99 Cahaya di Langit Eropa

poster-99-cahaya-di-langit-eropa-e1383578690652The Plot
Ketika mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Wina, Austria, Rangga (Abimana Aryasatya) turut mengajak sang istri, Hanum (Acha Septriasa) bersamanya.

The Comment
Oke, movietard harus mengakui bahwa awalnya tidak tertarik untuk menonton 99 Cahaya di Langit Eropa (2013). Diputar sejak bulan Desember 2013, movietard baru berkesempatan menontonnya di awal Januari ini, itupun setelah mendengar review teman yang mengatakan film ini seolah mengingkari hakikat perbedaan bangsa dan bahasa yang ada di muka bumi. Jelas dong movietard jadi penasaran dengan komentar tersebut, apalagi setelah mengecek poster film ini, ada nama Abimana Aryasatya didalamnya. Abimana tampaknya tengah menjadi ‘it actor’ dalam industri perfilman Indonesia saat ini. Well, mungkin berkah setelah ganti nama ya, Abimana *lihat pin up majalah Aneka*? Kembali kepada 99 Cahaya di Langit Eropa, hasil telisik movietard, film ini merupakan adaptasi buku dari Hanum Salsabiela Rais yang dalam real life beliau memang pernah menemai sang suami untuk mendapatkan gelar Doktor di Wina. Mengetahui hal ini, movietard menjadi lebih bersemangat dan rela menonton pada pemutaran 9 malam *karena 99 Cahaya di Langit Eropa hanya mendapat 2 kali pemutaran, dimana pemutaran pertama dilakukan pada jam 12 siang*.

99cahayaDengan premis bahwa 99 Cahaya di Langit Eropa adalah sebuah catatan perjalanan Hanum selama menemani sang suami, seharusnya sih dari segi proximity dengan kehidupan nyata di Austria, tidak diragukan lagi. Tidak seperi Laura & Marsha yang kurang ‘penelitian’, seharusnya, kisah 99 Cahaya Langit di Eropa tentunya akan lebih reliable untuk diterima audiens. Nah, sayangnya film ini melakukan kesalahan fatal yang membuat movietard tak habis pikir hingga kini. Dalam menggambarkan pengalaman Rangga dan Hanum selama di Wina, tentunya audiens tahu bahwa mereka bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang asing, sebut saja seperti Stefan, teman Rangga yang seorang muslim bernama Khan, Fatma dan keluarganya yang keturunan Turki, hingga seorang gadis Perancis bernama Marion. Tentunya para karakter ini adalah orang-orang yang berasal dari negara-negara yang berbeda. Tetapi hey, dalam film ini, entah kenapa, mereka semua fasih berbicara bahasa Indonesia! Kenapa mereka bisa fasih? Well, mungkin karena para karakter ini juga diperankan oleh aktor-aktor Indonesia juga ya.

Actually, movietard sih tidak bermasalah dengan penggunaan aktor-aktor Indonesia tersebut dalam memerankan orang asing selama mereka bisa menghayati perannya masing-masing. Tetapi, bagaimana kita bisa dibuat yakin bahwa Fatma yang diperankan oleh Raline Shah adalah orang Turki yang masih merupakan keturunan Mustafa Pasha jika ia bisa berbahasa Indonesia sangat fasih? Hal inilah yang justru membuat 99 Cahaya di Langit Eropa kehilangan otentisitasnya. Walhasil, setting kota Eropa berupa Wina dan Paris yang seharusnya tampil cantik justru kelihatan hanya sebagai tempelan belaka. Universitas tempat Rangga menuntut ilmu menjadi tak jauh berbeda dengan universitas di negeri ini karena setidaknya 3 orang teman utama Rangga yang berinteraksi dengannya juga bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. Jika 99 Cahaya di Langit Eropa dimaksudkan sebagai sebuah perjalanan menelusuri jejak-jejak Islam di Eropa dengan bantuan muslim-muslim dari negara lain, keindahan dari heterogenitas Islam tersebut justru tak terlihat karena movietard merasa petualangan Hanum di Eropa ini justru dibantu oleh orang-orang Indonesia.

745ad47c4bb4656df621eaf75b5c13efLepas dari kebodohan berupa penggunaan bahasa Indonesia sangat fasih tersebut, surprisingly, skrip 99 Cahaya di Langit Eropa yang dibuat oleh Hanum Salsabiela Rais, Sang Suami dan Alim Sudio memiliki dialog yang cukup asyik untuk dinikmati. Narasi Hanum mengantarkan kita melihat kehidupan warga pendatang, apalagi, dengan embel-embel muslim yang membuat hidup di negeri non-muslim menjadi lebih sulit lagi. Menyenangkannya, 99 Cahaya di Langit Eropa bergerak menjadi lebih menarik, yaitu dengan berlandaskan semangat pencarian peninggalan Islam di segala artefak kebudayaan di dua negara Eropa. Memang sih penelusuran historis ini tidak se-intriguing Da Vinci’s Code tetapi movietard suka dengan bagaimana penjelasan akan detail-detail Islam dalam bentuk banguman hingga lukisan yang ada di kota-kota tersebut, bukti bahwa Islam pernah ber-‘jaya’ di negara-negara non-muslim. Trio Hanum, Rangga dan Sudio toh tak hanya menyajikan feel adventurous tersebut, 99 Cahaya di Langit Eropa juga menyajikan potongan drama dengan twist yang akan membuat audiens tersentuh walaupun well, menurut movietard sih, agak terasa sinetron-formulaic.

Walaupun tidak menawarkan konflik yang besar, perjalanan Hanum dan suami dalam 99 Cahaya di Langit Eropa realitasnya memiliki beberapa pesan indah akan Islam dan kaum muslim. Beberapa pesan memang disampaikan dengan sangat eksplisit, seperti terlihat bagimana besarnya usaha Fatma dan kawan-kawan untuk membentuk diri menjadi muslim yang ramah dan baik. Nah, ketika kaum muslim tampak seperti pada bidadari, kaum bule non-muslim di film ini justru digambarkan sebagai masyarakat intolerant, bahkan dari seorang seorang sosok profesor hingga anak kecil! Hal ini yang membuat movietard membatin, apakah diskriminasi separah itu memang benar terjadi di negara-negara non-muslim? Jujur, movietard jauh lebih suka ketika pesan tentang indahnya Islam disampaikan dalam bentuk yang lebih soft, seperti melalui interaksi antara karakter Rangga dan Stefan sebagai non-muslim perihal kewajiban umat Muslim terhadap Allah. Memang terlihat lebih sederhana daripada usaha keras yang dilakukan Fatma, tetapi justru terasa tidak menggurui karena apa yang ditanyakan Stefan sebetulnya pertanyaan mendasar setiap manusia yang memeluk suatu agama tertentu.

99_Cahaya_di_Langit_Eropa_(2013) _Menjadi_Agen_Islam_di_Eropa99 Cahaya di Langit Eropa juga diperkuat dengan solidnya interaksi Septriasa dengan Abimana sebagai pasangan suami istri muda. Tetapi entah kenapa, movietard merasa dua sejoli ini tampak seolah masih berpacaran. Mungkin karena Septriasa agak kurang cocok memerankan karakter seorang istri ya, terlihat sekali masih ada jiwa kekakanankan-kanakan ketika ia membawakan karakter Hanum. Untungnya, Septriasa ditemani oleh Abimana yang memang selalu tampil baik walaupun dalam beberapa scenes ketika ia diharuskan mengaji atau mengumandangkan adzan, ia tidak menggunakan suara aslinya *hayo! Jangan mau kalah dengan Herjunot ya!*. In conclusion, 99 Cahaya di Langit Eropa memang bukan film yang sempurna. Tetapi jika kita bisa mengeyampingkan penggunaan bahasa Indonesia yang fasih oleh karakter-karakter yang ceritanya orang asing itu, product placement dari kosmetik perempuan dan bank BUMN, ataupun penampilan tiba-tiba dari seorang penyanyi jebolan reality singing contest, 99 Cahaya di Langit Eropa cukup asyik untuk dinikmati karena mengangkat tema yang menarik tentang Islam dari mata seorang perempuan yang justru mendapatkan pencerahan akan agama ini di Eropa, bukan di negara Arab.

Do You Know?
99 Cahaya di Langit Eropa baru menyoroti perjalanan Hanum menyusuri Islam di Austria dan Perancis. Ini artinya, masih ada sekuel dimana Ia akan mendatangi kota Cordoba di Spanyol dan Istanbul di Turki
Hanum Salsabiela Rais juga ikut bermain dalam 99 Cahaya di Langit Eropa, bukan sebagai dirinya, tetapi memerankan salah satu teman Fatma. Nama kondang yang ikut bermain tetapi bukan seorang aktris adalah designer Dian Pelangi.
99 Cahaya di Langit Eropa melakukan syuting dinegara-negara Eropa tersebut selama 60 hari, cukup lama ya tetapi pasti menyenangkan karena dapat juga sightseeing di negara-negara tersebut

My Rate
2,5 stars. 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan drama adventure dengan konten religi yang cukup fresh. Sayangnya, hal ini sedikit dirusak dengan penggunaan bahasa Indonesia yang fasih yang dilakukan oleh karakter-karakter orang asing. But well, I’m gonna watch the 2nd movie since Cordoba is one of my dream destinations after Madrid

8 thoughts on “99 Cahaya di Langit Eropa

  1. Pingback: Maafkan Aku Karena Belum Siap Untuk Memakai Hijab

  2. Pingback: Maafkan Aku Karena Belum Siap Untuk Memakai Hijab - Avatar Nusantara Technologies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s