Looper

The Plot
Joe (Joseph Gordon-Levitt) adalah seorang pembunuh para penjahat yang disebut looper. Petualangnya terjadi ketika ia harus menembak dirinya sendiri dari masa depan (Bruce Willis).

The Comment
Another JGL attacks of this year! Setelah tampil cool dan heroic sebagai kurir sepeda di Premium Rush, JGL kembali hadir di layar bioskop melalui Looper (2012). Oh well, mungkin JGL sedang kejar setoran untuk membiayai pesta resepsi pernikahannya *gossip mode on* sehingga tahun ini, setidaknya JGL sudah muncul dalam 3 film. Tetapi, melihat nama dibalik kursi director Looper yaitu Rian Johnson, movietard memahami kenapa JGL bergabung dalam Looper. Ya, Johnson memulai debut penyutradaraannya dengan memasang JGL sebagai bintangnya melalui film teenage drug-crime bernuansa noir, Brick yang review-nya bisa kamu lihat disini. Movietard termasuk audiens yang jatuh cinta dengan debut penyutradaan Johnson pada tahun 2005 since well, I was at my JGL-fever-syndrome at that time. Setelah hampir 7 tahun berlalu, Johnson kembali kepada memasang JGL sebagai main actor dalam film ketiganya. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana hasil kolaborasi Johnson dan JGL ini? Is it good or bad?

Selain duduk dibangku director, Johnson realitasnya juga menjadi scriptwriter film ini, dan ia menulis story plot Looper penuh dengan imajinasi keren dan berani. Berani, karena dalam versi Johnson, pada tahun 2044 yang menjadi setting film ini, dunia mengalami krisis ekonomi dan dikuasai oleh mafia dari masa depan yang menggunakan mesin waktu untuk menghadirkan kelompok pembunuh bayaran yang disebut looper. Looper juga menjadi film yang keren karena selain kehadiran para looper, mutasi manusia yang memiliki kekuatan telekinesis pun sudah mulai hadir. Kembali kepada kisah Joe sebagai looper, keanehan mulai terjadi ketika Joe muda memahami bahwa semua mantan looper di tahun 2074 dikirim ke tahun 2044 untuk dibunuh diri mereka sendiri. Syahdan di tahun 2074, terdapat penguasa baru bernama Rainmaker yang bersikeras membunuhi para looper. Kegagalan Joe muda membunuh dirinya sendiri membuat Joe muda mau tak mau ikut terlibat dalam petualangan Joe tua mencari si Rainmaker cilik di masa kini.

Ah, menjelaskan plot Looper dalam satu buah paragraf narasi dengan koherensi cerita yang detil pun rasanya sulit untuk dilakukan movietard. My word is, tonton saja Looper karena Looper lebih mudah dipahami secara visual. Story plot yang dibuat Johnson memang terlihat pretentious sekali dengan melibatkan acara perjalanan menembus waktu, tetapi toh premis cerita ini pun bukan hal baru. Well, dari 28 tahun yang lalu, perjalanan menembus waktu pun pernah dilakukan oleh karakter Kyle Reese dalam Terminator, dan tak jauh berbeda dengan kisah Terminator, Looper juga mengajak audiens melihat sisi sebab akibat dari perbuatan yang dilakukan seorang karakter dalam sebuah perjalanan time travel. Ya, alih-alih berisikan banyak adegan aksi bombastis, Looper justru memberikan porsi drama yang menjadi key point bagi karakter si Joe muda ketika ia ‘ditakdirkan’ bertemu duo ibu dan anak, Sarah (Emily Blunt) dan Cid (Pierce Gagnon). Porsi drama pada Looper memang menjadi penting karena berfungsi sebagai penjelas atas tindakan Joe muda saat ia menggariskan happy ending dalam versinya.

Looper jelas menjadi film Johnson yang jauh lebih spektakular dan masuk dalam everyone’s movie dibanding Brick yang jauh lebih ber-spirit independen. Jujur, movietard menyukai visi Johnson akan masa depan yang terasa lebih manusiawi dibanding film-film sci-fi lainnya, tidak berlebihan karena dibalik kehadiran kekuatan telekinesis, motor ataupun alat pertanian yang bisa terbang, kehidupan dunia toh tak jauh berbeda dengan saat ini, bahkan jauh lebih kelam dengan pola pemerintahan yang totaliter. Poin plus lainnya, Johnson mampu menyajikan sebuah pembelajaran mengenai nilai-nilai kehidupan dalam Looper. Ya, ketika dunia di masa depan dianggap sudah mengalami dystopia, anda tahu bahwa harapan akan selalui ada. Tokoh Joe jelas bukan pahlawan, justru kebalikannya, ia pembunuh pembayaran, junkie, gila materi dan egosentris, tetapi seiring berjalannya film, anda tahu bahwa setiap manusia pun masih memiliki hati nurani.

What I do love about this movie? JGL’s performance! Ya, JGL tak menyia-nyiakan kepercayaan Johson. Ia tampil prima! Saking primanya, movietard sampai tak mengenalinya secara fisik sebagai Joe. Dikarenakan JGL dan Willis memainkan karakter yang sama, JGL dipermak sana sini dengan menggunakan tambalan protestik di muka sehingga ia terlihat mirip dengan Willis dari segi penampilan, tak tanggung-tanggung, tampaknya JGL juga menggunakan eyebrow transplant di film ini. Selain JGL yang tampil prima, Willis -dengan screen time yang jauh lebih sedikit dibanding JGL- realitasnya juga mampu menyuguhkan sisi heroik yang tak kalah menarik melalui kumpulan adegan aksi yang dirangkum dalam menggambarkan masa tua Joe. Tetapi, in my opinion, bintang dari Looper justru si kecil Cid. Movietard tak pernah membayangkan bagaimana anak selucu itu juga bisa jadi tampak begitu creepy sepanjang kemunculan. He reminds me with that chucky doll. He’s just like a old guy trapped at a child body, no?

In conclusion, Looper menjadi salah satu film petualangan science fiction dengan bumbu drama yang baik. Ide yang begitu pretentious nyatanya mampu dijelaskan Johnson dengan dialog yang tidak heavy handed seperti layaknya film-film bergenre sci-fi lainnya yang kerap membuat audiens mengerutkan kening. Johnson berhasil membalut semua ketegangan ini dengan pace yang tepat walaupun bagi anda yang mengharapkan aksi yang menawan, anda harus siap-siap kecewa karena Looper justru lebih menyoroti masalah konsekuensi perbuatan anda. Ya, inti cerita Looper sebetulnya sederhana saja, ini kisah manusia yang terjebak dalam sebuah situasi yang mengharuskan ia bertindak, apakah menuruti ego atau menuruti hati nuraninya. Ditopang dengan akting yang flawless dari trio JGL, Willis dan Gagnon, Looper menjadi sebuah reminder untuk anda, bahwa terkadang, manusia akan bertindak sesuai dengan hati nurani dan bahkan, rela mati untuk itu.

The only rule is never let your target escape… even if your target is you [Young Joe]

Do You Know?
Sebelum tampil sebagai main actor di Looper, JGL pun sempat muncul menjadi cameo di film kedua Johnson, yaitu The Brother Bloom
Looper pertama kali screening di Toronto Film Festival 2012 pada tanggal 6 September 2012
Make up artist Kazuhiro Tsuji adalah orang dibalik penampilan JGL yang berbeda di Looper. Ia yang membuat muka tambalan protestik sehingga JGL tampak mirip secara fisik. Tetapi tidak hanya itu, JGL sendiri pun banyak menonton film-film Willis untuk meniru cara Willis berjalan dan berbicara.

My Rate
4 Stars! Looper is definitely a well executed sci-fi drama movie with all those humanity part. And JGL, Willis and Gagnon’s flawless performances made Looper became worth to watch!

All those photos was took from IMDB

One thought on “Looper

  1. Hey moviegasm, kenalin gue nizar dari muvila.com. Boleh minta kontak email lo gak? Kita mau ngadain acara untuk movie blogger nih. Nanti untuk info lebih lanjutnya gue share via email.

    Langsung aja mention ke @nizarland ya biar cepet gue liat responnya. Thanks🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s