Short Review: Jakarta International Film Festival 2013

Jiffest is back! A New Chapter of Jakarta International Film Festival’ menjadi motto Jakarta Film Festival tahun 2013. Setelah sempat ‘sekarat’ di tahun 2010 lalu tetapi tetap berhasil diselenggarakan dengan bantuan sahabat Jiffest dan dukungan sponsor –you could check my previous Jiffest’s review on here, sayangnya setelah penayangan di akhir tahun 2010 itu, Jiffest ‘mati’ selama dua tahun. Well, pada masa hiatus tersebut, festival film semacam Europe on Screen dan Festival Sinema Perancis hadir sehingga mampu mengobati kerinduan akan Jiffest. But hey, seolah tak mau kalah dengan festival film ‘adik-adiknya’ tersebut, di tahun 2013 ini, Jiffest kembali hadir, so, that’s why Jiffest‘s 2013′s motto was Jiffest is back!. Awalnya, movietard sempat was-was apakah mampu menonton film-film di Jiffest, and luckily, I still could! And here’s my short reviews about those movies.

Barking Dogs Never Bite
ImageThe Plot

Ini adalah interaksi dosen paruh waktu Ko-Yun Ju dengan pegawai apartement Park Hyun-Nam yang didasari oleh kasus pencarian anjing-anjing yang hilang atau terbunuh.

The Comment
Barking Dogs Never Bite (2000) memang bukan film new release, tetapi film hadir sebagai rangkaian dari event internal Jiffest berupa Restropective Bong Joon-Ho, director yang berasal dari Korea Selatan yang selama ini baru sekali movietard tonton karyanya lewat The Host (2006). And turned out, I love this comedy drama! Ditulis oleh Bong Joon-Ho sendiri dengan dibantu Song Ji-ho dan Derek Son Tae-woong, Barking Dogs Never Bite menyoroti keseharian masyarakat Korea lengkap dengan problematikanya masing-masing yang sederhana tetapi justru entah kenapa, terasa begitu jujur. Dari mulai drama seorang profesor yang berjuang dengan menyogok untuk mendapatkan jabatan di universitas, seorang istri yang begitu keras terhadap suaminya padahal ia tengah hamil tua, pegawai administrasi rendahan di apartemen yang bercita-cita menjadi pahlawan, hingga adanya tambahan karakter satpam yang gemar memakan daging anjing ataupun nenek-nenek tua yang gemar berjalan dengan anjingnya.

ImageBerdurasi hampir 2 jam dan dieksekusi dengan pace yang slow, toh Barking Dogs Never Bite tidak tampil menjadi drama yang membosankan. Siapa sangka, anjing bisa menjadi karakter sentral untuk sebuah story plot yang sangat menarik? Di produksi di tahun yang sudah cukup tua, film ini tetap tampil cantik dan tidak termakan usia karena lebih mengandalkan pada kekuatan karakterisasi. Barking Dogs Never Bite seringkali diramaikan dengan tingkah laku yang lucu dan polos dari para karakternya yang membuat audiens seringkali tertawa. Tetapi lepas dari kelucuan yang sangat komikal tersebut, Barking Dogs Never Bite realitasnya memuat sindiran Bong Joon-Ho kepada gaya hidup kehidupan masyarakat modern saat ini, bahwa ketika individualitas sudah menjadi sifat dasar, akankah manusia masih memiliki empati? Secara implisit, Bong Joon-Ho juga menyoroti sedikit tentang sexual attraction sesama jenis ataupun budaya menyuap dengan uang guna mendapatkan jabatan penting yang juga tumbuh di Korea Selatan, a touche one! In conclusion, Barking Dogs Never Bite menjadi sebuah drama comedy yang justru membuat anda justru tersenyum pahit ketika selesai menontonnya.

Mother
ImageThe Plot

Ini kisah seorang ibu (Kim Hye-Ja) yang berjuang mencari kebenaran untuk membebaskan anak lelakinya, Do-Joon (Won Bin) yang didakwa atas kasus pembunuhan.

The Comment
Awalnya, movietard tertarik dengan Mother (2009) karena ada nama Won Bin dalam jajaran cast-nya. Won Bin sendiri movietard ‘kenal’ ketika ia masih bermain di drama serial televisi pada awal tahun 2000-an. Ibaratnya, moment ini menjadi pelepas kangen movietard terhadap Wo Bin. Tak disangka, Mother justru menjadi film yang sangat tak menghibur, karena lagi-lagi, director Bong Joon-Ho yang juga duduk dibangku scriptwriter dengan dibantu Park Eun-kyo, kembali mengajak audiens melihat sebuah drama yang kelam dengan bumbu pembunuhan manusia. Ya, Mother bukan film se-’ringan’ Barking Dogs Never Bite yang hanya melibatkan kematian anjing, kali ini, ada nyawa seorang gadis muda yang terenggut, yang membuat sekota kecil itu gempar. Ketika si anak lelakinya yang memang berada dekat dengan lokasi kejadian tertangkap polisi, si Ibu berjuang seperti layaknya detektif ahli untuk mencari bukti-bukti bahwa anaknya yang terbelakang mental tidak mungkin melalukan pembunuhan. Sepanjang 128 menit, audiens menjadi teman si Ibu guna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di malam pembunuhan tersebut.

ImageMovietard loves it! Selain jalinan cerita yang mampu menghadirkan teka-teki siapa pelaku pembuhunan yang sebenarnya dengan twist yang tidak terduga sama sekali, Mother juga ditopang oleh akting prima Kim Hye-Ja sebagai ibu. Diusianya yang sudah paruh baya, Hye-Ja justru mampu membuat audiens terpesona dengan betapa besar kekuatan cintanya pada sang anak. Saking primanya akting Kim Hye-Ja, movietard bahkan tak tahu harus empati atau membenci perbuatan yang ia lakukan karena pada dasarnya, she did it because of love. Won Bin pun bermain cukup baik sebagai seorang anak dengan mental yang agak terbelakang walaupun memang tetap tidak sempurna jika dibandingkan dengan penghayatan Kim Hye-Ja. Bong Joon-Ho membuat Mother -sesuai judulnya- memang berisikan bagaimana kekuatan seorang ibu menghadapi badai kehidupan, tetapi seperti biasa, ia tak lupa menyelipkan sindirannya terhadap kehidupan masyarakat Korea. Kali ini, ia menyindir prilaku seks bebas di usia remaja yang membuat jalan cerita menjadi semakin kelam untuk ditonton. Overall, Mother jelas bukan film yang menghibur, tetapi justru mengukuhkan sutradara Bong Joon-Ho sebagai seorang ahli dalam memotret sisi gelap manusia.

Snowpiercer
ImageThe Plot

Ini adalah cerita kehidupan umat manusia di kereta snowpiercer yang sayangnya, terbagi dalam berbagai strata kelompok yang menyebabkan pemberontakan kaum miskin penghuni gerbong belakang.

The Comment
Setelah menyaksikan karya-karya terdahulunya, movietard beruntung dapat menonton Snowpiercer (2013) sebagai special movie di Jiffest. Snowpiercer merupakan karya terbaru Bong Joon-ho yang sekarang sudah goes internasional layaknya Agnes Monica, dimana kali ini, ia menggunakan aktor-aktor Inggris dan Amerika yang sudah terkenal. Selain duduk di bangku sutradara, Bong Joon-Ho juga menulis skrip film ini dibantu dengan Kelly Masterson. Tetapi, sedikit perbedaan dengan film-film Bong Joon-Ho terdahulu, story plot Snowpiercer bukanlah produk orisinil dari pikiran Bong Joon-Ha, melainkan hasil adaptasi dari novel grafis terbitan Prancis, Le Transperceneige. Snowpiercer memiliki plot yang unik, yaitu, ketika dunia diambang kiamat akibat global warming yang justru mengakibatkan dunia mengalamai zaman es, beruntunglah masih terdapat sebuah bahtera berupa kereta pemecah salju yang dibuat oleh Wilford (Ed harris). Yang membedakan Wilfrod dengan Nabi Nuh adalah, ia tak memiliki kebaikan hati sehingga membuat kaum miskin penghuni gerbong belakang melakukan pemberontakan untuk menyerang Wilfrod.

ImageSnowpiercer lebih mengingatkan movietard akan karya Bong Joon-Ha sebelumnya, The Host, dimana keduanya memiliki muatan aksi yang cuku[ banyak. Dalam Snowpiercer, Bong Joon-ha berhasil menyajikan rentetan perlawanan kaum pemberontak tersebut dengan aksi yang cukup berdarah. Audiens juga dimanjakan dengan pemandangan-pemandangan menakjubkan yang ada di gerbong-gerbong depan. Seperti layaknya kaum miskin yang terbelalak, audiens juga akan berdecak kagum melihat bagaimana gerbong-gerbong tersebut disulap menjadi sekolah, kolam renang, kebun, hingga restoran sushi! Asyiknya lagi, Snowpiercer didukung oleh jajaran cast yang menawan, dari mulai Ed Harris, Chris Evans, Jamie Bell, Octavia Spencer dan tentunya, Tilda Swinton yang memerankan Mason, karakter yang paling memorable. Seolah belum cukup, Snowpiercer juga menyajikan twist yang lumayan membuat movietard sebal karena tak berhasil menebaknya. Anyway, lepas dari muatan aksinya, Snowpiercer toh sangat ‘cerewet’ berbicara tentang kekuasaan dan strata kehidupan manusia. Walaupun Snowpiercer hasil adaptasi novel, tetapi menurut movietard sih, Bong Joon-Ha sendiri pasti suka dengan kritikan sosial berupa dampak perbedaan kelas yang disajikan dengan begitu kelam dalam film ini.

The Bling Ring
Image

The Plot
Ini kisah mengenai sekelompok remaja di Los Angeles yang diketuai oleh Rebecca Ahn (Katie Chang) menyantroni rumah-rumah para selebritas Hollywood.

The Comment
Setelah hanya diisi program retrospective Bong Joon-Ha, pada weekend selanjutnya, Jiffest mulai menyajikan film-film pilihannya. Dimulailah satu hari dimana movietard melakukan marathon menonton, dengan film pertama yaitu The Bling Ring (2013). Ada dua nama yang menarik perhatian dalam The Bling Ring, yaitu Sofia Coppola dan Emma Watson. I always love Sofia’s works, dimana film terakhir buatan Sofia yang ditonton movietard adalah Somewhere. Nah, sama seperti Somewhere yang menyajikan sisi lain dari glamoritas kehidupan selebritis Hollywood melalui karakter aktor Johnny Marco, The Bling Ring juga menyajikan fragmen budaya memuja selebritas dari sisi pemujanya. Yaitu bahwa remaja-remaja tanggung di daerah Calabasas, California rela memasuki rumah-rumah para selebritas seperti Linday Lohan, Paris Hilton, Orlando Bloom, hingga Megan Fox guna mengambil barang-barang dan uang tunai mereka agar mampu membiayai gaya hidup seperti layaknya para selebritas tersebut. Mereka bersenang-senang dengan kesemua kemewahan sementara, tetapi kita semua tahu, bahwa tentunya ada akhir dari sebuah kebahagian semu tersebut.

Image

Di satu sisi, dengan berbagai pesta dan baju-baju mewah, The Bling Ring terlihat begitu menyenangkan untuk ditonton. Di sisi lain, yang justru membuat miris adalah, kisah yang skripnya ditulis oleh Sofia sendiri didasarkan pada kisah nyata yang dimuat di Vanity Fair. Realitasnya, kultus pemujaan selebritas justru semakin kuat dengan seiringnya kemudahan arus informasi. Fakta bahwa Rebecca dan Marc melakukan pencurian hanya dengan melihat denah rumah para seleb melalui google maps jelas menjadi satu contoh nyata determinasi teknologi! Above all, Sofia yang memang selama ini dibesarkan ditengah dunia selebritas memahami bahwa ketika remaja tengah mencari identitas, hal-hal silly seperti ini memang terjadi sehingga dibeberapa bagian, praktek Marc dan kawan-kawannya justru mengundang tawa. Jalinan kisah yang sebetulnya menyedihkan ini dibawakan dengan ringan oleh Sofia ditumpu dengan penyutradaraan yang cantik. Apalagi, Sofia dibantu oleh deretan cast remaja yang mampu menerjemahkan karakter-karakter dengan baik. Siapa sangka karakter Nicki yang tampak belagu itu ternyata diperangkan aktris Inggris Emma Watson yang berhasil menghilangkan accent-nya? In conclusion, The Bling Ring menjadi salah satu film yang menyenangkan untuk ditonton, I think someday, I’ll watch it again.

Ilo Ilo
ImageThe Plot

Teresa (Angela Bayani) adalah asisten rumah tangga yang bekerja di keluarga kecil asli Singapura pada masa krisis moneter tahun 1998.

The Comment
Ilo Ilo (2013) adalah sebuah family drama buatan Singapura yang tidak menawarkan sebuah konflik besar yang dramatis. Tetapi, justru dalam kesederhanaannya, Ilo Ilo tampil memorable. Disutradarai dan ditulis oleh Anthony Chen yang memulai debut penyutradaraan melalui film ini, melalui Ilo Ilo, Chen mengajak audiens ber-flashback ke tahun 1997, ketika krisis moneter menimpa seluruh negara Asia, tak terkecuali di negara dengan perekonomian kuat seperti Singapura. Alih-alih menyoroti beratnya dampak krisis dengan kelam, well, memang sih ada satu scene dimana Chen menyoroti seseorang yang memilih bunuh diri dengan jatuh dari apartemennya, tetapi overall, Chen mengajak kita melihat dampak krisis ini melalui perjuangan sebuah keluarga kecil. Si ibu yang tengah hamil tua tetapi juga tetap harus bekerja keras dan si ayah yang terpaksa berhenti dari pekerjaannya dan beralih menjadi satpam. Tetapi, ragam konflik kecil yang hadir silih berganti di keluarga tersebut turut diramaikan dengan interaksi si pembantu rumah tangga dengan putra semata wayang yang sangat bandel.

Image

Menonton Ilo Ilo membuat movietard banyak tertawa, dalam ragam konflik tersebut, Chen masih mampu menyelipkan selingan-selingan yang lucu melalui interaksi antara Teresa dan Jia Le. Kenakalan Jia Le memang membuat kita menggelengkan kepala, tetapi siapa yang tak tertawa ketika melihat kegemaran Jia Le mengumpulkan nomor hasil undian judi di koran ataupun ketika Jia Le ‘terpaksa’ dimandikan oleh Teresa. Tetapi di momen lain, Ilo Ilo juga mampu membuat kita terenyuh dengan bagaimana usaha si ayah dan ibu dalam mencoba menyelesaikan konflik mereka. Dibalut dengan setting yang begitu sederhana dan sempit dalam ruas-ruas apartemen tetapi mampu dimaksimalkan keindahannya oleh Chen, Ilo Ilo menjadi salah satu potret realis tentang bagaimana sebuah keluarga menghadapi krisis yang menghantam. Walaupun movietard berharap Chen seharusnya menyelesaikannya, bukan hanya menghadapi, tetapi melalui Ilo Ilo kita diajarkan untuk menerima bahwa hidup memang tidak selalu berakhir dengan penyelesaian yang sempurna.

12 Years of Slave
ImageThe Plot

Ini adalah kisah nyata Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) yang menjadi budak selama 12 tahun di pertengahan abad ke-18.

The Comment
Full house! Ya, 12 Years of Slave (2013) jelas menjadi film yang paling dinanti di Jiffest tahun ini yang memang sangat minim pilihan film bagus dibanding 2 tahun lalu *batuk keras*. Movietard sendiri mendapatkan kursi terujung di row b, sementara beberapa teman justru mendapatkan di kursi terdepan dekat layar. Kenapa 12 Years of Slave begitu popular? Bagi movietard, ada dua nama penarik utama untuk menonton 12 Years of Slave, Steve McQueen yang duduk dikursi director dan tentunya, nama Michael Fassbender yang juga ikut berkolaborasi kembali dengan McQueen, setelah kolaborasi terakhir mereka yang begitu eksplosif dalam Shame, siapa yang tak menunggu karya terbaru McQueen? Kali ini, McQueen membawa kita kembali ke abad ke-18, kepada sebuah kisah nyata yang script-nya ditulis oleh John Ridley. Lewat karakter Solomon, McQueen memperlihatkan kepada kita bagaimana seorang anak manusia melakukan struggling for living dalam menghadapi cobaan hidup.

ImageSepanjang film, kesakitan yang dialami Solomon dan para budak lainnya akibat kekejaman tuan tanah jelas membuat 12 Years of Slave tidak menjadi film yang ‘entertaining’. Walaupun ada Fassbender didalamnya tetapi alih-alih tampil keren dan sexy, Fassbender dalam 12 Years of Slave justru tampil layaknya malaikat pencabut nyawa dengan kekejaman luar biasa. Memang sih, ada beberapa aktor-aktor yang tak kalah terkenal dengan karakter yang cukup baik seperti peran Pitt dan Cumberbatch, tetapi toh air mata tetap menitik ketika melihat adegan pencambukan Patsey. Luckily, bingkai cerita yang dimiliki McQueen diisi dengan begitu sempurna oleh Ejiofor yang memegang tampuk sebagai karakter utama. Semangat juang Solomon untuk kembali menjadi manusia bebas menjadi salah satu inspirasi terindah yang ada di masa perbudakan. Dari ribuan yang bernasib sama, Solomon hanyalah satu dari sedikit budak yang beruntung di masa itu. Tetapi sesungguhnya, melalui 12 Years of Slave, McQueen menggerakkan hati nurani audiens, memastikan bahwa kita tak akan pernah lupa dengan sejarah kelam kehidupan masa lalu yang pernah tidak mengakui persamaan hak manusia.

National Security
ImageThe Plot
Ini kisah perjuangan aktivis Kim Jong-tae (Park Won-sang) yang bertahan hidup ketika disandera dengan penuh kekerasan oleh kepolisian Korea Selatan.

The Comment
Berbeda dengan dua venue sebelumnya yang mengambil lokasi di blitzmegaplex dan XXI, film National Security (2012) adalah salah satu film yang ditayangan dalam format open air cinema di lapangan Monumen Nasional. Menarik bukan? Ini menjadi pengalaman baru movietard untuk menonton film layaknya menonton konser di panggung terbuka. Sayangnya adalah, National Security bukan film yang sesuai untuk diputar dalam format open air cinema. Ya, film yang disutradarai Chung Ji-Young yang didasarkan oleh kisah nyata aktivis Kim Geun-Tae selama 22 hari masa penyiksaan pada pertangan tahun 1980-an ini jelas bukan film yang ‘menghibur’. Sejak layar menyala, audiens telah diajak melihat bagaimana kejam dan tidak adilnya para penegak keadilan terhadap Kim Jong-tae. Di dalam ruang penyiksaan yang sempit, Jong-Tae disiksa secara fisik layaknya anjing, dipukuli, dimasuki air secara berlebih hingga pingsan, bertelanjang hingga diberikan kejutan listrik. Yang terparah adalah, ia diminta untuk membuat kesaksian tertulis palsu yang menyatakan bahwa ia memang seorang komunis yang bekerja untuk Korea Utara.

ImageDengan banyaknya adegan penyiksaan yang disajikan dengan eksplisit, National Security jelas menjadi salah satu film torture mengerikan untuk ukuran Asia. Apalagi, horror yang disajikan ini bukan melalui karakter psikopat gila melainkan oleh para polisi yang seharusnya melindungi masyarakat, begitu parahnya hingga disuatu scene disajikan salah seorang karakter polisi juga menangis karena tidak tahan melihat penyiksaan yang ada. Lagi-lagi, National Security menjadi salah satu kritikan nyata akan sistem pemerintahan Korea Selatan yang dikala itu didominasi oleh kekuatan militer. Sama seperti 12 Years of Slave, National Security menunjukkan walaupun tahun silih berganti, entah kenapa, manusia tak pernah belajar dari masa lalu, bahwa kekejaman yang ada hanya akan membawa malapetakan. National Security (untungnya) ditutup dengan ending yang tak kalah baik dari 12 Years of Slave, bahwa pada akhirnya, keadilan akan datang walaupun harga yang dibayar untuknya akan sangat mahal.

Jiffest 2013 Overall’s Review
ImageThat’s my short movie reviews, and I never bored to say thanks Jiffest for bringing all those movies to us, definitely a worth experience to be part of it! But different from my other post, rasanya movietard ingin bercerita mengenai Jiffest’s new concept di tahun 2013 ini. Paragraf ini dan paragraf selanjutnya bukan dimaksudkan sebagai kritik tetapi hanya curahan hati seorang moviegoers selama menonton Jiffest. Berbeda dengan festival-festival sebelumnya (dan festival film lainnya), tempat screening Jiffest tahun ini ditempatkan di berbagai venue dengan rentang waktu yang agak aneh, yaitu hanya weekend saja. Jiffest hanya memiliki kuota -mungkin- sebanyak satu hari saja untuk menyewa satu bioskop, akibatnya adalah, well, audiens mesti siap menelan semua film dari siang hingga malam hari in one full day. Capek? Ya pasti, movietard sendiri terpaksa meng-skip 2 film dan hanya mampu menonton 3 film pada satu hari pemutaran. Hal ini tentunya berbeda dengan pola festival umumnya yang memiliki rentang hari lebih panjang dengan menggunakan weekdays dan biasanya hanya memutar 2 film pada satu hari.

ImageAt the other hand, rentang waktu yang hanya mengambil waktu weekend saja tentunya membuat movietard cukup kesal karena it means, film yang disodorkan akan sangat sedikit sekali dan hanya satu kali pemutaran saja! *Mengingat ini untuk ukuran Jiffest yang sebelumnya berhasil mendatangkan Atonement, The Wind That Shakes the Barley, hingga (500) Days of Summers kok ya sedikit miris melihatnya ya? Dulu ingat sekali guide book Jiffest yang begitu tebal sehingga membuat bingung audiens dengan banyaknya pilihan film, apalagi setidaknya, sebuah film ditayangkan di dua pemutaran yang berbeda sehingga audiens memiliki paling tidak dua kesempatan*. Tetapi hey, good point-nya adalah, walaupun film-filmnya sangat sedikit, tribute untuk director Bong Joon-Ho dalam program retrospective sangatlah sukses! Movietard berhasil berjuang menonton 3 film Bong Joon-Ha yang disajikan sebagaimana telah dituliskan dalam short reviews diatas, dan movietard berterimakasih kepada Jiffest atas perkenalannya terhadap karya-karya Bong Jong-Ha. Mungkin untuk tahun depan, Jiffest bisa membuat tribut untuk Wong Kar Wai?

ImageTerkait dengan konsep baru yang membuat Jiffest tersebar dibeberapa venue ini memang menarik. Seperti telah ditulis dalam short reviews, konsep open air cinema menyajikan pengalaman menonton yang berbeda. Tetapi, sedikit catatan untuk panitia-nya nih! Lain kali harus lebih selektif memilih film yang diputar. Hal ini didasarkan pada pengalaman movietard menonton National Security dimana walaupun daerah untuk Open Air Cinema telah dibatasi, tetapi tidak menutup kemungkinan banyaknya audiens lain yang ikut menonton di luar venue dan most of them adalah keluarga dengan anak-anak dibawah umur sementara jujur saja, film National Security jelas bukan film yang baik dikonsumsi untuk semua umur mengingat banyaknya violence content didalamnya. Yang kedua adalah, Jiffest tahun 2013 ini kembali memang dengan dukungan berbagai sponsor tetapi well, ada baiknya dominasi sponsor tidak mengalahkan hakikat penyelenggaraan Jiffest sendiri. Entah kenapa, rasanya movietard lama-lama terganggu dengan iklan salah satu sponsor yang selalu wara-wiri bahkan lebih banyak dari teaser Jiffest sendiri. Akibatnya adalah, movietard sempat membatin dalam hati, apakah justru Jiffest yang telah diakusisi oleh media informasi film on-line tersebut?

12 thoughts on “Short Review: Jakarta International Film Festival 2013

  1. Beruntung banget kamu bisa nonton banyak🙂 Pengen nonton Mother dan Snowpiercer, walau tayang reguler di blitzmegaplex tp tetep aja belom sempet2. Iya dulu sempet punya booklet jiffest 2010/2009 yang tebal itu dan terkagum-kagum. Tapi baru bisa nonton sekarang, dan disempet2in. Sama sekali nggak nyesel, toh sekarang 12 Years a Slave terbukti jadi nomor 1 the best di list saya🙂 Moga2 tahun depan lebih oke yah

    • Iyaaa…. alhamdulillah termasuk beruntung karena punya spare time untuk nonton tapi tetep aja ya aku masih ngeluh kalau filmnya jiffest tahun ini sedikit, hehehe
      I hopeeee sooooo, for a bigger jiffest which will have moreee movies *praying circle*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s