Cloud Atlas

MV5BMTczMTgxMjc4NF5BMl5BanBnXkFtZTcwNjM5MTA2OA_002The Plot
Ini adalah enam cerita tentang kehidupan manusia yang terbagi dalam kurun waktu enam abad.

The Comment
Setahu movietard *please correct me if I’m wrong*, selain Argo (2012) yang sempat terkatung nasibnya di ruang penyimpanan Cineplex 21, Cloud Atlas (2012) pun bernasib serupa. Well, tampaknya Cineplex 21 menganggap film ini kurang memiliki daya jual, apalagi, durasinya pun sangat tidak setia kawan yaitu 171 menit. Tetapi, untunglah Cineplex masih punya hati *dan pastinya tak mau rugi karena sudah membeli film ini*, setelah molor hampir 3 bulan dari trailer yang ditayangkan akhir tahun lalu, baru pada akhir Maret, Cloud Atlas dilempar ke jaringan bioskop *yay!*. Tetapi sayangnya, Cineplex 21 tampaknya tetap sangat selektif dalam memilih bioskop untuk Cloud Atlas yang membuat kaum proletar seperti movietard pun menjerit ketika mengeluarkan uang untuk harga tiket. Sebetulnya, apa sih yang menjadi trigger movietard untuk menonton Cloud Atlas? The actors! Ya, walaupun movietad buta sekali dengan story plot film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya David Mitchell, tetapi ensemble cast dalam Cloud Atlas seperti Tom Hanks, Halle Berry, Jim Sturgess dan si cute british guy Ben Wishaw yang ikut bergabung di dalamnya membuat movietard bersemangat menonton Cloud Atlas.

MV5BMTY0MDkwODkyMl5BMl5BanBnXkFtZTcwMTM4MTA2OA_002And voila! I got confused at first time karena Cloud Atlas dibuka dengan scenes yang justru menunjukan peak moment dari masing-masing karakter. Sempat sih movietard merasa director Tom Tykwer dan Wachowski bersaudara yang juga menjadi screenwriter film ini berbuat ‘curang’ terhadap audiens karena sudah menunjukkan peak scenes dalam masing-masing cerita. Tetapi toh, kecurangan ini dimaafkan Karena after all, movietard merasa bahwa key point dalam Cloud Atlas bukanlah tentang twist, tetapi bagaimana audiens merangkai semua cerita yang berbeda tersebut guna menemukan pesan yang disodorkan. Story plot Cloud Atlas sendiri sangatlah menarik, mengambil kurun waktu hidup manusia di enam abad yang berbeda, yaitu dari abad ke-18 yang diwakili pengacara muda Adam Ewing (Jim Sturgerss) yang melakukan penyelamatan terhadap seorang budak kulit hitam, abad ke-19 yang diwakili oleh si komposer berbakat Robert Forbisher (Ben Wishaw), abad ke-20 oleh jurnalis perempuan Luisa Rey (Halle Berry) yang mengulik tentang perusahaan nuklir, abad ke-21 diwakili oleh penerbit buku Timothy Cavendish (Jim Broadbent) yang terjerat hutang, abad ke-22 diwakili oleh kloning petugas restoran Sonmi-145 (Doona Bae) yang melarikan diri dari kota Neo Seoul, dan abad ke-23 ketika dunia hampir kiamat diwakili oleh kaum primitif Zachry (Tom Hanks).

Menarik menelaah cerita Cloud Atlas bagi movietard yang masih perawan karena belum membaca novelnya. And believe me, ini tidak gampang karena trio sutradara Cloud Atlas ternyata tidak membagi enam cerita ini dalam bentuk omnibus dimana satu cerita terpisah dengan cerita lain sehingga memudahkan audiens menilai Cloud Atlas sebagai kumpulan dari enam film pendek. Trio sutradara ini justru ‘berjudi’ dengan melebur keenam cerita tersebut menjadi satu kisah utama. Ya, keenam cerita berbeda tone dan masa ini dirangkai, dipotong, dirangkai kembali sehingga membentuk satu plot utama yang akan membuat audiens berguman ‘oh jadi begitu….’ di penghujung cerita.  Sempat bingung sekitar 20 menit pertama, akhirnya, movietard pun mulai mengerti story plot Cloud Atlas walaupun kesemua kisah tersebut berada dalam kontinum waktu yang berbeda. Ada enam karakter utama dalam setiap cerita dan hey, keenam karakter tersebut memiliki tanda lahir berbentuk komet, yang sayangnya tidak dijelaskan artinya apa, entahlah, apakah tanda lahir tersebut menunjukkan bahwa dalam buku takdir Tuhan, mereka memang manusia terpilih? Sepertinya hanya si penulis novel yang mengerti, no?

MV5BMjMzNzgwMDYyOF5BMl5BanBnXkFtZTcwMzI4MTA2OAKembali kepada film Cloud Atlas, asyiknya, peleburan tersebut terasa pas sehingga tidak membuat audiens bosan, and that’s explained why all those peek scenes di adegan pembuka, bahwa setiap manusia baik individu ataupun kelompok akan mengalami satu momen turning point yang biasanya melibatkan hidup dan mati, seperti terkena badai di laut lepas, mobil tertabrak hingga jatuh ke laut, menyaksikan temannya dibunuh secara keji, hingga keberanian diri untuk menarik pelatuk bunuh diri, everyone has their own turning moment either good or bad, but no matter what, it will influence his/her next action and turned out, it will influence the other generation of human’s live too, seperti ketika para karakter di Cloud Atlas ternyata terhubung satu sama lain seperti melalui buku, gubahan lagu, naskah, film hingga video siaran. Yang membuat movietard makin takjub adalah, masing-masing kisah dalam Cloud Atlas mengajukan story plot yang mengusik pemikiran kita. Ya, Cloud Atlas memang sangat ramai berbicara tentang masalah paling krusial di masing-masing abad yang membuat audiens seolah meneropong kembali ke masa lalu dan menelaah masa kini.

Visi Mitchell akan dunia yang ‘suram’ realitasnya mampu dikemas oleh trio sutradara Cloud Atlas, surprisingly, dengan indah. Kritik Micthell terhadap dunia masa lalu dikemas dalam beberapa isu besar, ada isu perbudakan atas kaum kulit hitam dalam cerita Adam Ewing dengan garis batas yang jelas, antagonisnya adalah si kaum kuit putih yang justru selama ini dianggap terhormat. Isu beranjak pada masalah ketenaran dan strata sosial di Inggris yang berisi intrik pembuatan karya seni dan hey, it’s also talk about love story yang sayangnya masih dianggap tabu dimasa itu. Beranjak lagi, isu bergerak ditema yang lebih kapitalistik, yaitu tentang nuklir dan konspirasi perusahaan di dalamnya. Setelah masalah perbudakan, strata sosial dan perang nuklir selesai, seharusnya, dunia masa kini terasa lebih tentram kan? But hey! Cloud Atlas mengajak audiens mentertawakan budaya masyarakat modern saat ini dengan urusan ketenaran sekejap dan budaya individualis manusia modern yang kejam.

MV5BMTY3MDUyMDYxOF5BMl5BanBnXkFtZTcwNzY3MTA2OASetelah menunjukkan dark sides di masa lalu, toh, visi Mictchell tentang masa depan pun tak kalah suram. Ia kembali mengangkat isu perbudakan di masa depan, yang menimpa para para kaum kloningan. Dan Cloud Atlas bergerak lebih liar ketika kisah manusia kloning yang menyuarakan kebebasan ini ternyata menjadi entry point terhadap kisah di abad yang akan datang lagi, tepatnya ketika kehidupan manusia bumi di masa post apocalypse yang terbelah, antara kaum maju dan kaum primitif. Kisah penjajahan baru terhadap manusia kloning dan kisah ketika bumi tak lagi bisa dihuni jelas menunjukkan visi cemerlang Mitchell akan masa depan yang sayangnya justru tampak begitu tak lebih baik dari masa lalu. Tetapi toh, dibalik semua kesuraman visi Mitchell akan dunia, ia masih menyelipkan adanya harapan melalui the most universal thing in the world, love. Ya, ada jalinan cinta dalam Cloud Atlas yang mengisi setiap relung penceritaan kisah. Cloud Atlas jelas berbicara tentang cinta pada sahabat, pacar gay, orang tua, pacar masa lalu, manusia kloningan kepada manusia biasa, hingga cinta manusia yang berbeda starta. Jadi, lepas dari semua kesuraman dunia, love is always be our hope, no?

Jujur, movietard sangat kagum dengan story plot Cloud Atlas. Saking kagum dengan story plot-nya, malamnya, movietard sempat bermimpi menjadi salah satu kaum primitif yang menjadi teman Tom Hanks *malu*. And luckily, Cloud Atlas dibuat oleh Tykwer dan Wachowski bersaudara dengan sangat baik. Ketiga sutradara ini sukses menvisualisasikan Cloud Atlas dengan indah. Mereka pun sukses mengantarkan cerita dengan enam tema berbeda tanpa terasa janggal kepada audiens. Movietard sangat menikmati cita rasa drama, period movie yang cantik, drama komedi masa kini, science fiction, detective story, hingga cerita epos kepahlawanan di dalam Cloud Atlas. Dalam keenam cerita tersebut memang tetap terasa taste masing-masing sutradara dimana visualisasi masa depan ala Wachowski jelas sangatlah keren, sementara Tykwer memberikan gambaran masa lalu yang tak kalah indah. It proved one thing, perbedaan indah dan bisa selaras selama kita melakukannya based on love. Satu-satunya kekurangan Cloud Atlas bagi movietard adalah, penggunaan ensemble cast yang menjadi ‘maksa’ dibeberapa bagian, seperti bagaimana ketika Hugh Grant dan Jim Sturgess dipaksa menjadi chinese people, it made me have a little laugh, since it feel a lil bit maksa ya.

MV5BMTYwMzEwOTE0NV5BMl5BanBnXkFtZTcwMjI4MTA2OA_002Tetapi, lepas dari masalah tersebut, ensemble cast dalam Cloud Atlas jelas tetap bermain sesuai dengan porsinya, Tom Hanks as always, is amazing, Halle Berry dan Jim Broadbent pun bermain tak kalah cantik. Walaupun bagi movietard, yang mencuri perhatian memang si gemulai Ben Wishaw. Movietard pikir, Wishaw adalah bukti sahih the next generation of British actor yang sangat bertalenta. Above all, I love Cloud Atlas, and it’s another reminder why I fall in love with movie itself. Selain ceritanya yang bagus dan intriguing walaupun tentunya, bukan cerita yang umum untuk dinikmati oleh audiens umum mengingat kompleksitas yang ada didalamnya, tetapi menurut movietard, people need to see this kind of story because it will teach us about believe, love and humanity, the most simple thing in this world. If you have a time and wanna see a great movie with ‘different’ story about life? You could try Cloud Atlas, a very recommended one!

Our lives are not our own. From womb to tomb, we are bound to others. Past and present. And by each crime and every kindness, we birth our future [Sonmi-145]

Do You Know?
Cloud Atlas dibuat dengan dua unit kru produksi yang berbeda sama sekali, satu dibawah penyutaradaan Tykwer yang menyutradarai kisah di abad 19, 20 dan 21, sementara Wachowski bersaudara menyutradarai part di abad ke-18, 22 dan 23
Wachowski mengenal novel Cloud Atlas karena Natalie Portman yang memberikannya kepada Lana (dahulu Larry) pada tahun 2005 di setting film V for Vendetta. Wachowski tertarik dengan novel ini dan membuat draft skrip pertamanya pada tahun 2006
Cloud Atlas adalah film independen yang tidak didanai oleh perusahaan film besar, tetapi budget untuk membuatnya dalah sekita $ 100 juta dolar, yang membuatnya sebagai film independen dengan budget terbesar

My Rate
4 stars. Cloud Atlas isn’t everyone’s movie since the story plot is too complex and intriguing. But I love it. It’s great to see another un-filmable novel be at big screen, definitely a movie that I’ll watch again at another time. A wonderful one!

All the photos was taken from IMDB

3 thoughts on “Cloud Atlas

  1. Ah i’m in love with this movie, and not just because i’m biased for the frobisher/sixsmith arc😄 cavendish is my ultimate favorite!

    Setuju banget ini film sebenernya bagus, tapi jarang orang yang bisa apresiatif, ambisius banget sih soalnya kalo baca novelnya itu ngga kebayang sama sekali gimana adaptasinya😀 but i think the wachowskis and tykwer did a good job!

    ps: boleh tukeran link? mine is at http://karamelkinema.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s