The Grandmaster

14164596273633708791The Plot
Ini biografi Wing Chung/Ip Man (Tony Leung) seorang ahli beladiri China.

The Comment
Kalau melihat dari poster dan premis ceritanya, The Grandmaster (2013) tampak seperti film klasik China yang megah. Tidak salah memang, ini memang biografi seorang tokoh beladiri legendaris di China.Tetapi, yang membuat movietard tertarik meluangkan waktu menonton seorang diri karena tak yakin teman-teman akan mau menonton film berbahasa mandarin ini adalah nama besar aktor dan sutaradara The Grandmaster, yaitu Tony Leung dan Wong Kar Wai. Movietard sendiri suka dengan karya-karya Wong pada periode 90-an yang selama ini hanya bisa ditonton melalu cakram dvd pinjaman dari rental atau melalui file yang diunduh ilegal *my sin!* seperti As Tears Go By, Days of Being Wild, dan favorit movietard, Happy Together. In my opinion, Wong sukses menyajikan cerita kehidupan cinta anak manusia yang biasanya berakhir dengan tidak bahagia disetiap film-filmnya *ketawa pahit*. Jadi, ketika menemukan The Grandmaster terselip hadir di bioskop nasional diantara film-film ‘besar’, movietard langsung menuju ke bioskop terdekat dari kantor since it’s my first experience of watching Wong’s movie at big screen *hooray*.

tony-leung-2The Grandmaster dibuka dengan indah melalui adegan pertarungan Wing Chung dengan sekelompok orang di tengah hujan yang diiringi narasi si karakter utama. Story plot film ini pun realitasnya juga dibuat Wong. Melalui alur maju mundur dan mengambil kisah pada dekade 1930-an, Wing Chung mengajak audiens memahami kehidupannya. Ia yang belajar bela diri sejak kecil, menikah dengan perempuan cantik pengemar opera yang pendiam, Cheung Wing-sing (Song Hye Kyo) *yang tampak cantik sekali walaupun perannya minim*, pertarungannya dengan guru beladiri dari Utara, pertemuannya dengan anak sang guru, Gong Er (Zhang Ziyi), dimana kita tahu bahwa keduanya mengalami ketertarikan seksual, invasi Jepang ke China yang membuat para anggota perkumpulan bela diri jatuh miskin termasuk Wing Chung yang selama ini hidup berkecukupan, kematian anak-anaknya akibat kelaparan, kepindahan Wing Chung dari Foshan ke Hongkong dan meninggalkan istrinya, pertemuannya kembali dengan Gong Er di Hongkong dan berakhir pada akhir kisah Wing Chung.

Merujuk pada story plot-nya, The Grandmaster tampaknya akan menjadi film beladiri yangs seru dengan menyajikan banyak pertempuran megah. Realitasnya, The Grandmaster tetaplah mengusung Wong-formulaic. Ya, alih-alih menyajikan suatu film aksi-biografi yang membungkus tokoh Wing Chung tampil sebagai sosok tangguh, Wong justru memotret Wing Chung sebagai ahli beladiri yang lembut dan kalem. Melalui shoot-shoot indah seperti ketika karakter Wing Chung mengintip dari balik kelambu hadir dengan cantik. Close up shoot guna menegaskan kedetailan pun hadir, lihat bagaimana Wong ‘mengagumi’ kecantikan Wing-Sing dengan memilih close up shoot ditengah pancaran cahaya lampu minyak atau lilin. Bahkan, pertarungan Wing Chung dengan Gong Er pun disajikan dengan slow motion, dan di antara anak tanggak kayu yang berderit, Wong justru menyajikan pertarungan yang penuh sexual tension. Wong tampaknya memiliki penggambarannya sendiri akan si ahli bela diri versinya, dan audiens disajikan karakter Wing Chung yang tampil justru sangat mendayu melalui ekspresi Leung yang memang sangat sendu sepanjang film.

song-hye-kyo-4Kesempurnaan dalam menyajikan gambar yang indah secara sinematografi sepertinya membuat Wong lupa pada story plot The Grandmaster sendiri. Untuk pertama kalinya, movietard merasa ada cacat dalam film Wong. Bukan pada masalah di alur yang lambat -Wong memang suka dengan slow pace– tetapi, jalinan kisah yang maju mundur dan dibagi dalam beberapa bab dengan judul kecil membuat The Grandmaster seolah terbata-bata karena banyak karakter dan rentetan kisah yang tak dapat disampaikan karena keterbatasan waktu screen time walaupun durasi The Grandmaster sendiri sebetulnya sudah cukup lama, yaitu 130 menit. Ibaratnya, film ini hanya menjadi guidance dimana ketika menonton, anda harus membawa buku otobiografi Wing Chung karena audiens minimal sudah kenal dengan tokonh Wing Chung. Bagi movietard yang ‘perawan’ dengan karakter Ip Man, jelas, menonton The Grandmaster menjadi semacam ujian otak sendiri karena tiba-tiba seringkali menjadi bingung ‘Eh anaknya kapan meninggal?’ atau ‘Itu siapa ya tiba-tiba dikejar tentara?’.

Pun movietard sempat bertanya-tanya, jika Zhang Zimou yang menyutradarai The Grandmaster, apakah hasilnya akan berbeda. Zimou sendiri lebih cekatan dan berpengalaman membesut classic chinese movie seperti ketika ia membesut Hero, yang tampil begitu indah, penuh dengan nilai kontekstual dan pertempuran pedang yang berani, tetapi juga kuat dalam segi penceritaan. In my poinion, Wong memang tampil lebih cekatan membesut kisah personal manusia dengan setting masa kini yang sesuai dengan gaya ‘moody’ Wong dibanding memaksakan diri membesut film klasik tentang pembesar bela diri ini. Dari segi cast, Leung yang biasanya tampil superb, entah kenapa, tidak bisa melebur menjadi Wing Chung. Kita hanya melihat Wing Chung yang lembut dan terperangkap pada kasih tak sampai kepada Gong Er *adegan pemberian kancing maupun rambut yang dibakar itu… romantis in its own way*, ya, charisma Leung sebagai Wing Chung si ahli bela diri tak keluar, walhasil ia gagal membuat audiens percaya bahwa ialah salah satu guru besar bela diri yang disegani. Tetapi, walaupun Leung gagal memberikan penampilan terbaiknya, Zhang Ziyi bermain cantik sebagai Gong Er, ia tampil kuat tetapi dari pandangan matanya, kita tahu bahwa ia mendambakan cinta Wing Chung.

grandmasterIn a conlusion, The Grandmaster bukanlah film buruk tetapi selama 130 menit, jujur, movietard cukup bosan ketika menontonnya. Oh plus, subtitle Indonesia yang buruk membuat movietard agak bingung ketika menontonnya. Lepas dari kekurangan tersebut, movietard menghargai usaha Wong yang tengah keluar dari comfort zone-nya dengan menyajikan cerita epik dengan hasil yang indah secara sinematografi. Ya, cuma Wong yang mampu membuat adegan kebakaran dan acara kematian tampil beautifully captured. Sayangnya, Wong lupa bahwa dalam film biografi seperti The Grandmaster, Wong seharusnya menyajikan highlight terpenting dalam kehidupan si tokoh, bukan memaksakan diri untuk memuat semuanya karena justru akan membuat audiens bingung dengan banyaknya hal yang ingin diceritakan. Sinematografi yang indah realitasnya tidak menyelamatkan The Grandmaster dari kelemahan plot dan karakterisasi. Mungkin lebih baik jika seandainya Wong mengajak Leung kembali memerankan karakter Lai dan melanjutkan sekuel dari Happy Together karena movietard termasuk salah satu audiens yang mengharapkan Lai bertemu kembali dengan Chang daripada membuat Leung memerankan karakter Wing Chung dengan setengah hati.

‘Kung fu – two words – one horizontal, one vertical. If you’re wrong, you’ll be left lying down. If you’re right, you’re left standing. And only the ones who are standing have the right to talk’ [Wing Chung]

Do You Know?
The Grandmaster dibuat Wong Kar Wai selama 5 (lima) tahun, lamanya proses produksi bahkan memembuat kisah Ip Man sudah dibuatkan versi film lainnya terlebih dahulu melalui Ip Man (2008)
Untuk perannya sebagai ahli bela diri Wing Chung dalam The Grandmaster, Tony Leung berlatih 4 jam sehari selama satu tahun.
Rumor menyebutkan bahwa Song Hye Kyo kecewa dengan final editing The Grandmaster dari durasi awal dari 4 jam menjadi 130 menit, yang membuat perannya semakin diminimalisir.

My Rate
2,5 stars. The bio-drama story about a master of chinese martial arts was totally beautifully captured by Wong Kar Wai. Sadly, the story plot wasn’t as great as the cinematography itself eventho’ I love the sexual tension between Wing Chung and Gong Er.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s