Man of Steel

MV5BMTk5ODk1NDkxMF5BMl5BanBnXkFtZTcwNTA5OTY0OQThe Plot
Ini cerita Clark Kent (Henry Cavill) a.k.a Kal-El, alien dari Krypton yang harus menyelamatkan manusia atau membiarkan Jenderal Zod (Michael Shannon) meneruskan kehidupan mahluk Krypton di bumi.

The Comment
Man of Steel (2013) adalah salah satu blockbuster yang paling ditunggu di musim panas in. Ya, setelah tahun kemarin kita diinvasi oleh lebih banyak superheroes seperti Spiderman, geng The Avengers hingga tentunya Batman dalam The Dark Knight Rises, tahun ini, yang menyapa kita ‘hanyalah’ Iron-man dalam installment ketiga dan tentunya si manusia super ini, ooops he’s not be called superman anymore, he’s now man of steel. Ya, Man of Steel adalah ini kisah seorang anak alien yang ‘terdampar’ di bumi yang memiliki kekuatan jauh lebih hebat dari kekuatan normal manusia. Movietard jelas bukanlah fanboys yang membaca komik dan mengikuti petualangan Superman dalam medium film di periode 1970-an yang dimainkan Christopher Reeves yang legendaris itu. Referensi movietard akan karakter alien super ini hanya berasal dari serial dan Smallvile *itupun hanya beberapa episode saja!*, oh plus dari Superman Returns (2007) yang justru menghadirkan banyak gelak tawa. Nah, Man of Steel hadir sebagai reboot dari semua kisah alien super yang sebelumnya pernah ada. Ini awal mula yang baru dari kisah si alien baik hati dari Krypton yang nantinya akan menjadi ‘pelindung’ bumi.

MV5BMTg0OTM4NDUzOF5BMl5BanBnXkFtZTcwMTQ1MzE2OQStory plot Man of Steel dibuat oleh David S.Goyer, scriptwriter yang telah terbang bersama dengan trilogi Batman-Nolan yang fenomenal itu. Movietard awalnya merasakan tone yang hampir mirip antara karakter utama dalam kedua kisah superheroes ini. Yaitu bagaimana dua karakter jagoan kita ini mengalami masa-masa sulit. Jika dalam trilogi Batman, Bruce Wayne harus berhadapan dengan trauma akibat kehilangan orang tua di masa muda, karakter Clark Kent pun mengalami kondisi keterasingan dan kebingungan di usia muda. Kisah remaja mis-fits yang harus berjuang untuk ‘menutupi’ kekuatannya dalam Man of Steel jelas menjadi poin baru dalam memperkenalkan background si pahlawan ini. Ketika kisah pencarian jati diri Clark Kent mulai menemui titik terang dengan ditemukannya pesawat krypton di Antartika, dimana bayangan sang ayah Jor El (Rusell Crowe) membimbing Clark dan audiens untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ya, Clark adalah alien yang bernama asli Kal-El yang lahir secara alamiah sehingga memiliki free wiling untuk menentukan apa yang ingin ia lakukan. Kehancuran Krypton membuat Kal El dikirim orang tuanya ke bumi, dan hey, alih-alih Kal El bisa hidup nyaman di bumi, kaum tentara Krypton yang dipimpin Jenderal Zod justru menuju bumi. Misi mereka cuma satu, mencari Kal El yang menyimpan data-data penerus kehidupan Krypton guna membangun kehidupan krypton yang baru di bumi. Berhasilkan usaha Jenderal Zod?

Tanpa perlu kekuatan super pun, audiens tahu bagaimana kisah Man of Steel akan berakhir. Ya, Man of Steel murni menjadi kisah pengenalan si alien super dari Goyer dan director Zack Synder kepada audiens. Tanpa twist berarti *well, kecuali untuk bagian interaksi Clark dengan Lois Lane*, Man of Steel menjadi versi modern dari kisah pahlawan dari planet Krypton ini. Saking modern-nya dan mungkin karena Goyer dan Synder memiliki literasi akan dunia mode yang baik, suit Kal El pun tidak melibatkan pemakaian celana dalam merah yang ikonik itu *penting!*. Well, that’s a very good point, the other is, kelogisan cerita pun mampu dihadirkan oleh Goyer dalam Man of Steel, terutama terkait dengan masa-masa Clark masih merasa mis-fits terhadap dunia yang ‘terlalu besar’. Movietard sangat menyukai dialog-dialog penuh makna yang dibuat Goyer, tanpa over pretentious tetapi cukup mengena bagi audiens. Goyer juga memberikan porsi drama yang cukup dominan dalam Man of Steel, seperti, ketika Kal El kecil ‘dikuatkan’ oleh kedua orang tua angkatnya, ketika Kal El dihadapkan pada situasi terjepit yang memaksanya untuk menggunakan kekuatannya, hingga tentunya, ketika Kal El menanggung beban moral ketika ia tak bisa menggunakan kekuatannya, for his beloved one. Ya, audiens dapat melihat pergolakan batin yang besar pada diri Kal el hampir sepanjang paruh pertama film yang membuat audiens berempati padanya.

MV5BMTQyOTIxOTkwNV5BMl5BanBnXkFtZTcwOTQ0Mzk1OQ_002Salah satu kekuatan dari Man of Steel adalah bagaimana Goyer mampu membangun karakterisasi yang cukup kuat untuk main character-nya, yang membuat movietard dan audiens setidaknya dapat memahami bahwa para superheroes pun, they’re just like us. Memang, Man of Steel tidak menampilkan karakter yang se-enigmatik Batman dalam trilogy Nolan, tetapi in my opinion, Kal El justru tampil jauh lebih membumi dari manusia itu sendiri *scene Kal El berkunjung ke gereja untuk meminta petunjuk Tuhan ataupun ketika ia melakukan pembalasan terhadap pengunjung klub is a win!*. Goyer pun menempatkan para supporting characters dengan karaterisasi yang cukup menarik. Lois Lane yang begitu pemberani *say yay to girl power!*, Jor El si ilmuwan tampil tak kalah baddas, duo ayah ibu manusia Kent dalam porsi yang minim pun mampu menunjukkan besarnya cinta mereka kepada Clark. Bahkan, fondasi karakter villain-nya pun begitu menarik, Jenderal Zod adalah bayi ‘buatan’ krypton yang menjalankan misi hidup untuk melindungi Krypton. Tidak seperti Kal El yang memiliki free wiling, Zod memiliki kewajiban untuk menjaga kelangsungan hidup mahluk Krypton, termasuk ketika ia ingin menjadikan bumi sebagai planet krypton baru. Ketika audiens melihat point of view dari sisi Zod, we can’t blame him, no? He’s just trying to save his next generation. He did it because his greatest love for his nation.

Dan luckily, para karakter ini mampu diterjemahkan dengan cukup baik oleh cast-nya. Movietard adalah audiens yang bersorak gembira ketika mengetahui Cavill terpilih sebagai pemeran utama. I watched him played as Rhys Meyer’s sidekick dalam drama period The Tudors sejak tahun 2009-an, and believe me, he’s too good to be only sidekick. Sayangnya entah kenapa, Cavil termasuk kurang beruntung dalam karirnya karena beberapa kesempatan emas seperti peran James Bond hingga Edward Cullen justru gagal diraihnya. Nah, Man of Steel menjadi turning point untuk pembuktian Cavill terhadap dunia, and did he success? Well, movietard memang menyukai penampilan fisik Cavill sebagai Kal-El yang begitu sempurna dengan otot-ototnya yang super besar *dan kelebatan bulu dada yang menjadi perdebatan penting mengenai hal paling tidak penting*, but hey, walaupun transformasi fisik yang dialami Cavill memang sempurna sebagai Clark Kent hingga ketika ia mengenakan kostum birunya dengan clean shaven, Cavill belum memiliki karisma yang mendalam sebagai seorang pahlawan. Movietard kurang sreg dengan interpretasi Cavill seperti bagaimana ia dengan mudahnya tampil percaya diri ketika mengenakan jubah guna membantu manusia mengingat filosofi kehadiran Kal El dibumi adalah untuk menjembatani bangsa Krypton dengan manusia bumi, jadi seharusnya, pergolakan batin si mahluk super ini tetap harus terjadi bukan? But luckily, Cavill didukung supporting actors yang memiliki jam terbang lebih tinggi seperti Crowe, Kevin Costner dan Diana Lane yang tampil superb walaupun memiliki screen time yang minim. Selain para aktor senior, penampilan Amy Adams yang kekuar dari zona nyamannya pun cukup baik. Walaupun untuk Michael Shannon, menurut movietard penampilan Shannon masih dibawah ekspektasi, I think he could do better than this.

MV5BMjI5MTI2MDU0MV5BMl5BanBnXkFtZTcwNTY1MzE2OQ_002And here come the things that I don’t like. Ada beberapa hal yang membuat movietard tidak bisa sepenuhnya memuja Man of Steel. Ketika banyak film superheroes lebih memilih menggunakan narasi linear yang sederhana, model story telling Man of Steel justru disajikan dengan alur mundur maju antara past dan present. Sebetulnya alur nonlinear ini adalah hal yang bagus karena membuat Man of Steel tampil berbeda dari pakem superhero yang standar. Sayangnya adalah, perpindahan yang dilakukan Synder terkesan kasar. Dibeberapa bagian, ketika Goyer mengajak audiens ber-flasback ke masa lalu Clark guna lebih memahaminya, dengan cepat, audiens justru langsung dikembalikan ke masa sekarang, hal ini sempat membuat movietard ‘gagal’ menangis ketika melihat interaksi Clark dengan ayah adopsinya karena tensi telah menurun ketika scene berpindah. Lepas dari perpindahan alur yang kurang smooth tersebut, dari sisi penyutradaraan, movietard cukup terkesan dengan trailer Man of Steel yang menunjukkan bagaimana Synder tampaknya membesut film ini dengan cantik *ingat scene Clark kecil di-shoot tampak belakang tengah memakai jubah ditengah ilalang?*, dan ya, ia melakukan pekerjaan yang bagus dalam Man of Steel, siapa yang tak takjub melihat visualisasi Krypton yang terkesan begitu gelap tetapi tampil sangat elegan? Ataupun ketika Synder membobardir audiens dengan berbagai action pieces dengan spesial efek yang spektakuler?

Bagus bahwa Synder  percaya diri dengan style-nya sendiri dimana ia tak merasa harus mengikuti mahzab Nolan-esque. Hal yang jelas menjadikan Man of Steel memiliki tone yang berbeda, yaitu bahwa tidak seperti trilogy Batman yang menekankan pada substansi isi dan karakter, Man of Steel memang tampil lebih ringan karena tetap membawa style ala Synder yang menekankan pada kekuatan spesial efek. Sayangnya adalah, as I wrote before, karakterisasi dalam yang dibuat oleh Goyer menjadi sia-sia karena ditutupi oleh adegan aksi yang terlalu berlebih dalam Man of Steel. Tepatnya ketika finally si pahlawan untuk manusia bumi ini bertarung dengan Jenderal Zod yang disajikan dengan begitu spectacular. Betul bahwa mereka berdua adalah alien dengan kekuatan yang tidak seperti manusia bumi sehingga menjadikan kerusakan yang ada memang jauh lebih besar. Tetapi menurut movietard, adegan final fighting tersebut terlalu memakan waktu lama dan sangat melelahkan untuk dinikmati. Melihat bagaimana Metropolis luluh lantak separah itu rasanya pernah dilakukan dalam The Avengers (2011) pada kota New York, and it’s just kinda a repetition, apalagi, wrapping dalam The Avengers jauh lebih sempurna karena melibatkan lebih banyak characters yang ditengah-tengahnya juga menyajikan momen-momen interaksi yang mengundang tawa sementara fighting scenes dalam Man of Steel tampil jauh lebih serius.

MV5BMjMwMTY3NTM3NF5BMl5BanBnXkFtZTcwNjM1MzE2OQ_002In conclusion, Man of Steel memang bukan film yang sempurna. Ada beberapa hal yang membuat movietard kurang suka, seperti yang telah dituliskan diatas. Tetapi, lepas dari hal-hal tersebut, movietard menikmati bagaimana Synder telah menyajikan interpretasi baru yang fresh akan si pahlawan berkostum biru dari planet krypton ini. Interpretasi yang modern ini disajikan dengan lebih serius, bahkan mencakup kostum si pahlawan yang meninggalkan underwear merah ikonik diluar itu. Pengenalan pahlawan dengan ‘cita rasa’ baru ini diharapkan menjadi titik awal dari ragam kisah perjuangan Kal El menyelamatkan Metropolis dari kejahatan untuk kedepannya. Sedikit catatan, walaupun sudah sukses secara visual dalam menyajikan scenes yang spektakuler, movietard merasa Synder belum mampu memahami filosofi Man of Steel sebaik Nolan memahami karakter Batman. Beberapa scenes dan dialog yang berisi kebingungan Clark dengan jati diri barunya justru berkontradiksi dengan kepercayaan diri ketika Clark memakai jubah birunya. Movietard berharap Snyder dan Cavill mampu menerjemahkan sekuel Man of Steel dengan lebih baik lagi kedepannya mengingat Goyer-Nolan-Synder setidaknya telah memiliki standardisasi karya yang cukup tinggi. Above all, dibanding produksi Marvel ataupun Sony dengan kisah superheroes-nya, sekali lagi, DC comics menunjukkan keunggulannya melalui Man of Steel.

You’re the answer, son. You’re the answer to “are we alone in the universe [Jonathan Kent]

Do you know?
Untuk mendapatkan badan sempurna dengan otot-otot yang besar sehingga ‘layak’ mengenakan suit, Henry Cavill harus memakan makanan sebanyak 5,000 kalori dalam sehari dan berlatih fisik untuk pembentukan otot selama 2 jam. Cavill memang menginginkannya pembentukan otot secara alami, bukan dengan menggunakan suit yang dilengkapi dengan bantalan.
Ben Affleck sempat ditawarkan untuk menyutradarai Man of Steel tetapi ia menolaknya karena tidak berpengalaman dengan VFX shoot. VFX adalah penge-shoot-an yang dikreasikan/manipulasi diluar peng-shoot-an aksi langsung. Visual efek menjadi salah satu poin utama dalam film ber-genre superheroes, genre yang selama ini memang belum pernah ditangani Affleck.
Sebagai salah satu film yang paling ditunggu, Man of Steel seolah sangat dijaga kerahasiaanya dimana selama masa produksi, film ini menggunakan judul palsu Autumn Frost dan pada saat proses distribusi ke bioskop menggunakan judul Skyrim

My Rate
3 Stars. Man of Steel is a definitely a fresh re-boot about one of the legendary superhero. I’m in the middle between love and loathe it. The actions sequence is too much but luckily, the visualization, the cast and the drama part are good. I hope the sequel could be better than this or maybe… be a darker one

15 thoughts on “Man of Steel

    • movietard is one of the best movie reviewer i’ve read.

      Dia kalau nulis review memang super duper kok Pak guru. review dia patut dijadikan patokan dalam memilih film bagus. Setidaknya itu pendapat saya.😀

      • Ahhhh terharu bacanya aku… thanks thanks and thanks for still reading my blogs ya
        Iya maaf belum bisa update rutin lagi akhir-akhir ini, saya masih payah kalau untuk time management nih
        semoga untuk tahun 2014 bisa lebih rajin posting lagi
        Sukses selalu untuk kalian berdua ya🙂

      • amin.
        Harus nih. karena satu2nya movie review blog yang saya ikuti. Jadi update apa gaknya saya dengan dunia perfilman di Indonesia ya dari sini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s