Short Review: Festival Film Eropa (Europe on Screen) 2012

Festival Film Eropa (Europe on Screen) -selanjutnya disingkat EoS- Tahun 2012 -in my opinion- feel a lil bit different. Ya, festival yang biasanya ‘cuma’ berlangsung di pusat-pusat kebudayaan di Jakarta tahun ini realitasnya sudah merambah satu jaringan bioskop komersil dengan mengenakan harga tiket masuk. No, that’s not a bad thing karena harga tiketnya pun termasuk masih dalam average price but hey! Entah karena film-film yang diputar memang bagus sekali, keberhasilan EoS masuk ke jaringan bioskop komersial dan minimnya gelaran film festival seperti INAFFF yang tahun ini absen *nangis*, movietard sendiri merasakan hype EoS terasa sangat ‘wah’ sekali untuk tahun ini. Luckily, movietard berhasil menonton beberapa film yang a must watch setelah mengatur jadwal sampai dua hari penuh *lebay!*. So here we go! As usual, it’s just only a short review one.

In a Better World Aussie flyer.inddThe Plot
Christian dan Elias ‘baru’ berteman, dan ini kisah mereka dan keluarga mereka menghadapi konflik kehidupan yang ada.

The Comment
Embel-embel pemenang untuk best foreign film 2012 seharusnya menjadi bukti bahwa In a Better World memang a must watch! Movietard sangat menyukai film ini dibandingkan Bullhead dan The Guard yang ditonton di hari sebelumnya. In a Better World tak hanya mengajak kita melihat permasalahan teenager melalui sosok Christian yang ‘berperang’ dengan sang ayah paska kemarian sang Ibu ataupun Elias yang di-bully teman sekolahnya dan merasa takut kehilangan Christian, dengan smooth, In a Better World pun juga menyelipkan konflik individu dewasa melalui sosok ayah Elias. Ayah Elias yang seorang dokter di daerah konflik Afrika dihadapkan dengan berbagai friksi dengan istrinya, tetangga, hingga yang terparah, dengan penjahat perang. Dan In a Better World memotret bagaimana karakter-karakter ini menghadapi konflik tersebut, mengajarkan bahwa kadang langkah terbaik yang diambil belum tentu as the right one.

Continue reading

Advertisements

La Mala Educacion

The Plot
Ignacio (Gael Garcia Bernal) mendatangi teman lamanya, Enrique (Fele Martinez) si sutradara, dan Ignacio menawarkan cerita semi autobografinya untuk difilmkan.

The Comment
La Mala Educacion (2004) menjadi salah satu film yang paling ingin ditonton Movietard sejak beberapa tahun lalu, dan well, kesempatan ini baru datang di akhir pekan kemarin. Alasannya? Walaupun Movietard hanya menonton satu besutan Almodovar, Volver (2006) tetapi, kecintaan Movietard terhadap the sexiest mexican actor, Garcia Bernal dan film-film bertema LGBT membuat film ini masuk a must-watch-list.

Continue reading

Milk

The Plot
Harvey Milk (Sean Penn) adalah seorang aktivis dan politisi gay pertama yang terpilih menjadi anggota San Francisco Board of Supervisors, dan ini adalah biografinya.

The Comment
The most talented bad boy, bad man lebih tepat mengingat usianya saat ini, Sean Penn is back! Dan Milk (2008) menjadi bukti bahwa ia memang salah satu aktor paling berbakat di Hollywood. Setelah berhasil mengimpress movietard melalui I Am Sam (2001) dan 21 Grams (2003), Penn kembali menjadi bintang dalam film ini di mana ia memainkan karakter Harvey Milk dengan sangat meyakinkan.

Continue reading

Y Tu Mama Tambien

The Plot
Tenoch (Diego Luna) dan Julio (Garcia-Bernal) bersahabat erat. Mereka bertemu dengan Luisa (Maribel Verdu), sepupu jauh Tenoch dan ketiganya ber-road trip menuju pantai the mouth of heaven.

The Comment
Y Tu Mama Tambien (2001) menjadi sebuah extraordinary adventure besutan sutradara muda Alfonso Cuaron paska Great Expectations (1998). Dengan seting Mexico city, this is not kind of Hollywood teen drama. Bersama dengan saudaranya Carlos, Alfonso menulis skripnya menjadi sebuah perjalanan pencarian jati diri bagi Tenoch, Julio dan Luisa.

Continue reading

Brideshead Revisited

The Plot
Ini cerita flashback Charles Ryder (Matthew Goode) yang berteman dengan anak dari Lord
Marchmain, keluarga katolik aristokrat Inggris yang tinggal di mansion mewah Brideshead.

The Comment
Brideshead Revisited (2008) adalah adaptasi dari novel berjudul sama karangan Evelyn Waugh, yang menceritakan tentang keluarga Katolik taat yang penuh intrik dilihat dari kacamata seorang pelukis muda agnostik, Ryder. Tetapi, alih-alih menyajikan intrik keagaamaan tersebut, director Julian Jarold dan scriptwriter
Andrew Davies justru membawa kisah ini menjadi Atonement part II.

Continue reading