4/5) hingga Minggu (12/5), movietard seolah ‘balas dendam’ dengan menonton film-film EoS. EoS tahun 2013 ini tidak lagi merambah jaringan bioskop komersil dan kembali kepada muasalnya yaitu di pusat-pusat bahasa asing tanpa mengenakan harga tiket masuk *yay, i love free screening!!*. Selama kurun waktu 7 hari, movietard sukses menonton 14 film-film dari berbagai negara Eropa. Sedikit perbandingkan, jika dibandingkan dengan pilihan EoS tahun lalu yang masuk ke kategori ‘bagus banget’ atau arthouse movies sekali seperti menampilkan film pemenang Palme d’Or Amour ataupun pemenang best foreign movie di Academy Award melalui In a Better World, EoS Tahun 2013 justru tampil dengan pilihan film yang lebih fun dengan banyak sekali pilihan film yang mengusung tema road trip gila-gilaan. And here’s my short review.

Christmas Tango PosterChristmas Tango [To tango ton Hristougennon]
The Plot
Letnan Karamanindis menyukai istri kolonel atasannya, dan ia memiliki harapan untuk mengajak perempuan itu berdansa tango di acara pesta malam natal.

The Comment
Christmas Tango (2011) awalnya berkesan sebagai film yang suram, apalagi dengan setting barak kamp tentara bersalju di pedalaman Yunani yang jauh dari hiruk pikuk kota. Tetapi, siapa sangka dari kesepian kamp itu lahir sebuah cerita hangat tentang cinta dari para tentara? Kelucuan dihadirkan oleh sosok kaku Karamanindis yang memaksa anak buahnya, Lazarou, untuk mengajarinya berdansa tango diam-diam di luar jam kerja. Kekuatan Christmas Tango adalah bagaimana film ini mampu menghadirkan momen-momen yang sangat heartwarming dan pastinya, mengundang tawa tanpa harus menghadirkan comical scenes. Hanya dengan dialog dan gerak-gerik kedua tentara ketika berdansa tango, audiens sudah dibuat tertawa melihat bagaimana dansa tango yang biasanya dilakukan pasangan lelaki dan perempuan, kali ini dilakukan oleh dua orang lelaki yang didasari tujuan yang berbeda. Tetapi hey, kita semua tahu bahwa seiring dengan semakin seringnya interaksi keduanya, akan ada hal baru yang tumbuh.

Continue reading

What They Don’t Talk about When They Talk about Love

tidak-bicara-cinta_posterThe Plot
Ini cerita pencarian cinta dua gadis remaja yang duduk di bangku SMA, Diana (Karina Salim) dan Fitri (Ayushita Nugraha) dan mereka berdua adalah tuna netra.

The Comment
Ini film yang dari beberapa bulan lalu sudah masuk daftar list movietard, embel-embelnya pun tidak main-main, ikut berkompetisi di Sundance Film Festival yang jadi gelaran film independen paling bergengsi di Amerika sana dan memperoleh review yang positif. It sounds so great, no? Well, memang sih tampak bahwa What They Don’t Talk about When They Talk about Love (2013) seolah sudah mengklasifikasi filmnya sendiri sebagai art movie, apalagi dengan judul yang panjangnya bisa menghabiskan kuota karakter di media twitter tentunya akan membuat audiens mengkerutkan keningnya. Bagi movietard, judulnya yang begitu panjang yang mengundang tanya justru menjadi daya jual WTDTaWTTaL, membuat movietard bersedia menyeret kaki ke bioskop seorang diri di jam pemutaran paling siang padahal biasanya, I’m kind of a late-night viewer. Sebagai penguat diri, movietard merasa sudah cukup bekal dengan telah berusaha menonton beberapa festival film yang menayangkan film-film art khas Eropa, seharusnya sih paling tidak, movietard bisa mencerna isi WTDTaWTTaL. Sebagai tolak ukur, movietard masih tahan menonton Amour buatan Haneke, kalaupun WTDTaWTTaL nantinya menjadi se-painful Amour, I think I’ll ready for that.

Continue reading

Cloud Atlas

MV5BMTczMTgxMjc4NF5BMl5BanBnXkFtZTcwNjM5MTA2OA_002The Plot
Ini adalah enam cerita tentang kehidupan manusia yang terbagi dalam kurun waktu enam abad.

The Comment
Setahu movietard *please correct me if I’m wrong*, selain Argo (2012) yang sempat terkatung nasibnya di ruang penyimpanan Cineplex 21, Cloud Atlas (2012) pun bernasib serupa. Well, tampaknya Cineplex 21 menganggap film ini kurang memiliki daya jual, apalagi, durasinya pun sangat tidak setia kawan yaitu 171 menit. Tetapi, untunglah Cineplex masih punya hati *dan pastinya tak mau rugi karena sudah membeli film ini*, setelah molor hampir 3 bulan dari trailer yang ditayangkan akhir tahun lalu, baru pada akhir Maret, Cloud Atlas dilempar ke jaringan bioskop *yay!*. Tetapi sayangnya, Cineplex 21 tampaknya tetap sangat selektif dalam memilih bioskop untuk Cloud Atlas yang membuat kaum proletar seperti movietard pun menjerit ketika mengeluarkan uang untuk harga tiket. Sebetulnya, apa sih yang menjadi trigger movietard untuk menonton Cloud Atlas? The actors! Ya, walaupun movietad buta sekali dengan story plot film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya David Mitchell, tetapi ensemble cast dalam Cloud Atlas seperti Tom Hanks, Halle Berry, Jim Sturgess dan si cute british guy Ben Wishaw yang ikut bergabung di dalamnya membuat movietard bersemangat menonton Cloud Atlas.

Continue reading