The Secret Life of Walter Mitty

MV5BMTQzNzU5NzQ4OF5BMl5BanBnXkFtZTgwODk3MDgxMDEThe Plot
Ini kisah petualangan Walter Mitty (Ben Stiller), si manager pemegang negatif foto di majalah Life, yang harus mencari klise nomor 25 untuk sampul terakhir majalah Life.

The Comment
Kapan terakhir kali kita melihat Ben Stiller tampil menakjubkan? Dalam perannya sebagai Chas dalam The Royal Tenenbaums tahun 2001? Selebihnya, Stiller bersama gerombolan frat pack-nya lebih sering bermain di komedi Hollywood yang menuai keuntungan komersial. But hey, Stiller sesungguhnya memiliki bakat yang jauh lebih besar daripada tampil lucu, ia-lah sutradara yang membuat film yang ditasbihkan sebagai ‘salah satu film terbaik generasi X’, Reality Bites (1994) yang kenes berbicara tentang pilihan menjadi dewasa ketika kita dihadapkan dunia kerja paska lulus kuliah, dimana Reality Bites justru merayakan kehidupan anti kemapanan dan anti-work. Memang terdapat mimpi yang kelewat berbahaya ketika film ini justru menjadikan kemapanan sebagai hal yang membosankan sementara sang pahlawan justru adalah individu yang memilih pilihan paling demokratis di seluruh jagad raya, yaitu mengikuti kata hati. Faktanya, Reality Bites adalah jeritan hati Stiller terhadap dunia yang kala itu sudah terlalu terlelap dalam kapitalisme. Paska Reality Bites yang menjadi directorial debut Stiller, movietard pikir, ia tak akan pernah berada dibelakang layar kembali hingga datanglah The Secret Life of Walter Mitty (2013) yang turned out, menjadi salah satu film paling sweet yang dibuat Stiller.
MV5BMTkwNDQ4ODQ5OV5BMl5BanBnXkFtZTgwMDk1ODkzMDE_002Kisah dalam The Secret Life of Walter Mitty sesungguhnya bukanlah kisah baru. Diadaptasi dari cerita pendek berjudul sama yang terbit tahun 1939 karangan James Thurber, kisah ini sendiri sudah pernah difilmkan pada tahun 1947. Luckily, kisah tersebut masih sangat relate dengan kehidupan kita saat ini. Walter adalah seorang pekerja white-collar yang well, same like millions people, is having an ordinary life. Satu-satunya ‘keanehan’ Walter dibanding manusia umumnya adalah, ia gemar mengkhayal bahkan saking kronisnya, ia mengkhayal dimana saja, bahkan ketika ia tengah bersama Cheryl, rekan sekerja yang ia sukai. Selebihnya, Walter adalah seorang pekerja keras yang tidak neko-neko. Rutinitas kerjanya adalah memilih dan menyimpan kumpulan foto-foto terbaik untuk majalah Life yang dikirimkan para fotografer dunia, termasuk salah satunya adalah Sean O’Connell (Sean Penn). Ketika O’Connell mengirim klise foto terakhir tetapi klise nomor 25 -yang justru paling penting tak ada-, atas nama tanggung jawab terhadap pekerjaan, Walter mencari O’Connell guna menemukan klise tersebut. Perjalanan mencari O’Connell ini mengharuskan Walter pergi ke Greenland, Iceland hingga ke… Himalaya! Quite an effort, no?

The Secret Life of Walter Mitty adalah road movie yang memang dibuat dengan memasukkan unsur-unsur dramatis berlebih untuk ceritanya but surprisingly, tetap terasa manis. Over-dramatis yang melibatkan aksi berlebih ini sudah terlihat dari kegemaran Walter mengkhayal yang sesungguhnya adalah cara ia ‘melarikan’ diri dari rutinitas yang membosankan. Tetapi, Walter -sama seperti kebanyakan manusia- terlalu takut untuk benar-benar melarikan diri dari zona nyaman tersebut. Alhasil yang ia miliki hanyalah imajinasi-imajinasi liar saja, dimana dalam segala khayalannya, ia-lah pahlawan sesungguhnya. Dan yang membuat film ini semakin over-dramatis adalah, pada babak selanjutnya, Walter mengalami adventure paling menakutkan yang pernah dialami seorang manusia. Bagaimana tidak, ia terjatuh dari pesawat, terdampar ditengah laut, hampir dimakan ikan hiu, ber-skateboard di Iceland, menghindari letusan debu gunung merapi, memasuki kawasan konflik hingga mendaki Himayala. Jika logika anda bertanya bagaimana mungkin seorang pekerja kantoran bisa menjalani semua kegilaan itu ataupun bagaimana mungkin sinyal handphone tetap ada di atas pegunungan Himalaya, movietard hanya meminta anda meletakkan logika di luar ruang bioskop karena poin penting dalam The Secret Life of Walter Mitty bukanlah tentang adventure menghadapi mother of earth tetapi justru petualangan ke dalam diri Walter.

MV5BNjQ0MTQyNTM3OV5BMl5BanBnXkFtZTcwMzQ0NjkzOQLepas dari kisah perjalanan Walter ke kota-kota dengan pengalaman amazing tersebut, skrip yang dibuat oleh Steve Conrad tampil sederhana tetapi justru terasa satir, dengan tema utama yang lahir dari pertanyaan, apa yang akan terjadi ketika seorang pekerja yang selama ini telah dihadapkan dengan rutinitas diharuskan mengalami hal baru? Ya, The Secret Life of Walter Mitty menjadi sebuah petualangan ke dalam diri sendiri dimana Walter justru menemukan turning point dalam hidupnya. Memang, proses ini tidak se-gigantic seperti dalam Gravity, tetapi toh siapa yang bisa menampik indahnya pedesaan di Iceland ataupun begitu kerennya pegunungan di Himalaya? Landscape yang beautifully captured oleh Stiller yang duduk dibangku sutradara ini menjadi salah satu jualan dalam The Secret Life of Walter Mitty. Tetapi, The Secret Life of Walter Mitty toh menyajikan sesuatu yang beyond all those beautiful landscapes, yaitu bahwa sesungguhnya perjalanan menemukan keberanian bisa saja dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dalam film ini, Water baru menemukan dorongan atas hal ini dikarenakan ‘kebandelan’ O’Connell, seseorang -dan mungkin satu-satunya- yang mengapresiasi pekerjaannya dan memahami Walter, lebih dari ia memahami dirinya sendiri.

Menurut movietard, selain story plot yang sangat relate dengan kehidupan manusia modern saat ini dimana kita semua seolah dituntut untuk work for living, kekuatan lain dalam The Secret Life of Walter Mitty adalah penampilan gemilang Stiller yang dapat melepas embel-embel comedian yang selama ini membuat kita tertawa dengan joke slapstick-nya. Dalam The Secret Life of Walter Mitty, ia tampil serius, dan audiens dapat melihat transformasi tidak hanya secara fisik tetapi dari ekspresi, gesture, hingga tatapan matanya, bahwa ia telah ‘growing’ dari seorang pekerja yang sudah terlalu lama hidup dengan rutinitas menjadi seseorang yang lebih berani dalam menghadapi hidup! Hal ini dibuktikan dengan semakin berkurangnya momen mengkhayal ia alami, bukan? In my opinion, ini salah satu akting terbaik Stiller yang pernah movietard tonton. Dan seolah belum cukup, The Secret Life of Walter Mitty didukung oleh kumpulan lagu-lagu indie rock dan pop folk yang benar-benar sesuai dengan tone film ini yang begitu lembut. Lagu-lagu dari Arcade Fire, Of Monsters and Men, ataupun Rogue Wave benar-benar sangat easy listening dalam menemani audiens menikmati petualangan Stiller, yang membuat movietard bahkan rela duduk sejenak setelah film berakhir hanya untuk mendengarkan lagu penutup di credit title film ini.

urlIn conclusion, The Secret Life of Walter Mitty adalah film pembuka tahun 2014 yang sempurna, momen yang pas bagi setiap orang untuk melakukan refleksi atas apa yang telah tercapai dan apa yang akan dilakukan di tahun ini. Perjalanan Walter yang menakjubkan sesungguhnya adalah petualangan kedalam diri sendiri, yang justru berisikan banyak pembelajaran hidup yang begitu penting, untuk menemukan keberanian dan arti hidup. Jika selama ini Walter hanya ‘berani’ berimajinasi, toh ia akhirnya benar-benar berani berpetualang. Sebuah pesan yang begitu sederhana dan manis. Kita sudah banyak mendengar slogan ‘You Only Live Once’ tetapi dalam The Secret Life of Walter Mitty, slogan ini justru tersirat dengan sangat pas. Apakah kita sudah benar-benar menemukan tujuan hidup? Atau selama ini kita terlalu takut untuk mencarinya sehingga memilih terjebak dalam sebuah rutinitas yang membosankan? The Secret Life of Walter Mitty adalah sebuah film yang sangat inspiratif dan menjadi reminder saat kita sudah merasa lost dan terlalu sumpek dengan pekerjaan, tontonlah kembali The Secret Life of Walter Mitty sehingga kita memahami apa arti petualangan hidup itu sendiri sekaligus well, mentertawakan diri yang selama ini terjebak dengan rutinitas tersebut. Jadi, ngomong-ngomong, kapan ya movietard dapat bermain sepakbola dengan anak-anak di Afghanistan?

To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life [Walter Mitty]

Do You Know
Sebelum Stiller terpilih, nama Jim Carrey, Mike Myers, Owen Wilson dan Sacha Baron Cohen sempat masuk bursa sebagai pemeran Walter Mitty. We glad Stiller is the one who got the role!
Ben Stiller terpilih untuk pemeran utama The Secret Life of Walter Mitty oleh sutradara Gore Verbinski. Sayangnya, Verbinski harus mengerjakan proyek The Lone Ranger sehingga Stiller mengambil alih kemudi director.
Walaupun tidak otentik, Life Magazine sebagai tempat Walter Mitty bekerja realitasnya memang mengalami pasang surut dalam industri cetak sebelum akhirnya benar-benar menjadi media online yang sayangnya juga telah ditutup pada tahun 2012. Beberapa gambar Life dapat ditemukan di Google, Time atau Tumblr.

My Rate
4 stars. One of inspirational and beautiful movie I’ve ever watched! The Secret Life of Walter Mitty is beautifully captured, well-written, well-acted and having great soundtrack too! Obviously a great work from Stiller! A movie with very sweet message that will make you reconsider what do you do for life. Strongly recommended!

6 thoughts on “The Secret Life of Walter Mitty

    • Lebih kental unsur dramanya mba, kalaupun ada taste komedi ya cuma 30%, dan lebih kearah dialog ya jadi kayak smart jokes, bukan melalui humor slapstick. Filmnya menurutku manis banget, sweet banget😀

      • Iya mba, Stiller terkenal sebagai comedian dimana peran2 dia yang memang ngocok perut kita dari mulai trilogy Meet the Parents, Night at the Museum, peran serius2 dia emang jarang tapi sekalinya main serius, bagus banget sih menurutku
        You’re welcome😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s