The Kings of Summer

MV5BMTc3ODA1NTI0MV5BMl5BanBnXkFtZTcwOTE4OTUzOQ_002The Plot
Ini kisah Joe (Nick Robinson) dan kedua temannya yang ‘melarikan diri’ dari rumah orang tua mereka dengan membangun rumah kayu di tengah hutan.

The Comment
Movietard sudah banyak mendengar review positif akan betapa heartwarming-nya film bertemakan coming-of-age, The Kings of Summer (2013) pada gelaran Sundance Film Festival 2013 bersamaan dengan The Spectacular Now. As I wrote before, I think you already knew that coming-of-age themes always have a special attraction to me. Sayangnya pada tahun lalu, movietard belum memiliki waktu untuk menontonnya. Padahal, file film ini sendiri sudah cukup lama ‘nongkrong’ di hard-disk eksternal bersama dengan film coming-of-age lainnya, Mud. Luckily, di bulan Januari ini, movietard memiliki banyak waktu luang dikarenakan tengah libur kuliah *yay!*. So, I finally have time to watch this movie. Apalagi, The Kings of Summer memiliki penokohan dan setting yang mirip dengan one of best children adventure movies yang menjadi favorit movietard, Stand By Me (1986), yang berfokus pada petualang remaja lelaki ‘bermain’ di hutan. Bedanya, jika petualangan Chris dan kawan-kawan didasari oleh semangat menjadi ‘pahlawan’ dengan mencari mayat di hutan, petualangan Joe dan kawan-kawan didasari karena keletihan mereka menghadapi orang tua.

MV5BMTc2NjgzNDYwNV5BMl5BanBnXkFtZTcwNzkzODY1OQSkrip yang dibuat Chris Galletta mengajak kita menyusuri daerah suburban di Amerika Serikat, memperkenalkan kita dengan Joe, si remaja usia sekolah menengah. Ia tak begitu populer di sekolah tetapi memiliki seorang sahabat baik dari kecil yang kakinya tengah sakit, Patrick (Gabriel Basso). Sayangnya, Joe memiliki hubungan kurang baik dengan ayah yang dianggap terlalu otoriter paska meninggalnya sang Ibu. Kekesalan Joe memuncak ketika sang ayah ‘menghukumnya’ dikarenakan ia menelepon polisi untuk melaporkan pencurian ketika mereka tengah bermain monopoli *lucu sih*! Ditengah keinginan keras untuk keluar rumah itulah, Joe dan rekannya yang bertemu ditengah pesta, Biaggio (Moisés Arias), secara tak sengaja menemukan sebuah tanah lapang di tengah hutan yang dideklarasikan Joe sebagai tempat untuk rumah mereka. Singkat cerita, ketiga remaja ini berhasil membangun rumah impian Joe. Ya, mereka menjadi raja hutan di musim panas yang memiliki kebebasan sepenuhnya atas diri mereka, dengan singgasana berupa rumah kayu berantakan. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, bisakah Joe dan kawan-kawan terus hidup seperti itu?

Ada dua poin utama yang seringkali disorot dalam film-film bertemakan coming-of-age. Yang pertama adalah hubungan percintaan di usia muda dan yang kedua, relasi orang tua dan anak. Kadang, permasalahan yang hadir dalam relasi yang kedua ini jauh lebih pelik dibandingkan permasalahan percintaan remaja, seperti yang digambarkan dengan begitu tragis dalam The Virgin Suicides (1998). Nah, The Kings of Summer tidak tampil setragis The Virgin Suicides, The Kings of Summer menyajikan konflik antara anak-orang tua yang lebih ringan. Joe dan Patrick sama seperti kita kala remaja yang ibaratnya, tengah ‘bandel-bandelnya’ dan mengalami fase ‘hate our parent’. Ya, dengan trigger berupa sosok ayah yang menyebalkan sementara sang kakak sudah tinggal terpisah bagi Joe dan sosok orang tua yang terlalu over-protektif bagi Patrick membuat mereka berdua gerah dengan semua aturan dan perintah yang diberikan. Keinginan untuk hidup mandiri tanpa aturan orang tua inilah yang membawa Joe dan kawan-kawan menjadi ‘raja’ di hutan. Pada paruh pertama, Galletta mampu meramu story plot menjadi menarik, dengan mengambil alur flaschback sedikit, audiens sudah diajak penasaran dengan permainan gendang yang begitu enerjik di tengah hutan. Pada paruh pertama, adventure Joe dan kawan-kawan sangat asyik dinikmati, termasuk dalam usaha mereka membangun rumah sambil tetap bersenang-senang di hutan ataupun montase yang begitu lucu ketika mereka bermain di hutan, di sungai, atau ketika mereka hanya messing around with each other.

MV5BMzI4NjExNDQ3MV5BMl5BanBnXkFtZTcwMDA0ODY1OQSayangnya, pada paruh pertengahan ke belakang, Galletta seolah kehilangan arah. Kelucuan yang awalnya hadir makin akhir justru semakin minim. Jika ia memaksudkan The Kings of Summer sebagai sebuah drama komedi, ia justru menghilangkan citarasa komedi tersebut diakhir karena menghadirkan ragam konflik yang terlalu banyak. Ya, ragam konflik ini termasuk didalamnya pelaporan penculikan orang tua, triangle love yang melibatkan teman sekolah mereka, pertengkaran Joe dan Patrick, hingga momen ketika Biaggio berusaha menjadi teman yang setia. Dengan kesemua ragam konflik tersebut, audiens kehilangan momen kehangatan persahabatan para anak ini. Apalagi, Galletta tampak terburu-buru menyelesaikannya semua problematika tersebut sehingga ending-nya terasa kurang emosional. Movietard mengharapkan momen yang jauh lebih deeper antara Joe dengan ayahnya ataupun dengan Patrick sehingga rasanya, dialog one liner dari sang ayah ataupun satu gesture tangan Joe terhadap Patrick terasa begitu minimalis paska segala drama yang terjadi sebelumnya. Oia satu lagi, karakter Biaggio -entah memang disengaja atau tidak- dibuat begitu misterius bahkan ketika sosok ayah yang lain terlihat, wajah ayah Biaggio tak terlihat penuh -hanya rahangnya saja!- yang membuat movietard sangat penasaran dengan background Biaggio.

Lepas dari story plot yang kurang emotionally engaged di akhir, The Kings of Summer untungnya ditopang oleh penyutradaraan Jordan Vogt-Roberts yang cantik. Ya, Vogt-Roberts berhasil memotret kemisteriusan hutan justru menjadi sangat indah. Memang, beberapa close up shoot dari serangga ataupun ilalang yang disorot dengan slow motion terasa seperti peniruan dari Mallick’s style tetapi bagi movietard, penggambaran hutan yang dipadukan dengan sinar matahari dalam kamera Vogt-Roberts justru menjadi representasi akan kehangatan masa muda. Hutan tidak lagi dibuat menjadi tempat mencekam melainkan justru menjadi tempat yang menyenangkan, apalagi, ketika para anak muda tersebut menjadikannya sebagai tempat mereka bermain. Kedua, Vogt-Roberts juga sukses ‘mengantarkan’ para aktor remaja yang rata-rata berusia baru hampir 20 tahun ini bermain dengan luwes. Audiens dapat melihat bagaimana karakter Joe tumbuh dewasa, bahkan ikut merasakan penderitaannya ketika ia harus struggling seorang diri dan merasakan sakitnya patah hati. Tetapi bagi movietard, bintang dalam The Kings of Summer adalah si funny, Biaggio, yang dperankan dengan begitu cute oleh Arias. Dimaksudkan sebagai pusat dari kelucuan dalam film ini, Arias justru berhasil membuat kita jatuh cinta kepada Biaggio. Biaggio sendiri sukses menghadirkan beberapa laughable moment bagi movietard sepanjang menontonnya, bahkan ketika ia hanya mengucapkan ‘I can read, I just can’t cry’.

MV5BMTkwMTg4Njg0M15BMl5BanBnXkFtZTcwNjkzODY1OQIn conclusion, walaupun movietard tidak puas dengan ragam konflik dan penyelesaian yang dilakukan Galletta di ending film yang tidak menyajikan kedalaman emosi, hal ini termaafkan dengan bagaimana Joe dan kawan-kawannya tampil begitu natural sepanjang film since they’re toooooo adorable to watch! The Kings of Summer memang tidak melampaui atau setara dengan masterpiece Rob Reiner, Stand By Me, tetapi film ini menjadi representasi sederhana akan problematika masa muda dan bagaimana remaja menghadapinya, ya… dengan lucu-lucu bodoh seperti yang dilakukan Joe. The Kings of Summer jelas jauh lebih bagus dibandingkan film-film remaja science fiction ataupun yang berdasarkan mitos yang membobardir kita beberapa tahun belakang ini. Tidakkah kita sudah terlalu lelah mengikuti petualangan remaja yang menjadi vampir, penyihir, werewolf ataupun para remaja alien? Nah, The Kings of Summer hadir dengan segala kesederhanaannya dengan sentuhan humor yang cukup manis. Sayang sekali The Kings of Summer tidak di-release di Indonesia, sesungguhnya film ini dapat menjadi medium of learning bagi para remaja yang tengah ‘bandel-bandel’-nya dan sekaligus reminder kepada para ibu untuk membuat anak remaja mereka untuk melepaskan diri dari tombol-tombol PSP, smartphone, tablet or laptop because boys, adventure is out there!

We have walter, shelter, we can put balanced meal on the table, I mean, we answer to no one. We’re men [Joe Toy]

Do You Know?
Skrip Chris Galletta untuk The Kings of Summer masuk dalam daftar The Black List -yang merupakan list skrip terbaik yang belum diproduksi Hollywood pada tahun 2009 lalu-, yang juga merupakan skrip perdana Galletta
Sebelum berjudul The Kings of Summer, film ini sempat diberi judul Toy’s House yang merujuk pada rumah kayu yang dibangun oleh Joe. Toy sendiri adalah nama keluarga Joe
Setelah credit title berakhir, masih ada scene yang menggambarkan Biaggio! Duh, hal ini membuat movietard semakin penasaran dengan latar belakang ataupun apa yang ada di benak Biaggio

My Rate
3 stars. The Kings of Summer is a fun adventure of three boys who’s ‘trying’ to be man by living in their own. I love the natural performance by all the boys -Biaggio’s character is scene’s stealer since he’s very fun to watch!-. I also love the laughable story-plot at first half eventho’ I’m not really emotionally invested with the ending.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s