The Revenant

MV5BMjMzMTY1NDA0Ml5BMl5BanBnXkFtZTgwNTIyMzExNzEThe Plot
Ini kisah ‘perjalanan’ Hugh Glass (Leonardo Di Caprio) menyusuri pegunungan Lousiana hingga ke Fort Kiowa, Missouri.

The Comment
Movietard menonton The Revenant (2015) di bioskop dekat rumah yang alhamdulillah masih dalam masa promo sehingga harga tiket premiere menjadi cukup terjangkau. Hal yang tak disia-siakan movietard dikarenakan setelah menonton trailer The Revenant yang memotret kawasan pengunungan bersalju, movietard berharap selimut yang disediakan di bioskop mampu menahan ‘dinginnya’ film ini. Hype The Revenant sendiri sebetulnya telah ramai dari akhir tahun lalu ketika film ini masuk menjadi nominasi di beberapa ajang penghargaan film bergengsi, yang sebetulnya sih, hype-nya lebih ramai dalam memperbincangkan apakah Di Caprio akhirnya akan sukses membawa patung bugil paman Oscar melalui film ini.

MV5BMzY4MDc0NzQzM15BMl5BanBnXkFtZTgwODkxNjE1NzE_002

Story plot The Revenant diadaptasi dari novel berjudul sama, yang menurut movietard akan lebih baik jika audiens mempelajari sedikit sejarah Amerika sehingga tidak ‘buta’ sama sekali dengan jalan cerita kisah ini. Pada abad ke-18, daerah bagian Louisana dibeli Amerika dari Perancis, dan di masa itu, fur trading menjadi bisnis utama di kawasan utara Amerika. Bisnis ini dilakukan baik oleh kaum native amerika, ‘bule’ Amerika maupun ‘bule’ Perancis, nah, salah satu kelompok yang menjalani bisnis ini dipimpin Captain Henry yang menjadikan Fort Kiowa sebagai base fur trading mereka. Dalam perjalanan mencari bulu di Louisana, Ia mempercayakan kelompoknya ke tangan pemburu berpengalaman Hugh Glass. Permasalahan datang ketika kelompok ini diserang oleh para native dan Glass terluka parah akibat serangan beruang. Setelah fase ini, The Revenant ‘bergerak’ menjadi perjuangan hidup mati Glass kembali ke Fort Kiowa yang didorong semangat (atau nafsu?) balas dendam.

Sejak menonton Amores Perros yang memperkenalkan movietard dengan gaya penceritaan melalui multi narasi ala Innaritu, I never skip his movies. As I wrote before dalam mini review Birdman, Inarritu selalu berhasil menyajikan konflik personal yang sederhana tetapi justru mengusik rasa kemanusiaan kita. Nah, The Revenant kembali menyajikan konflik personal ini melalui para karakternya, sepanjang film, audiens dapat melihat seberapa jauh rasa cinta seorang ayah terhadap anak, rasa serakah, rasa bersalah hingga keinginan balas dendam yang membawa perubahan nasib manusia. Yang membedakan The Revenant dengan film-film Inarritu sebelumnya adalah, seting cerita yang sangat gigantic. Jika Biutiful mengorek rasa bersalah manusia di apartemen kumuh Barcelona ataupun Birdman memotret rasa ingin tenar di teater sempit Hollywood, Inarritu memindahkan konflik ini ke alam terbuka, ke pegunungan indah di Louisana.

MV5BMjQxMTE3ODkxN15BMl5BanBnXkFtZTgwNjU3OTI0NzE

Seting alam yang liar ini berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh sinematografer Lubezki, yang berhasil membingkai kolase perjuangan Glass dengan indah. Siapa yang tak jatuh hati melihat matahari bersinar memasuki celah-celah pohon ditengah hamparan salju yang putih? Setidaknya, seting yang beautifully captured oleh Lubezki ini mampu menolong audiens untuk tidak ikut depresi karena memang tone film The Revenant begitu suram, well, beberapa scenes nyatanya membuat movietard meringis antara ketakutan dan jijik. Sayangnya adalah, keindahan seting ini tidak ditopang dengan narasi maupun dialog yang mudah dicerna. Walaupun The Revenant tidak mengusung konsep multi narasi, tetapi movietard tetap dibuat tak paham dengan narasi istri Glass mengenai pohon, apa mungkin film-film yang masuk ‘award engineered’ memang dibuat untuk tidak mudah dipahami?

Dengan dialog yang minim, luckily, Di Caprio tetap berhasil menunjukkan aktingnya yang baik. Jujur, movietard tetap paling suka akting Di Caprio di The Aviator sebagai Howard Hughes yang bipolar, tetapi hey, siapa sih yang tak terenyuh ketika Di Caprio menaruh kepalanya di dada sang anak? Dibandingkan adegan pertarungan dengan binatang ataupun manusia, bagi movietard, di momen inilah Di Caprio berhasil membuat movietard hampir terisak. Apalagi, Inarritu pun berusaha menangkap momen kesakitan Glass dengan sangat intim, seperti melalui shoots ketika Glass kedingingan yang membuat layar ikut berembun. Jika boleh menambahkan, sesungguhnya penampilan yang fantastis justru ditunjukkan Tom Hardy. Dengan screen time yang minim, Hardy berhasil memaksimalkan ‘kejahatan’ karakternya sehingga nominasi best supporting actor di Academy Award tahun ini sangat layak Ia dapatkan.

MV5BMTc5MzE0NTc5MF5BMl5BanBnXkFtZTgwNzU3OTI0NzE_002

The Revenant memang bukan kisah perjalanan yang menyenangkan ala Watney di The Martian, selama satu setengah jam, kita menyaksikan bagaimana perjuangan bertahan hidup Glass yang sangat sulit di tengah alam liar. Jadi, kalau kamu berharap mendapatkan hiburan dari The Revenant, sesungguhnya petualangan Glass jelas bukan pilihan yang tepat. Anyway, seperti layaknya film-film Inarritu sebelumnya, The Revenant juga tetap menghadirkan keterkaitan sebab akibat antara karakternya, walaupun tidak seeksplisit dalam trilogi Amores Perros, Babel dan 21 Grams, The Revenant sesungguhnya menunjukkan keterkaitan sebab akibat yang paling sederhana di dunia ini, we have a choice to do good things or bad things, and our present good or bad acts will come back to us, it’s what we called karma.

Semua gambar diambil dari IMBD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s