The Lone Ranger

MV5BMjI3Mjk5MTUxOV5BMl5BanBnXkFtZTcwNTMyNzY3OQ@@._V1._SX640_SY948_The Plot
Ini kisah petualangan John Reid a.k.a Lone Ranger (Armie Hammer) dan Indian Tonto (Johnny Depp) menghadapi penjahat Butch Cavendish (William Fitchner) di abad ke-18.

The Comment
Sebetulnya, kisah yang diangkat dalam The Lone Ranger (2013) bukanlah produk baru. Karakter lawas si pahlawan bertopeng ini sudah menjadi salah satu ikon pop culture Amerika dan telah hadir dalam bentuk serial televisi, film, komik, serial radio hingga novel. Karakter Lone Ranger sendiri bukanlah didasarkan atas karakter fiksi melainkan terinspirasi dari pasukan tentara penegak hukum pertama yang dimiliki Amerika sejak abad ke-17, yang disebut ranger. Kaum ranger adalah tentara yang bertugas menjaga keamanan di wilayah Amerika yang ikut serta dalam perang-perang penting yang dijalani Amerika, dari mulai revolusi Amerika hingga perang dunia. Kisah The Lone Ranger mengangkat peran ranger yang heroik ini, dengan mengambil teritori di wilayah  Texas. Yang membuat Texas menarik sebagai background cerita adalah, wilayah ini masuk dalam daerah wild west. Di zaman wild west ini, sebagian wilayah geografis sudah mampu dikuasai masyarakat beradab untuk kehidupan yang lebih berbudaya, nyatanya, terdapat pula wilayah liar yang dikuasai kaum asli Indian. Nah, tugas Ranger ‘mengamankan’ kedua wilayah ini sehingga tidak terjadi perang. Enough about the historical background, the most important thing, how’s about the story plot?

MV5BMTQxNzI5NjA2MV5BMl5BanBnXkFtZTcwMDEwODY3OQ@@._V1._SX640_SY426_Story plot The Lone Ranger dibuat oleh Ted Elliott, Terry Rossio dan Justin Haythe. Dua nama pertama sebelumnya sukses menyajikan Shrek dan Pirates of Carribean yang tampil lucu sementara Haythe adalah scriptwriter untuk Revolutionary Road. Dengan track record yang sudah sempurna sebelumnya, seharusnya kolaborasi mereka bertiga dalam membuat The Lone Ranger bisa tampil semumpuni installment Shrek dan Pirates kan? Unfortunately, I thought they failed the mission. Mengambil alur flashback, kisah dimulai pada tahun 1933 pada pameran sirkus yang mengantarkan audiens melihat Indian tua bercerita kepada seorang anak laki-laki mengenai awal mula kisah Lone Ranger. Kembali ke era wild west, tepatnya pada tahun 1869, pengacara terpelajar John Reid pulang ke Texas dengan niatan menegakkan hukum yang modern. Apa mau dikata, bandit kejam Butch berhasil membunuh semua ranger Texas, tak terkecuali kakak John, yang seorang Ranger tersohor. Dalam pergumulan tersebut, John menjadi satu-satunya yang selamat dan itu karena ia ‘terpaksa’ diselamatkan oleh seorang Indian, Tonto. Ditengah alur maju-mundur, Indian tua menjelaskan petualangan Lone Ranger dengan sang indian, dimana walaupun hubungan mereka jelas tak harmonis, keduanya tetap harus bekerja sama di tengah hamparan padang pasir Texas dengan hasil akhir yang tak terduga.

Tema petualangan sebetulnya bisa jadi sangat menarik, seperti layaknya installment Pirates yang membuat petualangan bajak laut menjadi begitu menyenangkan, tampaknya produser Buckheimer percaya bahwa kisah petualangan ranger yang telah usang ini dapat berkilau kembali. Dan hey, tak mau salah langkah, Buckheimer kembali mengajak sutradara yang sukses dengan installment Pirates, Gore Verbinski untuk bergabung dalam kisah petualangan ranger dan indian ini. Dengan tim yang sudah solid, seharusnya memang, The Lone Ranger bisa sesukses installment Pirates. Sayangnya adalah, there’s something wrong with this movie, dan hal ini terkait dengan hal mendasar, yaitu bahwa walaupun judulnya The Lone Langer, film ini justru mengambil point of view melalui narasi Tonto, si karakter Indian. Bukan hal yang buruk memang, tetapi sepanjang film, bahkan porsi penceritaan untuk karakter John dan Tonto tidaklah berimbang, dimana Tonto tampil lebih dominan. Hal ini jelas menjadikan The Lone Ranger tidak benar-benar ‘lone’, setidaknya si ranger selalui ditemani si Indian. Kalau movietard menjadi karakter Tonto, movietard akan menuntut nama untuk dimasukkan dalam judul film. Jika meniru bagaimana Butch Cassidy dan Sundance Kid saja menerima perlakuan adil dari segi judul film, seharusnya sih The Lone Ranger ini berjudul The Lone Ranger and Indian Guy.

MV5BNTM3MjU2ODM0MV5BMl5BanBnXkFtZTcwOTUxODY3OQ@@._V1._SX640_SY426_Selain porsi cerita yang tidak berimbang, movietard juga tidak sreg dengan jajaran cast The Lone Ranger. Terlihat sekali ada perbedaan yang sangat berjarak, dimana dua aktor utamanya justru tidak berdiri sejajar layaknya Paul Newman dan Robert Redford. Karakter John diperankan new actor Armie Hammer *yang baru terkenal dalam The Social Network, selebihnya, curicculum vitae Hammer justru dihiasi dengan penampilannya sebagai bintang tamu di serial Gossip Girl*. Hammer yang masih ‘hijau’ dihadapkan dengan si kaya pengalaman Johnny Depp. Well, kalaupun mungkin Verbinski ingin mengutamakan kebintangan Depp dan jika memang Depp dianggap sebagai main lead actor, kenapa Depp tidak diberikan peran sebagai Lone Ranger? In my opinion, Hammer jelas menanggung beban yang berat, dimana ia harus tampil sebagai main actor yang sayangnya justru tenggelam ditengah story plot yang memang dibuat untuk mengakomodir ‘keanehan’ akting Depp. Tetapi hey, lepas dari Depp-centric yang ada dalam The Lone Ranger, movietard cukup menikmati penampilan Hammer. Tidak buruk walaupun juga tidak istimewa mengingat story plot The Lone Ranger memberikan spotlight lebih kepada Depp dengan karakter Tonto-nya. Setidaknya, bagi movietard, menonton karakter John Reid yang normal masih lebih bisa diterima dibandingkan melihat Depp kembali berakting setengah mabuk, all the goofiness from Jack Sparrow sadly didn’t work for second time at The Lone Ranger.

Lepas dari ketidakdilan dari segi cast, movietard juga merasa durasi film petulangan ini memakan waktu yang cukup lama, yaitu 149 menit. Akibatnya adalah, justru pada peak scenes yang melibatkan pertarungan akhir antara Lone Ranger dan Tonto dengan Butch, movietard justru sudah sangat lelah dan hampir tertidur *ini catatan pribadi movietard juga untuk tidak mennton film berdurasi panjang di pemutaran malam hari*. Padahal sebelumnya, Verbinski telah memborbardir audiens dengan banyak sekuens aksi megah dalam The Lone Ranger, alhasil, ketika beberapa kali adegan pertarungan megah tersebut diulang, audiens toh merasa cukup bosan. Anyway, lepas dari segala kelemahan seperti yang telah dituliskan diatas, The Lone Ranger sebetulnya tampil cukup baik sebagai tontonan musim panas. Dieksekusi Verbinski yang memang ahli membalut seri petualangan, The Lone Ranger secara visual tampil apik dengan menampilkan landscapes yang begitu indah. Verbinski juga mampu mengeksekusi beberapa thrilling moments. Dari segi plot, yang walaupun mengusung Depp-centric, toh masih tersisa cerita tentang penjajahan, praktek monopoli dan kekuasaan yang cukup menyentil audiens. Ada juga sideplot kisah cinta John dengan perempuan lokal yang sayangnya tidak mendapat porsi besar. Menurut movietard, dibanding installment Pirates yang jauh lebih beyond imagination dan bernuansa mistis, The Lone Ranger justru tampil membumi dengan permasalahan yang masih relate dengan kondisi masyarakat saat ini.

MV5BMjAwOTI5NTkzM15BMl5BanBnXkFtZTcwNTUxODY3OQ@@._V1._SX640_SY426_In my opinion, The Lone Ranger sebetulnya bisa tampil lebih ‘besar’ dari ini. The Lone Ranger jelas punya modal untuk sukses, yaitu cerita yang ditawarkan begitu membumi, balutan nuansa petualangan yang fun, serta penyutradaraan yang bagus oleh Verbinski. Sayangnya memang, Bruckheimer dan Verbinski melakukan kesalahan fatal dimana kolaborasi duo karakter utama yang seharusnya tampil dengan watak sama kuat karena seharusnya menjadi nilai jual utama, justru meminggirkan satu karakter. Padahal untuk film bertema wild west yang berputar pada buddy-relationship dalam menghadapi petualangan jelas membutuhkan aktor watak yang kuat seperti Mel Gibson dan Danny Glover, seperti Paul Newman dan Robert Redford. Ketika Newman dan Redford berhasil menjadikan karakter mereka dalam Butch Cassidy and The Sundance Kid (1969) sebagai kolaborasi yang memiliki chemistry hebat sehingga menjadi standard untuk film-film buddy movie lainnya, yang dilakukan Depp dan Hammer dalam The Lone Ranger justru tampak begitu cheesy. Keduanya tampil tak berimbang yang membuat kekosongan dalam interaksi keduanya begitu terasa. But hey, I wrote it as a general audiences, if you’re fan of Depp, maybe you’ll be rooting for this movie so much as a another tribute for Depp’s acting. Menurut movietard, The Lone Ranger bukanlah film buruk. Film adventure wild west ini tetap mampu menyajikan spectacular action. Tetapi, jika kamu mengharapkan film ini mampu menjadi tonggak dasar untuk film selanjutnya, sebaiknya lupakan, since The Lone Ranger wasn’t that good to deserve a sequel.

Horse says you are a spirit walker. A man who’s been to the other side and returned. A man who cannot be killed in battle [Tonto]

Do You Know?
Pada bulan Agustus 2011, Disney sempat akan menunda produksi The Lone Ranger karena masalah budget. Mengetahui hal ini, Verbinski, Bruckheimer, Depp, and Hammer bersedia dipotong 20% dari gaji yang seharusnya mereka terima sehingga produksi The Lone Ranger tetap siap ‘jalan’ pada Februari 2012.
The Lone Ranger menjadi film berdasarkan karakter Lone Ranger pertama yang justru memberikan pemeran karakter Tonto bayaran gaji lebih besar dibanding yang diterima pemeran Lone Ranger *menghibur Hammer*
Produksi The Lone Ranger memakan korban jiwa, yaitu staf produksi yang menangani urusan water safety, Michael Andrew Bridges. Ia meninggal ketika tengah bekerja membersihkan tank air. Laporan menyebutkan Bridges meninggal karena serangan jantung. Bridges sendiri sudah 20 tahun bekerja sama dengan Bruckheimer

My Rate
2 stars. The Lone Ranger is supposedly be a fun adventure of Ranger with his sidekcik during wild west era but sadly, I didn’t find it as interesting one since it’s just another Depp-parade rather than good synergy between two actors. Eventho’ the action sequences are good, the Depp-factor-centric story plot ruined it

5 thoughts on “The Lone Ranger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s