Pacific Rim

MV5BMTY3MTI5NjQ4Nl5BMl5BanBnXkFtZTcwOTU1OTU0OQ@@._V1._SX640_SY946_The Plot
Ketika dunia diserang mahluk asing  dalam bentuk monster raksasa a.k.a Kaiju, manusia menciptakan para robot petarung a.k.a Jaeger untuk melawannya.

The Comment
Setiap orang pasti memiliki kenangan akan hal-hal yang menemaninya tumbuh, termasuk hiburan berupa serial televisi. Di masa kecil movietard, tepatnya pada periode 90-an akhir, serial semacam Ksatria Baja Hitam series, Ultraman series, hingga Power Rangers series menjadi tontonan ‘wajib’ anak mengingat serial televisi tersebut ditayangkan di stasiun televisi lokal. Khusus untuk serial yang terakhir, serial tersebut menjadi favorit movietard. Movietard ingat bagaimana dulu begitu addict dengan kelompok pembela kebenaran ini. Selain memasang poster kelompok rangers di rumah, toh movietard -yang masih duduk di bangku sekolah dasar- bahkan mendatangi bioskop untuk menonton versi layar lebar serial ini *siapa sih yang tidak jatuh cinta dengan karakter Jason si pemimpin? Nah, Pacific Rim (2013) hadir sebagai perwujudan dari impian anak-anak yang tumbuh pada periode ini. Bagaimana tidak, seperti layaknya serial-serial jepang yang telah disebutkan diatas, Pacific Rim adalah versi layar lebar yang spektakular dari serial tersebut, dimana para monster menyeramkan yang seringkali menjadi lawan Power Rangers dan Ultraman dihadirkan dalam bentuk gigantic, dan pahlawan kita adalah, para robot Jaeger dengan ukuran yang tak kalah menakjubkan. Dengan semua ke-spektakularan tersebut, apakah Pacific Rim menjadi film yang sempurna?

MV5BMjAyODE4NjQzMl5BMl5BanBnXkFtZTcwMTU0MjQ3OQ@@._V1._SX640_SY360_Story plot Pacific Rim dibuat oleh Travis Beacham, dan dipoles oleh Guillermo del Toro yang juga duduk di kursi sutradara. Kisah Pacific Rim dibuka oleh narasi karakter Raleigh (Charlie Hunnam) yang menceritakan bahwa di tahun 2013, dunia di-invasi alien dalam bentuk monster raksasa (kaiju) yang datang dari hole di lautan pasifik. Dunia melawan kehadiran kaiju tersebut dengan menciptakan robot-robot raksasa yang digerakkan oleh dua pilot, salah satunya adalah Raleigh. Sayangnya, Raleigh terpaksa pensiun dini ketika kehilangan kakaknya dalam masa tugas di dalam Jaeger. Di Tahun 2025, proyek Jaeger dihentikan dengan alasan dunia jauh lebih aman jika dilakukan pencegahan serangan melalui tembok tepi laut. Komandan proyek Jaeger, Stacker Pentecost (Idris Elba) realitasnya tak percaya hal ini dan tak mau menghentikan proyeknya. Ia memanggil kembali para pilot Jaeger yang tersisa, termasuk Raleigh, dan memberikan misi terakhir yang terdengar mustahil, yaitu menutup lubang yang selama menjadi penghubung dunia manusia dengan para kaiju. Berhasilkan usaha para Jaeger melawan kaiju yang kehadirannya semakin lama semakin banyak dan sudah imun terhadap senjata para Jaeger?

Selain main story plot Jaeger vs. Kaiju tersebut, guna membuat Pacific Rim lebih kaya rasa, Beacham dan del Toro pun memberikan bumbu-bumbu drama seperti relasi personal antara ayah dan anak yang keras kepala, relasi ‘ayah’ yang sangat protektif terhadap ‘anak’-nya hingga tentunya drama percintaan muda-mudi. Oh, ada pula kisah duo ilmuwan ‘sinting’ yang salah satunya berusaha membaca pikiran kaiju maupun kisah pedagang organ tubuh kaiju. Kehadiran side plots yang cukup banyak ini membuat Pacific Rim menjadi lebih menarik dan membuat beberapa bagian dalam Pacific Rim terasa sangat komikal. Kemampuan del Toro membalut cerita fantasi dengan balutan komedi memang salah satu keunggulan del Toro. Memang, del Toro adalah seorang visioner yang mampu mewujudkan fantasi-fantasi liar seperti yang ia tuangkan dalam kisah ‘kepahlawanan’ monster neraka Hellboy. Dalam Pacific Rim, fantasi liar del Toro akan kaiju divisualisasikan dengan begitu gigantic dihadapkan dengan para Jaeger yang juga divisualisasikan dengan indah. Sayangnya adalah, entah kenapa. ketika audiens bisa dengan mudah mencintai Hellboy yang nyeleneh. Menurut movietard sih, dalam versi robot raksasa ini, del Toro tak sukses membuat audiens jatuh cinta dengan para Jaeger karena sayangnya, para jaeger tidak di-‘isi’ oleh karakter-karakter yang kuat.

MV5BNzU3Njg1OTY1M15BMl5BanBnXkFtZTcwNDI2NTQ3OQ@@._V1._SX640_SY403_Kelemahan utama dalam Pacific Rim sebetulnya hal lumrah yang terjadi dalam film-film blockbuster, yaitu karakterisasi tokoh yang seharusnya menjadi poin utama dalam story plot justru dikalahkan oleh konsep besar pertarungan antara Jaeger dan Kaiju. Memang, audiens akan dibuat menahan nafas ketika melihat rentetan pertarungan yang begitu spektakuler antara kedua mahluk besar. Ya, del Toro mewujudkan fantasi kita akan dunia pertarungan dalam skala massive dengan begitu banyak kehancuran masal entah itu di darat maupun di laut. Tetapi sayangnya, lepas dari gigantic fighting scenes tersebut, kesemua side-plots yang hadir benar-benar terasa sebagai tempelan semata. Apalagi, beberapa problem yang muncul serta penyelesaian atas problem tersebut justru terkesan tak logis yang membuat movietard mau tak mau menjadi tertawa melihatnya. Anyway, seperti yang telah dituliskan dalam awal paragraf ini, karakterisasi para tokoh dalam Pacific Rim memang kurang berkembang dan hanya dibuat dalam batas yang jelas antara baik dan jahat. Bukan hal yang buruk sih, tetapi sayangnya, para karakter tersebut dimainkan dengan kumpulan aktor yang juga, well, tidak memiliki kharisma yang besar. Kecuali untuk Elba, para aktor dalam Pacific Rim memanglah nama-nama baru tanpa label bintang, akibatnya adalah, dengan tipisnya karakterisasi, para aktor yang juga memang masih hijau ini tidak dapat melakukan eksplorasi sehingga kesemua interaksi yang terjalin menjadi datar.

Satu-satunya momen diluar pertarungan Jaeger vs. Kaiju yang membuat movietard menahan nafas adalah justru pada scene sederhana yang mengajak audiens ber-flashback ke masa lalu karakter Pentecost yang bertemu seorang anak manusia di tengah kehancuran Jepang. Ya, akting aktris cilik yang memainkan karakter Mako Mori kecil justru membuat movietard tersentuh *eh, tetapi sebelum movietard menangis, del Toro sudah mengajak audiens kembali ke masa kini, damn!*. Karakterisasi dalam Pacific Rim memang tidak se-loveable dan semenarik Hellboy, tetapi toh, del Toro membayarnya dengan keindahan visual yang begitu gigantic. Detil-detil design para Jaeger hingga pada bagaimana penyatuan manusia di dalam Jaeger sangatlah menarik untuk diikuti, pun begitu dengan penggambaran para kaiju raksasa yang menyeramkan tetapi memiliki semacam kepintaran yang tak disangka. Keindahan visual juga ditunjukkan dalam bentuk pertarungan di tengah landscape warna warni Hongkong ataupun ketika dalam kegelapan di tengah laut yang justru melahirkan keeleganan para pahlawan besi tersebut. Anyway, satu hal lagi yang movietard suka dalam Pacific Rim adalah, del Toro nyatanya mencintai budaya asia, karena selain dengan mengumpulkan cast multikultural, scenes utama juga berada dalam ranah Asia, termasuk dengan penggunaan setting laut pasifik yang menjadi inspirasi untuk judul Pacific Rim itu sendiri.

MV5BMTQ1MTY5OTY3M15BMl5BanBnXkFtZTcwNjQ0MjQ3OQ@@._V1._SX640_SY360_

In conclusion, Pacific Rim memang bukan film yang sempurna secara narasi, tetapi hey, dibandingkan film-film blockbuster lain yang hanya mementingkan ledakan, toh Pacific Rim  jauh lebih unggul dari segi visualisasi  dimana del Toro berhasil menyajikan keindahan para Jaeger serta bagaimana seramnya Kaiju yang kesemuanya dihadirkan dalam versi gigantic, the bigger is better! Movietard merasakan excitement yang sama besarnya seperti belasan tahun lalu ketika menonton pasukan Power Rangers berhasil mengalahkan alien jahat bahkan jauh lebih excited karena bagaimana tidak, kisah serial robot yang awalnya dianggap cheesy nyatanya berhasil tampil cukup epik dalam Pacific Rim. Menurut movietard, visi del Toro akan pahlawan robot raksasa ini jelas sudah berada pada fondasi yang kuat, jauh lebih kuat dari apa yang dibuat Michael Bay melalui installment Transformer. Hanya saja, sedikit catatan untuk sekuel Pacific Rim kedepannya, rasanya del Toro wajib memasang nama yang agak terkenal untuk para pengisi jaeger. Kalau misalnya Ryan Gosling bergabung dalam jajaran cast, berani jamin, penggemar para jaeger tak hanya datang dari para fanboys, tetapi juga para fangirls. Semoga saja del Toro mau mewujudkan impian movietard untuk melihat Gosling mengenakan ‘baju besi’, it’s just like my childhood-dream is getting hotter, hehehe.

Haven’t you heard? It’s the end of the world. Where would you rather die? Here, or in a Jaeger? [Stacker Pentecost]

Do You Know
Scriptwriter Beacham mendapatkan ide untuk cerita Pacific Rim kerika ia tengah berjalan di tepi pantai California di pagi hari yang berkabut, yang membuat dok pantai terlihat seperti mahluk yang muncul dari dalam laut dan Beacham membayangkan kehadiran robot raksasa yang akan datang bertarung.
Kata ‘Jaeger‘ adalah kata dalam bahasa Jerman untuk kata pemburu sementara Kaiju adalah kata dalam bahasa Jepang yang diartikan secara literal sebagai mahluk asing yang menyeramkan/strange beast
Walaupun penggambaran kaiju dilakukan melalui proses CGI, semua design awal kaiju dilakukan dengan konsep bahwa mereka dapat berfungsi sebagai suit yang selama ini menjadi konsep dasar dalam serial bertema kaiju tradisional

My Rate
4 stars. Pacific Rim is definitely one of my favorite movies this summer. My childhood personal experience contributed on how I admired del Toro’s work. He made a dream about gigantic robot vs. Kaiju became sooo great! Even if the story-plot and actors weren’t good one, I still forgave del Toro.

7 thoughts on “Pacific Rim

  1. Well, i lil bit disagree this time nggi, bout kurang mendalamnya karakterisasi jajaran castnya disini.. IMO justru dengan pengalaman yg masih hijau, i think mereka berakting cukup baik..

    Coba inget lagi relation between relaigh bersodara (even sebentar kita tau bounding kakak beradik yg kuat bgt, bsa dbilang as strong as they were twins)

    Liat relation mako n pentecost (stepfather yg begitu “paham” mimpi terburuk terbesar anak tirinya.. As hard as he tried to erase it.. Mako still “catching the rabbit” tho)

    Realized or not there’s lil bromance antara 2 ilmuwan geek..
    Bounding two military daddy~ eager boy
    N then relaigh-mako fall in love.. Cuz every inch of them is bounded in some way

    Mungkin, bsa jadi karna movement scene yg kasar.. Kya yg lo bilang waktu kenangan mako tiba2 diseret gitu aja.. For me 5 years since gipsy danger fall, relaigh pingsan di out of nowhere tau tauk doi udah jadi kuli aja (buat gw jdi membuat emosi relaigh kurang terpapar.. Apa yg dibilang “Losing brother while their minds bounded” tuh jdi kurang bisa dirasain aja)

    In mako case.. jadinya gw ga nangkep she insist to became jaeger karna ingin balas dendam kah? Ajaran pentacost kah? Nyelamatin dunia kah? Or simply to “catching the rabbit”

    Ehmm sebernernya msh banyak sih bahasan pacific rim.. Tapi nanti disuruh bikin blog sendiri lagi deh.. Gw tulis apa yg gw ga setuju aja deh🙂

    • Nah, that’s the problem, buat gue sih tempelan semua relasi itu entah kenapa gak ada yang kena kecuali yg bagian Mako kecil dan Pentecost.
      Waktu kakaknya mati pun gue gak berasa sedih, waktu pas beberapa pengisi Jaeger matipun biasanya, dan waktu si anak durhaka meninggal pun ya begitu aja. Instead of cute, I found the bromance of two scientist itu malah agak annoying
      Kupikir, emang del Toro nggak mau buat karakter yang loveable banget kali ya karena kekuatan di film ini jelas para Jaeger-nya, bukan siapa yang ngisinya

      Bukti bawa nggak kuatnya karakterisasi Mako adalah ya kebingungan elo itu tapi well, imho, kalo ngeliat flashback Mako kecil, jelas banget kalau dia memang mau revenge mengingat Kaiju menghancurkan kotanya, dan satu2nya cara yang dengan masuk ke Jaeger karena ia melihat Jaeger yg diisi Pentecost-lah yang berhasil mengalahkan Kaiju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s