Hugo

The Plot
Hugo Cabret (Asa Butterfield) adalah anak yatim piatu yang tinggal di stasiun kereta api di Paris dengan mimpi menghidupkan automaton peninggalan sang ayah, yang membawa Hugo menjalani ‘petualangan’ sesungguhnya.

The Comment
Hugo (2011) jelas menjadi salah satu fim yang ditunggu-tunggu movietard untuk hadir di layar besar. Tanpa embel-embel lima piala Oscar yang berhasil di rebut dalam Academy Award ke-89 dari segi sinematografi dan visual efek, nama besar Scorsese sebagai director-nya sudah mampu menyeret movietard seorang diri untuk menonton Hugo pada jam pemutaran sneak preview. Why? Movietard sangat tertarik dengan cerita yang diangkat Scorsese kali ini, diadaptasi dari The Invention of Hugo Cabret karya Brian Selznick, Scorsese yang biasanya lebih suka membesut film mafia penuh kekerasan ataupun lebih fasih bicara tentang kegilaan individu menghadapi dunia tiba-tiba berpindah haluan membuat film adventure dengan main character seorang anak-anak pula! Oh may, may, is he crazy enough to make an adventure movie? Oh well, Scorsese tidak gila, Ia hanya sedikit rileks dan membuat sebuah tributte kepada dunia sinema yang membesarkan namanya. The question is, how about the result?

Hugo dibuka dengan adegan bagaimana si bocah Hugo mengamati orang-orang melalui gerigi jam pada lorong-lorong stasiun kereta api di Paris pada dekade 1930-an. Dan Scorsese langsung mengajak audiens untuk tepat berdiri di belakang sosok Hugo, mengamati keseharian Hugo ketika ia berlarian lincah diantara tangga-tangga dan lorong-lorong jam, ketika Hugo berinteraksi dengan automaton-nya, ketika Hugo berusaha mencuri alat-alat dari toko mainan Paman George (Ben Kingsley), ketika Hugo berusaha kabur dari kejaran inspektur Gustav (Sasha Baron Cohen) yang berusaha mengirimnya ke rumah penampungan anak, ketika Hugo berkenalan dengan Isabelle (Chloë Grace Moretz), dan tentunya, menikmati klimaks dalam Hugo, tepatnya ketika audiens diajak Hugo dan Isabelle untuk mengenal Paman George lebih dekat, yang tak lain adalah George Méliès si mantan pesulap yang menjadi director film pada awal abad ke-20.

Scriptwriter John Logan menerjemahkan yang diinginkan Scorsese dalam suatu jalinan plot yang cukup baik. Memang, Hugo tidak sempurna secara narasi karena pada satu jam pertama, audiens seolah hanya berputar-putar dalam menyelami rutinitas Hugo tanpa tahu kemana cerita ini akan berakhir. Apalagi, berbeda dengan film-film Scorsese biasanya yang menghadirkan para pemain well-acted, dalam Hugo, semua karakternya justru dibuat lebih komikal dan tampak kurang memanfaatkan potensi keaktoran para pemainnya. Tetapi, jangan kecewa, dibalik kekurangan tersebut, Scorsese dan Logan tampak sengaja menyimpan klimaks pada pertiga film kebelakang. Kecerdasan Scorsese dan Logan dalam memasukkan kunci utama kisah Hugo pada pertiga film membuat audiens sadar bahwa mereka telah ‘dibohongi’ karena pada awalnya, Hugo mengajak audiens memahami usaha Hugo untuk menghidupkan automaton yang membuat kita fokus pada sang robot. Ya, Automaton memang tokoh penting, tetapi ia hanyalah entry point untuk kisah utama dalam Hugo.

Ketika homage film-film bisu zaman dulu karya Lumiere Brother diputar dan tentunya, ketika karya Méliès,  a Trip to the Moon diputar dan bagaimana Méliès kembali menceritakan kisah hidupnya sebagai seorang ‘magician’ dalam dunia film, pada titik inilah, audiens diajak memahami inti kisah Hugo yang sangat menyentuh. In my opinion, dalam memahami Hugo berarti anda harus menempatkan diri layaknya Scorsese dan Méliès, para individu yang menggeluti dunia yang ia cintai. Ya, Hugo adalah sebuah adventure bagi anda para pelaku di industri film maupun para cinephile untuk menikmati romantisme dunia film masa lalu. Dan yang menyenangkan, Scorsese memberikan perspektif baru dalam memahami sejarah perfilman itu sendiri, alih-alih lewat sebuah dokumenter yang membosankan, kisah sejarah dunia perfilman ini dibuat melalui point of view yang begitu natural dan bebas dari kepentingan apapun, yaitu dalam hal ini, adalah mata seorang anak laki-laki.

What I do love about this movie?  Hugo menghadirkan feel magical yang hangat bagi para cinephile, menjadi sebuah petualangan cerdas yang berhasil menyentuh sisi lembut para cinephile yang biasanya geek untuk mengenal sejarah dunia pefilman. Hal ini dilakukan Scorsese dengan sepenuh hati, karena Scorsese, sama seperti Méliès, memang merajut mimpinya melalui dunia film itu sendiri. Penghormatan Scorsese kepada Méliès dalam Hugo menunjukkan bahwa walaupun zaman sudah berganti dan teknologi sudah semakin maju, Méliès-lah yang memberikan dasar-dasar penyutradaraan dengan efek pewarnaan dan efek spesial. Honestly, walaupun Hugo realitasnya akan dipuja oleh para cinephile, in my opinion, audiens umum memang pasti akan kecewa dengan Hugo, terutama anak-anak usia sekolah dasar yang berharap mendapat petualangan dalam Hugo akan seseru Harry Potter dengan tongkat sihirnya. Movietard menonton Hugo dengan beberapa anak usia sekolah dasar dan sebagian dari mereka jatuh tertidur sementara salah seorang bertanya kenapa Automaton hanya bisa menggerakkan tangannya saja, why he can’t do anything cooler *errrr…. You’re watching a Scorsese’s my dear boy, if you wanna that automaton rocks, you should see autobots at Transformers*.

Polemik tentang penonton Hugo yang terbagi dua –yang memuja dan membencinya- tidak lantas membuat film ini tidak layak tonton. Dengan didukung dengan gambar-gambar indah Parisian pada dekade 30-an, keindahan Eropa masa lalu dihembuskan pada Hugo dengan begitu detil melalui design produksi dan sinematrografi yang indah dalam balutan format 3D. Berbicara tentang format 3D dalam Hugo, to told you the truth, a class never lie, ya Scorsese tahu benar bagaimana caranya memanfaatkan efek 3D dengan tepat, bukan hanya sekadar gimmick belaka. Ia memberikan sentuhan 3D dengan indah pada ranah bermain Hugo dalam lorong-lorong jam ketika Hugo berlarian. Tanpa perlu kehadiran monster besar ataupun robot penghancur, toh efek 3D dalam Hugo berhasil disajikan Scorsese dengan begitu indah melalui gerak kamera yang dinamis yang membuat audiens terpana.

Walaupun Hugo akan menghadirkan kekecewaan bagi sebagian audiens umum yang menginginkan petualangan Hugo layaknya Harry Potter and its magical adventure, toh mereka tak seharusnya membenci film ini.  Saat melihat perjuangan Melies menghasilkan begitu banyak film pendek di zamannya melalui setting yang begitu sederhana, audiens dibuat yakin bahwa pita seluloid benar-benar menjadi tongkat sihir yang menghasilkan banyak keajaiban dalam bentuk sebuah film. Ya, petualangan yang disajikan dalam Hugo adalah suatu perjalanan historis memahami sebuah magic benama ‘movie’ yang hadir sejak abad ke-20 lalu hingga sekarang, yang bertransformasi dari sekadar film hitam putih bisu hingga bisa dibuat dalam format 3D. Hugo menjadi sebuah reminder yang menyadarkan audiens bahwa tanpa Méliès, dunia film tidak akan seperti sekarang ini. Jadi tonton sendiri film ini, dan buktikan bahwa tanpa Méliès, Harry Potter tak akan pernah hadir.

My friends, I address you all tonight as you truly are; wizards, mermaids, travelers, adventurers, magicians… Come and dream with me [Georges Méliès]

Do You Know?
Hugo memenangkan lima piala dalam Academy Award ke-89, terutama untuk kategori teknis. Sayangnya Hugo gagal menjadi best picture dan menghasilkan piala untuk best director bagi Scorsese.
Hugo adalah film pertama Martin Scorsese setelah 12 tahun yang tidak memasang Leonardo di Caprio sebagai salah satu aktornya, dan juga menjadi film pertama Scorsese setelah 18 tahun yang memperoleh rating aman, yaitu PG .
Scene pembukaan Hugo yang mengikuti kelincahan Hugo berlari di stasiun kereta api adalah shoot pertama yang diambil. Pembuatan adegan ini membutuhkan waktu satu tahun dan 1.000 komputer untuk menajamkan setiap frame-nya. A hell-job, no?

My Rate
4 stars. Hugo is a touching gorgeous love-letter about movie and its history. Eventho Hugo worked best for cinephile, general audience also will learn where the magic called ‘movie’ came from. A must watch!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s