Surat dari Praha

Poster-Surat-dari-PrahaThe Plot
Larasati (Julie Estelle) menerima wasiat dari sang Ibu untuk mengantarkan kotak dan sebuah surat ke lelaki paruh baya bernama Jaya (Tio Pakusadewo) di Praha.

The Comment
Dari semua jajaran film-film Indonesia yang rilis pada akhir Januari lalu, Surat dari Praha menjadi pilihan teratas movietard. Bukan karena judulnya yang terdengar sangat catchy guna mendorong movietard untuk mengintip Praha melalui film ini, tetapi karena nama Tio Pakusadewo yang selalu tampil maksimal di semua filmnya. Di usia yang justru sudah tidak muda, Pakusadewo is just like a wine, he gets better with age. Ketika mengetahui lawan mainnya si cantik Julie Estelle, movietard sempat berpikir apakah Surat dari Praha akan menjadi Lost in Translation atau Last Love-nya Indonesia, but surprisingly, Surat dari Praha melebihi ekspektasi awal movietard.

SDP-Still-Foto-15

Skrip yang dibuat M Irfan Ramli tidak bertele-tele, audiens diajak mengenal sosok Larasati yang keras, atau tepatnya ditempa keadaaan sehingga menjadi sosok yang keras kepala. Bagaimana tidak, suaminya selingkuh, ia keguguran, ayahnya telah meninggal, sementara sang Ibu tampak tak pernah memedulikannya. Kematian sang Ibu membawa Larasati mengunjungi Praha guna mencari tanda tangan Jaya sebagai syarat kunci penyerahan wasiat sang Ibu. Masalahnya adalah, Jaya juga sama ‘keras’nya seperti Larasati, Ia tak mau menerima dan menandatangani surat yang dibawa Larasati. Interaksi Jaya dan Larasati-lah yang menjadi kunci cerita Surat dari Praha, mereka bertengkar, sebelum akhinya saling menceritakan luka masing-masing.

Menarik bagaimana Surat dari Praha mampu menjalin cerita yang sesungguhnya lumayan berat dalam jalinan cerita yang justru sangat heartwarming. Pemilihan kota tua di Eropa Timur ini bukan tanpa sebab, syahdan, di masa awal orde baru, mahasiswa-mahasiswa pendukung Soekarno yang dilabeli sebagai antek komunis membuat mereka tak dapat pulang ke tanah air. Idealisme menentang rezim orde baru realitasnya dibayar mahal, melalui paspor yang dicabut, melalui buyarnya mimpi bertemu dengan keluarga dan yang dikasihi di Indonesia, bahkan para sarjana muda ini terpaksa bekerja serabutan yang tidak sesuai dengan keahlian profesi mereka. Dengan beban berat seperti itu, surprisingly, Surat dari Praha berhasil menceritakannya tampil tanpa menggurui.

019949700_1439546066-2015-08-13_12.41.15_1

Hal ini mungkin karena karakter lelaki paruh baya yang menyimpan banyak luka dan amarah ini diperankan Pakusadewo. Ia-lah yang membuat Surat dari Praha berdenyut dengan sempurna, karakternya begitu kuat bahkan ketika Ia hanya berinteraksi dengan anjingnya yang diberi nama Bagong. Ketika disandingkan dengan Estelle, Pakusadewo mampu membuat Estelle tampil lepas. Dalam film yang bertipe character driven seperti ini, kekuatan akting para aktor-lah menjadi kunci utama, sehingga ketika director Angga Dwimas Sasongko bercerita bahwa tanpa Pakusadewo, film ini tak akan dibuat, Dwimas Sasongko memahami bahwa Pakusadewo-lah nyawa dalam film ini. Setidaknya, akting Pakusadewo-lah yang membuat movietard berhasil memaafkan product placement permen dan kopi yang begitu kentara sepanjang film.

Selain karakterisasi yang kuat dengan sentilan politis yang diberikan karakter Jaya, Dwimas Sasongko juga menjadikan Surat dari Praha as a little bit musical movie. Sebuah penyegaran yang membuat film ini menjadi romantis, in its own way. Campur tangan Glenn Fredly membuat beberapa lagu Fredly dimasukkan dan literally dinyanyikan oleh dua karakter utama seperti lagu Sabda Rindu, Nyali Terakhir, Untuk Sebuah Nama dan Menanti Arah yang mengiringi cerita Larasati dan Jaya. Di beberapa bagian, lagu-lagu ini begitu pas walaupun di bagian lain seperti scene bernyanyi di pub sebetulnya sih tidak penting-penting amat. Anyway, yang justru membuat movietard agak merinding adalah mendengar Menanti Arah dan lagu nasional Indonesia Pusaka yang berisikan romantisme terhadap tanah air dinyanyikan dalam film ini.

645x430-trailer-terbaru-surat-dari-praha-bahas-cinta-musik-dan-politik-151111o

In conclusion, Surat dari Praha adalah sebuah drama sederhana yang ‘hanya’ berisi dua karakter yang bercerita tentang cinta dan luka yang ditimbulkan akibat cinta tersebut. Yang membuat film ini menjadi menarik adalah subplot politis yang menjadi background cerita cinta ini, yang sesungguhnya menjadi reminder halus kepada audiens. Karakter Larasati adalah kita, para audiens usia produktif yang hampir melupakan bahwa bangsa ini pernah punya catatan kelam di masa lalu. Yang membuat movietard tambah jatuh hati adalah, Surat dari Praha mampu keluar dari pakem sinetron yang movietard pikir bakal terjadi di akhir kisah ini. Two thumbs up untuk M Irfan Ramli yang dapat menjaga jalan cerita dan membuat movietard terisak di akhir film.

Semua gambar diambil dari google images

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s