Django Unchained

MV5BMjIyNTQ5NjQ1OV5BMl5BanBnXkFtZTcwODg1MDU4OAThe Plot
Django (Jamie Foxx) adalah mantan budak yang ditemani oleh dr. Schultz (Christoph Waltz) berjuang mencari istri Django.

The Comment
Film terbaru Tarantino? Well, berarti anda harus sudah siap dengan guyuran darah dimana-mana dan gaya penceritaan Tarantino yang quirky tentunya *Well, sebetulnya sih siapkan diri untuk tahan menonton tanpa camilan popcorn tepatnya*. Tetapi, merujuk pada story plot Django Unchained (2012), sepertinya Tarantino sudah ‘melemah’ karena ia mengangkat kisah cinta antara dua anak manusia yang terpisahkan oleh nasib. Mengambil setting Amerika abad ke-18, dimana perbudakan manusia dari ras berwarna masih sangat lazim, lagi-lagi, Tarantino menyajikan suatu pembacaan baru terhadap sejarah kelam Amerika tersebut. Baru? Well, setelah asyik membuat audiens tertawa dengan cerita kematian Hitler dengan gaya baru dalam Inglourious Basterds (2009), melalui Django Unchained, Tarantino mengajukan sebuah cerita bagaimana ketika budak yang selama ini menjadi kaum tersiksa menjadi manusia bebas dan justru… memiliki kekuasaan untuk membunuh para penjahat kulit putih? Is it gonna be fun or not?

MV5BMTk4NzQwODM5MF5BMl5BanBnXkFtZTcwNjgzNTI3Nw_002Cerita Django Unchained realitasnya cukup sederhana. Tarantino, yang selain duduk dibangku sutradara seperti biasa juga menulis skripnya, tampak tak mau ambil pusing dalam menyajikan cerita nonlinear dengan banyak twist. Ber-setting tahun 1858, syahdan, seorang bounty hunter keturunan Jerman, dr. Schultz ‘membeli’ sang budak Django dalam sebuah adegan pembukaan yang sudah membuat audiens tertawa sekaligus miris disaat bersamaan. Django dibeli bukan untuk diperbudak, melainkan hanya untuk mengenali tampang kawanan penjahat yang pernah menyiksa Django. Ketika misi sudah terlaksana, kerjasama antara Schultz dan Django yang ternyata pandai menembak terus berjalan, mereka berdua ber-partner sebagai bounty hunter. Ketika musim dingin datang, Schultz menepati janjinya untuk membantu Django merebut kembali istrinya, Broomhilda (Kerry Washington) yang dimiliki tuan tanah kejam, Calvin Harris, eh Calvin Candie (Leonardo di Caprio). Schultz dan Django pun melalukan pendekatan kepada Calvin dengan alibi tertarik membeli budak Calvin untuk dipakai dalam olahraga Mandingo, berhasilkan usaha mereka berdua?

Movietard bukanlah penggemar berat dari Tarantino, tetapi sejak Kill Bill, setidaknya movietard selalu menonton karya-karya terbarunya. Simply, because I enjoyed on how he made his own jokes on his movies. Dalam Django Unchained, realitasnya, tak ada perubahan mendasar karena pakem yang dipakai tetap serupa dalam Inglourious Basterds. Apalagi, movietard senang sekali melihat kehadiran Waltz yang kembali bermain gemilang sebagai Schultz. Tetapi entah kenapa, movietard cukup ‘bosan’ menonton Django Unchained. Well, Django Unchained tetap sukses membuat movietard tertawa beberapa kali, tepatnya ketika di adegan-adegan remeh seperti dialog yang lucu dalam adegan penyerangan warga yang dilakukan dengan menutup kepala ataupun ketika bagaimana Schultz menjelaskan Django adalah manusia bebas kepada landlord, beberapa kali pula movietard meringis seram ketika menyaksikan adegan penembakan yang sangat berdarah dengan iringan musik yang kadang mellow tetapi kadang justru lebih keras dan nggak nyambung, well, benar-benar film khas buatan Tarantino, dimana Tarantino ‘asyik’ memoles film ini sesuai dengan mood-nya.

MV5BOTA2NjY5NzY3NV5BMl5BanBnXkFtZTcwNzcyNjY4NwTetapi, movietard merasa Django Unchained tetap kurang terasa ‘Tarantino formulaic’, tepatnya terkait dengan story plot yang terasa kurang grabbing-nya pada pertengahan film kebelakang. Dibanding film-film Tarantino sebelumnya, Django Unchained lack of something, especially on the dialogues, padahal biasanya, Tarantino sangat ahli dalam mengolah ‘talking movie’. Kepiawaian Tarantino dalam mengolah dialog-dialog panjang yang penuh dengan satirical jokes yang akan membuat audiens tersenyum sambil mengguman ‘awww shit!’ sayangnya tidak terlihat dalam Django Unchained. Jujur, dialog-dialog panjang terutama yang pada paruh kebelakang yang menghadirkan karakter Calvin justru terasa begitu membosankan. Yang menarik hanyalah ketika Calvin membelah tengkorak sambil berceramah, selebihnya, karakter Calvin seolah hanya terlihat seperti seseorang yang sedang menahan amarah, ia memang jahat tetapi karakter Calvin tidakah ‘semenawan’ karakter Hans Landa yang dahulu diperankan dengan begitu kharismatik sekaligus menyeramkan oleh Waltz dalam Inglourious Basterds.

Well, mungkin hanya movietard saja yang merasakan kurang menawannya skrip Django Unchained karena faktanya, film ini memenangkan best adapted screenplay di Academy Award ke-85. Ya, kerja keras Tarantino dihadiahi patung paman Oscar, mungkin juri-juri terkesan dengan bagaimana Tarantino menyoroti perbudakan dari sisi korban perbudakan dan orang asing berdarah Jerman yang justru cinta damai, ya, Django Unchained seolah menjadi bentuk olok-olok Tarantino terhadap masyarakat Amerika yang black-phobic di kala itu. Audiens memang dibuat tertawa dengan tingkah laku unik Django dan Schultz sepanjang film, tetapi faktanya, di masa itu, partnership antara orang berkulit hitam dengan kulit putih masih dianggap tabu. Dan dibalik balutan kisah cinta Django dan Broomhilda, sebetulnya Tarantino mengajukan statement yang jelas, bahwa warna kulit tidaklah berhubungan dengan tingkat ‘kekejaman’ seseorang, melalui tokoh Calvin si kulit putih yang justru sangat kejam, serta kehadiran anak buahnya, Stephen yang walaupun berkulit hitam berlaku tak kalah ‘jahat’ terhadap Django dan Broomhilda.

MV5BMTgxNzEyODI5OV5BMl5BanBnXkFtZTcwNTcyNjY4Nw_002Selain kurang powerful-nya dialog yang dibuat Tarantino, sejujurnya, movietard merasa durasi film yang panjang dengan plot yang sebetulnya sederhana membuat Django Unchained seolah terbagi menjadi dua film yang berbeda. Yang pertama adalah kisah perjalanan Schultz dan Django yang begitu menarik, sementara kisah kedua adalah usaha ‘penyelamatan’ istri Django dari tangan Calvin. Movietard sendiri sejujurnya lebih menyukai paruh pertama film yang tampil lebih humoris, walaupun paruh kedua seharusnya menjadi puncak dari film ini, tetapi movietard tidak menyukai penampilan DiCaprio dalam Django Unchained, entah kenapa, muka pervert DiCaprio begitu tidak enak dipandang *sentimen pribadi*. Lepas dari kelemahan tersebut, Django Unchained tetaplah menarik untuk ditonton. Akting menawan Foxx dan Waltz menghasilkan chemistry apik sepanjang film. Seperti biasa, Waltz memberikan superb performance dan raihan best supporting actor yang diterima Waltz dari juri Golden Globe dan Oscar pun jadi bukti atas penampilan gemilangnya, walaupun… movietard masih bingung kenapa ia hanya dimasukkan ke kategori supporting padahal di Django Unchained, karakter Schultz muncul hampir sepanjang film!

Selain kegemilangan duo aktor utamanya, keunggulan film ini adalah bagaimana Tarantino tetap asyik bermain dengan darah dan kekerasan tanpa melupakan sense of humor di dalammnya -walauun sekali lagi, humor dalam film ini jauh kurang mengigit dibandingkan dalam film-film Tarantino sebelumnya-. Ya, bagi anda pecinta film yang penuh aksi bloody violence, Django Unchained memberikan hal tersebut melalui kumpulan scenes yang memacu adrenalin tetapi at the same time, penuh dengan humor khas Tarantino. Ketika film-film ber-genre western kebanyakan menampilkan duo karakter utamanya dengan karakter serius, karakter Schultz dan Django justru tampil komikal hampir sepanjang film. In conclusion, Django Unchained memang bukan film yang akan dinikmati audiens umum. Dengan banyaknya adegan penembakan dan pertarungan sadis –Mandingo’s fight scared me so much!-, Django Unchained jelas bukan film yang dikonsumsi umum. But hey, jika anda merasa siap mental untuk menonton film cinta paling ‘berdarah’, kenapa tidak?

Kill white people and get paid for it? What’s not to like? [Django]

Do You Know?
Awalnya, Karakter Django ditulis oleh Tarantino yang membayangkan Will Smith sebagai aktor yang pas, tetapi ketika ditawarkan, Smith menolaknya walaupun agen dan manajer Smith memintanya untuk menerima peran Django.
Django Unchained dikategorikan sebagai western movie, tetapi Tarantino lebih memilih genre ‘southern’ movie karena setting film ini yang mengambil kawasan Amerika bagian selatan.
Christoph Waltz sempat mengalami kecelakaan jatuh dari kuda ketika berlatih menunggang kuda untuk film ini, yang lucu, Foxx memberikan hadiah kepada Waltz, yaitu kursi kuda dengan sabuk pengaman sehingga Waltz merasa lebih aman ketika menaiki kuda.

My Rate
3 Stars. Another Tarantino’s strike! Sadly, Django Unchained‘s strike isn’t as good as I expected. The first half of movie is fun to watch since we’re worship for Schultz and Django’s chemistry but the second half is just a so-so.

2 thoughts on “Django Unchained

    • Menarik sih tapi cuma diawal aja, durasinya lama sekali jadi bikin bosan juga, paruh pertama sih menarik tapi makin kebelakang makin bikin ngantuk. Kalau bukan fans Tarantino dan nggak suka darah sih mendingan hindari film ini๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s