Deadpool

MV5BMTk1NzEzOTg2M15BMl5BanBnXkFtZTgwMTAyMTgzNzEThe Plot
Wade Wilson (Ryan Reynolds) awalnya hanya vigilante kecil-kecilan sebelum penyakit kanker mengubah ia menjadi immortal dan memiliki alter ego baru, Deadpool.

The Comment
Jujur, movietard agak terkena hype mengenai betapa cool-nya Deadpool (2016) sehingga memutuskan menontonnya di hari kedua pemutaran di Indonesia. Antusiame movietard makin meninggi di awal film ketika Deadpool dibuka dengan opening credit yang begitu asyik, alih-alih menuliskan nama-nama para pekerja film, opening credit Deadpool justru menuliskan ‘an overpaid tool’ untuk mengganti nama sang sutradaranya sementara para aktornya justru dituliskan sebagai ‘a moody teen’, ‘a hot chick’, ‘a british villain’ hingga ‘god’s perfect idiot’ yang tentunya ditujukan bagi Reynolds. Seolah belum cukup meledek sang aktor utama, penulisan julukan tersebut ditemani dengan slow motion dari majalah People yang memuat Reynolds sebagai sexiest man alive ataupun gambar karakter tokoh superhero Green Lantern yang juga pernah diperankan Reynolds. Sebuah sindiran yang lucu sekali kan?

MV5BMTgxODY0NTQ1Nl5BMl5BanBnXkFtZTgwMTY2OTY5NzE

Jadi, sepanjang film, demi menjaga label asyik ini, Deadpool pun dipenuhi dengan jokes yang kesemuanya berdasarkan pop culture. Terkadang, jokes yang dicetuskan pun begitu vulgar, yang seolah mengukuhkan Deadpool sebagai karakter antihero yang kurang ajar. Jokes yang melimpah ini sesungguhnya berisi ajang curhat dua penulis Paul Wernick dan Rhett Reese, seperti dengan mentertawakan produksinya sendiri mengingat Deadpool tidak mampu merangkul para mutan terkenal dari franchise X-Men untuk hadir di film ini. Masalahnya adalah, sampai kapan jokes yang kadangkala langsung disampaikan Wilson ke audiens ini efektif mengundang tawa? Movietard tertawa mendengar ledekan Reynolds ke dirinya sendiri ataupun ledekan terhadap karakter Ellen Ripley, duo profesor X-Men, Neeson hingga Beckham, tetapi di sisi lain, movietard jujur tidak memahami jokes Mama June hingga Iowa festival. Jokes yang terasa sangat America-centric ini sulit dipahami audiens di luar Amerika seperti movietard.

Dikarenakan terlalu sibuk dalam menghadirkan tawa dalam karakter Deadpool, Wernick dan Reese sayangnya lupa menyajikan story plot yang engaging. Dengan narasi maju mundur, Deadpool diharapkan menjadi sajian yang fresh, tetapi dengan story plot yang begitu ringan, gaya penceritaan non linear ini jadi sia-sia. Apalagi, tempelan romantisme antara Wilson dengan Vanessa tidak tergali dengan baik. Audiens juga tidak diajak memahami background dua karakter mutan yang menjadi teman Deadpool, karakter Colossus dan Negasonic Teenage Warhead, padahal sesungguhnya dua karakter ini dapat menjadi subplot yang menarik. Pun begitu dengan karakter villain yang tega ‘menghukum’ Wilson hanya karena… sakit hati diejek urusan nama! Tidakkah karakter villain itu bagian dari sebuah organisasi yang lebih besar? Sangat disayangkan bahwa dengan kecerewetan film ini yang menyindir berbagai hal, Deadpool justru melupakan hakikat utama dari sebuah film, to tell you a good story, not just a good laugh.

MV5BMTY3NTI0ODA0OF5BMl5BanBnXkFtZTgwMDY2OTY5NzE

Story plot yang super cliché dan memiliki bolong dimana-mana ini untungnya tidak serta merta membuat para aktor yang terlibat menjadi membosankan. Luckily, karakter Deadpool berhasil tampil sebagai sosok yang menyebalkan dengan segala kecerewetannya tetapi juga…. sosok teman yang apa adanya. Reynolds bermain begitu lepas sepanjang film yang membuat audiens tetap menyukai karakter ini walaupun Ia gemar sekali mengeluarkan kata-kata kasar ataupun merendahkan perempuan. Deadpool juga didukung oleh si cantik Baccarin yang selama ini sudah wara-wiri di serial Gotham yang menjadi love interest Wilson walaupun jujur, chemistry Baccarin dengan McKenzie jauh lebih terasa dibandingkan Baccarin dengan Reynolds. Yang disayangkan movietard adalah, minimnya screen time bagi supporting team Deadpool, yaitu duo mutan favorit movietard Colossus dan Negasonic Teenage Warhead dan si grandma Al yang sesungguhnya bisa dieksplorasi lebih.

Di sisi lain, director Tim Miller berhasil memberikan seting yang pas bagi Reynolds untuk menyajikan karakter Deadpool yang ‘nyeleneh’. Tetapi, dibandingkan dengan adegan pertarungan yang gigantic, movietard lebih menyukai ketika Deadpool berinteraksi dalam lingkup lebih kecil, seperti di dalam taksi, di dalam pub ataupun di rumah grandma Al, he’s wittier in that way. Hal positif lainnya, Miller menghormati para fanboy Deadpool dengan tetap menyajikan ultra violence pada scene fighting yang sangat sesuai dengan cita rasa komik Deadpool. Sesungguhnya, Miller dapat melakukan penghalusan guna mengejar rating yang cocok bagi audiens usia muda. Tetap bertahan pada rating restricted membuat Deadpool tampil asyik dari segi pertarungan yang berdarah. Anyway, rating restricted ini tentunya membuat Deadpool jelas bukan film superheroes yang cocok bagi anak-anak sehingga pesan movietard kepada para orang tua, never ever think to take your kids to watch this movie!

MV5BNGZmNWNlZTEtYjVlNC00ODVmLTg5NjMtY2NjMGViM2Y5M2UzXkEyXkFq

Pada akhirnya, Deadpool akan diingat sebagai sebuah film superheroes yang memperkenalkan audiens dengan karakter pahlawan yang sedikit menyebalkan dan cerewet dengan jokes yang vulgar, tetapi dengan sifat apa adanya, Ia akan dicintai audiens. Ini artinya, Miller sukses menancapkan karakter Deadpool untuk diterima tidak hanya kepada para fanboy melainkan juga untuk audiens umum, dimana dua kategori audiens ini bersama-sama dapat mentertawakan kebodohan-kebodohan Deadpool melalui kecerewetan dan tingkah lakunya. Dalam mencapai dua misi ini, Miller bisa dikatakan sukses. Sayangnya adalah, Deadpool hanya tampil sebagai karakter yang memesona tetapi terkukung dalam sebuah jalinan cerita yang memiliki lubang dimana-mana membuat film ini seolah menjadi kumpulan kolase stand up comedy atau sketch comedy yang dilakukan Deadpool, sebuah sajian yang menghibur tetapi akan terlupakan begitu saja.

Semua gambar diambil dari IMDB

One thought on “Deadpool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s