The Cabin in the Woods

The Plot
Lima orang anak kuliahan menginap di kabin tua di tengah hutan, dimana ‘kengerian’ sudah menyambut mereka.

The Comment
Jujur, movietard susah me-review The Cabin in the Woods (2012) tanpa memberikan spoiler kepada para pembaca setia blog ini *sok banget ya movietard, kayak blog-nya laku aja*. The Cabin in the Woods sendiri, sesuai, dengan premis cerita horror yang sudah begitu umum berkisah tentang anak-anak muda sok berani terisolasi di kabin tua dalam hutan. Selain atmospheric horror melalui suasana kabin tua dan kegelapan malam, toh mereka juga dihadapkan ‘tamu’ tak diundang seperti layaknya dalam Texas Chain Saw Massacre, hingga yang menjadi inspirasi utama untuk The Cabin in the Woods, Evil Dead (1981). Well, movietard sendiri belum menonton Evil Dead, dan jujur, I’m not fan of horror genre tetapi review positif The Cabin in the Woods dan nama besar Joss Whedon selaku produser dan scriptwriter film ini, membuat movietard meluangkan waktu untuk menonton The Cabin in the Woods pada jam pemutaran midnight. And how about the result?

One of the entertaining movie of this year even if you’re not a horror-genre lover! Silahkan pegang kata-kata movietard, kalau anda tidak terhibur ketika menonton The Cabin in the Woods, pastinya ada yang salah dengan suasana hati anda ketika menontonnya, mungkin baru diputuskan pacar misalnya? *Movietard lebay!*. Ya, ada kegilaan yang diberikan oleh director Drew Goddard. Goddard, yang juga membantu Whedon menulis story plot film ini dengan lugas langsung memperkenalkan audiens dengan dengan lima pemuda yang menjadi karakter utama, si atletis Curt (Chris Hemsworth), si blondie bitchie Jules (Anna Hutchison), si pemalu Dana (Kristen Conolly), si pintar Holden (Jesse Williams) dan si geek yang asyik dengan marijuana-nya, Marty (Fran Kranz). Whedon dan Goddar memang memberikan stereotype yang cukup sinis untuk karakter kelima anak muda tersebut, tetapi, anggap saja Whedon dan Goddard memang tengah mengerjai mereka (dan audiens) sepanjang film berlangsung.

Walaupun didasari dengan premis dan karakter yang sudah begitu general dan ter-influence oleh banyak film horror yang telah dibuat sebelumnya, pada perjalanannya, story plot The Cabin in the Woods memiliki esensi yang membedakan film ini dengan film horor lainnya. Alih-alih hanya memberikan atmospheric horror dan kengerian lewat ‘tokoh rahasia’ yang mendatangi kabin tersebut, The Cabin in The Woods justru menghilangkan sisi gore dan memilih untuk berkonsentrasi pada sisi drama melalui kehadiran kelompok ilmuwan dalam ritus penelitian. Kumpulan ilmuwan yang diwakili karakter Sitterson (Richard Jenkins) dan Hadley (Bradley Withford) menjadi kunci utama bagi audiens untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam cerita The Cabin in the Woods. Ya, ketika rahasia yang melingkupi keanehan seputar kabin mulai terkuak, bukan hanya para karakter pemuda-pemudi yang kaget, tetapi juga menimpa audiens yang membuka mulutnya dan berkata ‘what the fcuk!’

Kejeniusan Whedon dalam menjalin kisah The Cabin in the Woods kembali terlihat ketika ia menyoroti culture masyarakat modern saat ini yang memang suka melihat penderitaan (hingga mentertawakan dan tak pelak, menjadikan taruhan!) nasib buruk yang menimpa orang lain, konyol memang, tetapi juga sindiran yang begitu touche, no? Disini, Goddard dan Whedon sangat lihai dalam ‘mengakali’ audiens, membuat audiens akan duduk tenang karena kita telah memain peran baru sebagai bagian dari para ilmuwan yang telah mengetahui rahasia besar itu. What I do love more about this movie? Movietard sangat suka  Whedon juga membalikkan premis jagoan yang ‘selayaknya’ dan mengangkat karakter yang biasanya terpinggirkan menjadi jagoan baru. Jadi, setelah karakter Buffy the Vampire Slayer adalah tribute Whedon terhadap karakter perempuan berambut blonde yang kerap kali meninggal dengan cepat, The Cabin in the Woods mungkin menjadi tribute Whedon kepada pemuda tidak populer yang kerap kali hanya jadi bahan tertawaan dalam film.

Tetapi, The Cabin in the Woods tetap memiliki kelemahan. Selain pedalaman karakter para pemuda yang kurang dieksplor tetapi movietard memakluminya karena The Cabin in the Woods memang lebih berfokus pada ‘petualangan’ para pemuda tersebut dibanding karakterisasi. Kelemahan yang mengganggu adalah, Whedon tidak hanya membalut kisah horror ini dengan unsur science fiction dan comedy, tetapi menyelipkan unsur mitologi yang akan membuat audiens akan mengerutkan kening.  In my opinion, kelemahan lainnya dalam The Cabin in the Woods adalah pada ending yang alih-alih terlihat cerdas justru menyisakan kembali begitu banyak pertanyaan. Ah tapi lupakan saja persoalan tentang ending dan mitologi tersebut, film horror kebanyakan memang meminta audiens mengistirahatkan logika anda. Jadi, lebih baik taruh logika anda di luar bioskop dan biarkan diri anda bersenang-senang dengan kumpulan pemuda-pemudi yang ketakutan, kumpulan ilmuwan apatis dan pastinya siapkan diri anda melihat pesta The Cabin in the Woods ala Whedon yang tak kalah ramai seperti layaknya dalam The Avengers.

In conclusion, The Cabin in the Woods adalah salah satu film comedy horror paling kreatif yang diproduksi di era ketika Hollywood sudah mengalami krisis ide saat ini. Whedon adalah si jenius yang memiliki selera humor tersendiri yang membuatnya mampu mengubah kebiasaan-kebiasaan dalam film horror yang pernah ada menjadi suatu jalinan cerita yang awalnya tampak klise justru menjadi out of the box dengan dialog-dialog yang begitu hillarious. Ya, The Cabin in the Woods jelas menjadi salah skrip terbaik buatan Whedon dengan kejeniusan yang gila mampu menghasilkan sebuah komedi brillian tentang dunia horror itu sendiri. In my opinion, Goddard dan Whedon sukses memberikan hadiah kepada audiens mengalami moviegasm selama 1,5 jam dengan menonton The Cabin in the Woods, bahkan ketika anda bukan pecinta genre horror itu sendiri. Kalau anda ingin melihat film horror dengan taste humor yang cerdas dan berbeda dari kisah-kisah horror klise sebelumnya, The Cabin in the Woods adalah jawabannya.

Ok, I’m drawing a line in the fucking sand. Do Not read the Latin! [Marty]

Do You Know?
The Cabin in the Woods telah selesai diproduksi pada 2009, tetapi sengaja disimpan karena studio ingin membuat film ini dalam format 3D.
The Cabin in the Woods akhirnya di-release pada tahun 2012, dan hanya dalam format 2D sesuai keinginan Whedon dan Goddard.
Dalam buku The Cabin in the Woods: The Official Visual Companion, Whedon menjelaskan bahwa karakter dua ilmuwan dalam film Sitterson dan Hadley ini adalah representasi dirinya dan Goddard.

My Rate
4 stars. The Cabin in the Woods was one of entertaining movies of this year even if you’re not a horror lover! A brilliant script by Whedon and Goddard will make you are having moviegasm for 95 minutes. I can’t reveal story plot more, just watch and enjoy the surprise!

5 thoughts on “The Cabin in the Woods

  1. eh seriusaan gue pengen tau dong spoiler film ini ahahaha soale ga ngaruh juga gue kalo udah film horror apapun judulnya apapun hebohnya tetep aja dingin sedingin batu berhubung penakut menahun bok :)))
    alamat nntn di dvd deh gue nih (itupun nyari temen nonton haha)

  2. awalnya gw kira ni bkal jadi film klise dgn premis horor yg klise pula…tapi ternyata…
    ^^
    salut deh buat Godard and Whedon..walo gw dejavu juga sama beberapa film dgn twist mirip2 bgini

  3. Pingback: Mengenal film The Wood | MENGAJAK:MENGABDI-INOVASI-PRESTASI-BERGUNA-TAQWA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s