Monsters University

MV5BMTUyODgwMDU3M15BMl5BanBnXkFtZTcwOTM4MjcxOQ@@._V1._SX640_SY948_The Plot
Ini awal mula pertemuan monster Mike Wazowski (dubber Billy Cristal) and James ‘Sulley’ Sullivan (dubber John Goodman), ketika keduanya masih duduk dibangku universitas

The Comment
Beberapa tahun lalu, movietard selalu menganggap Pixar’s movies as part of the greatest. Ya, ibarat hasil ujian, film-film animasi buatan Pixar selalu memiliki nilai seratus dan tak kalah dengan film-film besar yang menjadi best pictures. Bagi movietard, Pixar’s movies adalah kesempurnaan baik secara artistik, cerita hingga hasil di pasaran. Jelas, Pixar membawa film animasi ke dimensi yang jauh lebih terhormat dengan standard yang tinggi seperti bagaimana Nolan meletakan fondasi superheroes yang baru melalu trilogi Batman. Siapa sih yang tidak ikut menangis melihat akhir petualang Woody dan Andy dalam Toy Story 3? Keuniversalan cinta dalam Wall-E? Besarnya kasih ayah kepada anak dalam Finding Nemo? Hingga tentunya petualang bocah dan kakek tua yang cute dalam Up? Tetapi, ibarat hasil ujian pun, entah karena si siswa sudah terlalu ‘malas’ belajar, pada tahun-tahun terakhir ini karya Pixar seolah mengalami, well, I need to state this as my opinion, mengalami degradasi. Jujur, movietard kecewa dengan Cars 2 dan bahkan di tahun lalu, movietard melewatkan Brave. Tetapi ketika trailer Monsters University (2013) hadir, movietard merasa senang dengan kembalinya the duo from Monsters Inc (2001), Mike and Sulley, yang dahulu sempat menjadi tontonan menyenangkan bagi movietard di zaman… well, sekolah tingkat pertama.

MV5BMTc4OTk0OTUxMF5BMl5BanBnXkFtZTcwMzkwODY1OQ@@._V1._SX640_SY358_Berbeda dengan pola Pixar sebelumnya yang lebih condong memproduksi sekuel (Toy Story, Cars), Monsters University menjadi film prequel pertama Pixar. Jadi, Pixar melebarkan apa yang telah mereka mulai dalam Monsters Inc, yang dahulu, berkisah tentang dunia kerja para monster yang menakuti anak-anak di malam hari *ingat tentang dongeng boogeyman? Nah, Monster Inc berangkat dari dongeng itu dengan penyebutan untuk monster jenis ini adalah scarer*. Dalam Monsters University, Pixar kembali melebarkan fantasi mereka, bahwa selain perusahaan pengumpul suara takut anak-anak, toh ada juga universitas untuk para monster!  Ya, Monsters University mengajak audiens kembali ke masa lalu, dengan mengambil selang waktu beberapa tahun sebelum pengalaman Mike and Sulley bekerja di perusahaan Monster Inc, tepatnya menyoroti dunia kampus dimana mereka bedua bertemu pertama kalinya. Scriptwriter Daniel Gerson, Robert L. Baird dan dibantu oleh Dan Scanlon yang juga menjadi director Monsters University kembali mempertemukan audiens dengan karakter Mike yang jelas justru tampil begitu cute dan imut tetapi justru memiliki ambisi besar untuk menjadi monster yang paling menakutkan dengan memasuki jurusan kelas menakuti di universitas tersebut. Sementara itu, teman sejurusan Mike, Sulley -yang ayahnya adalah monster yang menakutkan ternama- justru tampil tidak se-smart Mike tetapi menang ‘tampang’ karena besar dan menakutkan.

Story plot Monsters University memang tampak cliche, ini murni tentang interaksi duo pribadi yang bertolak belakang yang bertemu di dunia kampus dimana keduanya terpisahkan dalam batasan jelas antara kaum anak populer dan tidak, yang terbagi dalam kelompok-kelompok persaudaraan. Audiens telah banyak melihat kisah ini dalam banyak teenage drama movie khas Amerika. Tampaknya, Pixar telah termakan dalam hegemoni budaya remaja ini sehingga mengambil main theme ini untuk direfleksikan dalam dunia monster. But hey, tentunya, kita semua tahu bahwa dalam story plot tersebut, mereka yang awalnya tak akur dihadapkan pada suatu keadaan yang memaksa mereka untuk bersatu dan bekerjasama. Ya, kisah Monsters University sesederhana itu, dimana dikisahkan bahwa untuk kembali memasuki jurusan kelas menakuti, Mike dan Sulley harus bekerja sama dalam sebuah scare game. Tentunya, selama perlombaan, interaksi mereka menghasilkan tawa, huru hara dan kesedihan di dalamnya. But hey, lepas dari hasil akhir apakah mereka berhasil kembali masuk jurusan tersebut atau tidak, realitasnya, Mike and Sulley menemukan pembelajaran yang paling berharga dari usaha mereka sepanjang perlombaan, yaitu persahabatan antara keduanya.

MV5BMTM3NTE0MjcyN15BMl5BanBnXkFtZTcwMjExODY1OQ@@._V1._SX640_SY359_Do Pixar already lost their magic? Well, Monsters University realitasnya tetap menyajikan kumpulan gambar yang begitu indah dan beyond our imagination! Ya, daya imajinasi kreatif para animator Pixar tetaplah sangat mumpuni dengan penggambaran akan monster-monster hadir begitu menarik  secara visual,  dimana monster-monster yang seharusnya tampak creepy justru malah tampak cute dan manis. Sepanjang film, audiens diajak melihat dunia monster dan universitas yang begitu colorful dan menarik *eh tapi mana ya adegan Mike yang menjadi lampu disko pada trailer Monsters University?*. Secara visual, Monsters University tetaplah menjadi pencapaian sempurna Pixar, they still has the magic in this area. Tetapi dari segi cerita, Scanlon dan kawan-kawan dalam Monsters University ‘cuma’ berhasil pada… well, seperempat film kebelakang yang justru menyajikan momen paling heartwarming *adegan bromance antara Mike and Sulley di pinggir danau itu sangat menyentuh!*, selebihnya adalah, Monster University seolah menjadi teenage drama tentang penggapaian status terpintar dalam bentuk dunia monster yang berisikan hura hara antara Mike dan Sully sayangnya justru ‘melibas’ interaksi mereka berdua menjadi tidak semanis jalinan interaksi yang disajikan film-film Pixar sebelumnya.

Oh well, I think I’ve became very rough with Pixar itself. Movietard memang selalu memiliki ekspektasi tinggi terhadap karya Pixar, and sometimes, these high expectation will dissapoint me more. Selama ini, kedalaman cerita dan intisari yang bisa diambil adalah poin kuat dari animasi Pixar. Initisari dari Monsters University sendiri adalah tentang usaha manusia, eh maaf, monster untuk menggapai impiannya, yang berujung pada acceptance to yourself. Sayangnya, hal ini seolah ‘tertutup’ dengan balutan perlombaan scare game yang terjadi antara kelompok persaudaran. Jujur, mungkin jika kita dibesarkan dalam american culture dimana kampus-kampus mereka memang memiliki kelompok persaudaraan ini, audiens dapat merasakan proximity dengan kisah ini, tetapi bagi movietard, kurang universal-nya budaya yang diambil dalam kisah Monsters University menjadi salah satu poin lemahnya. Apalagi, jokes yang disajikan dalam Monsters University tak lagi secerdas biasanya. Memang Monsters University tetaplah dibalut dengan kelucuan apalagi ketika menyoroti ‘pertarungan’ Mike and Sulley, tetapi kelucuan tersebut bukanlah berasal dari smart jokes ala Pixar melainkan lebih ke-arah jokes parodi ala Dreamworks. Bukan hal buruk memang, tetapi agak membuat movietard merasa Monsters University ber-taste Dreamworks rather than Pixar.

MV5BMTEyNDI1MDQxNjBeQTJeQWpwZ15BbWU3MDY5MDg2NTk@._V1._SX640_SY399_Lepas dari kelemahan cerita yang kurang menyentuh dan jokes yang agak kurang ‘bernafas Pixar, luckily, Monsters University ditutup dengan baik dan ‘khas Pixar’ oleh Scanlon. Setidaknya, ending tersebut mengobati kekecewaan movietard pada pertengahan film. Ya, akibat terlalu banyak bermain dengan pertengkaran Mike dan Sulley serta memotret petualangan mereka pada lomba scare game, Scanlon memang agak terburu-buru mengeksekusi akhir kisah Mike dan Sulley remaja, yang untuk kelanjutannya, telah diketahui audiens dalam Monster Inc. Apalagi, Monsters University juga masih menyajikan pesan yang begitu hangat dan disajikan dengan balutan warna-warni dunia monster yang alih-alih tampak menyeramkan, justu tampak begitu cute. Ah, mungkin jika saja movietard menempatkan paradigma ‘ala’ remaja kuliah Amerika ketika menonton Monsters University, movietard bisa lebih relate dengan film ini, but hey, berbicara tentang dunia perkuliahan, less than in a month, I’m going back to university again too. And instead of having fear like Mike and Sulley’s popularity’s problem, I scared for how could I pay the bill and on dividing time between work and college. I think monster’s life in Monsters University is easier than me, ooops, I need to stop writing this review became too personal. As a final conclusion,  walaupun Monsters University tidak masuk menjadi bagian dari film-film Pixar yang biasanya selalu sukses membuat movietard menangis, film ini realitasnya menyajikan sebuah potongan yang cukup menghibur tentang kisah fantasi dunia perkuliahan monster dengan pesan-pesan yang sangat khas Pixar sekali.

You don’t study scaring, you just do it [Sulley]

Do You Know?
Monsters University adalah film prequel Pixar yang pertama, well, semoga sehabis ini, Pixar tetap akan tampil dengan ide-ide orisinal yang baru ya!
Seperti film-film Pixar lainnya, Monsters University pun memasukkan tulisan ‘A113’ dalam film ini yaitu sebagai ruang kelas.  ‘A113’ menjadi ciri khas Pixar, sebagai tribute kepada kelas animasi yang ada di universitas California jurusan seni
Selain tulisan tersebut, penampilan dari Pizza Planet Truck yang hadir pada pesta kelompok persaudaraan juga menjadi salah satu ciri khas. Truck Pizza ini hampir muncul di semua film Pixar kecuali The Incredibles

My Rate
3 stars. Pixar, as usual, wrapped Monsters University as a very beautiful and colorful animation. The visualization is amazing and unique but sadly, the story plot itself isn’t as great as Pixar’s standard. I want moreeeeee of heartwarming scenes between Mike and Sulley!

One thought on “Monsters University

  1. Awalnya gasuka M.I dibuat sekuelnya tp jujur saya suka sama M.U. Great but not THAT great. Best animated feature of the year so far, well berhubung 2013 nggak ada kartun yang wah banget. Nice review. Ijin tukeran link ya!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s