Short Review: My Movie’s Experience for 3 Months

Remember when I wrote that I’m taking hiatus on writing movie review on here? Ya, selama hampir 3 (tiga) bulan ‘berhenti’ menulis review di blog ini karena kesibukan dunia kerja dan kuliah, jujur, I miss it, a lot lot lot *lebay*! But hey, seperti yang dituliskan rekan movieblogger yang kemarin berhasil mendapatkan package utama dalam acara giveaway birthday’s quiz di-sini, testimoni Om Soeby tersebut memberi movietard ide untuk tetap bisa berbagi melalui… short review! I know, it’s not a perfect way tetapi setidaknya, movietard tetap bisa berbagi cerita mengenai beberapa film yang menyentuh hati ketika ditonton selama kurun waktu 3 bulan selama bulan Agustus s.d Oktober 2013 ini, if you have a time, you could check it out!

Before Midnight
MV5BMjA5NzgxODE2NF5BMl5BanBnXkFtZTcwNTI1NTI0OQThe Plot
Ini cerita perjalanan seri ketiga Jesse dan Celine, yang sekarang sudah menikah dan memiliki 2 anak perempuan, di… Yunani!

The Comment
Before Midnight (2013) sebelumnya sempat diisukan diputar Indonesia, well, bukan isu sebetulnya, Blitzmegaplex sempat mengkonfirmasi keinginan meng-import film ini melalui media sosial mereka but then, it failed because of -rumornya- too much explicit sexual content at Before Midnight. Movietard memang sebelumnya hanya menonton Before Sunrise dan Before Sunset di cakram dvd sehingga sebetulnya sih, I don’t really mind if I watch Before Midnight by dvd. But hey, during my ied mubarak-holiday di Singapur pada minggu pertama dan kedua bulan Agustus lalu, kebetulan sekali, Before Midnight tengah diputar di bioskop sana. Kebetulan lagi, rekan sesama moviegoers asal Indonesia juga tengah berlibur di negeri yang sama sehingga kami berdua memutuskan untuk kopi darat dengan menonton Before Midnight. Jujur, dengan harga tiket yang cukup mahal, movietard sempat was-was akan kecewa dengan film ini but turned out… I was glad to watch Before Midnight at big screen!

MV5BMTgxODAxODUyNF5BMl5BanBnXkFtZTcwNTU5MTY4OA_002Sutradara Richard Linklater kembali ‘mengajak’ Ethan Hawke dan Julie Delpy berjalan paska 9 tahun dari pertemuan kedua mereka di Before Sunset (2004). Mengambil landscape Yunani dengan jalan-jalan pedesaan dan bangunan kuno-nya yang indah, toh Before Midnight justru menghadirkan ‘ocehan’ Jesse dan Celine yang tak indah. Ya, tak ada rayuan yang manis seperti di Before Sunrise, yang hadir justru ocehan berat saling tuding. Ketika Jesse dihadapkan dengan perpisahan dengan anak lelakinya dari pernikahan pertama, keduanya berdebat tentang masa depan, yang mencerminkan adanya insekuritas, rasa bersalah hingga ketidakpuasan pada hubungan yang hampir memasuki tahun ke-10 pernikahan. Seperti layaknya dwilogi Before, kekuatan dalam seri terakhir ini masih terdapat dalam energetic conversation yang terjalin antara Jesse dan Celine. Mereka berdebat layaknya duo pengacara di ruang sidang tetapi tetap mampu menghadirkan chemistry yang keren. Dan hey, ketika Jesse dan Celine berbicara di kamar hotel selama hampir 30 menit dimana Celine bertelanjang dada, akhirnya movietard paham mengapa film ini tak bisa masuk ke layar lebar di Indonesia. Kalaupun Before Midnight jadi diputar, adegan tersebut pastinya dipotong oleh lembaga sensor film nasional dengan alasan norma kesusilaan, and sadly, it will make you lost the essence of the movie.

Percy Jackson: Sea of Monsters
MV5BMzAwMzIzNDg0MF5BMl5BanBnXkFtZTcwMTE5MTk1OQThe Plot
Percy Jackson (Logan Lerman) kembali dalam seri petualang kedua yang mencari jubah ajaib yang dapat menyembuhkan pohon pelindung rumah anak-anak demigod.

The Comment
Ada masa dimana ketika movietard tergila-gila dengan tampang manis Logan Lerman beberapa tahun lalu. Tetapi fase itu telah berlalu dan sebetulnya sih, movietard tidak terlalu berminat menonton seri kedua ini kalau tidak ada iming-iming 4DX technology. Ya, Percy Jackson: Sea of Monsters menjadi film pertama di Indonesia yang dihadirkan dalam format 4DX oleh Blitzmegaplex. Apa itu 4DX? Intinya sih, kalau selama ini teknologi 3D telah membuat film seolah ‘menyembul’ lebih dekat ke audiens, teknologi 4DX memungkinkan audiens untuk juga merasakan getaran dari kursi, bau hingga siraman air! Nah, siapa yang tak merasa tertarik dengan gimmick seperti itu? Apalagi, teknologi ini baru pertama kali diperkenalkan dalam bioskop tanah air. Dengan harga tiket yang cukup pricey *dimana harga tiket 3 kali lipat dari tiket reguler*, apakah 4DX menjadi cara menikmati film yang jauh lebih menyenangkan? Errr… in my opinion, it’s not a must, it still depends on the movie itself tetapi memang terasa menyenangkan ketika tiba-tiba audiens dikagetkan dengan cipratan air ataupun bau harum bunga seperti yang movietard rasakan! Untuk case Percy Jackson: Sea of Monsters, in my opinion, sebetulnya tidak rugi jika hanya menontonnya dalam format 2D biasa.

MV5BMTc2MzQ4NzM0NV5BMl5BanBnXkFtZTcwMDMxMzEzOQ_002Dibuka dengan flashback kisah awal mula pohon Thalia yang berperan sebagai tameng pelindung di kamp anak-anak demigod, Percy yang sudah semakin dewasa dihadapkan dengan problematika remaja umumnya, seputar persaingan dengan teman sebaya, rasa kurang percaya diri akibat ramalan aneh tentang dirinya dan tentunya, kehadiran adik satu ayah yang seorang cyclops! Seolah belum cukup, Percy pun diharuskan terbang ke pulau yang dihuni cyclops raksasa guna mencuri kain penyembuh. Tetapi tenang saja, Percy dibantu oleh teman-teman setianya dan adik baru untuk menghadapi petualangan di tengah laut ini, dimana dalam perjuangan tersebut, tentunya mereka menghadapi berbagai rintangan dan tetap mendapat pertolongan dari berbagai pihak seperti dari Nathan Fillion! Secara umum, Percy Jackson: Sea of Monsters menjadi hiburan yang menarik layaknya seri pertama. Dengan beberapa referensi kultural akan mitologi yang dipadu dengan budaya masa kini, setidaknya audiens tetap bisa menikmati petualangan Percy dan kawan-kawan sambil tetap tertawa. Adventure yang disajikan dalam Percy Jackson: Sea of Monsters pun jauh lebih besar dan tidak se-cheesy seri pertama, walaupun sebetulnya, film ini bisa memiliki jalan cerita yang jauh lebih well-crafted.

Kick Ass 2
MV5BMTQ4OTQxNzc0N15BMl5BanBnXkFtZTcwOTQxOTU5OQ_002The Plot
Dave Lizewski/Kick Ass (Aaron Taylor Johnson) kembali kedunia superhero dengan bergabung dalam tim Justice Forever sementara itu, Mindy MacReady/Hit Girl (Chloë Grace Moretz) memilih untuk ‘pensiun’ dini.

The Comment
Pada tahun 2010 lalu, Kick Ass menjadi salah satu film favorit movietard, yang review-nya dapat dibaca di-sini. Banyaknya violence content dalam Kick Ass nyatanya tak menyurutkan kesuksesan film tersebut dalam menghibur audiens. Selang 3 tahun, sekuel Kick Ass kembali menyapa audiens melalui Kick-Ass 2 yang movietard tonton pada sneak preview di malam minggu karena well, movietard sudah terlanjur jatuh cinta dengan film pertamanya. Diseri kedua ini, cerita tak lagi berfokus pada karakter Dave tetapi justru pada karakter Mandy/Hit Girl yang telah beranjak remaja. Paska kehilangan ayahnya, Mandy yang kini tinggal dengan wali-nya yang tak lain adalah seorang polisi, dihadapkan pada realitas dunia remaja perempuan yang cukup kejam. Bagaimana tidak, ia diharuskan sang wali menjalani kehidupan layaknya remaja perempuan padahal ia kan lebih senang bermain dengan senjata! Keinginan Mandy untuk hidup tenang terganggu ketika Dave memintanya untuk membantu tim Justice Forever *yang ini sepertinya versi komedi dari Justice League ya?* menghadapi gerombolan penjahat eksentrik yang dipimpin oleh Chris D’Amico. Akankah usaha mereka sukses?

MV5BMTQyNTQyNDk2Nl5BMl5BanBnXkFtZTcwNzE1OTY5OQEntah kenapa, Kick Ass 2 tampil tak semenarik pendahulunya. Mungkin karena Mathhew Vaughn tak lagi duduk mengkomandani Kick Ass 2 dan memilih menyerahkan tampuk kursi director dan penulisan skrip kepada Jeff Wadlow. Pada seri kedua ini, Wadlow tidak seberani Vaughn dalam urusan menyajikan violence content sehingga instead of tampil more bloody, Kick Ass 2 justru tampil lebih soft. Movietard juga merasa dialodg-dialog dalam Kick Ass 2 tidak se-smart seperti prekuelnya yang menjadi bentuk olok-olok Vaughn terhadap kecintaan masyarakat terhadap superheroes. Memang sih kehadiran kelompok Justice Forever dan gang penjahat dengan penampilan aneh mereka masih mampu mengundang tawa audiens, tetapi cita rasa Kick Ass yang sebelumnya hadir melalui humor akan pop culture tidak lagi terlihat karena lebih condong menyajikan comical scenes yang mengolok-olok penampilan para karakternya. Bahkan, Moretz pun tak lepas dari olok-olok ini dimana ia diharuskan berdandan cantik dan terpaksa blushing saat menonton boyband bernyanyi. Overall, Kick Ass 2 memang tak mampu menyetarai pendahulunya tetapi luckily, film ini masih punya magnet yang sangat adorable dalam diri Moretz yang mampu memanggul beban berat sebagai main character dalam kisah ini.

The Internship
MV5BMjM1MzczMDgwOV5BMl5BanBnXkFtZTcwMDM4NjM2OQThe Plot
Ini cerita duo salesman Billy McMahon (Vince Vaughn) dan Nick Campbell (Owen Wilson) diusia yang sudah menua untuk mencoba program magang di kantor Google.

The Comment
The Internship entah kenapa memiliki magnet yang membuat movietard rela seorang diri menontonnya di jam pertama di hari minggu pula! Akibat kesulitan mencari waktu menonton di weekdays membuat movietard harus pintar-pintar mencari waktu ketika weekend, dan pemutaran minggu pagi yang menghadirkan diskon 30% di Blitzmegaplex jelas menjadi salah satu cara movietard untuk tetap bisa menikmati film-film terbaru dengan harga tiket yang cukup murah. Sebetulnya, kisah The Internship tidak istimewa, duo Vaughn dan Wilson hadir dengan ‘kebodohan’ mereka seperti dalam Wedding Crasher, bedanya dalam The Internship, mereka harus bertingkah sok tahu ditengah kumpulan anak-anak geek yang sama-sama bermimpi mengejar karir lanjutan di kantor Google. Google? Ya, situs pencari terpopuler ini jelas menjadi kantor impian semua pekerja saat ini. Bagaimana tidak, makanan dan camilan gratis, tempat tidur siang yang nyaman, fasilitas bebas laundry, fasilitas olahraga hingga kehadiran perosotan cute adalah contoh fasilitas yang didapatkan jika anda bekerja google, what a place for work to die for!

MV5BMjIyNDA5MzAzNV5BMl5BanBnXkFtZTcwMjg1ODI2OQMemang sih terasa sekali kalau The Internship seperti iklan betapa kerennya Google di layar besar, tetapi, suka atau tidak, dalam The Internship, terlihat sekali bagaimana bekerja di Google memang sangat menarik. Walaupun penyutradaraan Shawn Levy tidak istimewa, skrip yang ditulis Vaughn sendiri dengan dibantu Jared Stern masih memiliki hati. Selain mampu mengocok perut audiens dengan olok-olok akan budaya pop yang ditampilkan Vaughn dan Wilson, interaksi duo ini dengan kelompok pemuda-pemudi seperti Stuart, Neha, Yo-Yo dan si pemimpin kelompok Lyle hadir dengan cukup heartwarming. Ya, momen-momen kecil seperti ke klub ataupun cheer up conversation terjalin dengan baik antara dua generasi, yang seolah menyentil audiens usia muda yang selama ini tampil begitu percaya diri karena mahir menggunakan teknologi, bahwa realitasnya, hidup tidak hanya berada dalam layar handpone, melainkan dari pengalaman nyata. The Internship memang bukan film yang sempurna karena masih ada beberapa hole dari story plot-nya, tetapi setidaknya, film ini bisa menghibur audiens dengan usaha karakter Billy dan Nick untuk keluar dari comfort zone dengan sangat lucu! Anyway, sedikit poin tambahan, karakter geek Stuart yang cute jelas mencuri perhatian audiens perempuan, I love him! *eh?*.

The Butler
MV5BMjM2NDY3MjkyMF5BMl5BanBnXkFtZTcwMDM5Nzg5OQ_002The Plot
Cecil Gaines (Forest Whitaker) adalah seorang butler di White House yang melayani para presiden USA selama 34 tahun masa tugasnya.

The Comment
Blackphobic di Amerika Serikat rasanya sudah cukup sering diangkat pada medium seluloid. Mostly, film-film tersebut memotret bagaimana menyedihkannya perbudakan atas kaum kulit hitam oleh kulit putih di level kehidupan masyarakat umum. Nah, The Butler berangkat dari point of view yang selama ini jarang tersorot, dari seorang pelayanan kulit hitam yang bekerja di gedung putih, tempat dimana kebijakan-kebijakan besar akan persamaan antara kulit putih dan kulih hitam itu lahir. The Butler memang bukan biografi yang otentik, tetapi sekelumit kisah Gaines di gedung putih jelas menjadi gambaran kecil bahwa seperti layaknya para supir, para butler pun menjadi saksi nyata apa yang terjadi gedung putih. Asyiknya, sutradara Lee Daniels tidak membuat The Butler se-‘berdarah’ Django Unchained ataupun se-‘cerewet’ Lincoln, walaupun mengambil format flashback narasi melalui karakter Gaines, Gaines yang dimasa kecilnya mengalami kejadian traumatis dengan perlakuan kulit putih terhadap orang tuanya nyatanya justru tak cerewet berceloteh mengenai persamaan hak atas kaumnya. Yang ia inginkan sederhana saja, kehidupan berkecukupan untuk keluarganya, walaupun pada perjalanan kedepannya, Gaines dihadapkan dengan problematika yang sama ketika anak lelaki tertuanya memutuskan menjadi pejuang persamaan hak.

MV5BMTYzNDU2NDA0OV5BMl5BanBnXkFtZTcwOTgwODg5OQ_002Dengan durasi hampir 3 jam, luckily, The Butler tidak tampil membosankan. Acungan jempol patut diberikan kepada penampilan cemerlang Whitaker dan Winfrey yang berperan sebagai pasangan suami istri Gaines. Konflik-konflik personal dalam ranah rumah tangga berhasil ditampilkan oleh duo ini dengan sangat meyakinkan, sepertinya, dengan perannya sebagai Gaines, Whitaker dapat masuk ke bursa best actor untuk tahun depan. Walaupun tidak otentik, di sisi lain, The Butler pun berhasil merekam kisah historis perjalanan kepresidenan Amerika dengan baik. Bagi movietard yang selama ini tak mengenal sejarah Amerika, kolase-kolase kepemerintahan para presiden dengan kebijakan dan sifatnya masing-masing memberikan pembelajaran mengenai sejarah Amerika, dengan cara yang tentunya jauh lebih menyenangkan dibandingkan membaca buku sejarah, apalagi, deretan aktor yang memerankan para presiden pun begitu memesona, dari mulai Robin Williams hingga Alan Rickman. Anyway, menurut movietard sih, narasi dari sudut pandang Gaines kembali menasbihkan pasangan John dan Jackie Kennedy memang pasangan presiden yang paling loveable dibanding Nixon atau Reagan *salah fokus*. Above all, The Butler, yang ditutup dengan ending yang begitu manis, rasanya menjadi salah satu film drama politik yang worth to watch untuk tahun ini.

Prisoners
MV5BMTg0NTIzMjQ1NV5BMl5BanBnXkFtZTcwNDc3MzM5OQThe Plot
Ketika anak perempuannya dan teman anaknya menghilang, Keller Dover (Hugh Jackman) berjuang dengan berbagai cara untuk menemukan dua anak tersebut.

The Comment
Sebetulnya, movietard sempat bimbang untuk menonton Rush atau Prisoners, dan walaupun Rush mengangkat tema yang jauh lebih menarik bagi movietard yang selama ini juga mengikuti kejuaraan dunia balap formula one, tetapi, ada satu alasan kenapa akhirnya movietard memilih Prisoners dibandingkankan Rush, yaitu kehadiran Denis Villeneuve yang duduk dikursi director. Realitasnya, Villeneuve berhasil membuat movietard  selalu ingat dengan film besutannya tahun 2010, Incendies, yang memiliki salah satu ending paling menyayat hati. Nah, Villeneuve kembali dengan produksi yang agak berbeda melalui Prisoners. Kalau sebelumnya, ia memimpin aktor-aktor bukan dari kalangan a-list Hollywood, dalam Prisoners, ia memimpin Jackman, Terrence Howard dan Gyllenhaal dalam cerita pengungkapan kehilangan anak. Ya, Prisoners berkisah tentang dua keluarga yang kehilangan putri-putri mereka di suatu malam musim dingin. Menyorot dari point of view si Bapak, Keller Dover, yang tak puas dengan kinerja polisi, membuat Keller memilih jalannya sendiri untuk mencari sang putri, yang justru membawanya pada hasil akhir yang mengejutkan.

MV5BMjMxMzkwMjYzOV5BMl5BanBnXkFtZTgwNzY0MjcxMDE_002Villeneuve realitasnya masih memiliki kekuatan untuk membuat audiens merasa ‘ngilu’ ketika menonton Prisoners. Walaupun tak memiliki twist semenakjubkan Incendies, Prisoners toh tetap membuat movietard terjengit ketakutan dalam beberapa scene torturing yang dilakukan Keller *yang sempat membuat movietard menyesal setengah mati tidak membawa teman ketika menonton Prisoners*, since it looked really painful indeed! Walaupun story plot Prisoners sendiri dibeberapa bagian terasa begitu lambat dan Villeneuve agak terburu-buru mengeksekusi akhir dari misteri yang melingkupi kasus penculikan ini, but luckily, Prisoners memiliki magnet kuat berupa superb akting dari Jackman dan Dano. Ya, interaksi keduanya ketika menjadi subjek dan objek dalam cerita ini realitasnya hingga kini tetap membuat movietard tetap terjengit setiap kali mengingatnya. Pada akhirnya, Prisoners menjadi salah satu drama thriller yang cukup menarik untuk ditonton walaupun pace film ini terasa lambat.

About Time
MV5BMTA1ODUzMDA3NzFeQTJeQWpwZ15BbWU3MDgxMTYxNTk_002The Plot
Ini cerita perjalanan hidup dan pencarian cinta Tim Lake (Domhnall Gleeson) yang dapat kembali ke masa lalu untuk… memperbaiki keadaan.

The Comment
About Time (2013) awalnya terlihat seperti film romantic comedy umumnya, tentang kisah muda-mudi yang jatuh cinta. Dengan embel-embel director dan scriptwriter film ini adalah Richard Curtis yang sebelumnya pernah membuat movietard ‘mewek’ dalam Notting Hill dan menunjukkan hebatnya kekuatan cinta di hari natal melalui Love Actually, movietard awalnya merasa About Time ‘cuma’ akan bicara tentang cinta. But hey! Curtis menambahkan aroma baru dalam kisah cinta ini, yaitu dengan tema sains fiksi dimana si pemuda memiliki warisan dari sang ayah berupa kemampuan untuk kembali ke masa lalu. Terdengar hebat bukan? Tetapi jangan berpikir bahwa Tim, si pemuda, menggunakan kekuatannya untuk menolong yang lemah layaknya superhero, pikiran Tim sederhana saja, ia menggunakannya hanya untuk mendapatkan cinta, baik itu menggapai cinta monyet di musim panas hingga ketika ia bertemu dengan perempuan pujaannya, Mary. Jadi, hampir setengah film, audiens diajak melihat bagaimana labil-nya Tim dalam menggunakan kekuatannya, sebagai contoh,  Tim bahkan rela menggunakan kemampuannya hanya untuk terlihat tampil hebat dalam melakukan sexual intercourse!

MV5BMTY2OTg4NTc5Ml5BMl5BanBnXkFtZTgwMjA5MzYzMDESetelah tampil dengan aroma komedi, and then… About Time turned out to be a very heartwarming about family-love indeed. Pada paruh kedua, About time tampil lebih berat, dimana Curtis tak hanya berbicara tentang cinta kepada pasangan, tetapi juga menyoroti kisah kasih keluarga, baik untuk hubungan ayah dan anak, hingga adik dan kakak yang kesemuanya dibalut dengan berbagai permasalahan yang tentunya membuat audiens berharap Tim akan melakukan perbaikan terhadap permasalahan yang menimpa keluarganya tersebut. [spoiler] Tetapi sayangnya, hukum alam tak dapat dilawan, perubahan di masa lalu tentunya akan berdampak pada kehidupan di masa kini. Pada akhirnya adalah, pembelajaran terbaik yang diterima Tim dari sang ayah adalah bagaimana menikmati dan menjalani ketidaksempurnaan hidup tersebut, karena hakikatnya, the perfect life is the imperfect one [end of spoiler]. Dibalut dengan landscape daerah pinggir pantai Inggris yang indah, About Time memang tampil dengan kesenduan khas romantic drama Inggris, tetapi menyenangkannya, About Time tampil tidak begitu sendu, keriangan berhasil disajikan oleh jalinan dialog yang cukup smart guna mengundang tawa dan didukung oleh soundtracks yang sangat ear-catchy.

Gravity
MV5BNjE5MzYwMzYxMF5BMl5BanBnXkFtZTcwOTk4MTk0OQ_003The Plot
Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) tengah berada dalam misi memperbaiki sebuah space telescope ketika puing pecahan satelit menjadi bencana yang membuatnya terombang-ambing di… luar angkasa!

The Comment
Di tahun 2013 ini, Gravity jelas menempati must watch list dari banyak moviegoers. Bagaimana tidak, diberbagai media sosial ataupun review teman-teman, Gravity diberi label sebagai salah satu film dengan penggunaan visual efek terbaik yang pernah dibuat. Movietard sempat pesimis akan melewatkan film ini karena setelah hampir 6 minggu di putar, I didn’t have a time to watch it. But luckily, minggu tenang setelah midterm exam membuat movietard memiliki waktu senggang sehingga tepat di tanggal 31 Oktober  ini, I finally watched it! *nangis*. Well, memang movietard terdengar lebai tetapi kesempatan untuk dapat menonton Gravity sudah cukup membuat movietard merasa puas walaupun sayangnya, I didn’t watch it at Imax, 3d format, ataupun layar besar yang mumpuni, akibatnya adalah, I couldn’t feel how great and extraordinary the movie indeed. Ya, movietard tidak merasa visualisasi dalam Gravity itu sehebat seperti yang dibicarakan karena kembali lagi ke poin utama, mungkin karena movietard tidak menontonnya dalam format yang sesuai.

MV5BMTgwNTY2MDc0NV5BMl5BanBnXkFtZTgwMjkwNzIyMDEBut I love the story! Lahir dari sutradara yang pernah membesut film road trip ‘nakal’ Y Tu Mama Tambien, kali ini, Cuaron bermain di ranah yang jauh berbeda. Tetapi hey, Cuaron memang seorang bunglon, ia juga pernah membuat seri ketiga Harry Potter dengan tone adventure yang jauh lebih dark. Dalam Gravity, Cuaron menyajikan horror baru ditempat yang selama ini cuma ada dalam imajinasi kita, di luar angkasa! Walaupun terdengar mustahil, tetapi Cuaron berhasil menyajikan petualangan ini dengan seru. Above all,  Cuaron yang menulis kisah ini dengan putranya sendiri, Jonas, realitasnya berhasil menyajikan jalinan kisah yang begitu inspiratif dalam balutan science fiction, bahkan beberapa dialog singkat yang diberikan karakter Matt kepada Dr. Ryan seperti jalinan kata yang biasa terangkai dalam buku Chicken Soup. [spoiler] Pada akhirnya, lepas dari seting luar angkasa yang megah dan betapa luar biasanya perjuangan Dr. Ryan untuk kembali ke bumi *yang sempat membuat movietard membatin, lebih masuk akal kalau Dr. Ryan juga meninggal di atas sana ya!* [end of spoiler], sesungguhnya Gravity murni bercerita tentang turning point manusia setelah menghadapi kejadian tertentu. Tinggal ganti momen tersebut dengan kejadian 9 September 2011 ataupun kejadian-kejadian lainnya yang hampir merenggut nyawa kita, bahwa hakikatnya, kematian yang sudah teramat dekat justru akan membuat kita menyadari betapa berharganya hidup ini.

all the photos was taken from IMDB

2 thoughts on “Short Review: My Movie’s Experience for 3 Months

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s