Captain America: Civil War

MV5BMTc3NzAxNTUxOF5BMl5BanBnXkFtZTgwMTA2MTQ3ODE@._V1_SY1000_CR0,0,674,1000_AL_

The Plot
Pada installment ketiga ini, Kapten Amerika (Chris Evans) harus melawan Tony Stark/Iron Man (Robert Downey Jr) guna melindungi his best buddy, Bucky Barnes (Sebastian Stan).

The Comment
Walaupun trilogi Batman The Dark Knight garapan Nolan telah memberikan pijakan bahwa film ber-genre superheroes juga dapat menjadi drama serius yang menuntut intellectual cost tinggi dari audiens, toh, sebagian besar film ber-genre ini memang dibuat untuk menghibur tanpa mengkhianati audiens. Ini artinya, selain menghadirkan adegan pertarungan yang seru, film ber-genre superheroes juga membutuhkan story plot yang tidak sepenuhnya membodohi audiens dengan tetap mengusung rasionalitas di dalamnya. Nah, tak mau mengingkari rasionalitas ini, plot utama Captain America: Civil War (2016) menjadi kisah lanjutan pada universe yang sama dalam The Avengers: Age of Ultron.

CAPTAIN2

Duo scriptwriter Christopher Markus dan Stephen McFeely menjadikan chaos dalam The Avengers: Age of Ultron yang terjadi di Sokovia ditambah dengan chaos di New York, Washington DC hingga Lagos, Nigeria sebagai alasan mengapa gerak-gerik The Avengers paska bubarnya S.H.I.E.L.D harus diawasi bersama oleh badan perserikatan bangsa-bangsa. Hal yang menimbulkan perpecahan dalam tubuh The Avengers sendiri. Masalah bertambah pelik ketika dalam proses penandatanganan tersebut, terjadi pemboman yang dilakukan oleh teman lama Sang Kapten, Bucky Barnes sang winter soldier. Percaya bahwa Bucky dijebak, Sang Kapten harus melindungi Bucky sekaligus menangkap penjahat sesungguhnya. Misi yang sangat tidak mudah karena mengharuskan Sang Kapten melawan para koleganya sendiri dalam The Avengers yang dipimpin Iron Man.

Menarik melihat CACW menyajikan pertarungan dua pahlawan utama The Avengers yang memiliki karakter berkebalikan tetapi saling menghormati satu sama lain. Tetapi, menyajikan si kharismatik Downey Jr yang menjadi ‘musuh’ Evans dianggap tidaklah cukup. CACW pun menghadirkan begitu banyak karakter superheroes Marvel yang menjadikan film ini seolah sekuel terbaru The Avengers. Bagaimana tidak, selain kehadiran superheroes ‘lama’ yang telah menyapa audiens melalui series The Avengers semacam Hawkeye, Black Widow, Scarlet Witch, Rhodes, hingga Falcon, audiens juga dimanjakan dengan kehadiran superheroes ‘baru’ semacam Black Panther, Vision yang tampaknya merupakan perwujudan dari program pintar Jarvis, Ant-Man yang telah memiliki film tersendiri, dan tentunya, superhero yang selama ini menjadi anak tiri dikarenakan masalah hak cipta, yang justru menjadi scene stealer dalam CACW, Spiderman.

CAPTAIN1

Walaupun CACW sangat ‘ramai’ oleh ensemble superheroes tersebut, plot utama yang diusung Markus dan McFeely untungnya tidak kedodoran. Dengan premis yang hampir mirip dengan tema dalam Batman vs Superman, CACW mampu menyajikan plot yang tidak seklise pertempuran duo jagoan DC comics tersebut. Ada sedikit twist plot yang diberikan Markus dan McFeely dalam CACW, yang menyajikan realitas dibalik kisah heroik para superheroes ini, setiap aksi akan menyajikan reaksi yang kadangkala tidak sesuai dengan pengharapan. Anyway, salah satu akibat negatif dari twist plot adalah, movietard merasa karakter Zemo menjadi tempelan belaka padahal Zemo sesungguhnya dapat menjadi salah satu villain paling keren dalam marvel universe jika mampu dimaksimalkan, begitupun dengan kurang maksimalnya karakter yang diperankan Martin Freeman yang harus ‘mengalah’ dengan ensemble superheroes.

Pada akhirnya, movietard dapat memaafkan keriuhan CACW karena film ini menyajikan scene stealer yang membuat movietard tertawa melalui kehadiran Peter Parker a.k.a Spiderman. Menarik melihat interpretasi terbaru Marvel terhadap Spiderman sebagai anak muda cerewet yang masih rajin mengerjakan homework, interpretasi yang sangat menyegarkan melihat si manusia laba-laba ini seperti superhero baru yang masih terpukau dengan aksi para superheroes lainnya sehingga Ia kerapkali mengobrol dengan para superheroes, bahkan ketika mereka tengah bertarung! Bagi movietard, kehadiran Spiderman inilah yang menjadi kunci dalam menghadirkan tawa ditengah gegap gempita pertempuran The Avengers 1 melawan The Avengers 2. Selain itu, movietard berterimakasih kepada Markus dan McFeely yang tetap mampu memotret kepribadian dan prinsip Sang Kapten yang tak berubah sedikitpun sejak film pertama, khususnya mengenai loyalitasnya terhadap si best buddy, Bucky Barnes *bromance alert detected* walaupun sejujurnya, plot percintaan Sang Kapten dengan agen CIA tidak perlu ada *possessive mode detected*.

CAPTAIN3

In conclusion, CACW merupakan film pembuka musim panas yang cukup mumpuni, yang lagi-lagi menunjukkan keunggulan Marvel Studio dibandingkan DC Comics pada tahun 2016 ini. Hal ini tak lepas dari keberanian Marvel Studio menjadikan CACW sebagai tongkat penerus universe The Avengers dengan kehadiran ensemble superheroes walaupun di sisi lain, peran Sang Kapten dalam installment ketiga ini terpaksa diminimalisir karena harus memberikan sub-plot terhadap para superheroes lainnya. Walaupun sangat menarik melihat begitu banyaknya ensemble superheroes dalam CACW yang saling bertarung satu sama lain, di satu sisi, hal ini tampak seperti bentuk ketidakpercayaan Marvel Studio terhadap kharisma Evans sebagai Sang Kapten sendiri, yang menurut pendapat pribadi movietard, tanpa dukungan over-supportive dari The Avengers, toh pesona Sang Kapten dan Bucky Barnes sudah cukup membuat movietard melangkahkan kaki ke bioskop.

Semua gambar diambil dari IMDB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s