Star Trek into Darkness

MV5BMTk2NzczOTgxNF5BMl5BanBnXkFtZTcwODQ5ODczOQThe Plot
Ketika pusat data Starfleet di London diledakkan, Kirk (Chris Pine) dan Spock (Zachary Quinto) menghadapi musuh baru yang sangat karismatik, John Harrison (Benedict Cumberbatch).

The Comment
Movietard termasuk audiens yang jatuh cinta dengan Star Trek (2009) yang dibuat 4 tahun lalu. Bahkan sampai sekarang, I still have the movie-file lengkap dengan special features-nya di eksternal hard disk hasil unduhan *malu*. Di tahun itu pula, movietard bersama teman-teman kuliah seolah terkena demam Star Trek hingga membahas bromance Pine dan Quinto. Pun, movietard sempat juga berpikir kalau benar ramalan kiamat datang di tahun 2012 lalu, rasanya sangat menyedihkan tidak bisa melihat sekuel dari Star Trek. Oh may! Did I sound like a trekkie? No, I’m not a Star Trek biggest fans but as I wrote at the first sentence, movietard suka dengan gaya penceritaan Star Trek tahun 2009 yang melanjutkan kisah dari film-film sebelumnya. Abrams berhasil membuat sebuah film science fiction yang menghibur dengan segala keberanian tapi tanpa pikir panjang Kirk dan kekakuan yang dihadirkan Spock. But then, when the sequel is coming, dengan judul Star Trek into Darkness (2013), movietard sempat was-was karena takutnya, film ini akan sok meniru plot The Dark Knight Rises *yang sudah coba ditiru oleh Iron Man dalam installment ketiga dan voila! It failed!*. Movietard memang sempat takut Abrams akan membawa Star Trek into Darkness menjadi terlalu kelam sehingga tidak menghibur seperti pendahulunya.

MV5BMTYxMjQ0NDIwN15BMl5BanBnXkFtZTcwNjM0ODA5OA

And luckily, it still has the same fun taste with the previous one. Abrams pun kembali menyerahkan penulisan skrip Star Trek into Darkness kepada tim penulis yang sama seperti pada versi pertama yaitu Roberto Orci dan Alex Kurtzman, ditambah dengan Damon Lindelof. Dan mereka -yang memang sudah ahli- tentunya mengerti bahwa setelah empat tahun, pengalaman yang disajikan harus lebih hebat –Well, paling tidak menyamai pendahulunya-. Setelah ditunjukkan penyelesaian misi eksplorasi planet Nibiru yang agak berbeda dari rencana awal, Kirk dan Spock bertengkar dan ‘diadili’ yang membuat Kirk harus menyerahkan status kaptennya. But hey, ternyata bahaya yang lebih besar mengincar Starfleet dengan kehadiran si awak misterius, Harrison. Harrison awalnya dianggap penjahat sehingga Kirk dan kawan-kawan harus menangkapnya nun jauh di planet Kronos, tetapi Harrison memiliki penjelasan yang membuat Kirk meragukan perintah atasannya untuk membunuh Harrison. Misi berjalan lebih pelik mengingat ‘kejahatan’ justru datang dari dalam Starfleet, hanya saja, siapakah yang benar-benar bersalah?

Movietard tidak mau spoiler, so you still need to watch this movie instead of reading this review. Yang pasti, pengalaman menunggu selama ini tak sia-sia karena Abrams berhasil mengeksekusi Star Trek into Darkness sebaik pendahulunya. Story plot yang disajikan pun masih mengusung formula yang sama. Audiens disuguhi momen-momen interaksi duo favorit movietard, yaitu Kirk dan Spock. Bagaimanapun, sebanyak apapun mereka bertengkar, at the end, they always be there for each other. Para supporting characters yaitu para awak Enterprise pun memiliki porsi yang cukup, tak berlebih tetapi juga tidak terlalu minim. Tampak sekali bahwa trio scriptwriters berlaku adil dengan memberikan Chekov waktu untuk menunjukkan kemampuannya menguasai mesin Enterprise, Scotty menunjukkan integritasnya dalam bekerja ketika menolak perintah Kirk membawa senjata tanpa izin, Uhura menunjukkan the power of woman dengan menyelamatkan pujaan hatinya -beberapa kali malah!-, Bones menunjukkan kecerdasannya dalam ilmu pengobatan, dan Sulu pun sempat mengeyam bangku kapten Enterprise. Tetapi, bagi movietard, bintang dari Star Trek into Darkness adalah John Harrison *I’m more comfortable in writing this name rather than use his another name, if you know what I mean*. Menarik melihat bagaimana karakter Harrison ternyata jauh lebih cemerlang dan berhasil merebut hati movietard dibanding duo karakter  utama.

MV5BMjEwNjIzNzY5Ml5BMl5BanBnXkFtZTcwMTUxMTA0OQ

And if we talked about Harrison, we need to talk about the actor, Cumberbatch. Movietard memang sempat terkejut dengan pilihan Abrams ini. Betul bahwa Cumberbatch adalah aktor paling hot di Britania Raya saat ini, tetapi jangan lupa, Cumberbatch adalah aktor watak yang selalu bermain cemerlang seminim apapun porsinya. In my opinion, Cumberbatch is perfectly suit at art movies rather than blockbuster mengingat ketika ia ketika dihadapkan dalam sebuah film blockbuster dengan lawan main yang jelas berada dalam level akting yang standar, he out-shined all of other characters with his own personae. Ya, movietard justru merasa bahwa Cumberbatch menjadi badai dalam Star Trek into Darkness sendiri. Bohong besar kalau audiens yang menonton Stark Trek into Darkness tidak berempati kepada Harrison. Siapa yang tidak tersentuh melihat tatapan mata Harrison ketika menceritakan tentang teman-temannya? Walaupun Pine dan Quinto bermain ‘unyu’ dengan brother romance mereka yang menghadirkan tawa, tetapi, Pine tampil tak memorable, Quinto bermain lebih baik ketika ia berani menunjukkan sisi emosionalnya di sela kekakuan ala Vulcan-nya. Tetapi, kecemerlangan yang menerangi kegelapan dalam Star Trek into Darkness adalah tetap milik Cumberbatch yang bermain begitu apik.

Kehadiran Cumberbatch memang menjadi simalakama dalam Star Trek into Darkness. Ketika Abrams dianggap suskes mengantarkan audiens mencintai dunia Enterprise dengan awak yang baru, di sisi lain, Abrams justru melangkah mundur dengan menunjukkan bahwa pilihan casts yang ia lakukan melalui Star Trek empat tahun lalu menjadi…. well, biasa saja ketika dihadapkan dengan pesona Cumberbatch di seri kedua ini. Akibatnya, tak ada demam Star Trek lagi, tak ada lagi memori persahabatan Pine dan Quinto karena movietard justru lebih sibuk men-googling Cumberbatch *malu*. Lepas dari kehadiran Cumberbatch yang menjadi badai, overall, Abrams kembali sukses menghantarkan sebuah kisah science fiction menjadi sederhana untuk dicerna audiens umum yang buta tentang galaksi Star Trek. Tak butuh kamus khusus ala Trekkie untuk mengikuti pengalaman awak Enterprise ini. Pun walau story plot Star Trek into Darkness menyajikan twist tetapi twist tersebut tentunya tidak terasa begitu shocking bagi audiens. Kesederhanaan cerita ini lantas tak membuat visualisasi film menjadi tak maksimal. Lagi-lagi, Abrams berhasil menyajikan spectacle melalui adegan-adegan pertarungan pesawat luar angkasa dalam bentuk fast pacing action yang akan memuaskan para fanboys. Seolah tak cukup, adegan pertarungan dengan hanya mengandalkan fisik tanpa senjata pun dilakukan juga oleh para karakter di film ini, lengkap bukan?

MV5BMTgyMTU3OTYwNl5BMl5BanBnXkFtZTcwMjc5NjI1OQ_002

In conclusion, Star Trek into Darkness ternyata tidak ‘segelap’ judulnya. It still has the entertainment factors, hal yang selama ini sukses selalu dihantarkan oleh Abrams melalui film-filmnya. Abrams pun sangat ramah terhadap audiens baru yang dapat mengikuti kisah ini tanpa harus menonton versi lamanya atau seri pertama tahun 2009 lalu. Star Trek into Darkness adalah suatu petualangan baru dengan spectacleship dunia luar angkasa maupun planet lain yang dibuat dengan megah oleh Abrams. Walaupun Star Trek into Darkness memang tidak se-menakjubkan seperti layaknya trilogi Batman Cristopher Nolan yang penuh nilai kontekstual dan filosofi moral yang membuat kepala audiens sakit seperti habis menaiki jet coaster berkecepatan tinggi, justru, Star Trek into Darkness tampil cute layaknya sebuah merry go round yang asyik mengajak audiens bermain dengan bahagia di dalamnya. Jika movietard sudah bisa melupakan penampilan menakjubkan Cumberbatch dan betapa malang nasibnya di film ini, rasanya movietard sudah siap untuk menunggu installment ketiga dari versi modern Star Trek ini yang dengar-dengar akan dikeluarkan pada tahun 2016 untuk menyambut ulang tahun ke-50 Star Trek *kalau sekarang sih masih nggak rela dengan nasib Harrison*.

My crew is my family, Kirk. Is there anything you would not do for your family? [John Harrison]

Do You Know?
Sebelum Cumberbatch masuk, Benicio Del Toro sempat melakukan pembicaraan untuk peran John Harrison tetapi tidak berlanjut dikarenakan alasan keuangan. Cumberbatch sendiri direkomendasikan kepada Abrams oleh Spielberg yang telah bekerja sama dengan Cumberbatch di War Horse.
Star Trek into Darkness
menjadi film pertama yang di-shoot dengan dengan menggunakan kamera IMAX sesuai dengan keinginan Abrams yang kemudian dikonversi ke-format 3D seperti yang diingini oleh produser
Kehadiran Leonard Nimoy sebagai Spock tua menjadi penampilannya ke-8 dalam seri Star Trek, terbanyak diantara semua pemeran lama lainnya.

My Rate
3 stars. Star Trek into Darkness is a well packaged blockbuster movie with great action and simple and entertaining story line. Cumberbatch’s performance is so superb but somehow, I thought it also be a bad side for the movie itself where we’re more in love with the Cumberbatch rather than with the Enterprise’s crew.

One thought on “Star Trek into Darkness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s