The Iron Lady

The Plot
Ini biografi Margareth Thatcher (Meryl Streep), perempuan pertama yang menjadi perdana menteri Inggris.

The Comment
The Iron Lady (2012) menjadi salah satu biopic movie yang sukses mengantarkan main actress-nya, Meryl Streep mendapatkan nominasi dari award-award film bergengsi. Bahkan, Streep meraih best drama actress pada Golden Globe ke-69 dan menjadi bagian dari nominee best actress di Academy Award ke-84  atas perannya sebagai ‘perempuan besi’ yang membawa perubahan pada dunia perpolitikan di Inggris modern. Bagi Movietard sendiri, biopic movies memiliki keistimewaan tersendiri karena beberapa film favorit movietard realitasnya merupakan biopic movies seperti Gandhi (1982), The Aviator (2004), Milk (2008) dan Howl (2010), dan apakah The Iron Lady juga akan menjadi bagian dalam favorite list movietard? Well, it’s definitely not.

Salah satu kesulitan membuat biopic movie adalah bagaimana filmmaker harus mampu merangkum kisah naik turun kehidupan si tokoh dalam durasi film yang terbilang singkat. Kalaupun tidak semuanya, filmmaker harus mampu memilih potongan kisah yang paling menarik untuk ditampilkan di layar dan well, pemilihan ini haruslah tepat. In my opinion, The Iron Lady yang dibesut oleh director Phyllida Lloyd dengan skrip yang ditulis Abi Morgan memilih potongan kisah yang salah. Ya, The Iron Lady tampak terengah-engah dalam segi penceritaan, sama seperti entry point film ini dimana Thatcher yang ditampilkan bukanlah Thatcher yang ‘bersemangat’ melainkan Thatcher ringkih yang berusaha untuk merefleksikan kehidupannya di masa tuanya.

Dalam durasi 105 menit, Llyod berusaha merangkum kisah hidup Thatcher dari masa ia remaja hingga tua dengan alur flashback bolak-balik yang dimulai dengan Thatcher sebagai si nenek pesakitan. Awalnya, movietard tertarik dengan gaya penceritaan Llyod yang membawa kita seolah memasuki ‘pensieve’ yang berisi kenangan Thatcer akan hidupnya selama ini. Dari mulai pertemuan pertamanya dengan suaminya, Albert (Jim Broadbent), usaha Thatcher memasuki partai konservatif, hingga tentunya, pada pencapaian tertinggi Thatcher sebagai first women as United Kingdom prime minister yang memiliki kebijakan politik tanpa negosiasi atas perang dan terorisme.

Seharusnya, kisah ini terdengar sangat inspiring, no? Seorang perempuan muda kelas pekerja yang pintar berusaha menyelami dunia perpolitikan Inggris di era 80-an yang kala itu masih didominasi kaum laki-laki tentunya dapat menjadi inspirasi bagi perempuan untuk terjun ke dunia politik. Anehnya, anda disini tidak akan dibuat jatuh cinta dengan Thatcher seperti layaknya anda jatuh cinta dengan Harvey Milk karena Thatcher dalam versi Llyold bukan tampil sebagai role model, melainkan manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Jadi, anda akan melihat Thatcher layaknya warga negara biasa, yang tak bisa mengontrol emosinya ketika memarahi bawahannya, atau mengeluh harga susu sudah terlalu mahal.

Bermain di zona yang begitu personal  dengan setting perkotaan London yang suram realitasnya berkontribusi membuat The Iron Lady tampil suram. Jujur, movietard mengharapkan sebuah cerita yang lebih intens dan eksplosif mengenai kehidupan politikus besi ini ketika ia bekerja di Downing street no. 10. Tetapi, The Iron Lady tidak berbicara banyak mengenai kebijakan-kebijakan historis Thatcher. Refleksi Thatcher akan perannya sebagai perdana menteri hanya hadir dalam bentuk potongan-potongan yang begitu singkat. Yang banyak anda temui justru suara kepahitan (atau justru penyesalan?) Thatcher sendiri di masa tua-nya, ketika ia akhirnya menyadari betapa penting kehadiran suaminya Albert dan betapa ia telah melewatkan moment terpenting sebagai ibu rumah tangga yang mengurus Albert dan kedua anaknya karena terlalu sibuk menjadi ‘ibu’ untuk United Kingdom.

Walaupun memilih potongan kisah yang tak sesuai harapan movietard, The Iron Lady memiliki satu keistimewaan yang harus diakui oleh audiens. Hal ini adalah penampilan Streep yang mampu menjawab tuntutan visual akan karakter Thatcher dengan baik, lengkap dengan aksen british yang begitu fasih. Dari balik lapisan kulit protestik guna membuat Streep tampak lebih tua sebagai Thacther, toh anda tetap mampu merasakan kekosongan yang terjadi pada diri Thatcher paska peninggalan Albert. Streep membawakan karakter Thatcher menjadi bersinar dibalik kesemua kesuraman yang menimpa hidupnya.

At the last, secara keseluruhan Llyold membelut The Iron Lady dengan cukup baik dan tetap setia kepada kisah yang dipilihnya hingga akhir film. The Iron Lady mungkin tidak akan menyamai pencapaian director Richard Attenborough dalam legenda seperti Gandhi (1982), tetapi Llyold mampu  membuat kita melihat sisi lain dari perempuan terhebat Inggris yang selama ini tak terlihat publik [spoiler] Ketika Thacher akhirnya ‘membiarkan’ Albert pergi dan ia mau mencuci piring –pekerjaan rumah tangga yang selama ini tabu ia kerjakan-, hal ini menjadi simbol bahwa Thatcher telah memaafkan dirinya sendiri [end of spoiler]. And that’s a good point, no?

Watch your thoughts for they become words. Watch your words for they become actions. Watch your actions for they become… habits. Watch your habits, for they become your character. And watch your character, for it becomes your destiny! What we think we become [Margaret Thatcher]

Do You Know?
Pada tahun 1982, kelompok komedi Inggris pernah membuat film komedi berjudul ‘The Strike’ yang menceritakan bagaimana aktris Amerika Meryl Streep berperan menjadi Thatcher, dan 30 puluh tahun setelahnya, it happened for real.
Untuk mendalami perannya sebagai Prime Minister, pada bulan January 2011, Streep ikut duduk di House of Commons
Meryl Streep menerima nominasi yang ke-17 pada Academy Award ke-84 tahun ini, Oscar Committee is definitely loving herr much, no?

My Rate
2,5 stars. Eventho’ it wasn’t gonna be one of my favorite biopic movies, but Streep performance’s was a flawless one. And another star for the fluently english accent.

3 thoughts on “The Iron Lady

  1. Meryl Streep bner2 luar biasa baik sbg Tatcher tua maupun setengah baya,tpi jujur ane kecewa ama film ini,terlalu banyak potongan2 video berita yg mnurut ane justru mengganggu dramatisasi kisah Tatcher sendiri…

    dan ide Hantu Denis (ane ralat ya sist..bukan Albert,hehe) bner2 ide yg ‘ngawur’,menunjukkan nenek2 dementia kan ga harus berlebihan menampilkan sosok hantu..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s