Lincoln

MV5BMTQzNzczMDUyNV5BMl5BanBnXkFtZTcwNjM2ODEzOAThe Plot
Ini kisah hidup presiden Amerika Serikat ke-16 yang berhasil menghapus perbudakan di Amerika pada abad ke-19, Abraham Lincoln (Daniel Day-Lewis).

The Comment
Rasanya movietard pernah menulis bahwa salah satu genre film kesukaan movietard adalah biopic movie seperti The Aviator, Gandhi, Milk dan Howl. Movietard sangat suka melihat bagaimana tokoh-tokoh terkenal ditransformasikan dalam pita seluloid, membuat audiens memahami lebih dekat para tokoh ini lengkap dengan kelebihan dan kekurangan mereka. Tetapi, jika tokoh yang diangkat adalah seorang presiden Amerika, dimana filmnya pun bercerita tentang kebijakan politisnya dan berdurasi 180 menit? Errrrr… tampaknya movietard agak takut juga. Apalagi, review singkat di lini masa dari moviegoers yang sudah menonton Lincoln (2012) mengatakan, mereka cukup bosan ketika menonton Lincoln. Jujur, movietard sempat agak takut tertidur di dalam bioskop kerena menontonnya sendirian pada jam pemutaran hampir lewat jam delapan malam. Tetapi, Lincoln meraih 12 nominasi dalam Academy Award ke-85 dimana salah satunya adalah best picture sehingga begitu sayang jika dilewatkan and Thank God! I made the right decision to watch it at big screen *dancing*
MV5BMjg5NDg3MDczNF5BMl5BanBnXkFtZTcwNzIyMzQ3OA_002Skrip yang diolah Tony Kushner -yang sudah bekerja sama dengan Spielberg dalam membua naskah Munich-, Kushner langsung mengajak audiens menyoroti fase terpenting dalam hidup bapak presiden ini. Tanpa perlu ber-flashback ke masa kecil Lincoln dimana ia ‘bertarung’ dengan kemiskinan, Lincoln langsung berfokus pada momen ketika Lincoln terpilih pada masa pemerintahan kedua di tahun 1864. Lincoln sendiri sudah gerah dengan perang saudara antara south dan north terkait dengan perbudakan yang memakan banyak korban jiwa. Menurut pandangan visioner Lincoln dibandingkan rekan-rekan politisi yang hanya menginginkan perdamaian, Lincoln berkeras bahwa yang dapat menyelamatkan Amerika dari perang saudara berkepanjangan adalah persamaan hak antara kulit putih dan kulih hitam, yang selama ini menjadi budak masyakarat kulit putih. Bosan? Tunggu dulu, Lincoln realitasnya mengajak kita melihat lebih dalam usaha para bawahan Lincoln yang melakukan lobi-lobi kepada anggota dewan, yang bahkan, menyebrang ke anggota dewan dari partai yang ideologi berbeda demi memuluskan keinginan Lincoln untuk pembuatan amandemen ke-13 tentang persamaan hak ini.

Lincoln sebetulnya bisa terjebak menjadi talking movie yang begitu membosankan kalau saja, story plot Kushner berfokus pada pribadi Lincoln sendiri yang memang tampil cukup creepy seperti hantu dan seringkali bercerita panjang lebar dengan nada pelan menceritakan joke-joke yang tidak dimengerti movietard *my bad!*. Untungnya, Kushner memberikan ruang gerak yang cukup kepada orang-orang disekeliling Lincoln untuk tampil emosional seperti sang istri, dua anak lelakinya, secretary of state hingga para anggota dewan internal dan eksternal untuk tampil ‘melawan’ Lincoln. Hasilnya adalah, sebuah film yang berisi pertarungan antara Lincoln dengan sang istri mengatasi kesedihan atas kehilangan putra mereka yang justru terasa begitu pilu, kelembutannya ketika menghadapi si bungsu Tad, kekakuannya menghadapi si putra sulung, Bobby, kekerasannya ketika Lincoln ditegur bawahannya karena ia dianggap melakukan kontrak politik tanpa sepengetahuan Secretary of State.
MV5BMTgzOTY4MjQzM15BMl5BanBnXkFtZTcwMDMyMzQ3OA_002Ditengah banyaknya dialog-dialog panjang yang cukup membuat otak movietard panas dalam Lincoln, Kushner cukup fasih menerjemahkan cuplikan penting sejarah Amerika ini dengan menarik di beberapa bagian. My favorite scene adalah ketika audiens dibuat ikut berdebar menanti hasil voting, melihat bagaimana para anggota dewan dari partai Republik dan Demokrat memberikan suara mereka. Audiens akan ikut tersenyum ketika mendengar kata setuju dan ikut cemberut ketika mendengar penolakan anggota dewan. It feel like we became part of the House of Representative’s audiences, no? Dengan jalan cerita yang cukup serius which isn’t categorized as a fun entertaining movie, ada dua hal yang membuat Lincoln tetap menarik untuk ditonton. Pertama, bagaimana dalam setiap pertarungan itu, Day-Lewis memiliki ‘magic touch’ yang membuat audiens tetap lekat untuk menyaksikan gerak-geriknya bahkan ketika Lincoln hanya tengah diam mendengarkan orang lain berbicara. As I wrote before, alih-alih tampak mempesona seperti Clooney, penampilan fisik Day-Lewis begitu creepy dengan wajah begitu tirus sebetulnya tidak enak dipandang, but as always, he nailed the character dimana Lincoln kembali menghantarkan sang aktor mendapatkan piala Best Actor di Academy Awards ke-85.

Yang kedua dan lebih merupakan ketertarikan personal, movietard suka sekali dengan penekanan Kushner terhadap peran para lobbyist dalam Lincoln yang cukup dominan, dimana Lincoln pun juga mengakui peran penting mereka. Ya, Kushner tidak membuat Lincoln tampil sangat lurus. Ia memang seorang presiden yang visioner, pun tetapi, dalam memimpin suatu negara yang memiliki begitu banyak kepentingan partai, he still needs to make smart deals and moves, and it consist with lobby-things with all the politicians. Suka atau tidak, para lobbyist tak akan pernah mati, hingga detik review ini dibuat, praktek lobi antara pemerintah dengan dewan merupakan bagian dari struktur sistemik dalam pemerintahan. Mostly, praktek lobi sesungguhnya merugikan masyarakat karena lebih condong mementingkan golongan dan sedikit sekali yang bisa dihitung dengan jari dengan mengatasnamakan kepentingan hakiki masyarakat, seperti yang terjadi dalam Lincoln, ya Lincoln seharusnya ditonton para regulator pemerintahan era modern ini guna ‘menyentil’ mereka untuk dapat membuat praktek lobi yang tepat guna menghasilkan kebijakan yang positif.

MV5BMjE3MDI1NDY4NV5BMl5BanBnXkFtZTcwMzMyMzQ3OADibesut oleh salah satu director paling mumpuni di Hollywood, Steven Spielberg, in my opinion, Lincoln tetap tidak terasa se’wah’ karya Spielberg sebelumnya seperti Saving Private Ryan (1998) yang memiliki opening scene yang begitu ikonik. Spielberg justru membawa Lincoln dalam tone warna yang suram dimana abad ke-19 di Amerika tampil tanpa semangat berarti dikarenakan masyarakatnya pun sudah lelah dengan peperangan. Apalagi, Lincoln -dalam ukuran karya Spielberg- tampil dalam pace yang datar tanpa spectacleship berlebih untuk adegan peperangan yang biasanya cenderung dimaksimalkan oleh Spielberg. Spielberg tampaknya lebih ingin menonjolkan karakterisasi dan personalitas Lincoln dibanding membalut karakter Lincoln dalam konflik yang besar. Pemilihan style yang sebetulnya agak berani mengingat durasi Lincoln yang panjang dapat membuat audiens bosan. Luckily, performa hebat Day-Lewis mampu membuat movietard tidak bosan untuk tetap menikmati rekam jejak dalam Lincoln. Kalau bukan Day-Lewis, rasanya movietard sudah jatuh tertidur pada pertengahan film.

In a conclusion, Lincoln adalah sebuah biopic movie yang dieksekusi baik walaupun tidak seeksplosif karya-karya Spielberg sebelumnya. Mengharukannya, dari segi penceritaan, Lincoln secara karakterisasi pun tampil tak sempurna dimana audiends dapat melihat sisi kerapuhan Lincoln dalam interaksi personal dengan keluarganya sementara di sisi lain, ia selalu berusaha tampil ‘kuat’ didepan publik. Lincoln pun realitasnya memenuhi peran sebagai medium of learning dimana film ini mampu merekam kisah historis salah satu presiden paling berpengaruh di Amerika Serikat dengan kebijakan politisnya yang mengubah Amerika Serikat kedepannya, for good. Dan ketika movietard pernah menulis bahwa Day-Lewis berakting sebagai Lincoln mungkin lebih hebat daripada akting Lincoln sendiri, I think it’s totally worth it and voila! Lincoln akhirnya bisa bersanding dengan biopic movies favorit movietard lainnya.

Buzzard’s guts, man! I am the President of the United States of America! Clothed in immense power! You will procure me these votes [Abraham Lincoln]

Do You Know?
Spielberg menginginkan Day-Lewis sebagai pemeran Lincoln. Dengan halus, Day-Lewis menolaknya melalui sebuah surat yang cute, mengatakan bahwa ia tak tahu apakah bisa memainkan karakter yang seikonik Lincoln. Pilihan kedua Spielberg jatuh kepada Liam Neeson, tetapi Neeson juga menolak. Luckily, Di Caprio membantu Spielberg menyakinkan Day-Lewis untuk mengambil peran Lincoln
Spielberg menghabiskan waktu selama 12 tahun penelitian untuk membuat Lincoln, seperti salah satunya dengan membuat kembali Kantor eksekutif Lincoln dengan wallpaper dan buku-buku yang sama seperti yang dimiliki Lincoln, a hell job, no?
Kemenangan Day-Lewis sebagai best actor di Oscar ke-85 kemarin melalui Lincoln menjadikannya ia sebagai aktor pertama yang memenangkan penghargaan Oscar di kategori akting dibawah arahan Spielberg sebagai sutradara

My Rate
3,5 stars. Lincoln is an important piece of Lincoln’s 13th amandement’s moment. Not like an usual Spielberg’s movie which full of big spectacleship, Lincoln is a flat one by its storyline and could make me bored. But luckily, Day-Lewis’s superb performance made this a very movie worth to watch

2 thoughts on “Lincoln

    • Believe it or not, aku malah ngantuk pas nonton Argo sementara pas Lincoln justru melek total. Personal taste kali ya. but… I think you need to finish Lincoln, worth it kok😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s