What They Don’t Talk about When They Talk about Love

tidak-bicara-cinta_posterThe Plot
Ini cerita pencarian cinta dua gadis remaja yang duduk di bangku SMA, Diana (Karina Salim) dan Fitri (Ayushita Nugraha) dan mereka berdua adalah tuna netra.

The Comment
Ini film yang dari beberapa bulan lalu sudah masuk daftar list movietard, embel-embelnya pun tidak main-main, ikut berkompetisi di Sundance Film Festival yang jadi gelaran film independen paling bergengsi di Amerika sana dan memperoleh review yang positif. It sounds so great, no? Well, memang sih tampak bahwa What They Don’t Talk about When They Talk about Love (2013) seolah sudah mengklasifikasi filmnya sendiri sebagai art movie, apalagi dengan judul yang panjangnya bisa menghabiskan kuota karakter di media twitter tentunya akan membuat audiens mengkerutkan keningnya. Bagi movietard, judulnya yang begitu panjang yang mengundang tanya justru menjadi daya jual WTDTaWTTaL, membuat movietard bersedia menyeret kaki ke bioskop seorang diri di jam pemutaran paling siang padahal biasanya, I’m kind of a late-night viewer. Sebagai penguat diri, movietard merasa sudah cukup bekal dengan telah berusaha menonton beberapa festival film yang menayangkan film-film art khas Eropa, seharusnya sih paling tidak, movietard bisa mencerna isi WTDTaWTTaL. Sebagai tolak ukur, movietard masih tahan menonton Amour buatan Haneke, kalaupun WTDTaWTTaL nantinya menjadi se-painful Amour, I think I’ll ready for that.

anggunpriambodo-karinasalim_tidakbicaracinta_foto_i2

And turned out.. it’s a very sweet story about love. Mouly Surya, yang selain duduk dibangku sutradara, juga menjadi scriptwriter film ini memperkenalkan audiens dengan kehidupan di sekolah asrama SLB khusus untuk tuna netra. Karakter pertama yang diperkenalkan Mouly adalah Diana, gadis cantik yang mengidap low vision, dimana ia hanya bisa melihat dari jarak 2 cm saja. Sehari-hari, Diana harus menggunakan kacamata pembantu untuk melihat tetapi hey, Diana toh tetap menjadi gambaran nyata remaja masa kini, yang malu-malu ketika bertemu dengan teman sekelas yang disukainya, Andhika (Anggun Priambodo). Karakter perempuan kedua adalah teman sekamar Diana, Fitri, yang mengidap kebutaan total. Fitri yang sudah memiliki pacar realitasnya masih mendambakan keintiman dari sosok hantu dokter temannya bercerita selama ini. Yang tak diketahui Fitri adalah, Edo (Nicholas Saputra), anak dari tukang warung di SLB tersebut jatuh cinta kepada Fitri. Yang membuat cerita ini seru dan membuat movietard membatin ‘awwww’ adalah karena Edo adalah seorang bisu dan tuli, damn!  Bingung kan dengan  bagaimana cara pendekatannya? Bagaimana akhir kisah cinta Diana dan Fitri?

Dibalik judul yang membuat movietard capai mengucapkan ketika mempromosikan film ini ke teman-teman lain *halah*, WTDTaWTTaL sebetulnya berkisah tentang hal paling universal dan sederhana di dunia ini, ini murni tentang perayaan cinta itu sendiri. Cinta pernah dirayakan dengan gegap gempita pada rumah bordil Moulin Rouge, dan sekarang cinta dirayakan, tidak lagi dengan gegap gempita, melainkan melalui kelembutan eksperimentalis dalam WTDTaWTTaL. Yang membedakan, WTDTaWTTaL berfokus pada pencarian cinta dari kaum penyandang disabilitas. Tetapi, jangan bayangkan banyak adegan yang membuat audiens harus menyiapkan banyak tissue dengan mendramatisir kelemahan para karakter ini, justru, Mouly memberikan gambaran apa adanya terhadap kisah mereka. Ya, tanpa dramatisasi terhadap karakter-karakter disabilitas ini, audiens justru ditunjukkan bahwa sama seperti remaja normal, mereka pun juga memiliki momen-momen pendewasaan yang sama. WTDTaWTTaL memotret sisi remaja yang baru merasakan first love melalui sosok Diana yang mencoba menarik perhatian Andhika dengan bersedia memakai parfum baru demi sang lelaki pujaan. WTDTaWTTaL pun tak segan memotret sisi eksplosif remaja melalui karakter Fitri yang melakukan sexual intercourse dengan pacarnya *Sayangnya, hal ini akan membuat WTDTaWTTaL menjadi tidak suitable for under 17 years old*.

nicholassaputra-ayushita-tidakbicaracinta-foto

WTDTaWTTaL jelas bukan film yang berisik dengan banyak dialog, justru, film ini lebih banyak berbicara dalam keheningan gambar-gambar dengan alur yang slow pace. Memang, hal ini membuat audiens jadi cukup gemas dan bahkan bisa bosan menunggu kelanjutan kisah, tetapi alur yang cenderung lambat ini realitasnya justru menjadi tempat para karakternya berekspresi sehingga membuat audiens belajar untuk mencintai mereka. Jujur, movietard dibuat jatuh cinta dengan karakter Diana dan selalu tersenyum setiap melihat gerak-gerik Diana, bahkan ketika Diana hanya diam duduk menghitung sisiran rambut atau ketika Diana memegang tangan Andhika, a simple gestures that means a lot  for the story indeed! Keheningan akibat minim dialog juga membuat audiens dibiarkan Mouly untuk menjadi pemerhati bagaimana remaja-remaja tuna netra ini menikmati kehidupan mereka selepas kelas di sekitaran asrama, melalui momen bersantai di warung makan, bersantai di tepi kolam renang, ataupun ketika mereka beramai-ramai mendengarkan sandiwara radio, kesemuanya hadir dengan apa adanya, menunjukkan bahwa rutinitas harian mereka tak jauh beda dengan kita.

Benar bahwa penyutradaraan Mouly tidaklah lazim seperti kebanyakan film yang terdiri dari pola 3 babak, tetapi toh Mouly tidak se-artsy yang dibayangkan movietard. Beberapa scenes justru terasa begitu manis dan mudah dipahami instead of membuat movietard berguman ‘apa sih maksudnya’. Belum lagi, lagu-lagu lawas zaman era dekade 80-an seperti Burung Camar dan Nurlela yang berkumandang diawal dan ditengah-tengah film membuat audiens mau tak mau tersenyum ketika mendengarnya. Ya, Mouly memang memiliki cita rasa artistik yang berbeda dari kebanyakan audiens umum, tetapi terus tidak lantas membuat hasil karyanya menjadi aneh, dan dalam WTDTaWTTaL, Mouly justru sukses membuat film ini terasa unik, seolah mengingatkan audiens akan nostalgia ke masa lampau. Memang sih Mouly menyelipkan adegan fantasi vs. realita yang akan membuat audiens sedikit bingung menangkap makna maksud dari adegan yang bertolak belakang ini. Tetapi, anggap saja bahwa melalui adegan tersebut Mouly setidaknya memberikan kesempatan dalam bentuk alternate universe untuk para karakternya menjadi ‘normal’, tetapi overall, Mouly toh membalut WTDTaWTTaL menjadi easy consumed tanpa perlu menyelipkan absurditas seperti dengan adegan merpati datang tiba-tiba ke SLB tersebut.

ayushita-nicho-tidakbicaracinta-foto

Story plot WTDTaWTTaL yang tidak cerewet dialog dan memang lebih menekankan pada kekuatan akting para aktornya dalam berupa mimik dan gesture realitasnya mampu diterjemahkan dengan baik oleh para aktor WTDTaWTTaL. Yang selama ini menjadi fans Nicholas Saputra dan berimajinasi ia akan tampil cool dalam film ini sepertinya harus rela melihat idolanya tampil dengan kulit kecoklatan dengan style anak nge-punk berantakan, Ayushita Nugraha pun membuktikan bahwa dari teman-temannya sesama lulusan Bukan Bintang Biasa dulu, ia-lah yang memiliki bakat akting terbaik, tetapi, bintang dari WTDTaWTTaL adalah si cute Karina Salim yang tampil begitu hangat sepanjang film. Do I sound like a lesbian girl? Damn! I did not mean sounds like that but turned out, akting Karina memang begitu memikat, mengajak audiens kembali ke masa remaja mereka guna mengenang cinta pertamanya ataupun well, masa-masa ketika takut melewati fase pubertas pertama melalui karakter Diana, dan Karina melakukannya dengan begitu natural, membuat kita melupakan bahwa karakter Diana yang diperankan adalah seorang tuna netra.

In a conclusion, WTDTaWTTaL is one of heartwarming story about love indeed. Ya, biarpun kedua remaja karakter utamanya adalah tuna netra, toh frase bahwa love is blind tidaklah berlaku. Cinta tidak buta, tetapi cinta pun tidak perlu pandangan mata berlebih ataupun ucapan-ucapan gombal yang keluar dari mulut. Cinta adalah perasaan hangat yang dapat hadir dalam setiap relung-relung hati anak manusia, mengisinya, dan terbersit dari dalam jiwa dalam kumpulan mimik dan gesture yang menonjolkan kebahagian hingga nafsu. Tema cerita yang sederhana ini realitasnya berhasil dibalut dengan unik oleh Mouly melalui visualisasi yang ‘berbicara’ lebih banyak daripada dialog and it’s kind of remind me with Stoker, tetapi yang membuat bangga dan kagum, film ini jelas karya anak asli Indonesia yang memang begitu berani dalam mempertahankan idealisme-nya ditengah tekanan industri perfilman lokal yang sangat populis. Dan walaupun WTDTaWTTaL memang bukan bagian dari film-film hiburan mainstream yang rajin menyapa kita di musim panas ini, tetapi sebagai pemanasan sebelum menyambut film blockbuster nanti, ada baiknya kita menyapa WTDTaWTTaL lebih dahulu sebagai pembukanya. A very worthy experience!

Do You Know?
What They Don’t Talk about When They Talk about Love menjadi pemenang di International Film Festival Rotterdam untuk kategori Best Asian Feature Film
What They Don’t Talk about When They Talk about Love diproduksi dengan bantuan dana dari Hubert Bals Fund dan melakukan pemutaran perdana-nya justru di Sundance Film Festival 2013. Di Sundance, What They Don’t Talk About When They Talk About Love berhasil masuk kompetisi kategori World Dramatic Competition, yang diikuti 12 film peserta.
Ketika ada adegan karakter Diana mengikuti kursus balet, hal ini tidak menjadi momok bagi pemeran Diana, Karina Salim, yang selain menjadi aktris adalah seorang pebalet yang telah kursus balet sejak usia 5 tahun.

My Rate
4 stars. What They Don’t Talk about When They Talk about Love is a heartwarming love story with a very rare story-plot’s point of view. Eventho’ this movie could be categorized as arthouse movie based on director’s directing, but luckily, I enjoyed to watch it! A very beautiful movie with superb performance by two main girl characters.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s