Short Review: Indonesia International Fantastic Film Festival 2011 (Part II)

The Yellow Sea

The Plot
Paska ditinggal istrinya yang bekerja ke Korea Selatan, Gu-Nam menyusul sang istri sekaligus ‘bekerja’ sebagai pembunuh bayaran.

The Comment
Dari judulnya, The Yellow Sea (2011) tampak tidak menarik, ada apa dengan laut kuning yang menjadi pemisah daratan China Timur dengan Korea? Realitasnya, laut ini menjadi tali nasib kehidupan Gu-nam. Yang ia inginkan hanyalah menyebrangi laut kuning guna pulang kembali ke daratan Cina bersama dengan istrinya. Sayangnya, perjalanan pulang Gu-Nam tak mudah karena paska terjebak dalam sebuah scene pembunuhan, ia diharuskan berhadapan dengan mafia korea, and the question, is he gonna be alive? The Yellow Sea lahir dari tangan director Hong-Jin Na yang juga menulis skripnya, dan Hong sangat percaya diri untuk tidak memasang aktor seperti Jang Dong Gun atau Won Bin sebagai main actor *yang ini sih maunya movietard, hihihi*. 

But hey, The Yellow Sea memang tak butuh bumbu ketampanan korean actor  with those white cream face karena Hong tahu bahwa poin utama dalam film ini adalah pertarungan aksi memukau, yang melibatkan car crashing, pembunuhan berdarah hingga pertarungan satu lawan satu tanpa senjata. Selain itu, The Yellow Sea lagi-lagi menunjukkan bagaimana negara-negara Asia sudah mampu membuat film action dengan special effect yang tak kalah dengan Hollywood dengan story plot yang penuh dengan intrik.

Asyiknya lagi, because it’s Asian movie, ada nilai-nilai family tradition yang tetap tersirat dalam The Yellow Sea. Ya, karakter Gu-Nam adalah contoh nyata bagaimana ia rela mengorbankan apa saja demi mencari istrinya. Anyway, beside all those great pacing action, movietard juga sangat menyukai bagaimana Hong membagi film ini dalam beberapa chapter, rasanya seperti membaca komik dimana setiap chapter berisi tentang kisah hidup Gu-Nam yang berkelanjutan. Even though it’s not really my thing to watch real action movies since I’m more into Wong Kar Wai’s mafia type, but I enjoyed The Yellow Sea lot. A must watch one!

The Incite Mill

The Plot
10 orang dari berbagai usia dan strata bermain dalam sebuah reality show dimana hanya boleh 2 orang yang hidup hingga akhir permainan.

The Comment
Walaupun belum pernah menonton film sejenis, tetapi setahu movietard, Jepang sangat suka sekali membuat film dengan premis sejenis, baik itu tema suicides, pembunuhan masal hingga kali ini, The Incite Mill (2010)  mengangkat cerita tentang reality shows yang membiarkan para peserta tidak hanya bermain ala detektif, tetapi hingga mengharuskan untuk saling bunuh. Film ini sendiri diadaptasi dari novel berjudul sama terbitan tahun 2007. Dilukiskan dalam Incite Mill, acara game reality show ber-rating tinggi ini berhasil menjebak 10 orang dengan iming-iming bayaran selangit, dan konsekuensi lainnya adalah nyawa para peserta  karena realitasnya rating akan lebih tinggi lagi ketika ada yang terbunuh! Dan layaknya para audiens reality show, kita diajak melihat struggling para karakternya untuk bertahan hidup dan juga, menikmati kematian para karakternya yang cukup menarik.

Disutradarai Hideo Nakata, The Incite Mill berjalan dengan alur linear yang agak lambat. Kelambatan ini mungkin karena plot The Incite Mill memang disusun rapi agar misteri utama baru terkuak diakhir film Sayangnya, movietard kurang terkesan dengan twist tersebut, oh well, hal ini mungkin didasarkan kesenangan movietard pada cerita detektif, sehingga twist dalam The Incite Mill terasa kurang nendang, dan lagi, errrr… I don’t know if it’s just me, but hey, since It’s iNAFFF,  rasanya scenes kematian para peserta dalam The Incite Mill kurang berdarah padahal, Nakata jelas bisa membuat pertarungan hidup mati para peserta menjadi lebih berdarah. Walaupun movietard tidak merasa thrilling saat menonton kematian para pesertanya, in postive way, story plot The Incite Mill lagi-lagi mengusik nilai kemanusiaan anda, ketika kematian manusia realitasnya bisa saja terjadi secara tak sengaja, justru prasangka manusia-lah yang dapat menjadi senjata pembunuh baru.

Loft

The Plot
Ini kisah 5 orang pria beristri yang panik kala menemukan seorang perempuan muda terbunuh di loteng, yang menjadi tempat rahasia mereka untuk berselingkuh.

The Comment
Loft (2011) adalah film thriller produksi Belanda yang diadaptasi dari film Belgia berjudul sama, dan akan dibuat pula dalam versi Hollywood. Sebetulnya, apa sih yang menarik dari film ini? Awalnya movietard tak memasukkan Loft dalam list but hey, resensi di booklet iNAFFF melukiskan Loft dengan cukup sexy yang membedakan dari kebanyakan film iNAFFF lainnya. And voila! Movietard cukup menikmati film garapan Antoinette Beumer yang bergenre sexy mytery thriller ini *fyi, I made up this genre, hihihi*. Story plot Loft berfokus pada lima married guy, yang masing-masing memiliki ketidakpuasaan terhadap pernikahannya masing-masing. Anggap saja ini Unfaithful versi ramai, apalagi Loft penuh dengan cast yang menawan secara fisik seperti dengan kehadiran Mattias (Barry Astma yang sangat Bradley Cooper look alike in older version) dan perempuan-perempuan cantik.

Beumer membalut Loft dengan alur non-linear yang menjadikan film ini tampil unik. Unsur misteri yang hadir dalam story plot Loft lebih terasa ketika kita diajak ikut ber-flashback melihat kehidupan Mattias dan kawan-kawannya, seperti ketika pertama kali mereka sampai di Loft hingga berakhir dengan kematian seorang perempuan di tempat itu pula. Menonton Loft seperti tengah mengupas bawang, selapis demi selapis, audiens diajak melihat karakter nyata lima lelaki tersebut dimana persahabatan mereka tidak tampak seakrab yang ditampilkan dan bagaimana revenge bisa pula dilakukan dengan sangat halus. Overall, Loft memiliki twist yang bagus *honestly, entah kenapa movietard sudah bisa menebaknya*. Anyway, movietard cukup penasaran dengan versi Hollywood Loft, apalagi, ada nama James Marsden didalamnya, kira-kira ia akan menjadi siapa ya?

A Lonely Place to Die

The Plot
Ini  cerita pendakian sekelompok anak muda di gunung Skotlandia yang menjadi sangat berbahaya ketika mereka menemukan seorang anak ruang bawah tanah .

The Comment
A Lonely Place to Die (2011) menjadi surprise movie iNAFFF 2011 ini, unfortunately, I’m not so impressed with this movie. Mungkin karena movietard sudah terlalu letih karena di hari sabtu itu telah maraton dua film sebelumnya *tapi kan baru dua juga sih*. Main plot A Lonely Place to Die adalah usaha penyelamatan anak asal Serbia yang dilakukan oleh sekelompok pendaki dengan main character heroine bernama Alison (Melisa George). Dengan karakter heroine yang cantik dan landscape dataran tinggi Skotlandia yang indah bukankah seharusnya A Lonely Place to Die menjadi menarik layaknya a girl version of 127 Hours? Well, nyatanya movietard beberapa kali mengantuk menonton film ini. Jadi, apa yang salah?

Movietard sebetulnya suka menikmati film dengan survival theme, tetapi sayangnya, director Julian Gilbey yang juga menulis skripnya mengambil point of view yang berbeda. Alih-alih menjadikan alam sebagai musuh utama yang membuat manusia tak berdaya, A Lonely Place to Die justru menghadirkan human villain sebagai ancaman utama, memang, beberapa kematian pendaki terjadi di pegunungan tersebut, tetapi, kekuasaan alam tetap tak berperan besar dalam kematian mereka. Semangat movietard semakin menurun ketika Alice dan si lost child kembali ke desa dan hampir sepertiga durasi dihabiskan di setting pedesaan dan Gilbey membawa film ini lebih menjurus ke thriller action. Untuk sebuah surprise movie, in my opinion, film ini tidak ‘mengejutkan’ movietard.

Sennentuntschi

The Plot
Di desa pegunungan Alpen Swiss, seorang sherif mengalami pergulatan hati nurani untuk menyelamatkan seorang gadis yang dianggap penjelmaan satan oleh para warga desa.

The Comment
Oh may, may! Sennetuntschi (2011) jelas menjadi salah satu film favorit movietard di iNAFFF tahun ini. Sepanjang film, movietard harus berpikir keras dikarenakan film ini menggunakan alur flashback, dari masa kini ke tahun 1975. To make it perfect, pada setting tahun 1975 itu pun, narasi dalam Sennentuntschi dilakukan secara non-linear! In my opinion, director Michael Steiner  sangat rapi membalut kisah si gadis misterius yang tak bisa bicara ini. Bahkan bisa membuat audiens mau tak mau ikut terpengaruh dengan kebenaran mitos boneka yang bisa menjelma menjadi manusia *oh well, mungkin ini hanya movietard saja sih yang percaya*. Semua misteri yang tersimpan pun secara rapi baru terbongkar hingga menjelang penghujung film, dan membuat anda berpikir, bahwa terkadang, kelakuan manusia pun bisa lebih ‘satan’daripada satan itu sendiri.

Selain ditunjang dengan a well-made script with great twist, Sennentuntschi juga dieksekusi  dengan sangat baik. Penggunaan alur nonlinear pun turut membangun kengerian yang hadir dalam kehidupan sehari-hari di pedesaan Alpen yang sepi, melalui tone warna gelap yang suram. Apalagi, akting si gadis bisu pun begitu believeable. Anyway, bagi movietard, ‘kengerian’ hadir bukan karena mitos boneka yang ada, tetapi justru bagaimana karakter-karakter lelaki di film ini memanfaatkan kepolosan si gadis bisu ataupun bagaimana si gadis bisu mempelajari kehidupan dengan caranya sendiri. Sennentuntschi –menurut booklet iNAFFF– adalah horror pertama buatan Swiss. Kalau produksi pertamanya saja sudah serapi ini, rasanya movietard harus memberanikan diri menonton film horror swiss selanjutnya.

Kill List
The Plot
Jay adalah ex-army yang bersama dengan teman lamanya, mereka berdua bertugas menjadi pembunuh bayaran.

The Comment
Awalnya, movietard sempat sangsi untuk menonton Kill List (2011) karena di jam pemutaran yang sama terdapat film Athena yang dibintangi Jang Dong Gun. But hey, melihat premis Kill List tampaknya film ini akan asyik *maksudnya penuh darah*. Hasilnya, movietard tidak salah, pembunuhan yang dilakukan Jay dan rekannya memang sangat memanjakan mata audiens. Director Ben Wheatley yang juga menulis skripnya menyajikan scenes pembunuhan yang dilakukan Jay dengan begitu intens. Padahal, di awal film, movietard sempat bosan dengan banyaknya dialog yang dilakukan Jay, istrinya, temannya dan pacar temannya ini, tetapi Wheatley membayarnya dengan menyajikan karakter Jay yang setengah gila. Well, movietard sempat terjengit ketika Jay memakan daging kelinci mati dengan disaksikan anak-istrinya dengan polosnya.

Wheatley membalut Kill List tidak murni menjadi film thriller yang penuh dengan pembunuhan gore, ada pula interaksi Jay dengan istrinya yang membuat kita berpikir ada penyesalan dalam diri Jay atas pekerjaannya. But hey, kadang penyesalan datang terlambat dan Wheatley menyajikan twist yang begitu menyebalkan. And maybe it’s just me, tetapi Kill List tetap menyajikan banyak pertanyaan bagi movietard, tentang kelompok yang memberi tugas membunuh, organisasi cult yang diincar Jay hingga betapa accidentally istri dan anak Jay be part of that organization. Dari forum di IMDB, ada yang menawarkan eksplanasi bahwa semua yang dialami Jay adalah mimpi belaka, oh well, entah itu mimpi atau kenyataan, yang pasti movietard menikmati aksi pembunuhan berdarah yang dilakukan Jay.

The Raid
The Plot
Ini adalah kisah polisi bernama Rama (Iko Uwais) yang bersama dengan satuannya melakukan penyerangan ke apartement yang dimiliki bos segala penjahat, Tama (Ray Sahetapy).

The Comment
Movietard jelas bukan penggemar film aksi, but hey, The Raid (2011) datang dengan banyak embel-embel yang membuat banyak moviegoers tertarik, ini film aksi Indonesia yang telah merambah dunia internasional, bahkan ke negeri James Franco sana. *and luckily, I got a chance by seeing it sooner at iNAFFF*. And yes, I do love this movie! Jujur, salah satu kesebalan movietard terhadap action movie adalah bagaimana kecenderungan film ini berfokus pada special efek saja. Nah, The Raid  justru hadir dengan begitu membumi dari segi aksi, tak ada adegan pistol slow motion ala John Woo, director Gareth Evans justru meminimalisir special efek dan lebih menonjolkan pertarungan langsung antara polisi dengan para kriminal.

Apakah mungkin seorang polisi bertarung dengan tangan kosong tanpa pistol? Bisa, that’s because we have Iko Uwais dan Yayan Ruhian in this film. Faktanya, pertarungan the good vs. The bad antara Rama (Iko Uwais) dengan Mad Dog (Yayan Ruhian) *Ya, jangan tertawa, nama panggilannya memang seperti itu* berlangsung dengan begitu ‘indah’. Indah karena mereka berdua mampu menunjukkan kemampuan beladiri yang superb, dan mampu membuat audiens begitu tegang sekaligus kagum ketika menontonnya. Ya, The Raid sejak menit pertama langsung memanjakan mata audiens dengan menghadirkan rentetan adegan aksi yang memukau, penuh dengan tembakan, besutan pisau hingga hanya bermodalkan tangan kosong.

Lepas dari ceritanya yang memang tak menghadirkan twist karena jualan utama The Raid adalah adegan laga, nyatanya banyak percakapan yang walaupun sederhana mampu membuat movietard tertawa, terutama dialog antara Tama-Andi-Mad Dog. Above all, movietard sangat menikmati setiap detik pertarungan kill or to be killed yang terjadi dalam film ini. Apalagi, ketika Rama berhasil membunuh para lawan-lawannya, anda akan dibuat bersorak selayaknya tengah menonton tim kesayangan mengoyak bola ke gawang lawan. Overall, The Raid is one of best cop-action thriller yang jelas memberikan kesenangan bagi para penontonnya. I’ll watch it again next year! *hugging Dony Alamsyah*

-The End-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s