Laura & Marsha

LM_headerThe Plot
Ini kisah perjalanan duo perempuan, yang tentunya bernama Laura (Prisia Nasution) dan Marsha (Adinia Wirasti), berjalan-jalan ke Eropa dengan misi yang berbeda.

The Comment
Honestly, movietard bukanlah penonton setia film-film Indonesia mengingat banyak film Indonesia layak tonton yang justru terlewatkan begitu saja oleh movietard dengan banyak alasan tak penting. Tetapi untuk Laura & Marsha [2013], movietard rela menonton di hari pertama film ini release dan bahkan, di jam pemutaran terakhir pula! Ada dua hal yang menjadi daya tarik Laura & Marsha, yang pertama pastinya tema road movie berupa jalan-jalan ke Eropa karena hingga kini, selain mencintai film, movietard pun juga lumayan suka traveling *salah satu bucket list movietard adalah berangkat haji ke stadion sepakbola di Spanyol dan Italia*. Apalagi, saat ini semakin banyak trip ekonomis ke Eropa yang membuatnya menjadi trend baru. Yang kedua, premis Laura & Marsha mengenai dua orang sahabat yang melakukan perjalanan bersama memang terdengar cukup menarik. Movietard pernah melakukannya dengan seorang sahabat terdekat, dan believe me, semenyenangkan atau seburuk apapun perjalanan yang kami lakukan, the fact is, it always make you closer to your besties.

sepotong-cerita-dari-film-laura-marsha-a698f3d

Story plot Laura & Marsha diracik Titien Wattimena, nama yang sudah tidak asing dalam kancah dunia penataan skrip di perfilman nasional. Beberapa karya yang ditulis Wattimena menurut movietard pun cukup bagus dan masuk dalam film Indonesia yang memorable seperti Mengejar Matahari [2004] dan Minggu Pagi di Victoria Park [2010]. Kisah Laura & Marsha berkutat dua sahabat yang bertolak belakang kepribadiannya, dimana Laura adalah seorang perfeksionis sejati sementara Marsha adalah seorang berjiwa bebas disatukan dalam sebuah kondisi. Ya, kedua perempuan ini menempuh perjalanan ke Eropa dengan misi yang berbeda. Marsha pergi untuk perayaan meninggalnya sang Ibu yang tak sempat memenuhi janjinya untuk berjalan-jalan berdua ke Eropa. Sementara itu, Laura menemani Marsha dengan trigger -yang dalam asumsi movietard,- dihadirkan oleh lembaran kartu pos dari mantan suami yang dikirim dari Italia. Wattimena pintar membuat audiens ‘ngeh’ dengan perbedaan yang begitu besar antara dua karakter ini, membuat kita membayangkan interaksi keduanya sepanjang perjalanan di Eropa yang jauh dari beban anak dan pekerjaan jelas akan menghasilkan hal yang menarik, yang seperti dalam harapan movietard, maunya sih perjalanan Laura dan Marsha se-hilarious perjalanan Tenoch dan Julio dalam Yu T Mama Tambien.

Tetapi, alih-alih tampil hilarious, perjalanan duo perempuan ini entah kenapa justru menjadi overdramatic. Kelihatan sekali Wattimena memaksakan feel adventurous dengan menambahkan banya efek dramatis dalam beberapa bagian film seperti layaknya sinema elektronik Indonesia. Pengalaman Laura dan Marsha ketika berwisata ke empat negara Eropa justru diisi dengan kesulitan tinggi yang jelas akan membuat audiens kasihan. Bagaimana tidak, mereka harus melarikan diri dari sekelompok lelaki pengganggu di tengah hutan, kehilangan mobil dan harta benda, terpaksa mencuri bir dan roti, dan dalam waktu perjalanan mereka yang singkat -2 minggu saja-, mereka berdua pun sempat bekerja serabutan di kafe! Yang menyenangkan adalah hanya ketika  mereka bertemu band favorit Marsha ketika tengah hitchhiking *iya, band yang tengah melakukan perjalanan konser di van rela berhenti untuk menawari tumpangan* atau ketika terdapat penumpang ketiga bernama Finn yang movietard kira hanya berperan membantu, ternyata memiliki peranan yang jauh lebih besar dalam cerita Laura & Marsha. Yang justru membuat movietard tambah mengernyitkan dahi. adalah bagaimana penyelesaian untuk misi Laura yang terkesan sangat mudah dengan kebetulan too good to be true yang terjadi. Wattimena tampaknya lupa bahwa penyelesaian yang mudah dengan banyak kebetulan bukanlah akhir dari banyak kisah hidup manusia yang sebenarnya.

imagesOh well, movietard banyak protes sekali sih. But hey, lepas dari kelemahan-kelemahan tersebut, Laura & Marsha tetap memiliki sisi menarik yang membuat movietard jatuh cinta. Yang pertama, kedua aktris utamanya tampil prima sehingga membuat audiens tetap terpaku menyaksikan interaksi keduanya. Dengan dua kepribadian yang berbeda, audiens sukses dibuat sebal dan kasihan dengan kedua karakter ini.  Ada beberapa momen interaksi antara Laura dan Marsha yang begitu heartwarming seperti ketika hanya dengan duduk mengobrol setengah mabuk. In my opinion, Adinia Wirasti memang selalu tampak nyaman memerankan karakter free spirits seperti Marsha, yang lucunya adalah membuat movietard merasa, karakter Marsha adalah karakter yang Wirasti sekali mengingat ia pernah memerankan karakter yang mirip pada 3 Hari Selamanya [2006]. Tampaknya Wirasti ketagihan dengan-dengan peran-peran seperti ini. Prisia, disisi lain, mampu menghadirkan sosok introvert yang kelihatan tegar tetapi nyatanya juga memiliki kerapuhan terkait dengan perannya sebagai orang tua tunggal. Dan menyenangkannya adalah, ribut-ribut yang terjadi diantara mereka berdua terjalin dengan begitu alami, but as I wrote before, keributan itu justru akan membuat sahabat menjadi lebih dekat dari sebelumnya.

Yang kedua, taste yang dihadirkan oleh director Dinna Jasanti dalam Laura & Marsha cukup bagus. Walaupun pastinya mengalami tingkat kesulitan yang lebih tinggi mengingat syuting di Eropa -Belanda, Jerman, Austria dan Italia- justru mengambil porsi hampir 80% dari isi film, shoot gambar terutama scenery views yang diambil pun tetap bagus sehingga membuat audiens menjadi ingin jalan-jalan ke luar negeri terutama ke Austria! *eh, apa hanya movietard saja ya yang ingin pergi?*. Penyutradaraan Jasanti sukses merekam momen-momen Laura & Marsha yang mengalami begitu banyak fase. Sebetulnya sih, ada satu scene di awal film yang membuat movietard menjerit keras dengan ke-spontanan scene tersebut. Overall, Jasanti setidaknya berhasil menyajikan sebuah pengalaman melalui gambar yang bagus untuk ukuran road movie. Yang ketiga, I love the soundtrack! Soundtrack yang dibuat Antonius Mashdiarto Wiryanto (Diar) untuk Laura & Marsha sukses membuat movietard mengira band bernama Zombie Friday adalah band asli sepeti layaknya Vampire Weekend! In my opinion, Musik yang dibuat Diar, dengan genre pop folk yang mengiringi perjalanan Laura & Marsha mengitari jalan-jalan panjang pedesaan di Eropa jelas menjadi paduan yang begitu cocok.

galIdFC_01052013_54102In conclusion, lepas dari story plot Laura & Marsha yang memang dibuat overdramatic dengan unsur coincidence yang juga too good to be true, Laura & Marsha sukses menjadi film yang menyenangkan. Kedua aktrisnya yang bermain prima jelas menjadi penarik utama yang membuat audiens menikmati perjalanan mereka berdua sepanjang film. Anyway, movietard pastinya bukan satu-satunya audiens yang mengganggap Laura & Marsha selain menjadi film road trip yang menyenangkan, juga akan menjadi guide yang baik untuk berbagi pengalaman jalan-jalan ke Eropa dengan beberapa tips yang begitu lucu seperti… membeli ganja ternyata bisa dilakukan di warung kopi biasa ataupun fakta bahwa harga air putih lebih mahal daripada soda. Dibanding pengalaman perjalanan Tenoch dan Julio, pengalaman Laura dan Marsha selama di Eropa memang terkesan lebih ‘menye’ dan bersih dari konten seksualitas apapun. Tetapi setidaknya, audiens akan dibuat bersorak gembira ketika Laura dan Marsha berhasil mencapai misi mereka berdua di negeri nun jauh dan setelah mengalami banyak cobaan yang begitu sulit.

Do You Know?
Salah satu supporting cast dalam Laura & Marsha adalah si cute Afiqa yang terkenal dengan iklan Orea dimana ia berperan sebagai anak Laura. Memang screentime-nya tidak banyak, tetapi she’s still the cutest kid in Indonesia!
Pengisi soundtrack Laura & Marsha, Diar, ternyata sudah delapan tahun tinggal di Jerman dan pernah menghasilkan 1 mini album yang berisi 5 lagu ciptaannya
Maleo Tur dan Travel yang menjadi tempat kerja Laura mengambil nama dari rumah produksi yang membuat Laura & Marsha yaitu Inno Maleo Film

My Rate
3 stars. Laura & Marsha is a quite fun road-movie. I hate the over-dramatic storyline but luckily, the superb performance of two main actress and their heartwarming interaction is the main core of this movie. Another highlights, the Europe-view scenery and soundtrack is awesome!

5 thoughts on “Laura & Marsha

  1. yang bikin film ini sptnya blum pernah backpacking ke eropa, banyak hal yg ngga masuk akal..mestinya konsultasi dulu sama backpacker yg udah pernah ke eropa jgn demi bikin film yg menegangkan ngasal. pertama, backpacker sejati tahu, kalau paspor ilang, hal yg pertama dilakukan adalah ke ktr polisi setempat dan ke KBRI utk bikin surat laksana paspor, trus belum pernah ke eropa nyewa mobil ga standar eropa yg ga safety (kejebak di hutan) trus di eropa / negara maju ga bisa seenaknya tres passing ini mereka ber2 masuk ke tempat org minum bir yg punya gedung lagi widih, trus lagi kerja di cafe eropa tanpa ada surat ijin kerja, paspor dll, cafe milik org eropa mana berani nerima org kerja sekalipun cuma cuci piring, kecuali cafe milik imigran dari RRC yg menyelundupkan pekerja ilegal ari RRC juga

    • Thanks mbak atas komennya, iya penulis skripnya Titien Wattimena tapi memang sepertinya kurang penelitian ya…. kalaupun memang beliau belum pernah backpacker ke eropa toh bertanya2 juga gak apa-apa ya
      Mbak Sari -cmiiw- sepertinya salah satu anggota senior CS ya? Thanks for visiting my blog!

  2. filmnya bagus, aku suka akting pemeran utamanya, laura dan marsha. natural banget dan karakter masing2 pas banget.

    emang sih banyak yg kayaknya gak masuk akal, tapi kerja ilegal di Eropa menurut aku bisa2 aja. Karena nguntungin juga buat cafe owner, gak perlu bayar2 pajak.. tapi emang jarang, tapi ada kok… paling enak sebenarnya di Belanda, kerja aja dirumah makan Indonesia, biasanya lebih gampang.

    Yang agak2 ngarang itu, tamu cafe yg ngegoda Marsha dengan meluknya, menurut aku sih, bule Eropa gak bakalan gitu kalau mereka gak mabuk banget. Kalau di Indonesia atau Asia mungkin biasa tindakan begini, di Eropa, tindakan kayak gini bisa dikatakan gak sopan banget deh, mereka cara memperlakukan cewek beda banget dengan orang Asia.. feminist deh.

    Lalu, aku bingung dengan karakter Finn. Kok bisa kebetulan gitu sih, ternyata Finn yang ketemu di Belanda temannya si suaminya Laura. Bisa gitu ya, selebihnya okelah….

    • Waaahhh makasih atas tambahan infonya ya. Sayang sekali sih memang laura & marsha ini kurang penelitian ya, coba kalo ngejadiin musm or mbak sari sumber info pasti filmnya akan lebih well crafted.

      Sama, aku juga bingung sama Finn itu, yang makanya kubilang too good to be true banget coincidence itu.

      Thanks for sharing infonya ya!

  3. tambahan lagi, passpor hilang,- sebenarnya gak perlu banget deh passportnya dihilangin. Karena, kalau kita orang asing, nginap di hotel/hostel pasti selalu minta liat passport kan, mereka takut juga kita imigran gelap kalau gak ada passport.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s