Habibie & Ainun

135236201127516_300x430The Plot
Ini adalah rangkuman perjalanan cinta B.J Habibie (Reza Rahardian) dan istrinya, Ainun (Bunga Citra Lestari).

The Comment
Movietard memang seorang yang cengeng (maksimal) tetapi honestly, sedikit sekali film Indonesia yang mampu membuat movietard benar-benar menangis di bioskop. Bahkan dahulu, ketika zaman Ayat-Ayat Cinta (2008) tengah menjadi hype, movietard pun tak pernah ikut menangis. Nah, Habibie & Ainun (2012) menjadi film Indonesia yang mampu membuat movietard menangis bahkan ketika film baru berjalan kurang dari 30 menit! Dalam catatan pribadi, hanya Up (2009) dan My Name is Khan (2010) yang mampu membuat movietard menangis ketika masih di bagian awal film. Selain menyalahkan mood yang memang sedang agak emosional, realitasnya Habibie & Ainun memang begitu tearjerker. Diadaptasi dari buku B.J Habibie yang dibuatnya sebagai catatan terhadap Ainun paska meninggalnya sang istri tercinta, film ini seolah menjadi bukti lain bagaimana ketulusan cinta pasangan suami istri yang menikah selama 48 tahun itu terjalin begitu apik dalam setiap rangkaian pita seluloid.

Habibie-AinunStory plot yang dibuat Ginatri S. Noer dan Ifan Adriansyah Ismail realitasnya tidak menghadirkan suatu twist. Mereka berdua murni merangkum kisah perjalanan dua sejoli ini, yang audiens pun sudah tahu akan berakhir seperti apa. [spoiler] Kisah Habibie & Ainun dimulai pada pertengahan tahun 50-an ketika Rudy ‘Habibie’ dan Ainun masih duduk di bangku sekolah, dan dalam rangkuman tahun yang bergulir dengan cukup cepat, audiens diajak melihat kedua anak terpelajar ini saling tertarik, dimana Rudy melamar Ainun di atas becak *dan ya, movietard sudah menangis menonton scene ini*, mereka menikah dengan adat Jawa yang sederhana, Ainun bersedia mengikuti Habibie ke Jerman, masa-masa susah mereka di Jerman *movietard menangis lagi di bagian ini*, kembalinya Habibie ke ibu pertiwi guna mengembangkan industri pesawat terbang Indonesia, masa reformasi yang membuat Habibie ‘terjebak’ dalam situasi politik yang diluar kendali *movietard menangis kembali disini*, dan tentunya, pada masa ketika Habibie harus kuat menemani Ainun yang terkena kanker ovarium pada periode tahun 2010 yang membuat tangisan movietard lebih banyak dibanding sebelumnya [end of spoiler]. Menyenangkannya, S. Noer dan Adriansyah Ismail mampu menjalin cerita Habibie & Ainun dalam kumpulan dialog yang sederhana tetapi tetap inspiratif, berisikan humor dibeberapa bagian, dan bahkan ketika klimaks, jalinan dialog pun tetap terjalin baik dan tidak over pretentious.

Apa yang membuat Habibie & Ainun begitu istimewa sehingga movietard sampai 4 kali menangis selama di bioskop? Habibie & Ainun realitasnya bukan hanya memotret biopik dari salah satu tokoh negarawan di Indonesia. Justru, Habibie & Ainun hadir dengan tema yang lebih universal, sebagai potongan drama cinta dua anak manusia. Ya, ini adalah love story semacam kisah Bandung Bondowoso atau Raja di India yang melakukan some effort to show their love. Dan alih2-alih membuat candi atau Taj Mahal, Habibie menunjukkan cintanya dengan berjanji membuatkan pesawat terbang untuk Ainun. Nah ya, perempuan mana yang tidak meleleh dengan air mata menerima kehormatan semacam ini? Anyway, Habibie & Ainun sempat ‘terjebak’ menyinggung isu politis dengan kehadiran karakter ‘kotor’ guna menunjukkan betapa bobroknya negeri ini ataupun fitnah yang menimpa Habibie, bukan hal yang buruk tetapi justru sebagai entry point bagaimana mereka berdua tetap berusaha untuk selalu menjaga integritas keluarga ketika berada di tampuk kekuasaan.

romantisme-habibie-dan-ainunDan kemudian, Habibie & Ainun kembali kepada rel utama, yaitu bahwa dibalik semua gegap gempita kekuasaaan dan kesibukan akan karir, yang paling utama adalah film ini menjabarkan pelajaran yang paling hakiki tentang hidup, yaitu pengabdian. Ketika Habibie selalu berusaha mengabdikan hidupnya sebagai warga negara yang baik demi mewujudkan mimpi besarnya membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju, Ainun disatu sisi, adalah abdi dalam rumah tangga mereka. Ainun yang mengorbankan kuliah spesialisnya untuk ikut Habibie ke Jerman, Ainun yang rela meninggalkan keluarganya. Ya, ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pengorbanan cinta, dan Ainun mengajarkannya kepada kita bahwa pengorbanan itu tanpa pamrih. Movietard selalu menangis setiap melihat scene dimana Ainun mengelap kaki Habibie yang lecet ataupun mengelap tangan Habibie yang kotor, scenes yang beisikan gesture yang sebetulnya sangat sederhana tetapi justru menunjukkan besarnya pengabdian itu sendiri. Jalinan plot Habibie & Ainun mengalir dengan luwes dan wajar, begitu apa adanya dan menjadi begitu sentimentil di beberapa bagian.

What I do love more about this movie? Pertama, penyutradaraan Faozan Rizal -yang selama karirnya sebagai cinematographer memang sudah mumpuni- terlihat begitu sempurna. Rizal tahu bahwa untuk kisah biopik yang sudah diketahui akhirnya, ia harus mampu memperkuat sisi alur penceritaan dan setting. Dan setting film Habibie & Ainun begitu sesuai, antara kontinuitas waktu dengan detil-detil artistiknya yang membawa audiens seolah kembali ke setting pada tahun penceritaan. Bukan hal yang mudah dikarenakan, sekali lagi, ini adalah film berdasarkan sosok nyata yang membuat Rizal harus mampu membuatnya tampak believe-able. Guna menambah keotentikan cerita, Rizal menyelipkan dokumentasi berupa footage asli yang terjadi menjadi bagian dari moment penting kehidupan Habibie sendiri, yaitu terkait dengan penerbangan perdana N-250 dan masa pergolakan pada pertengahan Mei 1998. Dan well, mari lupakan rangkaian product placement di dalam Habibie & Ainun yang diprotes banyak orang. movietard sendiri memakluminya karena bagaimanapun, industri film membutuhkan asupan dari sisi finansial dan in my opinion, product placement dalam film ini tidak cukup mengganggu isi film walaupun dari segi timeline setting waktu, penggunaan pembayaran tol elektronik belum ‘seharusnya’ diketemukan.

61445F7985944FF7DEB84DBC58E87Kedua, tribute harus diberikan kepada Reza Rahardian. Walaupun secara bentuk tubuh, Rahardian tak memiliki kesamaan fisik sama sekali dengan B.J Habibie asli yang kecil mungil, tetapi Reza berhasil menghidupkan sosok Habibie dalam dirinya melalui gesture tubuh, mimik dan cara berbicara yang sama. Awalnya mungkin terlihat lucu, Rahardian berjalan dengan agak tertatih ke depan tetapi memang seperti itulah gesture Habibie asli. Tanpa bermaksud meremehkan para aktor lainnya dalam film ini, Rahardian adalah bintang dalam kisah cinta ini. Ketika para kritikus luar menyebut Daniel Day Lewis mampu memerankan Lincoln dengan begitu baik melebihi Lincoln sendiri, in my opinion, Rahardian pun telah melakukan hal yang sama untuk perannya sebagai Habibie yang begitu cemerlang, melalui perkataannya, melalui gesture tubuhnya. Rahardian membuat kita melihat sosok Habibie sebagai manusia biasa yang pintar, sedikit kaku tetapi juga begitu percaya diri. The best scene yang dilakukan Rahardian adalah ketika ia menangis pelan sambil menciumi Ainun, menunjukkan bahwa sekuat-kuatnya dan sekeras kepalanya lelaki, pada akhirnya, ia pun memiliki sisi kelembutan pada perempuan yang dikasihi.

Dengan mengeyampingkan masalah product placement, Habibie & Ainun menjadi salah satu film Indonesia terbaik yang pernah dibuat sineas negeri ini. Rizal berhasil membalut story plot yang mengalir lancar dengan shoots yang indah. Habibie & Ainun memang tampil agak gloomy, mengingatkan movietard akan film Gie (2005) yang cenderung bernuansa sama, entah hanya perasaan movietard atau karena memang kedua kisahnya sendiri tidak happy ending sehingga terkesan dingin. Tetapi, Habibie & Ainun tetap menjadi bukti indah tentang sebuah perjalanan cinta yang tidak semenyakitkan kisah cinta Sid dan Nancy. Menonton kumpulan scenes perjalanan Habibie dan Ainun berlibur kembali ke Jerman di masa tua yang diringi scoring mendayu Tya Subiakto dan suara lembut Bunga Citra Lestari dengan berbalut atmosfer musim gugur menghasilkan background yang sempurna untuk sebuah kisah cinta ini. Habibie & Ainun sekali lagi menjadi bukti nyata bahwa perfilman kita sudah melangkah satu kaki lagi ke depan, untuk menjadi lebih baik. Tetapi di sisi lain, film ini menjadi bukti nyata bagaimana industri penerbangan Indonesia yang kembali melangkah mundur, membuat perjuangan Habibie pada periode 90-an terasa sangat ironis. Tonton film ini dan belajar untuk lebih mencintai dan mengabdi pada apa yang kamu miliki, dan movietard pun kembali menangis ketika menulis akhir paragraf ini.

Kamu kuat, Ainun. Saat ini kita seperti berada dalam terowongan yang gelap. Tapi setiap terowongan pasti ada akhirnya, yaitu cahaya. Saya janji, akan bawa Ainun menuju cahaya itu [Habibie]

Do You Know?
Habibie & Ainun sukses mengumpulkan 500.000 penonton ini didapatkan hanya dalam kurun waktu 4 hari saja. Sepertinya, angka 1 juta penonton akan dengan mudah terlewati.
B.J Habibie menjadi content supervisor untuk Habibie & Ainun, dan ia tak ragu memberikan summa cum laude untuk akting menawan Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari di film ini
Sutarada Hanung Bramantyo yang menjadi co-producer untuk film ini tak hanya menjadi cameo, ia tampil dengan durasi cukup lama dalam Habibie & Ainun

My Rate
4 stars. A tearjerker love story about one of greatest couple in the world. Habibie & Ainun is a well-crafted movie with a good direction, story plot and casts! A perfect, emotional, beautiful and moving movie that will become part of  Indonesian’s masterpiece

6 thoughts on “Habibie & Ainun

  1. Pingback: Habibie & Ainun – Penutup 2012 « Ry24's Weblog

  2. aku sampai paksa temenku buat nemenin nonton film ini!
    dari pertama kali liat trailer nya aja udah jatuh cinta bangt!
    pengen nonton lagi nih skg TT_TT
    film ini berhasil menggantikan kedudukan Milly dan Nathan sbg film romantis Indonesia terbaik menurut aku!!
    gak cuma kisah percintaan aja yg ditampilkan di film ini, sejarah dan konflik2 lainnya buat film ini gak sekedar jadi film roman picisan ygt berasa kaya fairy tale banget!!
    5 bintang buat film ini!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s