World War Z

MV5BMTYyMDgxNzkyM15BMl5BanBnXkFtZTcwMjk3NzQzOQ_002The Plot
Gerry Lane (Brad Pitt) adalah eks pegawai PBB yang harus menyelamatkan dunia ‘seorang diri’ dari pandemi zombie.

The Comment
Ada dua hal yang membuat movietard antara mau dan tak mau menonton World War Z (2013). The attraction point is definitely the zombie-theme! Ya, biarpun dikategorikan sebagai penakut ulung, kalau untuk urusan menonton manusia yang tidak bisa meninggal ini, movietard selalu suka untuk menontonnya *iya, termasuk mengikuti series The Walking Dead yang justru selalu membuat terharu*, jadi ketika melihat trailer World War Z yang sangat ‘wah’ dimana dalam film ini zombie bisa bergerak dengan cepat, siapa yang tidak tertarik? World War Z sendiri adalah film adaptasi dari novel berjudul sama karangan Max Brooks yang diterbitkan pada tahun 2006, yang sepertinya sih terlihat cukup keren dari segi cerita. Movietard sempat berencana membeli novelnya sebelum film ini di-release tetapi kemudian sadar bahwa waktu untuk membacanya jelas tidak tersedia *my bad!*. Di satu sisi, hal yang membuat movietard agak malas menontonnya adalah main character World War Z yang diperankan oleh Brad Pitt. But hey, turned out, the zombies won over Pitt!

MV5BNDgwMDc0Mzk1Ml5BMl5BanBnXkFtZTcwOTY3MTY1OQ_002

Skrip World War Z dibuat oleh J. Michael Straczynski, di-rewrite kembali oleh Matthew Michael Carnahan, dilanjutkan oleh Damon Lindelof yang sayangnya juga tidak bisa menyelesaikan, sehingga dialihkan kepada Drew Goddard. Movietard agak heran dengan banyaknya pergantian ini mengingat screenplay untuk World War Z kan diadaptasi dari novel, bukankah, seharusnya bisa lebih mudah dilakukan mengingat karakter dan main story plot sudah tersedia? But well, lepas dari pemindahan kendali scriptwriter beberapa kali tersebut, secara garis besar, cerita World War Z berkisah tentang perlawanan seorang survival. Bagaimana tidak, Lane yang awalnya hanya tengah menikmati perjalanan bersama istri dan dua anak perempuannya di Philadephia, USA, terpaksa menyelamatkan diri dan anak-anaknya akibat serangan kaum zombie. Setelah berhasil diselamatkan di anjungan lepas laut New York, Lane diberikan tugas mulia oleh sekretaris jenderal PBB untuk menemani seorang ahli virus guna mengetahui awal mula pandemi ini di Korea Selatan. But hey, nasib buruk pun tetap menghantui, yang mengharuskan Lane harus menyelamatkan dunia hingga ke Israel dan Wales dengan tetap berkelit dari kejaran Zombie.

Walaupun World War Z memiliki main theme serangan zombie dan bagaimana manusia bertahan dari serangan ini, realitasnya story plot film ini memiliki beberapa tempelan yang pasti disenangi penggila konspirasi. Sayangnya, World War Z tak sempurna secara narasi, bahkan jawaban untuk kenapa para zombie bisa bergerak cepat pun tak ada yang membuat movietard sebal hingga akhir karena World War Z masih menyajikan banyak pertanyaan logis bagi audiens. Untungnya sih, walaupun movietard cukup sebal, holes ini ditutup dengan jalinan twist yang mungkin menurut orang lain it’s kinda a bit cheesy but for me, it’s good twist karena menurut movietard, it give you a different point to see how the humanity is and how valuable every person indeed no matter how people think he/she as a useless person. Disutradarai oleh Marc Foster yang selama ini sudah ahli membalut drama movie, toh Foster pun cukup sukses mengantarkan jalinan kisah pertarungan seorang survivor ini menjadi cukup thrilling dengan alur yang cepat sehingga kerapkali membuat movietard menjerit keras. Ya, the action scenes are good, above my expectation! Selama 116 menit, audiens diajak melihat berbagai perlawanan Lane yang dipenuhi dengan berbagai bentuk tembakan, ledakan, hingga melibatkan jatuhnya pesawat.

MV5BMjg2MjkwNDUwOV5BMl5BanBnXkFtZTcwOTUzMTY2OQ

And here’s come the bad things. Jujur, selama ini movietard lebih banyak menonton film-film bertema zombie yang dibuat secara independen dengan low budget, dimana atmospheric horror diciptakan oleh kehadiran zombie dalam lingkungan yang jauh lebih kecil seperti dalam 28 Days Later, nah, World War Z jelas jauh lebih gigantic dari segi setting, jalinan cerita hingga spesial efek. In my opinion, World War Z jelas menjadi salah satu film zombie yang masuk dalam kategori blockbuster. Sayangnya, hal ini justru membuat movietard kehilangan feel ketakutan yang selama ini dirasakan ketika menonton film zombie. Selama ini, movietard cenderung melihat manusia menjadi pihak yang disudutkan oleh zombie dimana karakter manusia tersebut sama bodohnya dengan audiens ketika menghadapi zombie. Dalam World War Z, karakter Lane digambarkan begitu pintar sehingga selalu menemukan cara untuk selamat dan berhasil membunuh puluhan *atau malah ratusan zombie?*. Ya, ketika digambarkan bahwa Zombie already ruled the world, audiens diajak melihat bahwa harapan ada di pundak  Lane yang memang sepanjang film tampil sebagai superhero baru dengan aksi-aksinya yang begitu berani.

Sebetulnya, salah satu alasan kenapa Lane setidaknya harus selalu selamat adalah karena ia solo fighter di film ini. Peran Pitt dalam World War Z mengingatkan movietard akan Cruise yang juga masih menjadi main solo actor dalam film-filmnya. Lepas dari ketidaksukaan movietard akan keduanya, harus diakui bahwa dua aktor ini menjadi sedikit dari aktor besar yang mampu bertahan ketika Hollywood sudah lebih mengutamakan konsep dibanding nama besar bintang. Masalahnya adalah, ketika karakter utama ini begitu menonjol, para supporting characters akan terpinggirkan. Dalam hal ini, World War Z kehilangan sentuhan drama yang biasanya justru menjadi point kuat Foster. Hal ini terlihat dari bagaimana potongan kisah relasi ayah dan anak dalam World War Z yang sempat berhasil di awal film justru tak lagi tergali ketika karakter Lane meninggalkan keluarganya dan memilih berkeliling dunia seorang diri. Hasilnya adalah, jalinan cerita pada paruh kebelakang film tidak lagi se-intens penyelamatan awal yang dilakukan Lane. Pun tak ada yang cukup membekas dari akting Pitt mengingat sekuens aksi yang cepat membuat karakter Lane seolah tenggelam dalam story plot yang sudah sangat padat. Anyway, jika saja karakter istri dan anak Lane diberikan screen time lebih banyak, mungkin movietard lebih bisa berempati kepada keluarga ini.

MV5BNTU5MzQ5NTc4Ml5BMl5BanBnXkFtZTcwNjY3MTY1OQ_002

In a conclusion, World War Z is a very different zombie movie than the usual zombie-movies I’ve watched before. Ya, alih-alih menyajikan atmospheric horror yang biasanya menjadi tontonan movietard dimana rasa takut ditumpuk perlahan, World War Z justru tampil begitu spectacular dengan banyaknya adegan aksi dan spesial efek yang luar biasa. The good thing is, audiens yang bukan penggemar zombie movie akan lebih mudah menikmati World War Z karena film ini termasuk ‘bersih’ dari darah dengan tetap mampu menyajikan kepanikan manusia akan serangan dari sesuatu yang tak diduga. Well, kalau jujur sih, movietard sebetulnya cukup kecewa karena tak ada adegan dimana zombie memakan bagian tubuh manusia. Walaupun chaos akan serangan zombie dihadirkan secara massal, anehnya adalah, film ini justru tampak begitu berjarak dengan kaum zombie karena zombie hanya dijadikan trigger untuk aksi-aksi menawan yang dilakukan oleh karakter utamanya sepanjang film. Tak seperti film-film zombie lainnya yang lebih mengandalkan kemampuan survival manusia seadanya, World War Z justru tampil begitu megah dalam melawan zombie. At the end, kalau kamu menginginkan sajian film musim panas yang menghibur, World War Z dapat menjadi pilihan walaupun kalau untuk level of scaring, film ini jelas tak menyajikan kengerian akan zombie seperti yang diharapkan movietard.

If you can fight, fight. Be prepared for anything. Our war has just begun [Gerry Lane]

Do You Know
Perubahan ending untuk World War Z yang terjadi karena pergantian skrip akhir dari Lindelof ke Goddard membuat budget World War Z membengkak menjadi $ 200 juta dollar dari yang seharusnya $ 125 juta dollar.
Director Marc Foster sempat menyebutkan kemungkinan World War Z menjadi sebuah trilogy movie, yang dibenarkan oleh rumah produksi Paramount akan kemungkinan sekuel untuk World War Z
Seiring dengan release-nya World War Z, video game berjudul sama dibuat untuk dimainkan pada gadget berbasis iOS dan Android. Tetapi, game ini tidak memiliki kesamaan karakter dengan film dan novel World War Z.

My Rate
2,5 stars. World War Z is a blockbuster summer movie with all the action, crashing and bombing scenes based on zombie’s attack. But sadly, those spectacleship made the zombie-part at didn’t have enough screen time and made World War Z became a zombie movie without… blood.

6 thoughts on “World War Z

    • Betu mirip, yang satu alien, satu zombie, tapi bedanya kalo Spielberg lebih bermain diwilayah personal dimana Cruise harus nyelametin anaknya dan dalam setting yg lebih sempit (mirip pendekatannya Night Shyamalan) kalo World War Z ini jauh lebih… spektakular ya, lebih mirip ke action movie sih menurutku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s