John Carter

The Plot
Ini cerita petualangan John Carter (Taylor Kitsch) yang ber-teleport ke Planet Barsoom (Mars).

The Comment
Thanks to Hollywood to make me having such as a Hollywood-worship syndrome *okay, I made up that term* but to told you the truth, I’m more into Hollywood movies rather than Indonesian movies, mainly, if it consist some of famous name such as for John Carter’s case which had Andrew Stanton as director and Taylor Kitsch as main actor!  Ya, John Carter (2012) jelas sudah masuk dalam radar a must watch dalam list movietard. Apalagi, film ini disutradari oleh Stanton, a magic guy from Pixar who brought you the heartwarming story at Finding Nemo (2003) and one of Pixar’s masterpiece Wall-E (2008). Seolah belum cukup, John Carter juga memasang bintang Friday Night Lives yang ganteng layaknya boneka Ken, Taylor Kitsch. So, movietard menaruh harapan tinggi kepada John Carter, film yang diadaptasi dari novel science-fiction terkenal karya Edward Rice Burroughs yang  menceritakan tentang kehidupan John Carter di Planet Barsoom berjudul Princess of Mars. Oh may, may, did I get any moviegasm when was watching this movie?

Well, it’s not. Don’t get me wrong, John Carter wasn’t that bad but well, it below my expectation. Padahal, Stanton sendiri dibantu dengan Mark Andrews dan Michael Chabon, yang menulis skrip film ini. Dan audiens diajak mengikuti petualangan heroik karakter John Carter yang terobsesi dengan pencarian harta karun. Dengan alur flashback, audiens kembali dilempar ke abad 19, tepatnya pada era civil war di Amerika, dimana ketika itu Carter masih menjadi tentara pembangkang paska kematian keluarganya. Kemudian, audiens dilempar kembali ke zaman antah berantah, hanya kali ini, setting-nya tak lagi di bumi, melainkan di Planet Barsoom (Mars) yang seperti gurun. Di planet ini, Carter menjalani petualangan aneh dimana ia bertemu dengan ras hewan berkaki empat berwarna hijau planet tersebut, Tharks, menyelamatkan putri bangsa Helium Dejah Thoris (Lyns Collins), melawan gorilla raksasa diarena gladiator, melawan bangsa Zodanga yang dipimpin oleh Sab Than dan tentunya, Carter juga berhadapan dengan para pembawa pesan Thern yang dengan medali kepunyaan merekalah, Carter dapat ber-teleport dari bumi ke Mars.

Pusing mendengar begitu banyak petualangan yang harus dilalui Carter? Tenang saja, selama kurun waktuk 132 menit, alih-alih menjadi salah satu film science fiction epik yang akan dikenang layaknya saga Star Wars, heroisme dalam John Carter malah tampil begitu membosankan! Kalau boleh jujur, movietard merasakan adanya beberapa loop mendasar dalam fondasi cerita, hal yang seharusnya tidak terjadi pada garapan Stanton yang memiliki reputasi sebagai story teller hebat. Audiens yang sudah membaca novel yang diadaptasi menjadi film ini mungkin akan jauh lebih mengerti, tetapi bagi movietard yang belum membaca satupun karya Burroughs, asal muasal kehadiran Thern jelas tidak berdasar. Dan jika Thern dianggap sebagai holly messenger yang mengatur keseimbangan galaksi, kenapa mereka justru membela a bad one? Tampaknya Stanton memang terlalu asyik untuk berusaha menggarap John Carter sebagai tremendous adventure dengan melintasi berbagai waktu dan galaksi tetapi melupakan unsur believable di dalamnya.

But hey, there are also some things that I love at this movie, the first, it was Kitsch’s personae! Ya, Kitsch yang dahulu hanya mendapat peran-peran sidekick dibeberapa film menengah membuktikan ia mampu tampil sebagai main character di film blockbuster. Dalam John Carter, Kitcsh tampil impresif dengan aura ‘bad boy’ yang tetap terpancar and it will make you love his character better than any good guys, no?  Sayangnya, as I wrote before, Kitsch tak didukung dengan penggarapan skrip yang baik. Memang, Stanton memberikan beberapa flashback mengenai kehilangan Carter terhadap istri dan anaknya guna menggali sisi emosional Kitsch lebih dalam *and it’s my Kitsch’s favorite moment*, tetapi, sedikitnya durasi tersebut membuat Kitsch tak mampu memaksimalkan potensi keaktorannya. Jadi, sepanjang film, anda akan lebih banyak melihat Kitsch dengan kostum kulit minimalis mempertunjukkan kemampuan fisiknya dengan meloncat-loncat dan bertarung. But at least, he’s a perfect with his gesture, great body, deep voice, above all, Kitsch can do no wrong, he’s my main reason why I still sat on my seat that day.

And the second was… I love those silly creatures! Ras Tharsk dan tentunya, hewan gendut dengan muka mirip anjing bulldog bernama Woola sebagai sidekick Carter cukup menjadi scene stealer dalam John Carter. Apalagi, Stanton tak kehilangan magical feel dalam menvisualisasikan spesies planet Barsoom ini. Kehadiran Woola setidaknya menjadi penyegar ditengah betapa membosankannya melihat relationship antara Carter dan Deejah Thoris. Menurut teman movietard, Deejah sendiri lebih pantas menjadi Ibu Carter sendiri *sirik mode on*. But honestly, chemistry antara Carter dengan Woola jauh lebih baik daripada Carter dengan Thoris because this Woola-monster is just too adorable, no? The third, I also gave respect to Stanton for his hard work to made Barsoom’s landscape, its creatures, and its artifacts. Ya, Stanton menvisualisasikan planet Barsoom dengan cukup indah lengkap dengan segala spesies dan artifaknya, dimana production design sukses menggabungkan taste tradisional dan modernitas didalamnya seperti yang tergambarkan dalam kostum, persenjataan dan kota yang ada.

Sayangnya, John Carter tidak lepas dari satu masalah mendasar pada film-film blockbuster, yaitu kerap kali director mengorbankan pedalaman karakter dan lebih mengutamakan spesial efek. Dah menyedihkannya, hal ini kembali terulang pada karya Stanton, membuat John Carter –layaknya series Transformers– hanya akan tampil membuai mata dengan segala landscape menawan dan visual efek yang hebat tetapi tidak memberikan a deeper story. Oh well, movietard memang tidak berharap John Carter akan tampil begitu subtil layaknya The Dark Knight, tetapi kesalahan terbesar Stanton adalah, ia lupa memberikan nafas pada adventure Carter seperti yang telah ia lakukan pada petualangan Marlin dan WALL-E, the heartwarming with its emotional part. Ya, semua petualangan dalam John Carter berlangsung dalam alur yang membosankan, berisi kumpulan adegan aksi yang tidak memorable, dan ditutup dengan ending yang justru terkesan terburu-buru padahal peran keponakan Carter yang tak lain adalah penulis novel petualang Carter sebetulnya bisa lebih dimaksimalkan. Ah, maafkan movietard yang terlalu sok tampil kritis dan nyinyir dalam membahas John Carter. At the end, lepas dari plus minus film ini, John Carter jelas hanya menjadi hiburan visual belakan dan tidak akan dikenang sebagai salah satu pencapaian terbaik Stanton.

Good God, I’m on Mars [John Carter]

Do You Know?
Pada bulan January 2007, Andrew Stanton ‘dipinjamkan’ Pixar ke Walt Disney setelah Walt Disney mendapatkan hak film John Carter dikarenakan Pixar tidak membuat film dengan rate PG-13
John Carter adalah film pertama dalam sebuah trilogi. Rencananya, sekuel John Carter berdasarkan novel kedua Burrough, The Gods of Mars. Whoaaa! So we could see Kitsch again in a less leather costume!
Film ini awalnya berjudul John Carter of Mars tetapi Stanton menghilangkan kata ‘Mars’ guna menjangkau audiens lebih luas dan dengan alasan film ini menjadi fondasi awal untuk petualang Carter di Mars. Pada series selanjutnya, Stanton akan menggunakan embel-embel ‘Mars’.

My Rate
2 stars! John Carter was visually stunning with its Barsoom’s landscape and Kitsch’s performance was physically so good damn to watch. But when it came to Stanton’s achievement, John Carter was soooo below the level of Stanton’s Pixar work before.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s