Negeri 5 Menara

The Plot
Alif Fikri (Gazza Zubizareta) bocah asli Padang yang dipaksa sang Ibu untuk merantau ke Pesantren Pondok Madani di Pulau Jawa. Dan ini adalah cerita suka duka Alif dengan teman-temannya di pondok tersebut.

The Comment
Seperti layaknya novel best-seller lainya, buzz seputar film Negeri 5 Menara (2012) yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ahmad Fuadi sudah cukup besar. Menghadirkan tema yang biasanya selalu sukses mengetuk hati penonton Indonesia, Negeri 5 Menara (lagi-lagi) menyuarakan perjuangan anak-anak dalam mengeyam pendidikan, did it sound like another Andrea Hirata’s inspiring books which also turned to movies? Yes, it was. It has the same-theme about people’s effort to achieve their dreams which based on the author’s real experience. The differences is, when it comes to movies, berbeda dengan Hirata yang menyerahkan tongkat Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi (2009) kepada Riri Riza, salah seorang filmmaker yang telah menjadi ‘it director’-nya perfilman Indonesia, Negeri 5 Menara tampil percaya diri dengan mengusung director Affandi Abdul Rachman. Honestly, Movietard bahkan belum pernah mendengar nama sutradara ini sebelumnya *maafkan movietard atas referensi film Indonesia yang begitu minim*. But hey, how about the result?

Melalui sudut pandang Alif, Negeri 5 Menara memotret kisah suka duka Alif dan kelima temannya dari berbagai pulau selama menjadi pelajar menengah pertama di pondok tersebut. Ada Baso dari Goa yang polos tetapi punya cita-cita tinggi, Raja dari Medan yang sangat cinta musik, Atang dari Bandung yang bercita-cita memiliki Partai, Said dan Dulmajid. Tinggal di Pondok Pesantren realitasnya menjadi momok yang menakutkan bagi Alif yang justru ingin belajar di sekolah negeri biasa demi mengejar cita-cita kuliah di ITB. Pesantren bagi Alif hanyalah tempat belajar mengaji, tetapi Pondok Madani berbeda, disana, mereka belajar tentang perjuangan hidup sesungguhnya melalu frase yang diucapkan sang ustadz Salman (Dony Alamsyah), Man Jadda Wajada -siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil-. Dan di bawah menara Mesjid, keenam sahabat itu berjanji bahwa mereka akan bersungguh-sungguh menggapai mimpi yaitu dengan menaklukan kelima menara yang ada dunia.

Movietard belum membaca novelnya, jadi rasanya sangat menyenangkan melihat untuk pertama kalinya bagaimana dunia pesantren yang selama ini seperti tertutup tembok tinggi mulai terkuak. Dahulu, setiap kali movietard bandel, Ibu selalu menakuti dengan berkata ‘Nanti dimasukin ke Pesantren loh’, yes, for me, Pesantren is just like place for juvenile yang kolot dan dingin. Tetapi melalui tangan dingin Salman Aristo yang membuat skrip Negeri 5 Menara, movietard get a new view, and it was a nice one. Dan alih-alih menjadi film yang sangat islami, Negeri 5 Menara justru tampil sangat universal, menunjukkan bahwa Pondok Pesantren adalah institusi yang tidak kaku, oh well, memang sih kedisplinan tetap ada didalamnya, tetapi film ini sukses menggambarkan Islam yang sesungguhnya memang universal dan mengenal kebebasan melalui pembelajaran bahasa Inggris, olahraga, jurnalistik dan kesenian didalamnya.

Kekuatan Negeri 5 Menara terletak pada plot-nya yang berhasil menyajikan potongan momen-momen drama yang membuat emosi audiens ikut naik turun. Memang harus diakui, di beberapa bagian pace terasa agak lambat, tetapi, momen-momen persahabatan keenam anak-anak tersebut realitasnya melahirkan tawa, kebersamaan, keharuan serta air mata. Mengkristal menjadi sebuah persahabatan indah dalam kelompok bernama Sahibul Menara. Ya, Negeri 5 Menara adalah sebuah life adventure yang begitu personal, membuat iri movietard karena tidak memilik masa sekolah se-memorable Alif dan kawan-kawannya. Personalitas dalam Negeri 5 Menara juga membuat film ini tidak tampil cerewet karena dialog-dialog yang memikat lahir tanpa terkesan menggurui. Ya, selain Man Jadda Wajada yang selalu didengungkan sebagai nafas film ini, terdapat begitu banyak pesan moral terkait dengan pilihan hidup, kepatuhan terhadap orang tua dan tentunya, percintaan walaupun hanya sekadar cinta monyet #eaaaaa.

Walaupun begitu, Negeri 5 Menara tetap memiliki kekurangan. Berbeda dengan Laskar Pelangi yang menunjukkan peran dominan guru dalam kehidupan anak-anak SD Muhammadiyah, di film ini, para ustadz yang seharusnya memegang peran dominan di awa justru terpinggirkan, kepergian Ustadz Salman seolah membuktikan bagaimana proses pendewasaan anak-anak ini dilalui tanpa tuntunan berarti dari karakter orang tua. Ada sedikit loop disini yang membuat movietard bertanya-tanya apakah dalam realitas kehidupan pesantren tetap terdapat jarak antara institusi dengan para muridnya. Ketika eratnya persahabatan keenam anak tersebut dapat digambarkan dengan baik, hubungan murid dengan para Ustadz justru terasa kurang tulus. Anyway, movietard juga merasa grabbing pada ending film ini kurang kuat. Abdul Rachman tampaknya agak tergesa dalam mengeksekusi ending film ini, menyudahinya terlalu terburu-buru sehingga audiens tidak diberikan waktu untuk mencernanya.

Dari departemen akting, para pemeran anak-anak tampil begitu cute. Abdul Rachman sukses mengarahkan anak-anak muda tak terkenal ini untuk tampil natural. Walaupun Alif sendiri tampil agak kaku sepanjang film, yang mencuri perhatian movietard adalah karakter Baso yang menjadi cahaya dalam film ini. Baso yang diperankan Bill Sandy jelas menjadi panutan Alif dan (hopefully) audiens yang menontonnya, he’s just like Lintang at Laskar Pelangi. Para pemeran karakter anak-anak dewasa, kiai, ustadz dan mentor datang dari nama-nama yang lumayan terkenal. Ada nama-nama yang biasa muncul seperti Ario Wahab dan Donny Alamsyah, ada pula nama yang sudah lama tak muncul dalam dunia industri perfilman seperti David Chalik dan Lulu Tobing yang ikut bermain sebagai orang tua Alif, tetapi… is it just me, melihat Andika Pratama berlogat jawa dengan kulit tanning kecoklatan tetaplah mengundang tawa, it’s totally a miscast.

Negeri 5 Menara realitasnya adalah sarana pembelajaran dan perenungan kita semua tentang bagaimana (lagi-lagi) kekuatan untuk kesuksesan hidup itu adalah kesungguhan untuk menggapai mimpi. Bosan? Well, it depends on how you see it, yang pasti, movietard sendiri termasuk audiens yang Indonesia umum yang gampang terenyuh jika melihat film perjuangan macam ini. Negeri 5 Menara menjadi secercah harapan bagi para anak-anak dengan semangat baja yang selalu menggeliat di relung-relung sekolah-sekolah kecil di pedesaan untuk suatu saat akan sesukses para karakter di film ini. At the end, Negeri 5 Menara menjadi salah satu film Indonesia yang bagus dalam membuka lembaran tahun 2012 ini. Honestly, I’m part of Indonesian people who’s rarely to watch Indonesian movies itself and Negeri 5 Menara became the 1st Indonesian Movie that I saw at 2012. In my opinion, kalau saja semua sineas perfilman Indonesia membuat film mereka dengan semangat Man Jadda Wajada, I think Indonesian’s film industry will grow as great as Thailand and Korea’s nowadays. 

Do You Know?
Untuk setting di Pondok Pesantren Madani, set tempat yang digunakan adalah Pondok Modern Gontor dan dilakukan pada waktu bulan Puasa karena sebagian besar para siswa pondok libur pada bulan ini
Para pemeran karakter Alif, Raja dan Atang dewasa benar-benar melakukan syuting di Trafalgar Square, London, Inggris sebagai salah satu menara yang harus mereka kunjungi

My Rate
3 stars. Negeri 5 Menara is part of Indonesian-movie must to watch. Eventho’ it has a similar theme about how teenager’s effort to achieve their dreams, the Islamic-dorm’s set made it became a lil bit different. A very worthy adventure to watch

3 thoughts on “Negeri 5 Menara

  1. gue sebelum filmnya tayang, sebulan sebelumnya bela2in baca bukunya dulu, and i am very impressed by the book, krn penggambaran tokoh dan semuanya detiiil banget. trus kerasa banget semangat man jadda wajada nya, nah begitu di film, yah emang gak bisa dibandingin plek-plekan sih ya, tapi gue merasa kurang gong gt dgn filmnya, ada yang kurang tapi gak tau apa. mungkin scene2 penderitaan kurang dimunculkan di film, jd berasa agak longgar aja gitu kerja keras anak2 itu dlm meraih cita2.
    i cant help comparing the book and the movie. hahaha.

    but so far gue setuju, ini film patut ditonton dan worth watching lah. jadi kangen Danau maninjau gitu gueeee hiks sinematografnya boleh lah.. hehe

    oiya, sama cast-nya terutama Andhika Pratama, dia mayan gak malu2in ya secara ge udah skpetis liat namanya dia di film ini tadinya, bok hihihi

    • I don’t read the book loh In, sampe sekarang dan nggak tahu kenapa, tapi nggak tertarik aja….pemales ya? soalnya udah cukup suka sama filmnya walaupun yaa itu, ada kekurangan terutama di endingnya sih tapi temanya memang bagus, ya buat dunia pendidikan Indonesia dan juga self improvement
      Anyway, gue masih selalu ngikik setiap kali melihat Andika Pratama berlogat jawa dan ngebenerin kacamatanya, dan yang paling bikin sebal, itu si Donny Alamsyah perannya kurang banyakkkkk #fansprotest

  2. komentarnya bagus nih artikel. Saya terutama suka yang loe bilang bahwa peran orang-tua agak terpinggirkan pada proses tumbuhnya anak2 pesantren madani itu; setelah diingat2 lagi, loe bener juga.

    Gw setuju ama kekuatan utama filmnya adalah cerita dan plotnya.
    Aktingnya gw juga kurang seneng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s