9 Summers 10 Autumns

9-summers-10-autumn_posterThe Plot
Ini kisah hidup Iwan Setyawan (Safil Hamdi Nawara/Ihsan Tarore), anak supir angkot yang berhasil bekerja hingga ke kota New York, Amerika Serikat.

The Comment
Movietard telah memiliki buku 9 Summers 10 Autumns, tetapi kesibukan sehari-hari membuat buku tersebut hanya ‘mejeng’ di lemari buku. Luckily, ternyata buku tersebut juga sudah diadaptasi menjadi film berjudul sama, 9 Summers 10 Autumns (2013), yay! Memangnya siapa sih Iwan Setyawan sampai dibuatkan film tersendiri saat SBY, Dahlan Iskan dan Jokowi saja masih menunggu giliran difilmnkan? Buku memoar Iwan memang cukup luar biasa dan laris manis walaupun premis cerita seperti ini memang telah hadir berkali-kali dalam novel-novel yang juga diadaptasi dalam film seperti Laskar Pelangi. Jadi apa yang ditawarkan 9S10A versi film? 9S10A berkisah tentang anak manusia yang berasal dari keluarga sederhana *errr cenderung –maaf- miskin malah* yang mengecap kesuksesan di New York. Tetapi, berbeda dengan keajaiban mimpi di Laskar Pelangi yang dibalut indahnya persahabatan dunia anak-anak ataupun kekuatan hebat para guru, 9S10A memiliki fondasi yang jauh lebih personal, yaitu peran keluarga dalam kesuksesan tersebut.

mv-summer-3

Peran keluarga, terutama orang tua inilah, yang membuat 9S10A tampil begitu menyentuh, which made me cried several times and made me just wanna go home, hug and kiss my mom. Movietard suka sekali 9S10A, dimana story plot yang dibuat ‘keroyokan’ oleh Ifa Isfansyah, Fajar Nugros dan Iwan Setyawan sendiri mengalir lancar dengan dialog-dialog sederhana. Dengan alur maju mundur yang dibagi dalam bilangan tahun, audiens diajak Iwan dewasa yang telah menginjakkan kaki ke New York pada periode tahun 2000-an melongok ke masa lalunya, ke kehidupannya yang miskin di daerah Batu pada periode 1980-an. Dalam rumah gubuk yang hanya terdapat dua tempat tidur, audiens diajak mengenal karakter Bapak (Alex Komang), penganut budaya patriarki yang berusaha mendidik Iwan kecil –yang memiliki panggilan kesayangan Bayek- dengan begitu keras, mengenal karakter Ibu (Dewi Irawan) yang begitu lembut dengan limpahan kasih sayang dan empat kakak dan adik perempuan Iwan. Cerita mengalir lancar dengan dialog bahasa jawa *yang luckily, terdapat subtitle bahasa Indonesia*. 9S10A dengan lancar mengajak audiens melihat Iwan kecil yang pemalu tetapi pintar berhitung di masa sekolah dasar, beranjak ke Iwan masa remaja yang mulai dekat dengan perempuan, beranjak ke masa kuliah Iwan di IPB Bogor, dan juga mengulas tentang masa kerja Iwan di Jakarta.

Betul bahwa kisah Iwan adalah satu potongan kecil diantara jutaan kisah sukses anak manusia di muka bumi. Tetapi, 9S10A bukan berkisah tentang sukses itu sendiri, melainkan justru mempertanyakan apa yang terasa ketika sebetulnya kesuksesan (secara materiil) telah teraih. Hingga kini, sukses materiil masih menjadi tolak ukur, dan Iwan yang menghabiskan masa kecilnya dengan terbelit kemiskinan tentunya paham tentang hal ini, dimana sepeda bagus, sepatu baru hingga kamar pribadi yang bagus hanyalah bagian dari mimpi yang tak pernah teraih karena si Bapak hanyalah supir angkot. Karenanya, Iwan bekerja keras yang mengantarkannya menjadi salah satu direktur di perusahaan riset Amerika Serikat. Yang menjadi pertanyaan, apakah dengan kesuksesan tersebut, Iwan bahagia? Palahniuk pernah berbicara tentang nihilisme hidup dalam Fight Club, dengan karakter utama seorang lelaki white collar yang hidup berkecukupan tetapi memiliki insomnia berkepanjangan, pun begitu dengan Iwan. Walaupun ia telah memiliki american dream selama 9 musim panas dan 10 musim gugur di New York, panggilan untuk pulang ke pangkuan keluarga di Batu selalu datang. Narasi dan gerak-gerik Iwan melukiskan kegelisahan rasa ingin pulang ini, alih-alih asyik mem-posting foto-foto dengan latar belakang Times Square di jaringan media sosial, Iwan justru asik menikmati kesendiriannya di New York, terkadang hanya ditemani dengan bunga. Akankah Iwan kembali ke Indonesia atau tetap bertahan di New York?

9-s10-a_lf-9017-13-019837_photo_ihsan-dewi-agni_img

9S10A jelas bukanlah film yang ‘mengejutkan’ dengan twist. In murni perjalanan hidup seorang anak manusia. Tetapi toh, walaupun tanpa twist, jalinan cerita 9S10A dengan konflik-konflik kecil tetap menyentuh hati movietard, melalui momen kecil yang menunjukkan kedekatan Iwan dengan sang ibu dengan kegemarannya membantu Ibu di dapur ataupun amarah Bapak kepada Iwan guna mendidiknya sebagai lelaki sejati, tetapi siapa sih yang tidak akan ikut menangis ketika Bapak rela menjual sumber utama mata pencahariannya si angkot demi anaknya? Momen-momen kecil ini dibalut oleh rangkaian dialog yang dibuat Isfansyah, Nugros dan Setyawan dengan baik. Mereka berhasil menyajikan dialog-dialog sederhana yang tidak over pretentious tetapi justru menjadi untaian kata motivasi yang begitu menyentuh. Penyutradaraan Isfansyah pun tampil begitu apik. Audiens dapat menangkap usaha Isfansyah untuk tampil super otentik melalui setting dalam 9S10A. Ia sangat jeli dalam mengatur setting tempat, budaya hingga tata kostum sesuai dengan bilangan tahun yang bergerak maju *Yang sempat membuat movietard tertawa dengan tokoh idola Iwan yaitu si Mas Boy, acara Asia Bagus yang menampilkan Krisdayanti yang tak lain dulu teman Iwan, pun dengan kostum Iwan masa abg dengan kemeja longgar itu*.

Dari segi teknis, seolah memperkuat misi sebagai sarana refleksi diri yang personal, bukan sekadar cerita kesuksesan yang menyenangkan, 9S10A tampil dengan tone warna yang tidak colorful, seperti ketika untuk penceritaan masa kecil Iwan di kota Batu yang memang dingin, banyak sekali warna shoot-view yang justru terkesan begitu suram dan dingin ditambah dengan narasi Iwan yang disuarakan Tarore pun tampil dengan begitu datar. Apalagi, kehadiran sosok Iwan kecil yang hadir selama masa Iwan bekerja di New York yang ‘berbicara’ dengan Iwan dewasa seolah simbol perwujudan suara hati Iwan sendiri, yang menjadi pengingat tentang apa yang sebetulnya Iwan inginkan. Selain kuat dari segi penyutradaraan, 9S10A didukung oleh kumpulan aktor yang bermain cemerlang. Alex Komang dan Dewi Irawan yang memang memiliki jam terbang akting yang tinggi benar-benar superb dalam memerankan orang tua Iwan, membuat setiap kali si karakter Ibu menangis, movietard mau tak mau ikut menangis. Hamdi Nawara yang bermain sebagai Iwan kecil pun tampil begitu luwes di usia belia. Dengan kepolosan ditambah dengan logat jawa yang kental, Hamdi Nawara membuat audiens pun jatuh hati dengan Iwan kecil. Tarore, yang sebelumnya justru jauh lebih dikenal sebagai penyanyi, pun membuktikan bahwa ia memiliki bakat akting yang cukup baik, ia sukses menampilkan gesture dan gerak-gerik Iwan besar yang memang agak feminin.

9-s10-a_lf-9017-13-019837_photo_ihsan_img

In a conlusion, 9S10A adalah satu dari sedikit film Indonesia yang membuat movietard bangga dan menaruh harapan bahwa jika berada ditangan yang tepat, ragam kisah lokal dari anak-anak Indonesia bisa tersaji dengan lezat dan menghibur. Dengan tema yang sebetulnya sangat universal, yaitu tentang menggapai kesuksesan, 9S10A justru hadir dengan segala personalitasnya untuk mengetuk hati masing-masing audiens, film ini menjadi pengingat bahwa ketika kita terlalu sibuk melangkah kedepan guna mengejar kesuksesannya, ada baiknya untuk berhenti sejenak, melongok ke belakang guna merangkul orang tua yang selama ini justru berperan paling penting dalam menjadikan diri kita seperti sekarang ini. Ya, 9S10A melukiskan peran utama keluarga sebagai pilar utama kesuksesan individu. Karakter Iwan adalah perwujudan dari diri kita, para pekerja usia muda yang berambisi sukses dengan takaran ingin punya rumah dan kendaraan pribadi di usia 30-an, tetapi ketika misalnya sukses secara materiil tersebut telah diraih, apakah kita pasti akan bahagia? 9S10A sukses menjadi sarana pengingat bagi movietard bahwa kebahagiaan bukan datang dari terkecukupinya materi, melainkan datang dari tawa dan kedekatan bersama keluarga, hayoooo jangan lupa peluk dan cium ibu kalian ya setiap pulang bekerja!

Bayek nggak takut hantu bu, Bayek takut miskin [Iwan]

Do You Know?
Demi memahami karakter Ayah, Hasyim, Alex Komang bahkan sampai membutuhkan waktu seminggu untuk menginap dan berinteraksi dengan Hasyim asli. Do you agree that he nailed his character, yes?
Proses syuting 9 Summers 10 Autumns yang ber-setting di Batu, Bogor, Jakarta dan New York ini memakan total waktu 36 hari syuting
9 Summers 10 Autumns menjadi penampilan akting pertama penyanyi Jazz yang pernah berduet dengan Jason Mraz, Dira Sugandi, dimana ia menjadi salah satu kakak perempuan Iwan.

My Rate
4 stars. 9 Summers 10 Autumns is one of few Indonesian’s great movies. A very well crafted movie. The dialogues, the acting and most of all, the movie’s message about how valuable family is are the strength points. 

3 thoughts on “9 Summers 10 Autumns

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s