Demi Ucok

poster-final-edit-lsf_final_teks_lowresThe Plot
Ini adalah kisah Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi) yang disuruh ibunya, Mak Gondut (Lina Marpaung) menikah sementara ia justru masih ingin mengejar mimpi.

The Comment
Salah satu kebiasaan buruk movietard adalah suka lupa mendaftar ke acara nonton bareng yang sedianya dilakukan sebelum hari pemutaran. But luckily, movietard memiliki teman-teman di Blitzclub yang selalu baik hati menyediakan spot. Thanks to Blitzclub yang membuat movietard berhasil mengikuti acara menonton bareng Demi Ucok (2012) di hari release-nya bersama dengan teman-teman crew Demi Ucok sendiri. Bahkan, tak tanggung-tanggung, dengan harga tiket regular, audiens justru mendapatkan hadiah berupa meet up dengan para pemain dan sutradara Demi Ucok serta goodies berbentuk clapperboard yang sangat lucu berisikan pouch clapperboard, notes dan tiket kopitiam oey, definitely a great fan services from Demi Ucok’s crews! Sebagai catatan, Demi Ucok sendiri menjadi film pertama yang ditonton movietard di tahun 2013 ini *well, nggak penting sih* but honestly, salah satu niatan movietard di tahun 2013 adalah menonton lebih banyak film Indonesia di tahun ini, and Demi Ucok is a great start to complete my wish.

DemiUcok-Spread2Demi Ucok menjadi film kedua yang disutradarai dan ditulis oleh Sammaria Simanjuntak setelah Cin(T)a (2009), yang dahulu, juga movietard tonton di bioskop kesayangan. Cin(T)a sendiri menjadi film independen yang cukup memorable dengan dialog-dialog yang kuat terkait dengan masalah jatuh cinta dengan seseorang yang berbeda agama dan mengkhianati Tuhan walaupun secara teknis memang masih terkesan –maaf- amatir. Selang empat tahun, Sammaria Simanjuntak kembali dengan kisah yang jauh lebih ceria dan tampak seperti kisah otobiografi Sammaria sendiri. Demi Ucok berkisah tentang Gloria –selanjutnya dipanggil- Glo, anak perempuan batak berusia 29 tahun yang diminta menikah oleh ibunya sementara Glo yang seorang sutradara film justru sedang berkonsentrasi membuat film kedua. Yang membuat dinamika hubungan ibu dan anak ini lucu untuk dinikmati adalah kentalnya adat batak yang melekat pada keluarga Glo, dimana sang Ibu mau mendanai film Glo asalkan Glo mau dijodohkan dengan lelaki Batak. Audiens yang sedikit banyak mengetahui perjalanan karir Sammaria, setidaknya dapat melihat benang merah antara karakter Glo dengan Sammaria sendiri, dimana Glo seolah adalah refleksi diri Sammaria.

Personalitas yang ditampilkan Sammaria pun hadir melalui jalan cerita Demi Ucok dimana Glo berusaha mencari uang untuk produksi filmnya dan hey, Sammaria pun melakukannya untuk pembuatan Demi Ucok dengan bergerilya mencari co-produser secara online. Yang movietard suka, dalam Demi Ucok, audiens dapat menikmati dialog-dialog smart yang tidak over pretentious, yang menunjukkan kembali kekuatan Sammaria dalam mengolah kata-kata. Sammaria juga menyuguhkan suatu fase yang akan dialami setiap perempuan muda ketika dihadapkan dengan pilihan mengejar impian berupa karir atau keluarga. Dan lagi-lagi personalitas kembali hadir melalui rentetan dialog yang tampak seperti rintihan hati Sammaria sendiri terkait dengan kondisi perfilman Indonesia saat ini, tentang pembajakan dvd yang merajalela tetapi juga menjadi guru film terbaik ataupun tentang produser yang lebih menyukai mendanai film yang memuat hantu, banci dan susu. Dan tentunya, curhatan Glo ketika ia dihadapkan dengan budaya adat batak yang mengharuskannya mencari pasangan hidup seorang laki-laki batak. Pertanyaan tentang pentingnya menikah yang diajukan Glo kepada sang tante ataupun sahabatnya, mungkin adalah pertanyaan yang menggelantung dalam pikiran Sammaria sendiri

436Pp7_Demi-ucok2Tetapi, personalitas tersebesar yang dihadirkan oleh Sammaria dalam Demi Ucok adalah melalui karakter Ibu Glo, si Mak Gondut, yang diperankan oleh ibunda Sammaria sendiri, Lina Marpaung. In my opinion, karakter Mak Gondut adalah bintang dalam film berdurasi 79 menit ini. Karakterisasi Mak Gondut adalah representasi dari para ibu di kehidupan nyata dalam culture Indonesia secara umum yang memiliki anak gadis diusia cukup untuk menikah tetapi masih single. Ketakutan Mak Gondut yang berujung pada upayanya untuk menjodohkan Glo pun tampil sebagai upaya yang begitu menggemaskan dan alih-alih menyebalkan, audiens akan dibuat tertawa melihatnya. Mak Gondut hadir begitu loveable dengan celetukan-celetukan yang kerapkali meledek Glo, ia berhasil ‘membawa’ Demi Ucok memiliki nuansa komedi guna membalut cerita pencarian jodoh yang sebetulnya bisa menjadi sangat membosankan. Two thumbs up memang harus diberikan kepada Lina Marpaung, yang dengan pengalaman akting minim, mampu tampil begitu natural dan menghasilkan banyak momen lucu dengan nuansa batak yang kental tanpa harus menghadirkan adegan slapstick.

Walaupun Movietard menyukai semangat independen yang diusung oleh Sammaria dan bagaimana Sammaria berhasil membalut jalinan story plot Demi Ucok dengan begitu rill yang membuat audiens merasa ‘it’s also my story’, tetapi Demi Ucok tetap memiliki kekurangan dari segi teknis. Dibanding dua film Indonesia yang beredar di akhir tahun 2012 yang telah meraup lebih dari satu juta penonton, sinematografi maupun tata suara dalam Demi Ucok terlihat tidak sebagus keduanya. Sebagai contoh, terdapat banyak close up shoots yang mengingatkan movietard akan gaya shoot dalam sinema elektronik, terdapat beberapa long shoots yang juga terlihat kasar dalam pergerakannya, begitupun dengan tata artistik yang terlihat begitu sederhana dan berkisar dengan setting indoor yang itu-itu saja. In my opinion, eksekusi yang dilakukan Sammaria sejujurnya tidak memiliki upgrading berarti sejak film pertamanya, Cin(T)a karena sepertinya, masalah teknis ini didasari atas minimnya budget pembuatan Demi Ucok.

436PgP_Demi-ucok1Tetapi, kekurangan tersebut akan dimaafkan karena sama seperti yang dilakukan Cameron Crowe melalui Almost Famous (2000) dimana ia memberikan tribute terhadap dunia jurnalis musik yang pernah ia jalani, audiens akan jatuh cinta dengan Demi Ucok karena film ini adalah buah cinta Sammaria terhadap sang Ibu, adat Batak yang membesarkan dan tentunya, dunia film yang ia cintai. Audiens dapat merasakan kehangatan kisah semi otobiografi ini dan merasa simpatik dengan Sammaria, karena lepas dari segala kekurangan dari sisi teknis, melalui Demi Ucok, Sammaria membuktikan bahwa ketika anda melakukan hal yang anda suka dengan penuh passion dan cinta, it will reflect in your work. In a conclusion, Demi Ucok menjadi film pembuka tahun 2013 yang heartwarming dan berisi dialog-dialog ‘smart’ Mak Gondut yang akan membuat audiens perempuan (single) seperti movietard ikut merasa ikut ‘ditegur’ walaupun bukan berasal dari etnis Batak.

Perempuan Batak itu punya tiga tujuan hidup, menikah dengan orang Batak, punya anak Batak, dan cari menantu Batak [Mak Gondut]

Do You Know?
Demi Ucok terpilih menjadi film terbaik versi majalah Tempo 2012
Demi Ucok mendapatkan 8 nominasi dalam FFI dan atas perannya sebagai Mak Gondut di Demi Ucok, Lina Marpaung menjadi pemenang di kategori Best Supporting Actress di FFI 2012. A very well deserved!
Demi Ucok adalah film yang didanai melalui sistem crowd funding dan berhasil mengumpulkan dana sekitar 251 juta rupiah untuk digunakan membuat master DCP, promosi dan distribusi ke bioskop

My Rate
3,5 stars. Demi Ucok is a very nice Indonesian movie with the most common theme reaching the dream, which made it different, its own very funny mother and daughter’s relationship based on their Batak culture and Mak Gondut is totally rocking the screen!

2 thoughts on “Demi Ucok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s