The Way Way Back

MV5BNTU5ODk5NDg0Nl5BMl5BanBnXkFtZTcwNzQwMjI1OQThe Plot
Duncan (Liam James) terjebak pada libur musim panas yang ‘menyedihkan’, sebelum ia bertemu Owen (Sam Rockwell) yang mengajaknya bekerja di taman bermain air Water Wizz.

The Comment
Another Coming-of-age story which was released at Sundance Film Festival 2013! Setelah The Spectacular Now dan The Kings of Summer, movietard finally menonton The Way Way Back (2013) yang tak kalah heartwarming dari dua cerita sebelumnya. Bahkan, movietard merasa lebih relate dengan kisah film walaupun film ini justru tampak sebagai film yang paling ‘anak-anak’ dibanding kedua film sebelumnya. Hal ini karena karakter utama dalam The Way Way Back, seorang bocah yang cenderung merasa misfits mengingatkan movietard pada diri sendiri ketika zaman masih remaja. Pada masa pertumbuhan, penerimaan akan diri sendiri memang cenderung ditentukan oleh penilaian para significant other di lingkungan sekitar seperti orang tua dan teman-teman. Nah, karakter utama dalam The Way Way Back adalah bocah lelaki berusia 14 tahun yang memang agak socially awkward ketika dihadapkan pada lingkungan. Bisa dibayangkan tidak jika seorang bocah yang memang agak sulit bergaul harus menghadapi lingkungan baru dan orang-orang baru? Bingung, takut dan tak nyaman pastinya!

MV5BMjM2Mzc0MjcxM15BMl5BanBnXkFtZTcwOTIzNTM2OQSkrip yang dibuat Nat Faxon dan Jim Rash yang keduanya juga duduk di kursi director mengajak kita melihat satu moment pada siklus hidup remaja, yang dalam cerita ini, tentang bagaimana seorang melakukan penerimaan dan apresiasi terhadap diri sendiri. Mengambil moment musim panas seperti The Kings of Summer, perjalanan liburan Duncan bersama dengan ibunya, Pam (Toni Collette), pacar sang ibu, Trent (Steve Carell), dan anak perempuan Trent, Steph menjadi tidak terlupakan. Setelah Duncan mengalami bagaimana Trent dan Steph sering kali menganggap dirinya sebelah mata, sementara sang Ibu justru tidak melihat -atau pura-pura tidak tahu?- dan memilih untuk menikmati musim panas dengan fun, tentunya, yang dialami Duncan adalah sebuah liburan yang menyedihkan. Ditengah ketidaknyamanan itulah, Duncan bertemu Owen (Sam Rockwell) yang mengajaknya untuk bekerja paruh waktu di taman bermain Water Wizz. Owen sendiri bukan manajer teladan melainkan sosok yang justru sangat suka bercanda sehingga seringkali membuat pusing para pekerja disana. Tetapi dari Owen dan para pekerja di Water Wizz-lah, Duncan belajar untuk lebih menghargai dirinya sendiri.

Sama seperti The Kings of Summer, The Way Way Back realitasnya juga melukiskan konflik yang terjadi antara anak dengan orang dewasa, tetapi, jika The Kings of Summer tampak seperti sebuah selebrasi yang menyenangkan dari remaja lelaki yang ingin dianggap dewasa, The Way Way Back memotret problematika remaja dalam menghadapi orang dewasa dengan lebih sederhana. Kesederhanaan inilah yang membuat audiens merasa relate dengan Duncan, dimana pada momen ketika ia sebetulnya tak nyaman dengan polah sang ibu dan pacar sang Ibu, Duncan realitasnya hanya bisa diam dan lalu, melarikan diri dengan menaiki sepeda tanpa arah, bukan lantas ‘membangun’ rumah di tengah hutan. Pertemuan Duncan dengan Owen jelas menjadi turning point dalam siklus hidup Duncan, yaitu bahwa ketika ia merasa seluruh dunia memandangnya remeh, Owen dan rekan-rekan sekerjanya justru menghargai kerja keras yang ia lakukan. Tanpa Duncan sadari, pada momen selanjutnya, keberanian telah tumbuh dalam dirinya,  yang membuat ia lebih ‘bisa’ bergaul dengan remaja lainnya, termasuk flirting dengan gadis tetangga yang cantik ataupun menyuarakan perasaannya kepada sang Ibu.

MV5BMjA2NjY4MzM3MF5BMl5BanBnXkFtZTcwMTMzNTM2OQKeunggulan The Way Way Back yang membuat movietard sangat menikmati film ini adalah bagaimana para casts-nya mampu menampilkan karakter-karakter dengan baik. Liam James sebagai Duncan bermain sangat natural, bahkan dari gesture-nya dimana sering kali ia terlihat berjalan dengan bahu menunduk menunjukkan adanya perasaan tidak nyaman dan tidak percaya diri yang tentunya membuat audiens berempati pada Duncan. The Way Way Back juga didukung dengan supporting actors yang memerankan karakter orang-orang dewasa disekitar Duncan dengan baik, audiens akan dibuat membenci Trent -yang diperankan dengan sangat menyebalkan oleh Steve Carell-, gemas dan sayang dengan Owen ataupun merasa empati dengan sang Ibu yang justru terlihat begitu takut menghadapi kenyataan. Overall, Faxon dan Rash menyajikan representasi orang dewasa yang bukan hadir dengan segala kesempurnaan sebagai role model bagi anak-anak, justru, mereka hadir dengan segala kekurangannya masing-masing. Bahkan, ketika kekurangan ini seharusnya menjadi hal negatif, tetapi menyenangkan, Faxon dan Rash berhasil membuat audiens jatuh hati seperti bagaimana melihat interaksi Duncan dengan Owen yang tampak sangat sweet.

Kalaupun ada sedikit kekurangan dalam The Way Way Back, hal ini bagaimana Faxon dan Rash menutup cerita yang agak mengambang hingga akhir. Apalagi, ketika audiens sudah menunggu-nunggu momen ‘balas dendam’ Duncan dan sang Ibu and, voila!  Duncan dan sang Ibu justru tak membalas perlakuan ‘jahat’ Trent, penonton tentunya sedikit kecewa. Well, kalaupun yang diinginkan Faxon dan Rash adalah menjalin cerita The Way Way Back dengan tidak menggampangkan kisahnya sehingga menyisakan beberapa problematika yang tak diselesaikan hingga tuntas, mereka mencapai misi ini. Pada akhirnya adalah, The Way Way Back menjadi sebuah film coming-of-age yang tidak memiliki misi muluk mengingat si karakter utama tak lantas melakukan perubahan besar pada akhir cerita. Memang sedikit membuat gemas ketika movietard menontonnya, tetapi toh hal ini realitasnya menjadi refleksi kehidupan nyata, bahwa memang terkadang, permasalahan hidup tak selamanya bisa dituntaskan, dan The Way Way Back melukiskannya dengan cukup bittersweet akan hal ini.

MV5BMTY4OTczMzUyMF5BMl5BanBnXkFtZTcwMDkwMjY4OAIn a conclusion, The Way Way Back memang bukan sebuah film dengan tema yang fresh, kisah tentang bagaimana seorang remaja struggling dalam melewati masa coming-of-age memang telah banyak dibuat sebelumnya. Tetapi, bagi movietard, The Way Way Back memiliki banyak keunggulan karena proses struggling Duncan yang merasa misfits ini disajikan dengan begitu sederhana dan believable. Dengan segala problematika yang tersaji, audiens dapat melihat bagaimana akhirnya Duncan ‘tumbuh’ sepanjang film walaupun toh ia tak berusaha membuktikannya perubahan ini kepada orang-orang yang meremehkannya sebelumnya, tetapi sesungguhnya Duncan telah mengajarkan kepada kita bahwa pembuktian yang paling utama adalah kepada diri sendiri. Ya, dengan karakter-karakter yang seolah begitu riil dan berkembang layaknya orang-orang yang kita kenal, perubahan diri Duncan dari awal hingga akhir menjadi begitu riil dan menyentuh untuk dinikmati, dimana Duncan berhasil melewati proses acceptance to yourself dengan bantuan dari Owen. A very loveable one!

You’ve got to go your own way, and you, my friend, are going your own way [Owen]

Do You Know?
Skrip The Way Way Back telah dibuat sejak tahun 2007, dengan judul awal The Way Back, tetapi diubah menjadi The Way Way Back karena terdapat film berjudul The Way Back (2010)
Pada versi awal, seharusnya setting The Way Way Back adalah di tahun 1984, tetapi diubah ke masa kini dikarenakan adanya keterbatasan biaya. But hey, dengan minimnya penggunaan teknologi, sepertinya cita rasa The Way Way Back tetap terasa oldies kok!
Memerankan karakter Owen yang suka bercanda membuat Sam Rockwell terkena getahnya, dimana pada suatu scene ketika ia tengah bercanda dengan menggunakan speaker di taman bermain air, ia mengeluarkan joke tentang herpes yang didengar oleh pengunjung asli termasuk anak-anak yang membuat Rockwell harus meminta maaf kepada pemilik dan pengunjung karena hal ini

My Rate
3,5 stars. The Way Way Back is a simple, lovely and heartwarming coming-of-age story about a boy who finally accepted for who’s he’s. Only with a very good writing and good acting for all the cast and without any dramatization and special effects,  The Way Way Back, surprisingly, won my heart. 

all the picture was taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s