Countdown

movie_countdown_0The Plot
Ini cerita tentang tiga anak muda asal Thailand yang kedatangan tamu istimewa bernama Jesus di malam tahun baru di Kota New York.

The Comment
Movietard menonton Countdown (2012) sehari sebelum pergantian tahun dalam acara nonton bareng bersama teman-teman Blitzclub. Sekilas mengetahui judulnya, sepertinya film ini cukup menyenangkan. Movietard suka menikmati film-film Thailand yang sering di putar di bioskop Blitzmegaplex dan honestly, ngefans dengan salah satu aktor Thailand, Chantavit Dhanasevi yang begitu mencuri perhatian melalui ATM Errak Error (2012). Tetapi, membaca sinopsis Countdown, barulah movietard paham bahwa produksi terbaru rumah produksi GTH yang sebelumnya sukses memproduksi romantic comedy realitasnya banting setir ke genre lain, yaitu thriller, sebuah genre yang cukup baru karena biasanya sineas Thailand lebih fasih menggarap genre horror. Movietard belum pernah menonton film bergenre thriller buatan Thailand sebelumnya tetapi memiliki cukup banyak pengalaman menonton film thriller-slasher yang diputar di iNAFFF selama kurun waktu 2009 s.d 2011, sehingga berharap Countdown cukup berdarah untuk dinikmati.

CountdownThai-04Sesuai judulnya, story plot Countdown realitasnya sangat sederhana dari segi dimensi waktu, yaitu hanya memotret aktivitas tiga orang muda-mudi beberapa jam menjelang pergantian tahun baru di sebuah apartment di New York. Tiga karakter ini terdiri dari pemuda bernama Jack yang alih-alih mengambil kuliah bisnis justru asyik menggunakan uang kuliahnya untuk berpesta, pacar Jack yang bermana Bee yang tampak misterius, dan teman se-apartment Jack, Pam yang cantik tetapi agak terlihat bodoh. Setelah mengambil landscape gereja dan jalur subway New York, Countdown mengurung audiens dalam ruang apartment yang sempit hampir sepanjang film. Tetapi, kehadiran tamu si ‘bule’ Jesus yang dikira Jack sebagai penjual ganja ke apartment mereka, memberikan ‘kejutan’ bagi ketiga karakter ini. Kemudian, Poonpiriya mengajak audiens menikmati interaksi ketiga karakter ini dengan Jesus, yang sudah dipahami oleh audiens sebagai si ‘villain’.

Tentunya, seperti formula film thriller-slasher umum, Countdown mengajak audiens melihat berbagai bentuk penyiksaan yang dilakukan si villain kepada pemuda-pemudi ini. And how about the result? In my opinion, scenes torture dalam Countdown masih dalam tahap ‘aman’ dan kurang thrilling. Hal ini dikarenakan alur cerita Countdown yang memang tidak menekankan pada aksi slasher, melainkan pada sebuah tema besar yang jauh dari sekedar penyiksaan fisik. Alih-alih memuaskan audiens dengan muncratan darah, Countdown justru bermain lebih lembut dengan sisipan sisi religiusitas di dalamnya. Awalnya, movietard hanya menganggap karakter villain yang bernama Jesus dan bible yang dibolongi dengan diisi ganja hanyalah olok-olok belaka, [spoiler] tetapi, ketika alasan penyiksaan terkuak dimana si villain meminta ketiga karakter tersebut jujur mengakui dosa-dosa mereka yang dilanjutkan dengan melafalkan 5 ajaran utama dalam agama Budha [end of spoiler], audiens diajak melihat bagaimana hukum karma berjalan maupun tentang permintaan maaf.

CountdownThai-06Ya, Countdown justru menggurui audiens tentang pentingnya bertanggung jawab dan permintaan pengampunan atas segala kesalahan yang pernah dibuat. Perubahan tahun bisa dianggap sebagai sebuah turning point untuk reinkarnasi diri, yang di tahun sebelumnya banyak melakukan perbuatan negatif memohon ampun atas segala dosa sehingga mampu menjadi seseorang yang baik pada tahun yang akan datang ketika membuka lembaran baru. Terkesan berat? Luckily, Countdown mampu membalut tema seberat itu dengan beberapa momen lucu layaknya film romantic comedy khas Thailand. Kelucuan ini hadir melalui gerak gerik karakter Pam yang memang cantik tetapi agak lemot dan karakter Jack yang memang sangat menggemaskan tetapi terlihat bodoh, dan pastinya, melalui karakter Jesus yang sangat ekspresif dan cerewet, bagian terlucu adalah ketika Jesus yang sebelumnya berbicara dengan bahasa Inggris tiba-tiba berbicara dengan bahasa Thailand! Dengan kumpulan karakter tersebut, scenes dalam Countdown yang seharusnya menjadi penyiksaan justru menyajikan comedy moment yang membuat audiens tertawa.

Yang sedikit mengganjal bagi movietard, adalah bagaimana Poonpiriya terlihat begitu kasar dalam mengambil footage perayaan New Year Eve di beberapa kota besar. Kasar karena terlihat sekali footage rekaman tersebut berasal dari tahun yang sudah cukup lama. Tetapi, movietard salut kepada Poonpiriya yang berhasil ‘mengurung’ audiens dalam apartment sempit dan membuat audiens percaya bahwa it’s part of New York’s apartment. Penggunaan landscape New York dalam Countdown tampaknya hanya digunakan untuk memperkuat story plot tentang anak-anak perantauan yang jauh dari pengawasan orang tua. Kota manapun bisa saja digunakan selama masih di luar Thailand tetapi alasan cita rasa pop dan untuk terasa keren yang mungkin membuat New York menjadi pilihan utama. Yang movietard cukup salut adalah, ketiga aktor mudanya, Pachara Chirathivat, Pataraya Krueasuwansiri dan Jarinporn Junkiet cukup fasih berdialog dengan bahasa Inggris tanpa dialek aneh, walaupun dari segi akting, tak ada yang istimewa. Khusus bagi Krueasuwansiri, Poonpiriya cukup memaksimalkan sex appeal-nya dengan membuat karakter Pam mengenakan t-shirt longgar yang sedikit mempertontonkan keindahan tubuhnya.

CountdownThai-02In a conlusion, bagi yang mengharapkan aksi slasher yang menggila layaknya Rumah Dara (2009), Countdown tentunya akan sangat mengecewakan. Dengan theme yang dicampur dengan aspek religiusitas dan komedi, Countdown justru tampil sebagai film thriller-slasher yang begitu ‘manis’. Di satu sisi, hal ini bisa menjadi aspek positif karena membuat Countdown dapat dinikmati oleh audiens yang lebih umum karena Countdown tidaklah seberdarah dibanding film-film thriller buatan negara Asia lain. Tetapi bagi movietard yang kebetulan memang lumayan suka aksi berdarah, rasanya Countdown kurang mampu memuaskan jeritan di dalam bioskop seperti ketika movietard menontn Dream Home (2010). Well, movietard memang menjerit sih beberapa kali, tetapi tidak sampai menghasilkan jeritan 8 oktaf. Anyway, kalau dipikir-pikir, tahun 2012 memang menjadi ‘tahun’-nya movietard menonton banyak film Thailand, karena setelah dihitung, movietard setidaknya telah menonton ketiga film yang diproduksi GTH di tahun 2012 ini dan beberapa film Thailand lain.

Do You Know?
Countdown menjadi film penutup bagi studio film terbesar di Thailand GTH (GMM Thai Hub). GTH sendiri sebelumnya sepanjang tahun 2012 ini telah merilis film ATM Errak Errord dan Seven Something yang sukses di box office Thailand.
Countdown menjadi debut perdana Nattawat Poonpiriya dalam memproduksi film dengan budget besar yang diproduksi oleh rumah produksi besar
Countdown sendiri merupakan remake dari film pendek Nattawat Poonpiriya yang dibuatnya pada tahun 2010 lalu.

My Rate
3 stars. Eventhough the slasher-scenes is below my expectation, I had a lot of fun when watching Countdown. Surprisingly, the religious-theme became a quite good reminder for me #halah

2 thoughts on “Countdown

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s