Silver Linings Playbook

MV5BMTM2MTI5NzA3MF5BMl5BanBnXkFtZTcwODExNTc0OA

The Plot
Ini cerita cinta Patrizio ‘Pat’ Solitano Jr (Bradley Cooper) dengan Tiffany Maxwell (Jennifer Lawrence)

The Comment
Silver Linings Playbook (2012) menjadi salah satu ‘must list’ dalam daftar film yang harus ditonton movietard. Alasannya? Film ini menerima nominasi Best Picture di Academy Award ke-85 lalu dan 7 nominasi lainnya. Seolah tak cukup hanya dinominasikan saja, Jennifer Lawrence bahkan memenangkan oscar pertamanya untuk kategori best performance by actress in leading role lewat film ini. Sebetulnya tentang apa sih SLP sehingga mampu memikat para juri Oscar yang konservatif? Faktanya, SLP toh tidak mengulik tentang dunia perpolitikan, perang dan terorisme, sejarah ataupun dunia masa depan. Film ini -layaknya Beasts at the Southern Wild– merupakan film dengan model character driven-movie yang mengandalkan kekuatan akting para aktornya guna membungkus SLP sebagai sebuah kisah romantik komedi yang ‘cantik’. Romantik Komedi? Jika anda membayangkan Lawrence memenangkan oscar dengan peran seperti yang seringkali dimainkan Jennifer Anniston ataupun Katherine Heigl, buang pikiran itu jauh-jauh, karena SLP bukanlah kisah romantik komedi biasa.

MV5BMjIwMjg2NDYyNF5BMl5BanBnXkFtZTcwMzA2MDY2OA_002David O. Russell yang duduk di kursi sutradara sekaligus menulis skrip film ini yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Matthew Quick ini menyoroti kisah cinta Pat dan Tiffany yang cantik in its own way. Kalau dilihat dari poster SLP, film ini memang menyajikan dua karakter utama yang good looking melalui Cooper dan Lawrence. Dan toh, audiens telah paham tentang pakem klasik untuk film romantik komedi. Kita sudah tahu bahwa pada awalnya kedua karakter utama akan saling benci, tetapi situasi memaksa mereka berinteraksi satu sama lain, dan setelah itu, mereka pun menyadari bahwa mereka jatuh cinta, yang selanjutnya melahirkan kisah penutup, apakah cinta mereka akan langgeng ataukah justru berakhir. Ya, kisah SLP hanya berkisar pada interaksi karakter Pat dan Tiffany. Mereka bertemu pada suatu acara dinner yang digagas oleh teman Pat yang istrinya tak lain adalah kakak Tiffany, Tiffany seringkali ‘bertemu’ Pat ketika berlari di komplek perumahannya, dan tentunya, ketika Pat dan Tiffany bersimbiosis dimana Pat akan menjadi rekan dansa Tifany asalkan Tiffany mau memberikan surat Pat kepada istri Pat.

Sesederhana itu? Bukankah kita sudah disuguhi jalan cerita tentang bagaimana dua anak manusia yang ditakdirkan bersatu walaupun sebelumnya dipenuhi dengan masalah oleh Meg Ryan dan Tom Hanks, oleh Sandra Bullock dan Hugh Grant? Oleh Katherine Heigl dan James Marsden? But hey, as I wrote before, SLP tampil cantik dan berbeda dari kebanyakan romantik komedi khas Hollywood. Dengan karakterisasi si karakter utama lelaki adalah penderita bypolar disorder dengan emosi yang tidak stabil dan baru keluar dari rumah sakit jiwa karena hampir membunuh orang, sementara karakter utama perempuan adalah eks karyawati yang dipecat karena tidur dengan terlalu banyak coworkers setelah suaminya meninggal, kisah SLP menjadi tampil beda. Dua orang yang ‘pesakitan’ dipersatukan oleh keadaan, dan pastinya, melahirkan banyak cerita menarik. Apalagi, SLP juga dipenuhi dengan keramaian para karakter sidekick yang tak kalah menarik seperti Ayah Pat yang menderita obsessive compulsive disorder yang gemar sekali berjudi, ibu Pat yang sangat sabar menghadapi keluargnya, dan karakter-karakter lain yang ikut meramaikan jalinan kisah SLP.

MV5BMjI4MTQzMDA2MF5BMl5BanBnXkFtZTcwMDA1NTc0OAYa, SLP adalah sebuah film romantik komedi yang begitu ‘ramai’. Movietard sempat terkejut melihat baagaimana para karakter di SLP berdialog panjang yang menjadikan SLP sebagai film yang cerewet. Audiens disuguhi banyak teriakan dari karakter Pat yang pemarah maupun banyaknya omongan ‘sampah’ dan berani dari karakter Tiffany. Audiens bisa saja merasa pusing mendengarnya, tetapi hey, SLP adalah sebuah talking movie yang digarap oleh Russell berdasarkan skenario yang begitu cermat dan cerdas sehingga audiens tetap bisa menangkap ketulusan yang hadir dalam ‘keramaian’ ceritanya. Ya, instead of terganggu, teriakan Pat yang protes terhadap hasil karya Hemingway justru menyajikan a sweet moment antara anak dan orang tuanya. Pun ketika Tiffany memarahi Pat dengan mengeluarkan banyak kata-kata kasar hingga menampar Pat, audiens justru akan bersimpati kepada Tiffany karena kita semua tahu, bahwa apa yang Tiffany katakan adalah kebenaran yang sayangnya belum bisa diterima Pat yang selama ini masih terobsesi kepada istrinya, Nikki.

Kekuatan SLP terletak pada karakter Pat dan Tiffany menjadi key point guna membuat audiens tetap tertawa ditengah kekacauan yang ada. Audiens diajak melihat interaksi Pat dan Tiffany yang begitu manis in its own way dari mulai omongan ‘nyambung’ mereka tentang obat penenang, penawaran seks oleh Tiffany, acara tampar-menampar, memesan sereal di kencan yang seharusnya romantis, dan bahkan di SLP pula, urusan bergandengan tangan ala Pat dan Tiffany pun jadi tampil begitu fresh. In my opinion, SLP menyajikan begitu banyak sweet moment yang tidak murahan yang justru hadir ditengah huru-hara Pat, Tiffany dan keluarga Solitano. Menonton SLP sedikit membuat movietard teringat dengan Secretary, sebuah love story yang didalamnya terdapat bentuk ‘pertunjukan’ cinta yang tak kalah menarik dan begitu kinky, ketika Secretary bermain dalam ranah sadomasokisme, SLP hadir dengan lebih tulus karena kisah love story antara dua karakter yang pesakitan ini memiliki tujuan yang sama, yaitu sama-sama belajar menjadi a better person.

MV5BMTM5MjczNzM3NF5BMl5BanBnXkFtZTcwMjg4NjYxOA_002Selain dari jalinan cerita dan karakterisasi  yang menarik, kekuatan SLP terletak pada kedua aktornya, yaitu Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence. Bagaimana tidak, dengan karakter utama yang begitu bermasalah, Cooper dan Lawrence berhasil membuat audiens peduli dan sayang terhadap Pat dan Tiffany, bukan membencinya. Penghargaan oscar untuk Lawrence atas perannya sebagai si janda muda memang sangat pantas. Lihat bagaimana Lawrence sukses tampil rapuh melalui gesture dan matanya, tetapi at the same time, dialog yang keluar dari mulutnya tetaplah berisi makian. Di satu sisi, Cooper berhasil mengimbangi si talented Lawrence. Pun, rasanya, movietard harus mengirimkan surat permintaan maaf kepada Cooper karena telah menganggapnya sebagai salah satu anggota tim Worthington, yang hanya mengandalkan kegantengan dengan kemampuan akting nol besar karena di film ini, Cooper berhasil tampil total dalam menampilkan pesakitan yang mencoba bangkit, dan seiring berjalannya waktu, audiens dapat melihat transformasi keduanya yang tampil lembut lembut, ah, it’s the power of love, no?

In a conclusion, SLP adalah sebuah romantik komedi yang sangat worth to watch karena walaupun menampilkan pakem klasik dari romantik komedi -tanpa bermaksud spoiler, dimana pakem ini pun sudah ditahui audiens akan berakhir seperti apa-, SLP tampil beda. Dengan memotret dua karakter utama yang justru jauh dari kata sempurna, SLP hadir dengan cita rasa fresh dan sweet dengan caranya sendirinya. Dua karakter utama dalam SLP, Pat dan Tiffany, realitasnya mengajak audiens memahami bahwa every relationship is based on a strange chemistry, dan indahnya, chemistry itu hadir begitu tulus diantara dua orang yang pesakitan ini. Bagi movietard yang tengah *sensor*, menonton SLP rasanya seperti satu bentuk love theraphy session yang membuktikan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan cinta sejatinya, termasuk kedua karakter yang ‘pesakitan’ ini.

I was a slut. There will always be a part of me that is dirty and sloppy, but I like that, just like all the other parts of myself. I can forgive. Can you say the same for yourself, fucker? Can you forgive? Are you capable of that? [Tiffany]

Do You Know?
Peran Tiffany sebelumnya diperuntukkan untuk Anne Hathaway, yang sayangnya memiliki konflik jadwal syuting sehingga ia digantikan oleh Jennifer Lawrence. Sebelum Lawrence, nama-nama seperti Kirsten Dunts, Blake Lively, Rachel McAdmas hingga Angelina Jolie pun sempat dipertimbangkan untuk peran Tiffany
David O. Russell tertarik mengadaptasi novel SLP menjadi skrip layar lebar dikarenakan sama seperti karakter Pat, anak lelaki O. Russell juga memiliki bypolar disorder dan OCD
Adegan dansa Pat dan Tiffany ditangani oleh koreografer terkenal di acara So You Think You Can Dance yang bernama Mandy Moore, tetapi bukan Mandy Moore si penyanyi itu ya

My Rate
4 stars. Silver Linings Playbook is a smart sweet romantic comedy oh how weird love work is! This movie also became a reminder that that people means to be together with her/his soulmate. A very sweet story indeed!

3 thoughts on “Silver Linings Playbook

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s