Spotlight

MV5BMjIyOTM5OTIzNV5BMl5BanBnXkFtZTgwMDkzODE2NjEThe Plot
Ini cerita jurnalisme investigasi dari surat kabar The Boston Globe yang melaporkan adanya sexual abuse yang dilakukan para pendeta di kota Boston tahun 2002

The Comment
Movietard menonton trailer Spotlight ketika menonton The Big Short dan… langsung jatuh hati! Saking tak sabarnya, movietard menempuh jalur ilegal untuk menontonnya. Movietard pernah mempelajari jurnalisme investigasi dan sangat menyukai tema ini. Laporan investigasi biasanya mengangkat isu-isu seperti korupsi ataupun tindakan kriminal yang dilakukan birokrat dan korporat. Salah satu bentuk jurnalisme investigasi yang paling terkenal adalah ketika jurnalis Bob Woodward and Carl Bernstein membongkar skandal watergate yang melibatkan Presiden Nixon. Nah, laporan investigasi yang menjadi fokus dalam film Spotlight memang tidak membongkar kebobrokan institusi pemerintah dan birokratnya, namun justru mengorek kebobrokan institusi yang jauh lebih sakral, yaitu gereja katolik dan para pendetanya.

MV5BMTYzNzI0MjA0M15BMl5BanBnXkFtZTgwMDQyMDEyNzE

Judul Spotlight sendiri diambil dari judul kolom laporan investigasi The Boston Globe yang dipimpin Walter Robinson (Michael Keaton) dengan tiga anak buahnya, Rezendes (Ruffalo), Sacha (McAdams) dan Matt (James D’Arcy). Selama ini, tim Spotlight memiliki kebebasan memilih isu yang diangkat, tetapi kehadiran editor baru Marty Baron (Schreiber) menginginkan mereka menginvestigasi kasus sexual abuse yang dilakukan seorang pendeta. Kisah bergeliat lebih dalam, dengan semakin banyaknya narasumber yang diwawancari, dari mulai pengacara, para korban hingga wawancara via telepon dengan eks pendeta yang meneliti mengenai fenomena ini. Hasil investigasi menemukan kasus  sexual abuse terhadap anak-anak ini melibatkan 87 orang pendeta di Boston. Menyedihkannya, kasus ini justru ditutup-tutupi dari publik, atau bahkan, publik juga-lah yang ‘menutup’ mata terhadap permasalahan ini.

Tom McCarthy yang menyutradarai dan juga menulis skrip dengan dibantu Josh Singer mengangkat tema yang cukup berat, institusi yang begitu sakral dan kumpulan orang suci realitasnya justru menjadi momok yang menakutkan bagi anak-anak miskin. Dan yang menyedihkannya, gereja katolik dan pimpinannya justru memilih untuk ‘menyelamatkan’ para pendeta ini melalui jalur damai, begitupun dengan penegak hukum yang tidak melakukan apa-apa. Spotlight bisa saja menjadi film cerewet yang penuh amarah terhadap institusi dan sistem yang tidak berjalan adil, tetapi toh, McCarthy tidak lepas kontrol, story plot Spotlight berjalan pelan, tetapi sedikit demi sedikit, bersama dengan proses investigasi yang dilakukan, kebenaran-kebenaran yang terkuak justru menyajikan rasa sakit yang jauh lebih mendalam dibandingkan adegan pertarungan penuh darah di Deadpool *eh*.

MV5BMTQ5NjgyMDM4NV5BMl5BanBnXkFtZTgwMTQyMDEyNzE

Asyiknya, Spotlight didukung ensemble cast yang bermain cantik. Keaton, Ruffalo, McAdams dan James D’Arcy menjadi perpanjangan tangan ke audiens seperti layaknya profesi mereka di film ini. Para jurnalis ini tanpa lelah mengejar berita, tidak hanya melalui kelembutan McAdams, kegigihan Ruffalo, tetapi juga melalui ancaman Keaton. Dan sama seperti audiens, para jurnalis ini juga dibuat terkejut dengan fakta yang terkuak. Jadi, ketika Rezendes meluapkan kemarahannya, letupan emosi ini sesungguhnya adalah emosi audiens, bagaimana hati nurani kita tidak terketuk mengetahui para pelaku pedofilia ini tidak pernah tersentuh oleh hukum. Penampilan apik juga ditunjukkan oleh Stanley Tucci yang menjadi pengacara bagi korban sexual abuse yang menjadi satu-satunya soosk pemarah dalam film ini.

Menariknya, walaupun McCarthy memperlihatkan kebobrokan institusi gereja, di sisi lain, Ia tak menutup mata terhadap intrik yang juga muncul di institusi surat kabar. Bahkan, perubahan yang dibawa Baron di The Boston Globe tak luput dari isu bahwa Ia seorang yahudi. Secara lebih personal, McCarthy menyentil masyarakat, bagaimana seringkali untuk urusan kepercayaan, rasionalitas dipinggirkan, bahkan oleh masyarakat kelas atas yang terpelajar. Movietard hanya bisa menghela nafas dalam ketika seorang korban menjelaskan bahwa sosok para pendeta layaknya perwujudan Tuhan sehingga jika seorang anak memiliki ‘kedekatan’ dengan pendeta, Ia akan merasa spesial. Ya, untuk urusan agama dan kepercayaan, kadangkala manusia memang melupakan akal sehat sehingga perlu diingatkan kembali seperti melalui Spotlight.

MV5BMTY5NzExMTMyM15BMl5BanBnXkFtZTgwOTMyMDEyNzE

Anyway, salah satu alasan kenapa movietard menyukai Spotlight adalah, film ini juga menyajikan romantisme dunia media cetak di era 2000-an, yang kala itu belum terlalu ‘tergerus’ dengan dominasi media digital. Pada akhirnya, Spotlight menjadi memoar bahwa jurnalisme investigasi memiliki peran vital bagi publik. Jikapun audiens tidak puas dengan penyelesaian McCarthy di akhir film, toh McCarthy dan audiens memahami bahwa permasalahan sexual abuse yang dilakukan para pendeta ini tak akan selesai hanya dengan sebuah laporan investigasi. Misi McCarthy sederhana saja, yang serupa dengan misi tim investigasi Spotlight, membeberkan kenyataan yang menyedihkan tersebut ke audiens, bukan mencarikan bentuk hukuman yang ideal sebagai jalan akhir. Ya, Spotlight menjadi tamparan, baik kepada institusi-institusi terkait maupun audiens sebagai masyarakat umum, bahwa kebenaran haruslah tetap disampaikan, bukan ditutup-tutupi.

Semua gambar diambil dari IMDB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s