Life of Pi

MV5BMTc1OTQ3NDI0MV5BMl5BanBnXkFtZTcwMDM2MzUzOAThe Plot
Ini kisah adventure Piscine ‘Pi’ Molitor Patel (Suraj Sharma) bertahan hidup di laut lepas dengan perahu yang berisikan zebra, orang utan, hyena dan macan Bengali.

The Comment
Jujur, hype Life of Pi (2012) realitasnya sudah membuat movietard curious. Bagi para novel addict, novel Life of Pi sendiri adalah sesuatu yang un-filmable karena mereka menyangsikan all those miracle moments di laut lepas dapat divisualisasikan dengan baik. Tetapi, pita seluloid adalah tempat dimana mimpi-mimpi beyond imagination akan selalu dapat diwujudkan. Kita pernah dibuat kagum dengan kemegahan planet lain melalui Avatar, bahkan kalau berhubungan dengan laut, salah satu film yang paling memorable adalah Jaws yang membuat laut tidak lagi terasa aman. Dan kini, Life of Pi menjadi salah satu alasan bahwa di tempat seluas samudra, semangat hidup seorang anak laki-laki, realitasnya mampu membuat ia bertahan hidup selama 227 hari di laut lepas. Ya, Life of Pi menjadi inspirasi kalau suatu saat movietard terdampar *ketuk meja tiga kali* rasanya akan lebih aman memiliki teman bola voli dibandingkan seekor macan Bengali. Oh well, just kidding, Life of Pi menjadi salah satu jawaban mengapa movietard sangat jatuh cinta dengan film. Karena selain menawarkan spectacleship berupa visualisasi yang indah, Life of Pi sendiri memiliki jalan cerita yang inspiring.

MV5BMjEzNjk0MzUzOF5BMl5BanBnXkFtZTcwNTI5MDcyOA_002Life of Pi dibuka dengan adegan masa sekarang dimana Pi tua menceritakan kisah hidupnya ke seorang novelis, menurut referensi dari teman novelis, kisah Pi akan membuat orang percaya akan keberadaan Tuhan. Adegan flashback dimulai dengan narasi Pi kecil yang mengundang tawa, tentang bagaimana ia seringkali diledek teman-temannya dan ketika ia -di usia yang masih sangat belia- melaksanakan ritual dari tiga agama sekaligus, Hindu, Kristen dan Islam. Beranjak remaja, Pi dan keluarga memutuskan pindah dari India dan berlayar ke Kanada sembari membawa hewan-hewan yang selama ini menjadi bagian dari kebun binatang di rumah Pi. Adventure Pi sendiri baru terjadi ketika kapal terhantam badai yang membuat Pi terdampar di perahu penyelamat dengan beberapa binatang, hingga yang tersisa hanyalah Pi dengan si macan Bengali, Richard Parker. Dan story plot Life of Pi berfokus pada petualangan Pi ‘menjinakkan’ Richard Parker sembari melihat keajaiban di samudera Pasifik berupa kehadiran paus, ubur-ubur, ikan-ikan terbang, pulau dengan alga penghisap kehidupan.

I think I must to start with the directorial-part, Ang Lee yang duduk di kursi director jelas melakukan pekerjaan yang sempurna. Walaupun scriptwriter David Magee sejujurnya membuat spoiler besar dimana alur flashback membuat audiens tahu Pi akan selamat, tetapi, hal tersebut dimaafkan karena Lee membungkusnya dengan directing yang begitu indah. Life of Pi‘s visualization was amazing! Petualangan Pi yang sebagian besar di laut lepas tidak membuat audiens bosan karena Lee membungkusnya dengan pemandangan laut dan para penghuninya yang begitu cantik. Disini, Lee melakukan apa yang selalu dilakukan Zhang Yimou dalam setiap filmnya, yaitu menggores kuas dalam pita seluloid layaknya kanvas. Ya, Lee memberikan permainan warna yang begitu indah seperti langit yang berwarna jingga gradasi ketika matahari terbenam, lautan biru yang tampak tentram, pekatnya hitam lautan yang tampak bersinar karena ubur-uburdi malam hari. All those views was so amazing to watch! Oke, movietard memang total lebay, tetapi visualisasi pemandangan lautan di Life of Pi termasuk dalam kategori ‘bagus banget’.

MV5BMTQ5ODg3MzA1OV5BMl5BanBnXkFtZTcwMTQ5OTI3OAYang kedua, movietard kagum dengan spesial efek yang digunakan Life of Pi. Believe it or not, semua hewan-hewan yang berinteraksi dengan Pi dalam perahu penyelamat adalah hasil computer generated image (CGI) karya rumah produksi Rhythm and Hues. Satu-satunya shoot yang diambil dengan menggunakan macan asli adalah scene Richard Parker berenang menuju perahu. Ya, dalam Life of Pi, spesial efek berperan dalam menghasilkan magis baru yang sangat cute dalam sosok seekor macan Bengali, yang membuat anda akan kagum akan sosok Richard Parker. Two thumbs up pun harus diberikan kepada penggunaan efek 3D dalam Life of Pi. Well, movietard sendiri merasakannya kehebatannya saat berteriak keras sembari menyuarakan sumpah serapah saat pertama kali melihat Richard Parker keluar dari persembunyiannya di perahu. Ya, efek 3D dalam Life of Pi ditempatkan dengan pas oleh Lee, tidak hanya sekedar gimmick belaka tetapi memainkan peranan penting dalam adventure Pi dengan Richard Parker guna menambah adrenalin rush audiens dalam takaran yang pas, tidak terlalu banyak sehingga membuat audiens bosan.

Selain visualisasi Life of Pi yang luar biasa, sesungguhnya kekuatan lain dari film adaptasi novel karangan Yann Martel adalah mengenai adventure Pi itu sendiri. Menonton Life of Pi seperti membaca kisah dongeng dimana Magee berhasil membalut story plot Life of Pi dengan dialog-dialog yang menghibur dan juga, membuat anda berpikir. [spoiler] Magee memberikan anda kesempatan untuk memilih ending pilihan anda. Pi yang mampu bertahan hidup di laut memang riil, tetapi ketika Pi menceritakan kisahnya kepada novelis tentang versi kedua -yang tidak divisualisasikan dalam film oleh Lee-, audiens seolah diberikan pilihan, antara  realitas dan  magical. Well, magical mungkin bukan kata yang tepat, tetapi dalam setiap kisah dongeng, setidaknya anda selalu mengharapkan hadirnya keajaiban, dan kisah pertama yang dituturkan Pi memiliki sense ajaib dibanding kisah kedua yang jauh lebih menyakitkan. Dual-interpretasi terhadap ending Life of Pi sendiri telah menjadi perdebatan panjang di internet. Jujur, Movietard sendiri lebih menyukai ending pertama, menjadikan Life of Pi menjadi salah satu dongeng yang menawan tetapi di satu sisi, pilihan tersebut akan menghina logika movietard sendiri yang percaya bahwa proses struggling for living di dunia ini memang kejam [end of spoiler].

MV5BMTM0NDI4MDEyN15BMl5BanBnXkFtZTcwNTYyMTI3Nw_002Satu-satunya kekurangan dari keajaiban visual Life of Pi adalah sisi religiusitas yang ditampilkan oleh karakter Pi. In my opinion, segala beban penderitaan Pi ketika bertahan hidup di lautan -yang seharusnya menjadi part dimana audiens akan ditunjukkan tentang kebesaran Tuhan- kurang menyentuh. Audiens justru lebih menikmati usaha Pi ‘menjinakkan’ Richard Parker yang menghadirkan chemistry yang menarik. Memang ada scene dimana Pi berteriak seolah berbicara pada Tuhan, tetapi toh audiens tetap harus ditunjukkan sesuatu yang kasat mata. Rasanya Jika Pi memang seorang true believer atas 3 agama yang ia peluk, tidakkah sepanjang masanya terombang-ambing di laut, Pi setidaknya kembali melakukan beberapa ritual keagamaan sebagai bentuk doa terhadap Tuhan? Bagaimanapun, film adalah medium visual dimana suatu bentuk ritual perlu ditunjukkan sementara lagi-lagi, Life of Pi memaksa audiens berimajinasi sendiri terhadap sisi religiusitas Pi karena hanya didasarkan pada kekuatan dialog dan narasi Pi.

But hey, mari lupakan poin minimnya ritual keagaamaan yang sebetulnya bukan masalah directorial part dan jauh ke arah pemikiran movietard yang kali ini tengah banyak waktu luang *yay!*. In a conclusion, Life of Pi mampu menuturkan kisah perjuangan hidup seorang anak dengan begitu tulus. Movietard sangat menyukai narasi Pi yang begitu menghibur ataupun bagaimana ia suka menulis catatan kecil yang mampu membuat audiens tetap terpaku pada kisah Pi walaupun pacing film ini agak lamban. Asyiknya, Life of Pi divisualisasikan dengan sepenuh hati oleh Lee yang melakukan kerja begitu luar biasa. Berani bersumpah, sepertinya sih Life of Pi memang sengaja dijahit untuk Academy Award dan ajang-ajang perhargaan film lainnya. At the end, yang movietard paling suka adalah, Life of Pi berusaha menembus batas logika normal audiens dengan menyodorkan sebuah kisah dongeng yang indah dan penuh unsur spekakuler tentang interaksi manusia dengan alam. A very recommended!

Doubt is useful, it keeps faith a living thing. After all, you cannot know the strength of your faith until it is tested [Pi Patel]

Do You Know?
Life of Pi bukanlah proyek film yang mudah. Sejak hak pembuatan novel ini dibeli untuk difilmkan pada tahun 2002, banyak director sempat diisukan akan menyutradainya seperti M. Night Shyamalan, Alfonso Cuarón dan Jean-Pierre Jeunet.
Pemeran Pi, Suraj Sharma, tidak mengikuti audisi melainkan ketika ia menemani sang kakak untuk audisi, Ang Lee justru langsung jatuh hati dan memilihnya dari 3,000 kandidat
Life of Pi hadir dalam versi 3D. Movietard menontonnya dalam versi 3D dan believe me, it’s worth to watch!

My Rate
4,5 stars! Life of Pi is a magical and Lee is a wizard that made it happened! The incredible story about human life adventure back to a nature was made with very beautiful shoots and great special effects.

All the photos was took from IMDB

7 thoughts on “Life of Pi

      • Akhirnya minggu ketiga Des kemarin nonton juga…
        Keren secara gambar2nya… bener-bener menakjubkan.

        Di akhir film, temen nanya ke saya:
        ‘Jadi sebenarnya, yang benar itu yang mana? tentang dia bersama macan itu ataukah dengan ibu, tukang masak dll (yang diceritakan ke perusahaan asuransinya).’

        Saya cuma bisa tersenyum dan bilang: ‘terserah kamu mau memilih yang mana.’

      • Iyaa… sebetulnya sih pemilihan ending story kyknya berkorelasi dengan masalah kepercayaan kita ya. mungkin terserah mau bentuk ritual/agama apa yang kita peluk karena pada akhirnya, semuanya balik lagi bahwa kita mengimani Tuhan, iya nggak sih?

      • Setuju lagi…

        Ini juga kan yang ditanyakan kepada semua orang yang mendengar ceritanya. Termasuk si penulis itu.

        Yah.. which one you believe in?

  1. Kalau udah baca bukunya, pasti orang bakalan kagum betapa Ang Lee mampu mengadaptasi buku yang susah difilmkan itu bisa jadi menarik dan indah seperti ini.
    Bukunya banyak mengandung filosofi kehidupan dan cukup sulit untuk membuang sebagian besar bagian filosofis yang ada karena dapat mengurangi nilai film.
    Tapi ternyata Magee sbg penulis skenarionya jagoan, karena bisa memilah beberapa bagian filosofi yg paling menarik dan penting untuk ditampilkan dalam film.

    • Saya belum membaca bukunya, banyak yang bilang bahwa memang bukunya unfilm-able tetapi…. finally Ang Lee did it!
      Kayaknya semua readers cukup puas ya dengan visualisasi Ang Lee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s