Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

tenggelamnya-kapal-van-der-wijck-posterThe Plot
Ini kisah cinta antara Zainuddin (Herjunot Ali) dengan Hayati (Pevita Pearce) yang sayangnya terhalang adat dikarenakan Zainuddin bukan orang asli Minang.

The Comment
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013) merupakan film adaptasi dari novel sastra lawas karangan Buya Hamka yang diterbitkan pada tahun 1939. Minimnya pengetahuan movietard akan dunia sastra realitasnya membuat movietard buta akan karya ini sampai ketika film ini di-release *toyor diri sendiri*. Movietard pun baru berniat menontonnya ketika seorang teman mengatakan film ini bagus, dan seolah tak percaya, movietard memastikannya kembali apakah ia serius atau bercanda. Setelah memastikan bahwa yang ia maksud adalah literally bagus, movietard menontonnya di akhir Desember 2013. Dan diawal Januari ini, movietard menonton untuk kedua kalinya. It’s the first Indonesian movie I’ve watched for two times!. And now, barulah movietard ‘berani’ membuat review-nya Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Simply, akhirnya movietard memahami bahwa film ini menjadi salah satu film yang memang menghibur.

imagesStory plot Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sederhana saja, ini kisah kasih Zainuddin dan Hayati, dua orang anak muda, yang sayangnya bertemu di zaman ketika adat istiadat Minang masih dipegang teguh. Bukannya sekarang sudah tidak teguh ya, tetapi pada periode 1930-an, anak lelaki dan anak perempua memang harus ‘menurut’ pada adat dan para tetua adat yang ada, dimana pantang bagi orang Minang untuk menikah dengan orang di luar Minang/setengah Minang. Zainuddin sendiri lahir dari seorang Ibu keturunan Makassar sehingga ia kesulitasn mendapat tempat di tanah kelahiran sang ayah. Ketika cinta Zainuddin kepada Hayati tak kesampaian karena Hayati telah dipersunting pria lain, Zainuddin memutuskan merantau ke tanah Jawa, tempat dimana impian menjadi penulis novel terkenal berhasil diwujudkan. Sayangnya, masa lalu tak mau berdamai. Di Surabaya, Zainuddin kembali dipertemukan dengan permatanya, Hayati.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck  dimaksudkan sebagai sebuah karya cinta yang megah untuk ukuran produksi film Indonesia. Walaupun sih, alasan penamaan judul film ini baru diketahui di akhir kisah, sebuah klimaks yang sayangnya justru terlalu singkat dan tak membekas jika dibandingkan dengan ragam konflik yang menghiasi perjalanan Zainuddin sebelumnya. Lepas dari penggalan tenggalamnya si kapal megah tersebut, duo scriptwriter senior dan junior, Imam Tantowi dan Donny Dhirgantoro realitasnya berhasil mengantarkan sebuah drama kehidupan seorang anak manusia. Seperti dalam narasinya, Zainuddin mengatakan bahwa kisahnya adalah kisah anak manusia yang gagal dan kembali bangkit dan terus berulang seperti itu. Sebuah pesan yang memang lebih universal untuk diterima audiens. Padahal, jika merujuk pada review novelnya, Buya Hamka realitasnya justru ‘cerewet’ mengkritisi adat Minang dan Islam tetapi di film, hal ini tampak begitu minim. Movietard juga merasa skrip Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sangatlah bernuansa patriarki. Hal ini yang membuat karakter Hayati terpinggirkan, ia objek yang tak dapat melawan kekejaman sang suami ataupun memperjuangkan cintanya kepada Zainuddin.

20130705-foto-adegan-film-tenggelamnya-kapal-van-der-wijk-01Terkait dengan skrip, satu hal yang sangat menarik adalah menyaksikan bagaimana Tantowi dan Dhirgantoro meramu rangkaian dialog-dialog yang disesuaikan dengan periode 1930-an. Jadi, ketika mereka memaksudkan film ini tampil lebih otentik dengan membuat dialog-dialog super romantis dengan gaya bahasa ‘jadul’, penerimaan audiens justru menjadi tak lazim. Hal ini movietard buktikan di dua bioskop yang berbeda, dimana dalam beberapa scenes yang seharusnya mengundang haru, justru audiens -termasuk movietard- bahkan tak bisa menahan tawa! Duh, memang seharusnya tak tertawa ya, tetapi sungguh, melihat akting teatrikal Junot yang begitu ekspresif dipadukan dengan dialog dengan pilihan kosa kata puitis itu, mau tak mau membuat movietard tertawa. Jadi, maafkanlah movietard yang tak bisa menikmati keharuan cerita yang disajikan dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Well, sisi positifnya, movietard sangat terhibur menonton film ini hingga tak mengantuk sedikitpun walaupun durasi film cukup panjang, yaitu 165 menit, padahal ketika menonton Legolas dalam The Hobbit: Desolation of Smaug untuk kedua kalinya movietard tertidur loh!

Dari segi visualisasi, movietard memang sempat kurang nyaman dengan tone film di awal dimana pada beberapa setting luar ruang terkesan sangat biru dan sangat cokelat. But overall, director Sunil Soraya berhasil menyajikan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dengan indah. Audiens diajak menikmati landscape tanah Minang dengan pemandangannya yang indah, dan ketika berpindah ke Jawa, audiens diperlihatkan kemegahan ala Eropa. Yang utama adalah, Sunil bahkan memberikan bingkai guna memaksimalkan akting Herjunot seperti dimana hampir 3 menit Herjunot melepaskan derita kepada Hayati tanpa dilakukan cut satupun! Terkait dengan akting, harus diakui pula bahwa dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Herjunot akhirnya mampu keluar dari zona nyamannya, memerankan Zainuddin jelas membutuhkan penghayatan dan cara bertutur yang sulit, dan luckily, he nailed it, bahkan Herjunot pun mampu mengaji dengan fasih. Selain Herjunot, Reza Rahardian kembali membuktikan kelasnya dengan memainkan karakter antagonis yang tetap charming dilihat, sementara Randy ‘Nidji’ pun juga menunjukkan performa yang baik dimana ia mampu membawakan peran Muluk dengan apa adanya, yang menjadikan center dari kelucuan dalam film ini. Sayangnya, Pevita justru menjadi nilai minus dalam film, tentunya, ia tak bisa sepenuhnya disalahkan, in my opinion, hal ini juga diakibatkan oleh skrip yang terbatas membuat ia tak bisa tampil ‘seluwes’ Herjunot.

imaaaLepas dari segala kekurangannya, movietard sungguh terhibur ketika menonton Tenggelamnya Kapal Ven der Wijck. Jika dahulu Habibie & Ainun sukses membuat movietard menangis beberapa kali di bioskop, surprisingly, film ini justru mampu membuat movietard tertawa dan tidak bosan walaupun sudah dua kali menontonnya. Anyway hingga detik ini pun, movietard dan teman-teman menggunakan sedikit guyonan dengan mengambil beberapa dialog Zainuddin dan Hayati. Maaf ya, tetapi entah kenapa alih-alih tampil mengharu biru, kisah kasih Zainuddin dan Hayati justru agak tampak lucu walaupun alunan lagu yang dinyanyikan Nidji sudah dibuat sedemikian rupa untuk membangkitkan perasaan haru tetapi mendengar Hayati berjanji menjadikan Zainuddin sebagai suaminya kelak di akhirat yang disambut Zainuddin bahwa janji tersebut terdengar sangat berat, membuat movietard mau tak mau tertawa. Maafkan movietard ya, mungkin movietard selama ini terlalu apatis dengan yang namanya cinta sejati sehingga kurang bisa menikmati kisah-kisah roman yang seharusnya membuat haru seperti ini. Mungkin kelak, ketika movietard sudah paham dengan ‘cinta sejati’, movietard akan menangis tersedu-sedu menonton film ini.

Do You Know?
Sutradara Sunil Soraya menjelaskan, dibutuhkan waktu 5 tahun dari mulai observasi hingga paska produksi, dengan waktu syuting selama 6 bulan untuk menyelesaikan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
Sejumlah masyarakat Minang memprotes poster film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karena menampilkan Pevita sebagai Hayati mengenaikan baju tanpa lengan sebagaimana tertera diatas
Dengan segala usaha dan kerja keras tim, tak heran Tenggelamnya Kapal Van der Wijck berhasil menjadi film terlaris untuk tahun 2013 lalu, yang sudah meraih penonton diatas 1 juta

My Rate
3 stars. Lepas dari dialog-dialognya yang kurang lazim didengar untuk audiens masa kini -sehingga seringkali mengundang tawa-, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah sebuah kisah cinta yang diproduksi dengan apik, a well crafted Indonesian movie with good performance by the main lead actor!

3 thoughts on “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

  1. Awal film antusias banget nontonnya,tapi pas udah ke akhir ada bosan juga, kelamaan… Terus adegan kapal tenggelamnya lumayan sih sayang durasinya singkat banget…dan ketawa juga sih pas adegan orang-orang jatuh ke laut, jadi ngebayangin Titanic. Sayang, ga ada apa-apanya dibandingin adegan tenggelamnya Titanic. Overall, bagus filmnya tapi cukup ntn satu kali udah puas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s