Shame

The Plot
Ini adalah cerita mengenai kehidupan Brandon (Michael Fassbender), seorang new yorker-yuppies yang memiliki adiksi terhadap… seks.

The Comment
Pada awalnya, buzz berita seputar peran Fassbender dalam Shame (2011) jauh lebih besar daripada berita produksi film itu sendiri. Kalau boleh jujur, movietard juga termasuk bagian dari audiens yang cukup rajin memantau kehadiran Fassbender di film ini karena menurut rumor dari halaman-halaman gosip di internet, Shame menghadirkan a nude fassbender and… lots of sexual intercourse! *pervert mode on*. So, ketika Shame sudah dirilis di luar negeri, movietard akhirnya memutuskan untuk mengunduhnya karena film ini memang tak akan hadir di layar bioskop Indonesia. Anyway, to told you the truth, movietard juga sudah mem-bookmark cuplikan scene sexual intercourse Fassbender dengan lawan mainnya. But hey, one week ago, I finally download Shame and watched it! So how’s the result? Was Fassbender really nailed it character?

Nihilisme dalam kehidupan manusia urban telah sering dijabarkan dalam novel-novel kontemporer yang diadaptasi dalam pita seluloid, seperti dalam American Psycho (2000) dan Fight Club (1999), yang keduanya adalah bagian dari favorite movies movietard. Siapa sih yang mampu melupakan betapa psikopatnya Patrick Bateman ataupun Tyler Durden dengan proyek project mayhem-nya? Berbeda dengan keduanya yang hasil adaptasi novel, Shame berasal dari ide orisinil buah karya Steve McQueen dan Abi Morgan. McQueen dan Morgan bermain di zona yang sama, melukiskan tentang kekosongan jiwa manusia modern melalui sosok karakter lelaki yang berkecukupan melalui karakter Brandon. Secara kasat mata, Brandon tampak normal, ia memiliki pekerjaan white collar yang bagus, apartement yang nyaman, dan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan materialnya.

Tapi, kita semua tahu, nobody’s perfect, dalam story plot McQueen dan Morgan, tali utama dalam kisah ini adalah seks. Ya, masalah Brandon adalah adiksinya terhadap seks yang sudah mencapai tahap akut. Masturbasi, menonton film porno hingga melakukan sexual intercourse dengan para prostitutes pun ia lakoni setiap harinya. Adiksi terhadap seks? Don’t you think it seems gonna be a fun one? But honestly, walaupun tidak lagi dianggap tabu di zaman sekarang, seks dinegara bagian apapun realitasnya termasuk dalam aktivitas yang tetap masuk kategori personal. Seks memang menyenangkan, tetapi tetap tidak untuk diperbincangkan. Bahkan, semua orang cenderung menjadikan diri mereka (atau memilih untuk membohongi diri mereka sendiri) untuk menjadi bagian dari normal secara seksual, begitupun dengan Brandon. Tetapi, alih-alih mampu mengontrol adiksinya, kehadiran sang adik, Sissy (Carrey Mulligan) justru menjadi trigger yang mendorong tingkat adiksi Brandon akan seks mencapai titik yang paling ujung dan mempengaruhi relasi kedua saudara ini.

Apakah Shame film yang vulgar? Ya, audiens bisa melihat jelas bagaimana Fassbender tampil begitu berani. Seperti yang dikatakan Clooney ketika ia memenangkan Best Actor pada Golden Globe ke-69, ia berterimakasih kepada Fassbender for taking over the frontal nudity responsibility that he had. Fassbender memang tampil dengan begitu berani dengan nudity-nya melalui banyak penggambaran ketika ia naked di apartemennya ataupun melalui sexual intercourse yang begitu eksplisit, but Luckily, McQueen memberikan bingkai terhadap nudity dan sexual intercourse yang dilakukan Fassbender dengan tidak berlebihan. Kalaupun beberapa scene sexual intercourse tampak vulgar, seperti saat Brandon melakukan threesome dan bercinta pada kaca hotel, lewat visualisasi yang begitu eksplisit tersebut realitasnya McQueen berusaha menunjukkan ketika nafsu Brandon telah meledak, terutama dengan kehadiran adiknya yang telah memasuki zona personalnya, hal ini membuat Brandon terganggu dan ketika pada suatu titik ia meledak, maka ledakannya juga luar biasa.

Shame memang tampil tidak secerdas Sex, Lies, and Video Tape (1989)-nya Steven Soderbegh. Justru, McQueen tampaknya tidak begitu peduli dengan story plot yang didasarkan pada hubungan klausal dengan memberi penjelasan terhadap alasan ataupun penyelesaian masalah adiksi Brandon melalui banyak dialog. Sepanjang film, McQueen lebih suka berbicara melalui bahasa gambar, Ia memotret keseharian hidup Brandon, mengajak audiens hanya sebagai pemerhati yang begitu berjarak dengan Brandon, karena Brandon sendiri memang seorang loner yang memiliki hubungan dengan perempuan hanya didasari oleh seks. Ketika satu-satunya relasi keintiman tanpa seks ditawarkan sang adik, Brandon justru malah terganggu. Kesendirian Brandon diperkuat McQueen dengan beberapa scene yang menunjukkan kegemaran Brandon berlari ditengah hiruk pikuk kota New York, seolah itu adalah salah satu cara Brandon lari dari kehidupannya yang disadari Brandon as a messed one.

Walaupun seks awalnya movietard anggap sebagai jualan utama dalam Shame, nyatanya, McQueen berhasil mematahkan premis sex always sell karena McQueen justru bermain dalam sebuah kisah tentang sex adventure yang paling berani sepanjang pengalaman movietard menonton, and believe me, dalam Shame, seks tidak lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan justru menjadi sebuah aktivitas yang begitu painful dam menusuk.  Lepas dari kisahnya yang memang menyisakan banyak pertanyaan pada akhir film, membuat audiens hanya bisa menerka apa yang akan dilakukan Brandon di akhir kisah and at the end, mau tak mau audiens harus membiarkan Brandon tetap hidup dalam dalam kesendiriannya, Shame jelas menyerang langsung ke sudut tempat para pekerja single yang dilabeli dengan ‘eksekutif muda’ hidup dalam masyarakat urban dengan tali kekeluargaan yang sudah merenggang, dimana ketika lepas dari jam kantor, yang tersisa justru perasaan hampa dan kesepian. Karakter Brandon adalah diri kita, tinggal ganti adiksi terhadap seks menjadi adiksi terhadap obat penenang, kopi, sepakbola hingga reality show, and voila, do you feel like one of them?

At last, Shame jelas bukan film yang dapat dikonsumsi oleh audiens umum. Bahkan di zaman modern saat ini, Shame nyatanya tetap menjadi film kontroversial yang sulit diterima siapa saja. Jujur, movietard juga merasakan ketidaknyaman saat menontonnya karena seks dalam Shame justru tampil begitu pahit dan well, not fun at all. Tetapi, keberanian McQueen untuk mencoba menyodok relung-relung pikiran kita yang siap untuk merasa ‘terganggu’ melihat betapa painful-nya adiksi yang dialami Brandon patut diacungi jempol. Apalagi, McQueen didukung oleh aktor yang mampu menerjemahkan kesakitan tersebut dalam layar. Fassbender berhasil membuat kita peduli dan kasihan pada karakter Brandon, dan itu semua lebih banyak dilakukan melalui mimik dan gesture dibandingkan dialog. Ya, Shame menjadi momen akting terbaik yang diberikan Fassbender dalam rentetan aktingnya yang begitu memikat sepanjang tahun 2011 lalu. In my opinion, selain terhadap aktingnya yang begitu memukau sebagai Brandon, nilai tinggi juga patut diberikan kepada bentuk tubuh Fassbender yang sempurna *pervert mode on*. A must watch for anyone who’s ready to watch a real feel bad movie!

How are you helping me? You can’t even clean up after yourself [Brandon Sullivan]

Do You Know?
Shame mengantarkan Fassbender memenangkan Best Actor dalam Venice Film Festival ke- 68, meraih nominasi sebagai Best Actor dalam Golden Globe ke-69 tetapi, Fassbender dilupakan untuk menjadi nominasi Best Actor dalam Academy Award ke-89
Adegan Brandon melakukan sexual intercourse pada kaca hotel memang dilakukan di Manhattan’s The Standard pada siang hari dan sempat ditonton oleh para pejalan kaki yang ada di bawah.
Dengan banyakan muatan seks didalamnya, Shame diberikan rating NC-17 oleh MPAA

My Rate
3,5 stars. Shame was a dark-intriguing drama about a man’s painful addiction. Eventhough its lots of sexual content made you felt uncomfortable, McQueen made it became so relevant to Brandon’s character. And a star for Fassbender’s powerful performance and a half star for his beautiful body #eh

4 thoughts on “Shame

  1. the ending is sooooo super multi interpretasi hahahah gue seneng bagaimana film ini memberikan kebebasan bagi kita untuk menduga2 dan mengira2.🙂
    dan lagi2, gue selalu percaya, sexual instinct itu adalah misteri terdalam umat manusia, pasti punya dan sisa gimana mengendalikannya aja, which is film ini menarik krn bisa mengangkat sisi lain jenis adiksi . dengan baik pula.

  2. i like this movie. filmnya lambaaaat banget–bahkan bikin ngantuk–tetapi banyak pembelajaran moral di dalamnya. adegan Carey Mulligan nyanyi “New York, New York” itu mesmerizing. nice review🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s