Argo

MV5BMTc3MjI0MjM0NF5BMl5BanBnXkFtZTcwMTYxMTQ1OA@@._V1._SX640_SY947_The Plot
Ini cerita tentang pembebasan 6 orang US citizen di Iran yang dilakukan oleh agen CIA, Tony Mendez (Ben Affleck)

The Comment
Argo (2012) is finally released in Indonesia! Ya, setelah sempat terkatung-katung nasibnya paska masuk lembaga sensor, padahal, trailer Argo sendiri sempat muncul di layar besar, akhirnya Argo benar-benar diputar di bioskop Indonesia *terharu*. And Thank God! I never touch the movie-file before walaupun movietard sudah ingin sekali menonton Argo dan bahkan telah meminta file Argo (dan film-film nominasi best pictures lainnya) dari sesama rekan moviegoers, Natanael *still, thanks to you, Nael!* tetapi waktu yang minim membuat movietard belum sempat menontonnya. Well, setelah mendapat info dari lini masa bahwa Argo akhirnya masuk ke jaringan bioskop, pada hari pertama pemutaran Argo, movietard langsung menuju ke bioskop untuk melihat langsung film yang menjadi best picture di Academy Awards ke-85 tahun, is it totally worth to get an academy, or just because the jury felt guilty with Afflek who didn’t make it to became part of best director’s nominee? *kidding*

MV5BMjEyODc0NjE2M15BMl5BanBnXkFtZTcwNjYzOTI1OA@@._V1._SX640_SY450_Argo memuat satu catatan sejarah pemerintahan di Timur Tengah yang diadaptasi dari buku mantan agen CIA, Tony Mendez berjudul The Master of Disguise dan artikel majalah Wired berjudul The Great Escape yang ditulis Joshuah Bearman. Kejadian ini kebetulan tak asing karena movietard pernah membuat essai tentang Revolusi Islam Iran oleh Ayatullah Khomeini yang menggulingkan pemerintahan monarki Iran. Nah, dimasa awal kepemimpinan Khomeini yang ‘mengutuk’ imperialisme Barat inilah kisah Argo terjadi. Syahdan di tahun 1979 (revolusi ini sendiri sudah dimulai pada tahun 1978 dan tercatat sebagai revolusi pertama di negara Islam), kedutaan besar Amerika Serikat di Iran diserbu oleh masyarakat Iran, akibatnya puluhan korps diplomatik menjadi sandera, tetapi 6 (enam) orang staf kedubes berhasil menyelamatkan diri dengan berlindung di rumah Duta Besar Kanada. Di Washington, berita pelarian ini terdengar, yang mebuat gedung putih meminta bantuan CIA melalui ahli exfile mereka, Tony Mendez (Ben Affleck on his scruffy and a lil bit fat’s look), dan alih-alih membuat aksi penjemputan yang ‘wah’, rencana Tony sederhana saja, 6 orang tersebut akan keluar dari Iran sebagai kru film science fiction –yang tentu saja palsu- berjudul ‘Argo’.

Merujuk pada catatan sejarah, jelas, Argo hadir bukan sebagai film dengan twist ending, karena toh, kita semua sudah tahu bagaimana kisah ini akan berakhir. Tetapi jangan takut bosan! Scriptwriter Chris Terrio bekerja sangat baik dalam membuat audiens tetap terpaku di layar selama 120  menit  untuk menikmati drama pembebasan ini. Ketika Zero Dark Thirty mengajak kita melihat karakter heroine Maya tumbuh dewasa di layar, skrip Terrio bermain dalam zona yang berbeda, alih-alih penguatan pada karakter si hero Tony, Argo justru menjadi sebuah film yang jauh lebih menghibur walaupun dari segi aksi, Argo is still lack of action. Ya, setelah disibukkan dengan huru hara penyanderaan yang sempat membuat movietard ‘pusing’, Affleck mengajak audiens ‘bersenang-senang’ mengunjungi dan mentertawakan kebohongan besar ala Hollywood yang pasti sudah menjadi makanan Affleck in his real life *papan nama yang sudah setengah rontok itu is a won!*. Dan lalu, Affleck mengajak audiens kembali ke chaos, membuat audiens seolah ikut merasakan ketegangan seperti ketika para US Citizen ini berhadapan dengan para demonstran ataupun ketika terlibat keributan di pasar.

MV5BMTQyODU2NDQ0NF5BMl5BanBnXkFtZTcwMzQxMTQ1OA@@._V1._SX640_SY427_In my opinion, secara sinematografi, pencapaian yang dilakukan Affleck sebetulnya biasa saja. Di awal, movietard justru merasakan Argo is a lil bit Bourne-trilogy lookalike terutama dengan kamera yang bergerak kasar, apalagi, Affleck pun enggan memotret eksotisme Iran. Justru, yang ia sajikan adalah chaos ditengah kota yang penuh dengan amarah penduduk, membuat  audiens merasa sesak dan pusing. Tetapi, lepas dari hal itu, movietard menghargai kerja keras Affleck dalam menyajikan setting akhir dekade 70-an, realisme setting baik itu melalui landscape di Iran maupun di Amerika, kostum hingga penggunaan footage news asli membuat Argo tampil otentik dari segi setting. Menonton Argo seperti menonton Tinker Tailor Soldier Spy yang mengembalikan peran agen-agen federal keposisi asli mereka sebagai ahli siasat dibandingkan tampil cool dengan gadget canggih. Apalagi, sebelum credit title bergulir, terdapat penyandingan dokumentasi asli dengan scene-scene Argo, membuat audiens paham akan kerja keras Affleck yang membuat Argo tampil serupa dengan foto dokumentasi pada masa revolusi tersebut.

Dari segi cast, walaupun Affleck memainkan main character disini, sesungguhnya, karakter Tony ‘tertutup’ oleh jalan cerita Argo. Ya, audiens tahu bahwa kehidupan personal Tony kurang beres, bagaimana ia begitu menyayangi anak lelakinya, bagaimana ia tetap berdedikasi pada pekerjaannya, yang tentunya akan membuat audiens memihak Tony sebagai protagonis sejati. Tetapi, entah kenapa movietard merasa Affleck tampil biasa saja, ah mungkin karena sekali lagi, film ini tidak berfokus pada karakterisasi melainkan lebih ke alur sehingga kompleksitas Tony tidak tergambar dengan baik. Untungnya, Argo di-backup oleh supporting casts yang bermain baik, dari mulai 6 orang staf kedubes, dua teman Tony di Hollywood hingga rekan Tony di CIA. Para supporting casts ini mampu menyajikan konflik internal didalamnya, kehadiran ‘pembangkang’ dalam kelompok, kecurigaan terhadap sang pembantu, kesemua prejudice akan karakter manusia hadir dalam Argo, membuat  Argo tampil lebih kaya dan mampu menutupi akting Affleck yang datar sebagai Mendez.

MV5BNDkwNjg2NjgwOF5BMl5BanBnXkFtZTcwOTE0NjYxOA@@._V1._SX640_SY427_Kekuatan terbesar Argo sebetulnya terletak pada story plot yang terjalin rapi. Walaupun tentu, kita semua tahu dramatisasi ditambahkan didalamnya guna membuat kisah ini menjadi lebih seru daripada operasi aslinya. Lepas dari kurang otentik-nya story plot Argo, toh Argo sendiri bukanlah film dokumenter, sehingga Affleck tak harus keukeuh mengikuti jalan cerita aslinya, realitasnya, Argo sukses membuat audiens gemas setengah mati melalui kejutan dan ketegangan yang hadir dengan timing yang begitu pas. Apalagi, dialog-dialog dalam Argo pun tampil begitu cerdas. Dibeberapa bagian, seperti pada perjalanan Mendez ke Hollywood dan bertemu dengan si make up artist, Chambers, Chambers berhasil membawa kelucuan dan kesegaran melalui dialognya dam di dalam central office CIA, kesegaran pun ikut hadir di dalamnya. Anyway, Movietard pun sempat merinding dengan narasi perempuan diawal film yang terdengar begitu dingin. In a conslusion, kerapihan alur cerita dan script yang cerdas jelas menjadi satu kunci utama kesuksesan Argo.

Above all, Argo adalah sebuah perayaan, audiens konservatif bisa saja menganggap Argo –lagi-lagi- sebagai salah satu bentuk hegemoni kedigdayaan Amerika dan kembali membingkai kaum muslim sebagai ‘penjahat’. Tetapi hey, mari kita kesampingkan sisi politis itu *eh tapi George Clooney producer-nya, Clooney sendiri kan politic literate banget dan Affleck sendiri adalah pendukung keras partai Demokrat *. Ya, mari lupakan sisi politis tersebut dan murni melihat Argo sebagai karya seni. In my opinion, Argo adalah perayaan bagaimana Affleck yang dahulu terkenal sebagai wonder kid bersama dengan Damon, tumbuh sebagai aktor film blockbuster, hidup dalam spotlight media terkait hubungannya dengan Lopez, masuk rehab karena alcoholism realitasnya berhasil bertahan dan tampil hebat dengan peran dibelakang layar. Dan toh, ia tak perlu jauh-pergi jauh-jauh ke Boston kembali untuk mendapat pengakuan dari Hollywood, dengan hanya ‘kembali’ ke dunia yang membesarkannya, yaitu film, bahkan hanya melalui film ‘palsu’ he finally did it! Ya, Argo adalah sebuah perayaan bagi Affleck, bahwa mimpi-mimpi seliar apapun selalu bisa diwujudkan di Hollywood asalkan we did it based on love, Argo, fuck yourself!

You’re worried about the Ayatollah? Try the WGA [Lester Siegel]

Do You Know?
Guna menambah nilai keotentikan, news footage yang digunakan dalam Argo asli dari news footage kepunyaan ABC, CBS dan NBC. Tak lupa, lagu-lagu dari band yang berjaya didekade 70-an pun ikut diputar seperti Van Halen, The Rolling Stone, Led Zeppelin.
Argo banyak menerima protes dari pemerintahan Kanada, UK hingga New Zealand karena dianggap meminimalisir peran mereka dalam proses pembebasan tersebut, Affleck sendiri menjelaskan Argo ‘memang berdasarkan pada kisah nyata, tapi bukan sepenuhnya kisah nyata itu sendiri’
Judul film ini diambil dari judul film palsu yang ceritanya diproduksi oleh perusahaan film Kanada. Tetapi, sesungguhnya Argo berasal dari mitologi yunani yaitu nama untuk kapal yang digunakan Jason dan kaum Argonauts untuk berlayar mendapatkan golden fleece.

My Rate
4 Stars. Even though Argo isn’t very visually stunning and historically inaccurate, the very well made story-plot and smart-witty dialogues win! And how Affleck combined escaping drama with the things that he loves, movie, is very fun to watch.

All the photo was taken from IMDB

3 thoughts on “Argo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s