Short Review: Festival Sinema Perancis 2010

Berbeda dengan bentuk review yang biasa, movietard kali ini memakai short review guna merangkum beberapa film yang ditonton dalam Festival Sinema Perancis 2010, yang info lengkapnya dapat diketahui disini. I always like to take part at film festival karena festival seperti ini biasanya memberikan pilihan film berbeda. Well, cerita kehabisan tiket ataupun dimarahi oleh penonton lain adalah hal yang biasa. And here’s my review.

Micmacs a tire-larigot (Micmacs: Non-stop madness)

The Plot
Setelah ayahnya meninggal terkena ranjau dan dirinya terkena peluru nyasar, Bazil (Dany Boon) berniat untuk balas dendam pada produsen senjata.Fortunately, he has an outstanding team to help him.

The Comment
A satirical movie with great value! Micmacs sudah tentu menjadi favorit movietard dalam festival ini, dimana perusahaan senjata hingga Thierry Henry pun tak elak kena sindir. Ketika senjata dianggap sebagai alat untuk membuat kehidupan lebih baik bagi para penguasa, realitasnya jutaan orang tak berdosa terkena dampak berbahaya dari alat ini. Dan Micmacs mengajak anda melihatnya melalui kacamata Bazil dan teman-temannya yang aneh. Dan hei, siapa bilang kelompok aneh ini tak bisa menginspirasi banyak orang? Gunakan youtube sebagai alat freedom of the speech anda!

Disutradari Jean-Pierre Jeunet yang sukses membesut Amelie (2001), Jeunet berhasil menyajikan komedi satir ini dengan sinematografi indah, yang bahkan di luar batas imaji anda. Penggambaran dunia tempat tinggal Basil dan timnya yang berasal dari kaleng menunjukkan betapa kreatifnya Jeunet dan I can’t resist from that singing robot yang mengingatkan Movietard akan Wall-E (2008). Omong-omong, scene pengangkutan dan pengakuan dosa produsen senjata sangatlah outstanding!

Les Enfants de Timpelbach (Trouble at Timpetil)
The Plot

Ketika para orang tua di desa Timpetil sengaja meninggalkan desa untuk memberi pelajaran bagi anak-anak mereka yang nakal, realitasnya para anak memang belajar banyak.

The Comment
Les Enfants de Timpelbach menjadi film heartwarming yang membuat anda tersenyum dari awal hingga akhir. Apa yang istimewa? Selain cerita dan joke yang lucu, yang utama, aktor anak-anaknya sangat adorable dan natural menjadi kunci dari Les Enfants de Timpelbach. Pertarungan antara geng baik pimpinan Marriane dan geng Oscar si jahat tentunya menjadi klimaks film ini, tetapi yang menjadi favorit Movietard justru scenes kecil seperti ketika anak-anak berusaha menggantikan peran orang tua mereka sebagai wartawan, penjual daging hingga penyiar radio ataupun bagaimana cute-nya ketika anak-anak jatuh cinta. It made me laugh so hard!

L’Heure d’été  (Summer Hours)

The Plot
Meninggalnya sang ibu, Helene (Edith Scob) membuat ketiga anaknya diharuskan mengambil keputusan terhadap rumah peninggalan Helene.

The Comment
L’Heure d’été menjadi contoh typical europe movie, dimana kekuatan film terletak pada karakterisasi dan dialog dengan pace yang lambat. Plus, film ini menunjukkan kecintaan terhadap seni yang begitu besar. Dari segi plot, keengganan Helene mengunjungi anaknya di US dan betapa gagap teknologi dirinya tentunya menunjukkan bahwa Helene adalah contoh riil wanita paruh baya masa kini, Ia tahu bahwa dunia telah berputar dan anak-anaknya telah beranjak dewasa with their own life. Ketika keputusan menjual atau menyimpan rumah dihadapkan pada ketiga anaknya, anda semua tahu akhir dari kisah ini karena bagaimanapun, semua orang akan sampai pada fase tersebut.

Pour Elle (Anything for Her)

The Plot
Ketika istrinya, Lisa (Diane Kruger) divonis 20 tahun atas dakwaan pembunuhan, Julian (Vincent Lindon) mencari cara membawa Lisa melarikan diri dari penjara.

The Comment
Jika anda mengharapkan criminal-action dengan tensi tinggi, Pour Elle tidak menawarkan ini. Dengan model flashback dibeberapa bagian, anda justru diajak melihat sisi drama berupa pergulatan batin Julian serta proses Julian mempelajari cara melarikan Lisa. Honestly, ini yang membuat film jadi sedikit membosankan. Walaupun Kruger bermain biasa saja (di mana ia lagi-lagi being objectified by men). Lawan mainnya, Lindon justru bermain baik memerankan suami naif yang berusaha melawan birokrasi. Pour Elle ditutup dengan perfect ending yang membuat anda percaya bahwa life depends on luck.

Faubourg 36 (Paris 36)

The Plot
Pigoil (Gerard Jugnot) berusaha membangun kembali teater musikal dipinggiran Paris guna mengambil hak asuh sang anak, sayangnya hal ini tentu tidak mudah.

The Comment
Faubourg 36 masuk list karena movietard ‘ditipu’ volunteer FSP yang mengatakan film ini adalah sekual dari The Chorus (2004), dan voila,  it’s definitely not a sequel! Kecewa? Sedikit di awal memang, tetapi toh Faubourg 36 juga asyik untuk dinikmati. Dengan alur flashback di mana Pigoil menceritakan kehidupannya periode 1935-1936, yang menyoroti banyak hal, mulai dari hubungan ayah-anak, pertemanan dengan jewish, kehadiran bintang muda yang cantik, hingga fasisme menjadi bagian dari film ini. Selain itu, Faubourg 36 juga menyajikan beberapa french song yang easy listening, Jojo’s song is one of my favorite.

Tellement Proches (Happy Together)

The Plot
Alain (Vincent Elbaz) harus menghadapi anaknya yang hiperaktif, istri, kakak dan adik ipar yang kesemuanya memiliki masalah masing-masing.

The Comment
Kalau di Indonesia, Tellement Proches pastinya akan terjebak menjadi drama keluarga ala sinetron yang sok mengharu biru. Nyatanya, suburban family drama ini dihadirkan dengan cita rasa komedi yang hangat. Ketika setiap individu dalam keluarga mulai merasa jenuh dengan everyday life, they’re trying to find a new and spicy thing, seperti Nathalie yang bosan menjalani peran ibu mencari kedamaian dengan budaya hindu, Catherine dengan jewish’s life style, serta Alain sendiri yang tebar pesona kepada babbysitter. Tetapi apakah itu akan menyelesaikan segalanya? Kenyataannya, mereka tetap terikat dengan kehidupan yang lama, terutama karena anda punya anak yang harus dibesarkan dan sampai kapanpun, family’s love will everlast.


8 thoughts on “Short Review: Festival Sinema Perancis 2010

  1. wah….sepertinya film yang tayang di jakarta sekilas lebih entertaining ya.
    5 film yang bakal tayang di ffp surabaya tanggal 8-9 mei nanti banyak yang menyorot konflik kehidupan sosial.hehehe

  2. iya…aku malah udah bikin jadwal nontonnya.hehehe
    tinggal nyari partner nonton.
    kebanyakan temen2ku suka protes kalo diajak nonton prancis. hehehe

  3. waaaaah gue nntn Tellement Proches jugaaaa.. ko kita ga ketemu yaaa.. suka banget pas adegan anak cewek nyanyi2 trs ga brenti2 pdhl mau makan malem hahaha..
    parah ini film meskipun lucu tapi depresif bgt, gemess ntnnya..

    so far, Festival Sinema Perancis makin kesini makin rame penontonnya. dulu guw nonton masiih sepii bgt, jaman di PIM dan Citos dulu hahaha. bagus sih jd lebih eksis festivalnya, tapi jadi was2 keabian tiket mulu hihihi😀

    • Maaf baru bales In,
      waaa lo nonton di GI juga? satu bioskop dong kitaa…I hope you’re not one of the girls who mad at me karna gue sama temen gue brisik banget pas nonton Tellement Proches ini
      Iyaaa….yang si anak nyanyi ‘clip-clap’ dan ortunya terlihat kagum sementara paman-tantenya males gitu
      Agreed! rame yaaa sekarang…gue juga bete gak dapet tiket Le Petit dan Le Concert, disisi positifnya sih artinya makin banyak audiences yang apresiatif dengan festival film ya

  4. waaah, sirik! lo bisa nonton banyak banget film prancis…
    jadi pengen. bagus2 kayaknya.
    kapan ya gw bisa nonton semuanya? hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s