Oblivion

MV5BMTQwMDY0MTA4MF5BMl5BanBnXkFtZTcwNzI3MDgxOQThe Plot
Jack Harper (Tom Cruise) adalah manusia terakhir ‘penjaga’ bumi sebelum ia dan rekannya Vika (Andrea Riseborough) kembali ke Tet.

The Comment
Tom Cruise is just like… stopping get older for the decade! *salah fokus*, but I think people will agree with the fact that Cruise’s look same like his 90s decade’s look at his new movie, Oblivion (2013). Sebetulnya sih, movietard sempat juga menonton film yang dibintangi Cruise tahun 2012 lalu, Jack Reacher (2012) tetapi saking biasanya film tersebut, I just skipped to review it *dan juga karena males sih*. But now, I gave my time to write review on Oblivion. As an introduction, I’m not a fan of Cruise. I watched his movies before since I adore his ex-wife so much and they made some great movie together like Far and Away (1992) and the great sex-love story Eyes Wide Shut (1999) but honestly, I think he’s kind a dull actors. Not really a dull juga ya, tetapi Cruise adalah mega bintang. Pada era keeemasannya di dekade 90-an dimana sistem bintang masih kuat di Hollywood, he’s the guy who have it all. And now, ketika sistem bintang mulai dikalahkan konsep dan visual efek, ketika nama-nama Harrison Ford, Mel Gibson dan Brad Pitt bukan lagi jaminan kesuksesan sebuah film, Cruise mungkin satu-satunya yang masih ‘bertahan’ menjadi bintang.

MV5BMTM4ODgyNDA5N15BMl5BanBnXkFtZTcwNDM4MzczOQ_002And… I admired his struggle for that. Walaupun audiens akan menganggap Oblivion adalah film one man show yang Cruise-Centric, but the fact is, he’s there, played a main character as usual. Untungnya, film terbaru Cruise ini tidak menyebalkan seperti Jack Reacher, walaupun sama-sama memerankan karakter bernama Jack, tetapi Oblivion yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Joseph Kosinski has a good story. Diadaptasi dari novel grafis buatan Konsinski sendiri yang berjudul sama walaupun belum pernah dipublikasikan, Oblivion dibuka dengan narasi Jack bahwa di tahun 2077, syahdan terjadi peperangan dan invasi alien yang membuat bumi tak lagi layak huni. Kaum manusia yang menang harus berpindah ke Titan, tetapi segelintir manusia tetap tinggal di bumi untuk memastikan misi menyedot air sukses dilakukan tanpa gangguan alien-alien. Jack dan Vika salah satunya, dan mereka adalah tim yang efektif baik dalam persoalan profesional dan personal, hingga kemudian, keanehan-keanehan kecil terjadi, seperti ketika Jack merasa tengah ‘dijebak’, pertemuannya dengan manusia lain, Julia (Olga Kurylenko), yang membuat Jack mempertanyakan kembali misinya.

Movietard loves Konsinski’s story, Kosinski sendiri tampaknya memang memiliki ketertarikan besar terhadap dunia sains dan mahluk asing. Fakta bahwa Oblivion adalah ide orisinal Konsinski, menjadikannya sebagai orang yang paling tepat untuk menggarap film ini. Walaupun Kosinski memiliki kebebasan penuh yang bisa membuatnya mengutamakan egoisme dalam menggarap cerita Oblivion, realitasnya, Kosinski masih bermain di ranah yang aman. Jalan cerita Oblivion mudah dicerna dan Kosinski pun tidak ‘sedingin’ Kubrick ketika menggarap 2001: Space Odyssey, dimana ia masih menaruh kebahagian dalam bentuk jalinan kisah cinta dalam cerita Oblivion. Konsinski pun menjadikan karakter Jack sebagai a beloved one, yang masih menyimpan kenangan atas kehidupan lamanya. Ia masih merindukan pertandingan american football, mendengarkan lagu-lagu melalui kepingan disc, bermimpi tentang sosok perempuan yang sama dalam setiap tidurnya, dan kerinduannya akan  alam hijau sebenarnya. Ada side plot manis tetang manusia yang masih merindukan kehidupan lamanya ketika zaman sudah bergerak maju, sisi nostalgia inilah yang menghantarkan Jack pada fakta yang mengejutkan tentang dirinya sendiri.

MV5BMTM2NjQzODU3MF5BMl5BanBnXkFtZTcwNzU4MzczOQ_002Oblivion memang tidak se-masterpiece 2001: Space Odyssey yang penuh dengan nilai konstekstual, justru, Oblivion digarap lebih santai tetapi tetap memiliki jalinan dengan fondasi yang kuat dimana sedikit demi sedikit, misteri dalam Oblivion mulai terkuak. Sama seperti karakter Jack, audiens juga mulai menebak dan mempertanyakan apa yang telah mereka lihat sepanjang film. The only problem that I got was… the duration. Ya, untuk sebuah kisah misteri sains yang santai, durasi Oblivion yang 124 menit membuat audiens ‘terpaksa’ menelan suguhan pertarungan yang terlalu banyak. Sedari awal, audiens telah dimanjakan dengan kecanggihan airbone machine bulat yang menjadi penjaga bumi, dan setelah itu, limpahan adegan pertarungan seperti ketika pesawat jatuh, pertempuran Jack dengan airbone, dan bahkan disaat kita merasa sudah selesai, pertempuran kembali terjadi. Lucunya adalah, di scene akhir yang seharusnya menjadi the biggest fight, adegan ini justru dibuah tidak se-sepektakular yang movietard bayangkan.

Untungnya, Kosinski menutup kelemahan dalam visualisasi pertempuran akhir dengan twist yang bagus, dan hey, sisi nostalgia dihadirkan Kosinski dalam speech Jack ketika mengutip puisi berjudul Horatius karangan Lord Macaulay. Lepas dari sedikit plot holes dimana kebetulan-kebetulan yang terkesan too good to be true dan beberapa pertanyaan lain yang tidak terjawab hingga film selesai, above all, I still love Oblivion‘s story. Dari sisi sinematografi, Konsinski pun mengeksekusi Oblivion dengan baik, penggambaran dunia futuristik bumi di masa depan is quite amazing dengan kehadiran rumah di ketinggian yang lengkap dengan kolam renang tembus pandang, a cool one, no? Belum lagi, kehadiran benda-benda futuristik seperti pesawat, airbone machine dan sepeda motor yang tak kalah keren pun ikut hadir. Ketika benda-benda futuristik ini dipadu dengan kegersangan setting bumi di masa depan, it reminded me a little with Niccol’s work at The Host (2013).

MV5BMzAwMzM5ODc0N15BMl5BanBnXkFtZTcwMDU4MzczOQ_002

Satu-satunya kelemahan dalam Oblivion adalah… as I write above, it’s a Cruise-centric’s movie, yang membuat para aktor pendukung dipinggirkan sepanjang film. Lihat bagaimana begitu biasa-nya penampilan Kurylenko sehingga movietard sempat menganggap ia adalah aktris baru dari Thailand, pun begitu dengan Andrea Riseborough yang sebetulnya bisa memiliki peran lebih besar -dan ia memiliki talenta untuk itu- terpaksa tampil minim, Morgan Freeman pun seolah hanya guest star, dan siapa yang tak curious dengan tokoh pimpinan Sally yang diperankan Melissa Leo yang selalu memandu Jack dan Vika? Kesemua karakter ini terpaksa tampil lebih minim guna memberikan ruang bagi Cruise, sebetulnya tidak masalah bagi movietard jika Cruise mampu memaksimalkannya, tetapi kalau bicara tentang akting, tetap aja Cruise masih terlihat begitu emotionless walaupun sih tetap keliatan super ganteng diusianya yang menginjak setengah abad.

In a conlusion, Oblivion is an entertaining movie. Cerita yang awalnya terdengar begitu heavy-stuff mampu diantarkan Kosinski dengan jalan cerita yang santai, di mana lembaran misteri dalam kisah hidup Jack Harper dihadirkan oleh Kosinski dalam sebuah balutan love story yang manis. Kosinski berhasil menjembatani keinginan para geek pecinta science fiction dengan audiens umum yang ingin mendapatkan hiburan ketika menonton Oblivion. Lepas dari akting emotionless Cruise dan durasi Oblivion yang cukup membuat movietard merasa ‘kebelet’ ke toilet, Oblivion adalah film pembuka musim panas yang tepat dengan banyaknya ledakan dan fight di dalammnya. Tetapi bagi movietard, Oblivion is more than that! I love Kosinski’s work at Oblivion, a great one! Oblivion felt warmer than any science fiction movie before because Kosinski brought the humanity part to this sci-fi story and his directorial is enough good. Sama seperti Andrew Nicoll, Kosinski memiliki visi akan masa depan yang tetap mengusung sisi humanisme didalamnya, membuat nama Kosinski masuk dalam daftar list movietard, I think I’ll watch his next work later.

I can’t shake the feeling, that earth, inspite all that’s happened, earth is still my home [Jack Harper]

Do You Know?
Tom Cruise merayakan ulang tahun ke-50nya *Oh may, he’s that old!* ketika syuting Oblivion, dan sebagai hadiah, Kosinski memberikan Cruise sepeda motor keren yang digunakan di film ini *mupeng*
Peran Julia yang jatuh kepada Kurylenko, sebelumnya diperebutkan oleh Olivia Wilde, Noomi Rapace dan Kate Mara, bahkan si berbakat Jessica Chastain sempat ikut casting tetapi mundur karena mengalami konflik jadwal
Seharusnya, Disney-lah yang memegang produksi Oblivion tetapi prinsip Disney untuk membuat film yang aman untuk semua audiens mengakibatkan skrip Oblivion akan terlalu banyak berubah jika memaksakan rating PG sehingga Disney menyerahkan hak pembuatan Oblivion ke Universal Studio

My Rate
3 stars. Oblivion is an entertaining sci-fi story with enjoyable storyline, wonderful visualizastion and good performance from the actors except the lead actor. Definitely a brilliant job of Kosinski eventho’ a shorter cut would make Oblivion became a perfect one.

All the photos was taken from IMDB

9 thoughts on “Oblivion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s