Finding Srimulat

finding-srimulat-1The Plot
Adi (Reza Rahardian) adalah eks karyawan yang bermaksud mewujudkan obsesi masa kecilnya, mementaskan kembali grup lawak Srimulat ke atas panggung.

The Comment
Film selalu menjadi medium pembelajaran mengenai sejarah yang paling menyenangkan bagi movietard dibanding membaca buku. Melongok masa lalu tentunya membuat kita belajar dan bernostalgia, salah satunya dilakukan melalui film Finding Srimulat (2013). Finding Srimulat adalah film tribute untuk ‘mengingatkan’ audiens diatas 20 tahun akan suatu kelompok pelawak yang di masa jaya-nya memang sangat terkenal, tetapi seiring dengan perkembangan jaman, grup ini menghilang, digantikan dengan format grup lawak yang lebih modern dan bertampang lebih ‘menjual’. Grup ‘jadul’ ini menghilang ditelan modernisasi, membuat audiens usia dibawah 20 tahun tentunya akan asing dengan nama grup ini. Ya, premis yang ditawarkan dalam Finding Srimulat terdengar menarik, seorang anak muda usia pertengahan 20-an tertarik untuk mementaskan kembali lawak tradisional Srimulat yang menjadi tontonan favoritnya ketika kecil, berhasilkah ia mencapai obsesinya?

Film Finding Srimulat 2013-head_0

Movietard sudah mendengar hype Finding Srimulat di lini masa, banyak sekali moviegoers Indonesia yang memuji film ini yang membuat movietard tertarik untuk menontonnya. Di tengah minggu, movietard menyempatkan diri menonton Finding Srimulat di salah satu bioskop di tengah kota. Walaupun sendirian tanpa teman, movietard pikir tentunya akan ada penonton lain yang juga menontonnya when turned out… I’m all alone, by myself. Sempat, movietard bertanya apakah show akan dibatalkan karena hanya seorang diri, tetapi user bioskop mengatakan bahwa film tetap akan diputar. So here I go, for the first time, watching a movie alone by myself without any other audiences at cinema theater *dan terus bulu kuduk berdiri*. Back to Finding Srimulat, story plot film ini dibuka dengan narasi Adi yang sangat cute, audiens tahu istri Adi tengah hamil tua, ide pekerjaannya diserobot temannya sendiri, pinjaman uangnya ditolak sang paman, perusahaannya bangkrut dan ia harus berhenti bekerja. Hidup Adi tampak susah, tetapi dari flasback kisah pertemuan Adi dengan istrinya, audiens tahu bahwa Adi adalah orang positif yang tidak mudah putuh asa dan gemar menabung. Oke, yang terakhir nggak termasuk ya.

Karakter Adi yang positif inilah yang membawanya kembali kepada nostalgia masa kecil ketika Ia tak sengaja bertemu dengan eks pelawak Srimulat, Kadir yang sekarang membuka warung soto. Setelah berhasil meyakinkan Pak Kadir, Adi pun berjuang menemukan anggota Srimulat lainnya seperti Tessi, Mamiek, Nunung, Gogon dan Mbak Juju, dimana Adi mengajak mereka kembali ‘mentas’ di panggung. Keinginan Adi sempat melahirkan pertanyaan para anggota Srimulat, yang dijawab Adi bahwa Srimulat seperti hewan Komodo, buatan asli Indoensia yang harus dilestarikan, mereka harus ‘mentas’ kembali sehingga generasi muda mengenal grup lawak lawas ini. Kisah Finding Srimulat terdengar sederhana tetapi sesungguhnya, misi yang berat diusung oleh Charles Gozali, yang duduk dibangku sutradara sekaligus menjadi scriptwriter Finding Srimulat, dimana ia harus menjembatani anak muda yang diwakili karakter Adi dengan para pelakon usia paruh baya dengan menjalin cerita yang mampu mengetuk hati semua audiens.

Finding Srimulat_1_header

And… it failed, at least for me. Sebetulnya, Finding Srimulat sempat ‘kuat’ diawal, ketika karakter Adi memegang jalannya cerita dengan begitu tulus, terutama dari flashback masa kecil ketika ia diajak kedua orangtuanya menonton pentas Srimulat. Tetapi anehnya, ketika konflik berjalan naik dimana karakter Adi bertemu dengan para tokoh idolanya, Finding Srimulat justru kehilangan pancaran yang seharusnya. Dengar-dengar sih, memang para anggota Srimulat tidak melakukan penghafalan naskah melainkan murni improvisasi selayaknya ketika mereka di panggung sandiwara. Tetapi toh, medium film dan panggung berbeda, ketika ambience panggung terasa begitu hidup, di film, bagaimanapun, jarak tetap terasa dan disini, para anggota Srimulat gagal menipiskan jarak yang ada. Ya, improvisasi lawak yang dilakukan karakter Tesi misalnya, entah kenapa terasa terlalu dibuat-buat, dan alih-alih membuat movietard tertawa, justru movietard merasa aneh. Gemuruh tawa mungkin akan hadir ketika audiens menonton Srimulat di panggung, tetapi ketika melalui medium seluloid, movietard tetap tak bisa menikmati lawakan yang ada.

Sama seperti lawakan yang disampaikan para anggota Srimulat yang terasa berjarak dengan penonton usia muda *well, I’m not that young sih tapi tetep agak roaming dengan lawakan Srimulat tersebut*. Apalagi, banyak sekali lawakan Srimulat yang dilakukan dalam bahasa Jawa yang justru melahirkan kebingungan baru bagi movietard. Seharusnya, subtitle diberikan sehingga penonton non-jawa akan lebih memahami konteks lawak yang ada, bukan justru merasa bingung seperti movietard. Tetapi hey! Movietard menghargai usaha kerasa Gozali dalam menampilkan Finding Srimulat menjadi lebih mudah untuk diterima audiens muda, seperti dengan menjadikan judul film ini terdengar catchy dengan penggunaan bahasa Inggris ‘Finding’ ataupun penggunaan dance flash mob di stasiun kereta api SoloBalapan yang menunjukkan bagaimana budaya tradisional dapat berasimilasi dengan budaya modern, pun begitu dengan beberapa lawakan Srimulat yang menggunakan beberapa hal populer saat ini sebagai materi lawakan mereka. Usaha Gozali patut diapresiasi walaupun Finding Srimulat sendiri memiliki alur penceritaan yang sangat sederhana dengan pace yang lambat.

finding-srimulat-2

Anyway, satu-satunya momen yang melibatkan anggota Srimulat yang membuat movietard tersentuh adalah ketika Gogon, yang sudah kembali ke kampung halamannya, merefleksikan kehidupan biasanya setelah masa jaya Srimulat. Ia pelawak yang bahkan penghasilannya jauh lebih kecil daripada pengemis, menyedihkan bukan? Disini, Finding Srimulat berhasil memberikan cuplikan kehidupan nyata tentang apa yang terjadi di balik kegermerlapan dunia hiburan. Ketika sudah habis masanya, sang bintang akan terbuang dan terlupakan dari gemerlap cahaya. Selain menyoroti nasib bintang yang terbuang, Gozali yang sepertinya memang mencintai Srimulat menunjukkan integristas dan nilai-nilai yang dipegang Srimulat itu sendiri dan tak lupa menyelipkan pesan mengenai pentingnya menghargai kebudayaan bangsa seperti grup lawak Srimulat kepada generasi muda.

Demi merangkul audiens muda, Gozali menasbihkan aktor muda paling mumpuni, Reza Raharadian, sebagai karakter utama dalam Finding Srimulat. Rahardian pun tampil bagus dan tampak tak ada masalah dalam memerankan Adi. Audiens mencintai sosoknya di layar, dan ia memang tampil begitu kenes. Tetapi, untuk para pelawak usia tua yang selama ini lawakannya tidak begitu dikenal audiens usia muda, kehadiran mereka yang sesungguhnya sudah sangat teruji panggung lawak tetap melahirkan keterasingan ketika menontonnya karena Gozali tak memberikan waktu pengenalan para karakter lawak Srimulat lebih dekat karena mereka hanyalah menjadi pendamping karakter Adi. Posisi anggota Srimulat sebagai supporting characters inilah yang sesungguhnya justru menjadi simalakama. Finding Srimulat sukses sebagai sarana nostalgia bagi audiens yang dahulu pernah menikmati guyonan mereka di panggung secara nyata tetapi untuk audiens usia muda yang tidak pernah mengenal grup lawak Srimulat, pesan pelestarian yang ingin disampaikan Gozali justru hanya akan menjadi angin lalu.

Do You Know?
Gubernur DKI Jakarta saat ini, Joko Widodo, menjadi cameo dalam Finding Srimulat, dimana saat itu Ia masih menjabat sebagai walikota Solo
Proses produksi Finding Srimulat dari ide cerita hingga waktu release termasuk lama, yaitu 2 (dua) tahun walaupun waktu syuting cukup sebentar, yaitu hanya 29 hari saja
Para anggota Srimulat tidak menghafal skenario Finding Srimulat melainkan hanya membaca poin-poin saja dan selebihnya adalah improvisasi dengan dialog dan guyonan spontan.

My Rate
2,5 stars. Finding Srimulat is gonna be loved by audiences who knew the Srimulat group before, the nostalgic theme will touch their heart but for a newcomer audience, Finding Srimulat is just gonna be a slow pace comedy drama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s